
PAGI Hari telah tiba dan cuaca pagi itu sedikit mendung. seorang perempuan setengah tua yang bernama ibu Dewi, tengah menjemur pakaian yang baru selesai ia cuci di halaman rumah nya. suami nya yang bernama pak Tomi itu, terlihat sedang duduk di kursi depan rumah nya sembari merokok dan memainkan ponsel nya. sedangkan ketiga anak nya masih tertidur karena semalam ketiga anak itu sedang bermain game online sampai bergadang.
Pak Tomi yang sedang memainkan ponsel nya itu segera berkata berseru kepada istri nya.
"mengapa dua orang cecunguk itu tidak datang-datang dari malam sampai pagi begini sayang?? apa mereka tertangkap atau nekat melarikan diri membawa kabur sertifikat perusahaan itu??" ibu Dewi yang sedang menjemur pakaian basah itu langsung menjawab nya dan tanpa menoleh kepada suami nya.
"coba kamu telepon si Taufik sayang."
"sudah sejak tadi aku menelepon nya, tetapi tidak ada balasan. pesan whatsapp yang ku kirim pun tak di baca sama sekali." jawab pak Tomi sedikit kesal.
Ibu Dewi yang mendengar hal itu langsung menjawab nya.
"coba kamu telepon pakai pulsa sayang. mungkin data internet ponsel nya ia matikan." ucapan tersebut langsung dilaksanakan oleh pak Tomi. ia kini mencoba menelepon nomor pak Taufik dan sekian lama nya ia memanggil, tak ada balasan dari pak Taufik. lalu pak Tomi segera berkata kepada istri nya.
"nomor nya sih aktiv! tapi kenapa tidak di angkat-angkat?" ucap nya mulai curiga dan kemudian ibu Dewi mendekati suami nya setelah ia selesai menjemur pakaian nya itu.
Setelah dekat ibu Dewi berkata agar suami nya itu mencari pak Taufik ke rumah nya yang ada di kampung rambutan. setelah berkata begitu, ibu Dewi masuk ke dalam rumah nya dan pak Tomi segera melaksanakan saran tersebut. ia lalu mengambil kunci motor nya dan segera berangkat menuju rumah pak Taufik yang ada di kampung rambutan. di pagi yang agak mendung itu juga, terlihat seorang laki-laki lumayan kekar baru saja terbangun dari tidur nya dan lelaki itu adalah Riko dan ia baru saja bangun dari tidur nya. seorang perempuan tanpa pakaian sedang terbaring miring di samping Riko dan perempuan itu sudah pasti adalah mbak Yuni.
Semalam ketika mereka pulang dari club malam, kedua nya melakukan hubungan badan lagi sampai pagi dini hari. pagi itu juga, Riko ada janji dengan rekan bisnis nya dan ia sengaja tidak membangunkan kekasih nya yang masih tertidur pulas itu. setelah Riko mandi dan bergegas memakai pakaian nya lagi, ia langsung pergi keluar kamar apartemen itu tanpa pamit lagi kepada sang pemilik kamar apartemen tersebut. sedangkan di satu sisi dan berada di jalanan kampung, terlihat pak Yono sedang bergegas berangkat kerja. ia tak tahu akan kejadian semalam ditempat kerja nya itu, kini telah Viral disosial media. pak Yono lupa mengecek ponsel nya karena dari semalam ponsel nya mati dan ia charge sampe pagi itu dan belum ia hidupkan kembali.
Ketika pak Yono sedang berjalan menuju jalanan umum, ada seorang gadis cantik yang berpas-pasan dengan nya dan gadis itu menyapa nya.
"tumben om Yono pagi sekali berangkat kerja nya?"
"iya nih neng Dona, bapak buru-buru berangkat pagi karena ada tugas dari atasan." ujar pak Yono beralasan. padahal ia buru-buru berangkat pagi jam enam itu, hanya karena khawatir akan keselamatan Doni dan sebagai petugas keamanan, pak Yono adalah orang yang bertanggung jawab akan keselamatan Doni dan perusahaan nya itu.
Setelah berbincang begitu, pak Yono segera bergegas pamit kepada perempuan yang bernama Dona itu. gadis itu hanya mengangguk saja dan kini ia sudah berjalan menuju rumah nya. pagi itu Dona habis dari warung dan ketika ia masuk ke rumah, ibu nya terlihat sedang menonton TV dan tayangan TV nya itu adalah acara berita pagi. Dona yang baru masuk itu segera mendekati ibu nya dan bertanya.
"itu berita apa bu?"
"ini nak, berita ini tentang kejadian semalam. kejadian itu adanya perampokan disebuah kantor dan berada agak jauh dari daerah sini. kata nya, tersangka perampok nya ada dua orang dan korban nya adalah pemilik kantor tersebut."
"apakah ada korban nyawa bu?"
Dona yang mendengar ucapan ibu nya itu hanya manggut-manggut dan segera bergegas ke dapur untuk pergi ke kamar mandi, karena hari itu ia harus masuk kuliah dan tak mau telat lagi. di dalam hati sanubari Dona sempat gelisah dan risau ketika melihat berita itu dan mendengar penjelasan berita itu dari ibu nya. padahal sejak pagi tadi, perasaan hati Dona baik-baik saja dan tak merasakan gelisah atau risau. kini Dona mencoba melupakan keresahan hati nya untuk segera mandi dan setelah itu berangkat kuliah.
Waktu masih jam tujuh pagi dan pak Yono telah sampai di depan ruko itu. diri nya diam mematung dan mata nya terbelalak kaget menatap area kantor itu diberi lintas polisi dan keadaan nya sudah sepi. pak Yono segera mengambil ponsel nya yang ada di kantung nya untuk segera menelepon pak Yaris. ketika pak Yono menghidupkan ponsel nya, pesan whatsapp grub kerja kantor itu mendadak ramai dan Pak Yono langsung membaca isi percakapan di grub tersebut. pesan pengumuman yang di kirim pak Yaris itu, membuat bulu kuduk pak Yono merinding dan ia langsung bergegas pergi ke rumah sakit tempat Doni dan pak Yaris berada.
Dipesan whatsapp pak Yaris memang memberitahukan letak rumah sakit itu berada dan itu bertujuan agar para karyawan kantor itu datang menjenguk bos mereka yang sedang tertimpa musibah itu. diperjalanan menuju rumah sakit, pak Yono yang sedang berada di dalam angkutan umum. sedang membaca isi pesan dari Doni yang dari semalam belum ia baca karena ponsel nya mati. sedangkan di dalam sebuah ruangan rumah sakit, pak Yaris masih tertidur dan Doni kini sudah terbangun dari masa kritis nya.
Badan nya masih lemas dan hanya mata nya saja yang sedikit terbuka. ia tak bisa menggerakan tangan atau kaki nya karena lemas nya tubuh anak itu, hanya bisa menggerakan kelopak mata nya saja. ketika mata nya menatap ke arah kanan, ia melihat lelaki setengah tua dan rambut nya sedikit beruban. sedang duduk di kursi dan terlihat sedang tertidur di tepi ranjang tersebut. entah sudah beberapa jam lama nya Doni merenungi kejadian semalam yang menimpa nya itu dan ia masih dalam keadaan terbaring. lalu tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan nampak lah pak Yono dan suster yang mengantar nya telah masuk ke dalam ruangan tersebut.
Pak Yono langsung berjalan mendekati Doni dan berkata meminta maaf secara terus menerus kepada Doni seraya menundukan kepala nya bertanda bahwa ia salah. Doni hanya tersenyum saja dan ia belum bisa berkata-kata karena mulut nya bagai rekat sekali digerakan. di sela pak Yono berkata kepada Doni tadi, pak Yaris kemudian bangun dan menatap Doni yang sudah membuka mata nya. ia pun melihat pak Yono yang memakai seragam satpam itu, dan pak Yono langsung menunduk meminta maaf kepada pak Yaris akan kesalahan nya tidak ikut andil dalam peristiwa tersebut.
Pak Yaris berkata kepada pak Yono agar jangan menyalahkan diri nya sendiri.
"sudah tidak apa-apa pak Yono, bapak tidak bersalah dan kejadian ini di luar dugaan kita.
yang penting nak Doni ini masih selamat dan tidak sampai terluka parah oleh serangan dari pak Taufik dan teman nya." ujar nya sambil menatap Doni yang tersenyum kepada kedua orang tua itu.
Lalu pak Yono mencoba bertanya kepada pak Yaris.
"tega sekali orang itu, hanya karena uang. pak Taufik tega mencelakakan orang yang tak punya salah kepada nya." ucapan pak Yono langsung di balas oleh pak Yaris.
"sebenar nya, yang melakukan aksi keji ini adalah teman nya pak Taufik yang wajah nya mirip preman. saya melihat jelas kejadian itu dilayar CCTV di dalam ruangan kantor saya bersama jenderal polisi yang bernama pak Broto. untung pihak polisi cepat tanggap dan mengepung kantor itu, entah apa jadi nya jika kedua orang itu berhasil mencelakakan Doni lebih parah dari ini." ujar pak Yaris bernada sedih dan pak Yono hanya manggut-manggut saja dan sudah tak mau bertanya-tanya lagi, karena kejadian tersebut sudah jelas bakal terselesaikan oleh pihak kepolisian.
Perban putih masih terlihat terbalut di betis kaki kanan Doni dan pak Yaris kini berkata tanya kepada Doni.
"apa kau bisa berbicara nak?" Doni mencoba membuka mulut nya secara pelan-pelan dan ia mencoba berkata-kata. tetapi suara nya sangat kecil dan bahkan tidak terdengar sama sekali. pak Yaris dan pak Yono saling tatap dan kedua nya kini menatap suster yang ada di dalam ruangan itu. mereka berdua bertanya tentang Doni yang tak bisa berbicara itu kepada suster tersebut. tetapi suster itu tak bisa menjelaskan nya dan beralasan hanya dokter spesialis yang mengurus Doni saja yang tahu alasan nya tentang hal tersebut.
...*...
...* *...