KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
CERITA MASA LALU AVRIL


SORE Hari kala itu sangat teduh sekali dan tidak seperti ketika siang hari yang menyengat tadi. Wawan terlihat sedang duduk di atas jok motor nya sembari memainkan ponsel nya dan merokok. di depan teras ruko kantor itu hanya ada pak Yono yang kini berdiri dan sesekali duduk sembari berjaga. sedangkan pak Restu sedang istirahat dan sebentar lagi akan masuk kembali berjaga sampai jam pulang tiba. waktu sore itu menunjukan jam setengah empat sore dan Doni baru selesai shalat ashar.


Sebelum nya ketika Wawan dan Doni keluar dari gudang lantai satu dan bertemu dengan pak Yono, mereka masing-masing berpisah. ketika pak Yono pergi untuk berjaga lagi, Doni naik ke lantai dua untuk bekerja lagi di kantor nya dan Wawan ikut keluar kantor bersama pak Yono. waktu terus cepat berlalu dan saat itu sore hari telah tiba dan Doni baru selesai melaksanakan shalat ashar dengan beberapa karyawan laki-laki dan perempuan. kini mereka naik lagi ke lantai dua untuk mulai bekerja lagi dan begitu pun Doni.


Setelah Doni masuk ke dalam ruangan kerja nya, ia duduk di sofa dan memainkan ponsel nya untuk menghubungi Dona melalui pesan whatsapp nya. Dona yang kini sudah selesai mengerjakan tugas pekerjaan nya itu, segera meraih ponsel nya dan di lihat oleh Avril yang sejak tadi sedang membereskan pekerjaan nya yang sudah selesai juga itu. Avril menatap Dona penuh keheranan karena terlihat Dona tertawa mengikik sembari menatap layar ponsel nya. kemudian Dona memalingkan wajah nya menatap Avril seraya berkata tanya.


"kamu memang nya suka menggambar ya Vril???"


"menggambar?! tahu darimana kamu bahwa aku suka menggambar Dona???" tanya Avril bertanya penuh keheranan. Dona lalu bangkit dari duduk nya dan menghampiri Avril yang berdiri dikursi kerja nya.


Setelah dekat, Dona memperlihatkan layar ponsel nya kepada Avril dan di saat itu juga Avril melongo sembari tercengang kaget. Dona hanya tertawa mengikik saja menatap ekpresi wajah Avril yang seperti itu.


"ka.. kamu dapat dari mana gambar itu Dona?" tanya Avril yang gugup dan Dona menjawab nya.


"enggak tahu aku Vril. tiba-tiba saja bos Doni mengirim pesan kepada ku untuk bertanya apakah kamu suka menggambar. ya aku bilang enggak tahu juga, kemudian bos Doni mengirimkan gambar yang dipoto ini kepadaku." ujar Dona menjelaskan nya dan Avril masih melongo dan kali ini ia merasa heran akan kejadian tersebut.


Avril lalu menyuruh Dona untuk menanyakan nya kepada Doni tentang gambar itu di dapat darimana. Dona mengangguk dan segera mengirimkam pesan kepada Doni tentang usul pertanyaan Dona tadi. sambil menunggu pesan Dona di balas, Dona bertanya kepada Avril.


"apakah wajah yang kamu gambar itu adalah wajah nya mas Wawan itu???" ucapan pertanyaan dari Dona tersebut membuat wajah Avril semburat merah menahan malu.


"hayooh jujur saja Vril. mengapa mesti kau tutup-tutupi sih?"


"iya itu adalah wajah nya mas Wawan. entah kenapa pikiran ku terbayang-bayang terus dengan wajah nya itu. maka aku iseng saja mencoba menggambar nya dikala pagi tadi."


"wah hebat sekali kamu Vril bisa menggambar wajah seseorang tanpa harus melihat nya langsung. sungguh bakat mu itu layak dipuji dan diacungi jempol." ujar Dona sembari mengacungkan jempol nya kepada Avril.


Avril hanya tersenyum sembari berterima kasih kepada Dona karena telah menyanjung nya. lalu Dona bertanya lagi kepada Avril tentang bakat nya dalam menggambar itu dan Avril menjawab nya.


"aku sejak kecil suka menggambar dan sering dibelikan alat-alat menggambar oleh ayahku. ibu ku selalu menemani ku jika aku tak punya ide untuk menggambar. semakin hari semakin aku mengasah keterampilan menggambarku sampai aku menginjak sekolah SMP. aku pernah ikut lomba menggambar antar SMP dan pernah menjuarai peringkat pertama secara berturut-turut."


"wah hebat sekali kamu Vril. ckckck" ujar Dona sontak terkagum-kagum akan cerita dari Avril tersebut. Avril hanya tersenyum kepada Dona dan ia ditanya lagi oleh Dona.


"lalu mengapa kamu tidak menjadi seorang seniman pelukis atau menjadi seorang ilustrator saja Vril? padahal bakat mu yang seperti itu gampang sekali mendapatkan pundi-pundi penghasilan dari orang yang menyewa jasa mu itu Vril." ujar Dona dan Avril kini menunduk murung membuat Dona keheranan.


Rasa heran dari Dona itu kini terbantahkan dengan suara Avril yang berkata kepada Dona.


"lalu? apa pengaruh dari lelaki yang kamu sukai itu bisa mengalihkan hoby mu itu Vril???" Avril kini menatap Dona dan menjawab nya.


"karena aku secara diam-diam terlalu terobsesi dengan lelaki yang aku sukai itu. pernah di suatu peristiwa ketika aku menggambar wajah nya dikertas ketika disekolah. aku yang jatuh cinta kepada lelaki itu langsung menggambar wajah nya dan ada teman ku yang usil dengan mengatakan bahwa aku menggambar wajah lelaki itu kepada lelaki tersebut. lalu lelaki itu menghampiri ku dan melihat nya. kemudian aku dimarahi dan di caci maki habis-habisan oleh nya karena gambar yang aku buat itu menurut nya sangat jelek dan seakan menghina nya."


"lho? mengapa kamu dimarahi sampai sebegitu nya??" tanya Dona penasaran dan Avril menjawab nya.


"ketika aku menggambar wajah nya, aku tak fokus karena lelaki yang aku sukai itu terang-terangan menggoda teman sekelas ku. aku yang cemburu itu menjadi tak karuan menggambar nya dan malah menjadi berantakan. alhasil akibat teman ku yang usil itu, aku kena getah nya dan membuat ku trauma tak ingin menggambar apapun lagi semenjak peristiwa itu sampai aku berkuliah." ucapan dari Cerita Masa Lalu Avril tersebut membuat Dona cukup prihatin mendengar nya.


Lalu Dona segera menenangkan Avril yang mata nya mulai bengkak karena menahan air mata. Dona memeluk nya dan mengatakan agar bersabar akan kejadian masa lalu yang telah menimpa nya itu. kemudian mereka melepaskan pelukan itu dan Dona bertanya lagi setelah Avril bisa menenangkan dari rasa sedih akibat teringat kenangan pahit di masa lalu nya itu.


"apakah alasan mu menggambar wajah mas Wawan itu hampir sama kejadian nya, ketika kamu jatuh cinta pada teman sekelas mu dulu Vril?"


"iya hampir sama. awal nya aku ragu untuk menggambar lagi, tetapi rasa ambisi ku muncul lagi setelah terngiang-ngiang akan wajah tampan nya mas Wawan itu."


"hmm jadi begitu. iya aku mulai paham sekarang Vril." ujar Dona manggut-manggut dan kemudian ada suara ketukan pintu dan di saat itu juga pintu ruangan kantor itu terbuka.


Avril dan Dona menatap ke arah pintu dan munculah Doni seorang diri dengan membawa berkas-berkas tugas yang harus dikerjakan oleh Avril dan Dona besok. Doni yang sudah menyimpan kedua tugas di meja Avril dan Dona masing-masing, hanya berkerut dahi menatap dua gadis cantik itu seraya bertanya.


"mengapa tepian kelopak mata kalian merah semua? pasti habis menangis ya???" tanya Doni mulai kepo dan membuat Avril memalingkan wajah nya kepada Dona dan berkata bisik-bisik agar menyembunyikan rahasia dari cerita Avril sebelum nya.


Dona hanya mengangguk setuju dan membuat Doni semakin penasaran dibuat nya.


"hei kalian membisikan apa sih? coba cerita kepada ku!? apa ada seseorang yang berniat jahat kepada kalian???" tanya Doni lagi dan Dona kini menjawab nya.


"tak ada bos. kami tadi hanya membicarakan gambar wajah di kertas yang bos Doni kirimkan tadi kepada ku lewat pesan whatsapp tadi."


"ouhh itu. hmmm aku pikir kalian sedang memperbincangkan apa." ujar Doni dan kepala nya manggut-manggut. di saat itu pula Avril bertanya kepada Doni.


"anu bos Doni. sebenar nya bos Doni dapat dari mana kertas yang bergambar wajah dari tinta merah itu???" pertanyaan dari Avril tersebut membuat Doni segera ingat akan kertas tersebut dan ia langsung merogoh kantung baju jas nya dan berkata.


"apakah kertas ini maksud mu???" ucap Doni seraya menunjukan nya kepada Dona dan Avril. dua gadis cantik itu saling tatap dan akan bertanya lagi kepada Doni tentang kertas itu di dapat darimana oleh Doni.