
DONI Berkata kepada pak ustad Rojak bahwa ia ingin sekali melamar pekerjaan di tempat lain yang gaji nya lumayan untuk kebutuhan sehari-hari nya. tetapi ia mengeluh akan keterbatasan nya dalam hal keuangan dan pengalaman. pak ustad Rojak hanya manggut-manggut dan sudah memahami permasalahan yang Doni pikirkan dan lamuni sebelum nya. pak ustad itu kini bertanya kepada Doni.
"melamar kerja ke tempat seperti kantoran atau perusahaan itu harus ada berkas-berkas lamaran yang valid dan ktp nak."
"saya hanya ada ktp sama ijazah kelulusan saja pak.." ucap Doni dan membuat pak ustad merenungi ucapan Doni itu.
Kini pak ustad berkata kepada Doni akan persoalan yang sedang ia alami itu.
"baiklah kalau begitu bapak bantu. kamu ke seberang jalan sana, pergi ke tempat poto copy. ktp sama ijazah kamu poto copy lalu kamu beli map coklat sama pulpen, lalu lembaran riwayat hidup, kertas A3 dan peniti." ujar pak ustad Rojak dan ia memberikan uang pecahan lima puluh ribuan.
Doni merasa tidak enak hati jika harus menerima uang itu. ia menolak nya dan berkata.
"pakai uang saya saja pak ustad. saya tak enak hati jika harus bikin repot pak ustad..."
"sudah tidak apa-apa nak. nih bawa uang ini dan beli barang yang sudah bapak sebutkan tadi." ujar pak ustad Rojak dengan nada memaksa. Doni jadi serba salah dan mau tak mau ia hanya menuruti saran pak ustad itu. Doni setuju dan segera menerima uang itu, lalu ia berjalan menyeberang jalan untuk pergi ke tempat poto copy. pak ustad hanya menatap Doni dari kejauhan dengan perasaan terharu dengan tekad nya yang kuat itu.
Tak seberapa lama, Doni kembali lagi ke teras masjid itu dan sudah membawa barang-barang yang tadi di ucapkan pak ustad Rojak. ketika Doni ingin mengembalikan uang kembalian nya, ustad Rojak menolak nya dan menyuruh untuk di simpan saja oleh Doni. Doni sangat berterima kasih atas Pertolongan Pak Ustad itu kepada nya. kini Doni sedang di ajari pak ustad Rojak untuk menulis biodata lamaran kerja untuk Doni dan menyiapkan nya menjadi satu di dalam map coklat.
Doni sangat takjub kepada pak ustad Rojak yang piawai menyiapkan map lamaran itu dengan rapi. setelah selesai, Doni berkata kepada pak ustad Rojak.
"bapak ustad jago sekali bisa merapikan surat-surat lamaran ini."
"ketika bapak masih muda, bapak punya pengalaman bekerja nak. jadi tahu apa saja yang harus di siapkan dan apa saja yang di butuhkan." ujar pak ustad Rojak. Doni hanya manggut-manggut paham. setelah berkas lamaran itu selesai, pak ustad berkata.
"kamu punya pakaian pelamar kerja tidak nak..???"
"tidak punya pak. saya mau beli tapi uang nya kurang."
"memang nya kamu sudah mencoba beli nak..???"
"sudah pak.."
"berapa harga nya..???" tanya pak ustad Rojak penasaran.
Doni merenungi mengingat hari-hari sebelum nya ketika ia berjalan ke pasar membantu ibu Elis berbelanja sayuran. dan ia menanyakan harga baju lamaran kerja kepada karyawan toko baju.
"seingat saya, harga nya dua ratus lima puluh ribu pak. saya hanya punya dua ratus ribu saja." ujar Doni dan pak ustad kemudian merogoh kocek kantong baju koko nya.
Lalu pak ustad memberikan uang pecahan lima puluh ribu lagi kepada Doni dan berkata.
"baik pak. terima kasih banyak. saya sangat berhutang budi sekali sama pak ustad." ujar Doni berterima kasih sambil mencium punggung tangan pak ustad.
Pak Ustad Rojak hanya tersenyum dan berkata.
"ya sudah bapak pergi pulang dulu nak. ingat pesan bapak tadi ya,"
"iya pak ustad terima kasih." lalu pak ustad pergi meninggalkan Doni yang masih duduk di serambi teras masjid besar itu. Ia pulang dahulu ke rumah kakek Sarkim untuk menaruh map lamaran kerja nya dahulu dan kemudian ia berangkat pergi ke pasar untuk membeli pakaian hitam putih yang biasa dipakai untuk orang yang akan melamar pekerjaan.
Anak muda itu kini sedang berjalan ke pasar umum dan mencari toko baju yang sebelum nya ia tawar pakaian nya. semua orang memakai masker dan ia lupa tidak membawa masker nya. ia sempat bingung dan teringat pesan pak satpol pp agar selalu memakai masker. ia mendekati ibu-ibu yang sedang menggendong anak nya. ibu-ibu itu berjualan tisue di lampu merah dan berjualan masker juga. Doni mendekati ibu itu dan berkata.
"permisi ibu, masker nya satu berapa ya harga nya..???"
"oh ini sepuluh ribuan den."
"mahal sekali bu. lima ribu saja ya..???" ujar Doni menawar.
"kalau harga segitu, ibu tidak ada untung nya den.." ujar ibu itu memelas. Doni jadi tak enak hati juga jika harus menawar lagi. ia merasakan apa yang ibu itu rasakan karena mencari uang itu memang susah. lalu Doni membeli masker itu seharga sepuluh ribu dan ia memakai uang dari kembalian membeli barang-barang lamaran yang di beri oleh pak ustad Rojak sebelum nya.
Setelah Doni memakai masker nya, ia berjalan lagi ke arah pasar yang sebentar lagi sampai. sudah hampir dua tahun ekonomi masyarakat merosot dengan ada nya wabah penyakit yang merenggut nyawa siapa saja, merenggut pekerjaan orang-orang serta merenggut kebahagiaan keluarga masing-masing. Pasar umum itu tidak terlalu ramai karena masih dalam pengawasan pemerintah agar jangan berkerumun untuk menghalau penyebaran virus itu semakin menyebar dan agar selalu menjaga jarak. Doni masuk ke dalam pasar itu dan ia mencari dimana toko baju yang ia temui sebelum nya.
Ia menemukan toko itu dan kali ini sedang di jaga oleh seorang wanita muda berkerudung. Doni masuk ke dalam toko itu dan di sambut oleh penjaga toko baju itu.
"silahkan masuk kak. mau belanja apa kak..???" ujar suara perempuan penjaga toko dengan ramah.
"saya mau mencari pakaian untuk lamaran kerja neng.." ujar Doni kepada penjaga toko itu.
"mari kak sebelah sini.." ujar penjaga toko itu dan mengantarkan Doni ke dalam toko.
Doni mengikuti langkah perempuan muda itu dan kemudian penjaga toko itu menawarkan harga nya.
"yang ini sepasang dua ratus tujuh puluh ribu kak."
"bukankah harga nya dua ratus lima puluh ribu ya neng..???" tanya Doni tercengang kaget.
"oh kalau yang itu di sebelah sana kak.." lalu penjaga toko itu berjalan lagi dan di ikuti oleh Doni. lalu penjaga toko itu mengambil sepasang pakaian baju putih lengan panjang dan celana hitam yang masih menggantung. penjaga toko itu menawarkan nya dan Doni mengangguk tertarik untuk membeli nya. setelah barang di kemas, Doni membayar uang belanjaan nya itu dan setelah itu ia pulang kembali ke rumah kakek Sarkim dengan perasaan hati yang amat berbunga-bunga.