KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
AYAH ANGKAT


KETIKA Pak Yaris sudah masuk ke dalam ruangan Doni, anak itu sedang memainkan ponsel nya dan pak Yaris menghampiri nya seraya bertanya kepada Doni.


"apa tugas mu sudah selesai nak..???"


"sudah beres semua nya pak." jawab Doni dan pak Yaris segera mengecek komputer Doni dan benar saja apa yang dikatakan Doni itu benar ada nya.


Tugas yang terbilang lumayan banyak itu hanya mampu dikerjakan Doni dengan waktu satu jam saja. pak Yaris hanya geleng-geleng saja kepada Doni dan Doni menatap pak Yaris sambil mengantongi ponsel nya. terdengar Doni bertanya kepada pak Yaris.


"apa ada yang salah dari pekerjaan saya pak..???" tanya Doni kepada pak Yaris.


"tidak nak. justru bapak bangga padamu karena kepintaran dan kerajinan mu itu mampu menyelesaikan tugas ini dengan cepat dan mudah nya. jika ayah mu masih ada, mungkin ia akan bangga padamu nak." ujar pak Yaris sambil tersenyum kepada Doni.


Doni hanya merendah saja menanggapi sanjungan dari pak Yaris tersebut. tak lama kemudian, bunyi bel jam istirahat telah berbunyi dan waktu menunjukan pukul jam dua belas siang hari. pak Yaris kemudian mengajak Doni untuk makan siang di kantin nya ibu Yani dan Doni hanya mengangguk menyetujui saran pak Yaris.


Kedua nya kini keluar dari ruangan tersebut dan para karyawan kantor pun hanya menyambut Doni dan pak Yaris dengan penuh hormat ketika kedua nya melewati para karyawan kantor yang hendak istirahat juga. kantin ibu Yani sangat ramai dan kali ini ibu Yani dibantu oleh anak nya yang sudah kelas tiga SMP.


Doni masuk ke dalam kantin itu bersama pak Yaris dan Doni bertanya kepada pak Yaris setelah kedua nya duduk di kursi mereka masing-masing.


"apakah anak gadis itu anak nya ibu Yani pak..???" pak Yaris kemudian menatap anak gadis yang diperkirakan berumur lima belas tahun dan berperawakan bongsor dalam kata lain, badan nya lebih dewasa di banding umur asli nya.


Menurut pandangan Doni, anak gadis itu masih berwajah polos dan hanya badan nya saja yang sudah seperti para karyawan kantor nya yang terbilang dewasa. bodi nya lumayan berisi dan tingkat kematangan nya masih belum terlalu matang untuk anak seumuran lima belas tahun. anak yang sedang di perhatikan oleh Doni itu segera mendekati pak Yaris dan Doni. anak gadis itu kemudian bertanya kepada kedua nya.


"permisi pak mau pesan apa..???"


Doni dan pak Yaris kemudian memesan makanan yang mereka pesan masing-masing dari daftar menu yang sudah diberikan oleh anak gadis itu. setelah itu, Doni mencoba bertanya siapa nama anak gadis itu kepada orang nya langsung.


Anak gadis itu mengenalkan nama nya dengan nama 'Ajeng' dan kemudian anak gadis yang bernama Ajeng itu menuju kepada ibu nya yang sedang menyiapkan makanan untuk para karyawan kantor yang sudah memesan nya masing-masing. pak Yaris yang sejak tadi duduk berhadapan dengan Doni, langsung bertanya.


"apa kau tertarik dengan anak ibu Yani itu nak..???" tanya pak Yaris karena sejak tadi Doni menatap anak gadis itu seperti orang takjub melihat sesuatu.


"untuk saat ini saya belum terlalu berniat untuk mengenal lebih dekat seorang perempuan pak. saya ingin fokus mengelola perusahaan ayah dulu." ujar Doni dan pak Yaris hanya manggut-manggut dan tersenyum kepada Doni.


Pak Yaris menganggap Doni sudah seperti anak nya sendiri dan pak Yaris sedang melamun membayangkan jika anak nya masih hidup sampai sekarang, mungkin umur nya sudah seusia Doni. lamunan pak Yaris itu membuat raut wajah Doni berkerut dahi dan Doni segera menegur pak Yaris.


"bapak sedang melamuni apa..???" ujar Doni bertanya dan membuat pak Yaris menggeragap seraya tersenyum malu kepada Doni.


"tidak apa-apa nak.." ujar pak Yaris beralasan dan tak lama, pesanan mereka berdua telah datang dan yang mengantarkan pesanan mereka berdua adalah ibu Yani. sedangkan anak nya sedang melayani para karyawan yang baru memesan makanan di meja makan nya masing-masing.


Terdengar suara ibu Yani berkata kepada kedua nya.


"ini pesanan nya den Doni dan pak Yaris.." ujar ibu Yani dengan sopan dan kedua orang itu hanya tersenyum dan berterima kasih kepada ibu Yani yang sudah membawakan pesanan makan siang mereka berdua. setelah memberikan makanan kedua nya, ibu Yani beranjak lagi dari situ untuk menyiapkan pesanan yang lain nya untuk para karyawan yang sudah memesan sebelum nya.


Keadaan di kantin sebelah kantor tersebut cukup ramai karena para karyawan kantor yang jumlah nya hampir tiga puluh orangan itu, memesan makan siang mereka di kantin itu dan pak Yono juga terkadang suka memesan makanan di kantin tersebut jika istri nya pak Yono tak sempat membekali nya makanan untuk makan siang.


Hari itu pak Yono makan di tempat nya berjaga karena ia tak bisa meninggalkan tugas nya sebagai seorang petugas keamanan. ia hanya bekerja sendiri dan belum menemukan rekan kerja nya untuk bergantian berjaga. dari semenjak Doni melamar kerja di tempat itu, belum ada lagi orang yang akan melamar ke tempat tersebut. padahal sebelum nya pak Yono ketika bertemu dengan Doni untuk melamar pekerjaan sebagai satpam di tempat itu, ia sudah sangat senang sekali jika Doni bakal menjadi rekan kerja nya. tetapi perkiraan pak Yono itu ternyata di luar batas perkiraan nya.


Doni yang di anggap nya hanya seorang pemuda yang sedang mencari pekerjaan yang belum memiliki pengalaman bekerjan itu, kini menjabat sebagai atasan nya dan pak Yono menjadi sangat menaruh hormat kepada Doni sekarang. Doni yang sudah menjadi bos diperusahaan itu selalu melarang pak Yono untuk jangan terlalu sungkan terhadap nya. karena Doni sadar bahwa apa yang ia miliki itu hanya titipan saja dan bukan untuk menjadi alasan diri nya merasa lebih tinggi dan berhak melakukan tindakan seenak mau nya sendiri.


Kehidupan yang menyakitkan serta kesedihan yang telah berlarut-larut yang di alami Doni akibat kelakuan ibu kandung dan ayah tiri nya itulah yang membuat Doni sadar akan siapa diri nya dahulu. kala itu ia tidak memiliki apa-apa untuk dibanggakan nya dan Doni merasa jati diri nya masih yang dulu. watak Doni tak seperti ibu nya yang sombong dan angkuh. Doni lebih mirip seperti watak ayah nya yang tak suka menyombongkan diri nya terhadap orang lain meskipun memiliki kekayaan yang tidak sedikit. Doni banyak belajar dari kehidupan nya yang sangat menyedihkan itu dan sampai sekarang ia masih sering mengingat kepahitan hidup nya dan menjadi alasan nya untuk membantu orang lain yang sedang kesusahan.


Pak Yaris juga sudah bisa membayangkan bahwa Doni bakal menjadi seorang pemimpin yang baik hati dan tidak semena-mena akan kekuasaan nya. watak tersebut mirip sekali dengan mendiang pak Randi semasa muda dan ingatan itu sudah terulang kembali oleh pak Yaris disela ia makan bersama Doni dan pandangan pak Yaris kepada Doni hanya senyum terulas di wajah nya. pak Yaris merasa sudah menjadi Ayah Angkat Doni meskipun sebenar nya belum resmi dikatakan oleh pak Yaris kepada Doni.


Setelah makan siang, pak Yaris akan mencoba mengutarakan keinginan nya menjadi ayah angkat nya Doni setelah mereka berdua selesai makan siang di tempat kantin tersebut.


...*...


...* *...