
DI Pemakaman umum yang berada di pinggir jalan dan bernama TPU Kebon Nanas tersebut, masih ada beberapa orang dari sanak keluarga orang yang baru saja dikuburkan jenazah nya. beberapa orang dari sanak keluarga tersebut adalah Dona, ibu nya serta dari keluarga kedua adik ibu nya Dona.
Mereka baru saja selesai berdoa dan di pimpin oleh pak Ustad Komar. kemudian mereka pulang bersama-sama dengan perasaan duka yang masih amat mendalam di hati para sanak keluarga yang telah kehilangan salah satu dari anggota keluarga nya tersebut. anak gadis yang bernama Dona itu, kini sedang berjalan beriringan dengan ibu nya.
Sedangkan keluarga dari kedua adik ibu nya, sudah jalan terlebih dahulu karena anak mereka yang masih kecil-kecil itu menangis terus sejak berada di pemakaman tersebut sebelum nya. Dona dan ibu nya membiarkan mereka pulang lebih dulu dari Dona dan ibu nya.
Diperjalanan menuju pulang, Dona berkata kepada ibu nya.
"ibu, saya mau bertanya..."
"mau bertanya apa nak..?" tanya ibu nya Dona penasaran.
"apakah mimpi itu bisa menjadi kenyataan apa hanya sekedar bunga tidur saja yang tidak ada arti nya bu..???" ujar Dona bertanya kepada ibu nya.
Disela mereka berdua berjalan beriringan menuju kampung tempat rumah mereka berada, ibu nya Dona yang diperkirakan sekarang sudah berumur lima puluh lima tahun itu. langsung menjawab pertanyaan anak semata wayang nya itu.
"mimpi itu sebenar nya memang bunga tidur, anak ku sayang. tetapi terkadang sebuah mimpi itu bisa saja menjadi kenyataan. entah itu terjadi nya esok hari, beberapa bulan atau mungkin beberapa tahun kemudian. mimpi yang sering benar menjadi kenyataan, mimpi itu berada di tempat yang kita kenali serta orang yang ada di dalam mimpi pun kita kenal akan siapa orang itu di alam nyata dan itu adalah pertanda yang akan kita hadapi kelak di kemudian hari. sedangkan mimpi yang hanya sekedar angin lewat saja, keadaan nya akan berbeda dari tempat tinggal kita dan tempat nya terlihat sangat asing serta orang-orang nya pun tak dikenali oleh kita. maka sudah dipastikan, mimpi tersebut tidak akan terjadi di alam nyata dan sangat mustahil terjadi. begitulah yang ibu ketahui soal arti mimpi nak." ujar ibu Asih menjelaskan dari pertanyaan anak nya.
Anak gadis itu hanya manggut-manggut seakan memahami Arti Mimpi dari penjelasan sang ibu kepada nya. lalu anak gadis itu bertanya lagi kepada ibu nya.
"apakah mimpi itu bisa mendatangkan rezeki atau kesialan bu...???" tanya Dona lagi. ibu nya hanya tersenyum sambil berjalan menggandeng lengan anak nya seraya menjawab pertanyaan tersebut.
"ya tergantung nak." jawab ibu nya singkat.
"tergantung gimana bu..?!" tanya Dona lagi makin penasaran. ibu nya tidak menjawab nya dan berkata kepada Dona jawaban nya nanti saja jika sudah tiba di rumah. anak itu hanya bisa pasrah saja akan ucapan ibu nya itu, padahal diri nya ingin menceritakan sesuatu tentang apa yang pernah ia impikan di malam-malam sebelum nya ketika tidur.
Perjalanan mereka sudah melewati masjid besar yang bernama masjid al barjanji. Dona dan ibu nya hanya berjalan lurus ke depan trotoar jalan dan kepala nya tidak melirik kesana kemari. sedangkan di depan teras masjid al barjanji yang berada diseberang Dona dan ibu nya lewat, Doni masih duduk dan sedang menunduk memainkan ponsel nya.
Pak Ustad Rojak sudah pamit pulang setelah berpamitan kepada Doni karena diri nya sudah lapar dan ingin makan siang. Doni yang awal nya di ajak pak Ustad Rojak untuk ikut makan ke rumah nya, hanya menggelengkan kepala nya dan menolak ajakan tersebut.
Doni beralasan perut nya belum lapar sama sekali dan pak Ustad pun hanya bisa terserah dengan alasan dari Doni. padahal, dari bangun pagi sampai saat itu. Doni belum makan sama sekali dan ia hanya minum air bening saja beberapa kali ketika masih berada di kamar nya dan di dalam rumah ibu Elis sebelum mensalati jenazah kakek Sarkim. setelah pak Ustad pulang ke rumah nya dengan membawa empat gepokan uang pecahan seratus ribuan yang bernilai empat puluh juta rupiah, Doni masih belum beranjak dari teras masjid al barjanji dan sekarang sedang memainkan ponsel nya sembari wajah nya menunduk menatap layar ponsel nya.
Kali ini mbak Yuni mengirim pesan whatsapp kepada Doni tentang ucapan selamat makan siang. Doni pun membalas nya juga dengan balasan yang hampir sama. perlahan-lahan, rasa tertarik Doni akan mbak Yuni semakin kuat dan ia akan mencoba membuka hati nya untuk seorang perempuan yang belum jelas ia kenali dari latar belakang nya.
Setelah membalas isi pesan tersebut, Doni beranjak dari duduk nya dan ia akan pamit dahulu kepada keluarga ibu Elis sebelum Doni pulang ke ruko pinangsia yang dimana di area ruko tersebut, ada kantor lumayan lebar dan berlantai tiga yang bernama CV.Group Perkasa. kantor tersebut menjadi tempat tinggal Doni saat ini dan Doni belum mempunyai pikiran untuk membeli rumah sebelum ia menikah dengan calon istri nya nanti.
Doni telah berjalan menuju rumah ibu Elis dan kini ia sudah berada di depan rumah ibu Elis yang sudah sepi dan sudah tidak di datangi oleh pelayat warga kampung tersebut. di halaman rumah ibu Elis ada sebuah motor gede berwarna merah dan Doni hanya cuek saja tak tertarik akan motor tersebut. Dede terlihat sedang menggendong adik nya dan mereka sedang berada di teras luar rumah nya. Dede lalu mendekati Doni yang sedang duduk di teras rumah mereka. Doni sedang membuka sepatu nya dan terdengar suara anak perempuan nya ibu Elis yang bernama Dede itu berkata kepada Doni.
"kak Doni menginap di sini lagi ya..."
Doni lalu berdiri setelah membuka sepatu nya dan menatap Dede sambil tersenyum.
Lalu Doni berkata kepada Dede dan mencubit pipi adik nya Dede.
"kapan-kapan kakak nanti menginap lagi di rumah ini. untuk saat ini kakak sedang tak ada waktu untuk itu, karena kakak sekarang sedang sibuk kerja di kota De." ucap Doni beralasan jujur.
"yaudah kak enggak apa-apa.." ucap Dede bernada cemberut dan Doni hanya tersenyum sambil bertanya kepada Dede tentang dimana kedua orang tua nya.
Dede memberitahukan bahwa kedua orang tua nya sedang berada di dalam bersama tamu. setelah berkata begitu, Doni mengajak Dede untuk masuk dan Doni kini telah menggendong adik kecil nya Dede. sudah lama sekali ia tak menggendong adik nya Dede yang masih berumur dua tahun dan nama panggilan nya adalah Asri. Dede sudah masuk ke dalam rumah nya dan di ikuti oleh Doni yang sedang menggendong Asri.
Setelah masuk, terlihat ibu Asih dan suami nya yang bernama pak Tohir sedang duduk bersila sembari menunduk sedih menghadap kedua tamu nya. ternyata memang benar apa kata Dede, di rumah itu sedang di datangi tamu dan pakaian tamu tersebut terlihat mencurigakan. tamu tersebut ada dua orang dan wajah nya terlihat sangar. pakaian kedua nya memakai jaket motor hitam, celana jeans biru pudar, dan memakai masker. Doni seketika langsung menyadari bahwa ketika ia baru datang ke rumah ibu Elis, sebuah motor merek kawasaki ninja berwarna merah sudah terparkir di depan rumah itu.
Awal nya Doni hanya cuek saja karena ia pikir motor tersebut milik tetangga nya yang menumpang parkir di halaman luas rumah ibu Elis. ternyata motor gede atau moge tersebut, milik dua orang tamu nya ibu Elis tersebut.
Rasa penasaran akan apa yang terjadi di dalam rumah itu membuat Doni tercengang kaget ketika salah satu dari dua orang tamu itu berkata kepada ibu Elis dan pak Tohir dengan ucapan yang tegas dan mengancam.
"pokok nya hari ini hutang ibu dan bapak harus lunas!!. kalian berdua sudah berjanji akan cepat melunasi hutang kalian itu dengan taruhan sertifikat rumah ini!!." ucap dari salah satu tamu sangar tersebut kepada ibu Elis dan suami nya yang bernama pak Tohir.
...*...
...* *...