
DONA Yang kini sudah duduk di samping ibu nya, segera memeluk ibu nya dan ibu nya berkata.
"kamu mengapa menangis sayang???"
"tidak apa-apa bu, lanjutkan saja cerita ibu tadi." ucap Dona dan Doni serta ibu Asih sudah paham bahwa menangis nya Dona itu akibat mendengar cerita dari ibu nya barusan. setelah Dona berkata begitu, Doni yang kini berkata kepada ibu Asih.
"bi.., apakah bibi merestui jika Doni berpacaran dengan Dona???" pertanyaan dari Doni itu belum dijawab oleh ibu Asih. karena ibu Asih langsung menatap wajah anak nya seraya berkata.
"semua keputusan tergantung dari Dona den. bibi tak mau mengekang anak ibu yang sudah dewasa ini untuk memaksa nya memilih pasangan seorang lelaki yang ia sukai." ucapan dari bibi Asih itu langsung dijawab oleh Dona.
"apakah ibu tak akan marah jika keputusan Dona yang akan Dona katakan ini bertentangan dengan ucapan ibu???"
"katakan saja nak. kamu sudah besar dan kamu sudah paham mana yang kamu anggap baik dan buruk." ucapan ibu Asih itu hanya di dengar saja oleh Doni dan Dona yang kini kedua nya saling bertatapan menandakan keputusan dari pertanyaan kedua nya belum terjawab oleh ibu Asih.
Setelah Dona mengelap sisa air mata nya, ia kemudian berdiri mengambil salah satu bingkisan toko perhiasan yang di taruh di sofa yang kosong dan kemudian membuka nya. ibu Asih dan Doni masih diam memperhatikan apa yang akan Dona lakukan selanjut nya. setelah Dona membuka kotak kecil yang berisi sepasang cincin perak, ia mendekati Doni seraya berkata.
"jika ibu ku merestui hubungan kita untuk berpacaran, pasangkan cincin ini di jemari jari tangan kiri ku dan aku akan memasangkan cincin satu nya di jemari jari manis tangan kiri mu. tetapi dengan satu syarat." ucapan Dona di akhir kalimat itu, membuat Doni dan ibu Asih saling tatap serta berkerut dahi.
Doni yang penasaran akan Syarat Dari Dona itu, segera bertanya.
"memang nya kamu butuh syarat apalagi??? apakah pengorbanan ku kepada mu ini masih kurang???" ucapan dari Doni tersebut langsung dijawab oleh Dona yang posisi nya masih berdiri menghadap Doni dan posisi ibu Asih masih duduk memperhatikan kedua nya.
"jika kamu ingin memulai hubungan denganku, kamu harus memutuskan hubungan mu dengan wanita yang dekat dengan mu!" ucapan penuh ketegasan dari Dona tersebut, membuat ibu Asih menatap Doni seraya berkata.
"apakah den Doni sebenar nya sudah memiliki pasangan kekasih atau seorang istri???" pertanyaan membingungkan dari Dona dan ibu Asih itu, hanya di balas dengan tatapan heran oleh Doni dan ia membatin dalam hati nya.
"istri...??? sejak kapan aku menikah?! lalu, wanita mana yang dekat denganku???" tetapi ucapan batin Doni berbeda dengan ucapan mulut nya.
"tidak ada wanita yang sedang dekat dengan ku kok, apalagi istri bi."
"jangan bohong kamu!" ucap Dona tegas dan segera di tenangkan oleh ibu nya.
"tenang sayang! jangan berkata kasar sampai menuduh yang belum ada bukti nya!" ucap ibu Asih menegaskan ucapan anak nya dan Dona menjawab ucapan ibu nya dengan tegas pula.
"Dona punya bukti bu!. ketika siang tadi, Dona melihat dia sedang berduaan dengan wanita cantik di ruangan kantor nya bu!"
"apakah itu benar den Doni???" tanya bibi Asih yang kini menatap Doni penuh dengan tanda tanya.
Yang ditanya masih diam dan seperti nya sejak tadi Doni sedang mencerna kata-kata dari Dona dan ibu nya. setelah ia mengingat-ingat kejadian yang ia alami ketika siang tadi di kantor nya, Doni langsung menjawab pertanyaan dari ibu dan anak itu.
"ooohhh.... itu, apakah wanita yang kamu maksud itu adalah wanita yang ketika waktu siang tadi, yang dimana ketika kamu memberikan kertas dokumen tugas mu itu ke dalam kantor ku dan kamu melihat ku berduaan dengan wanita itu, begitukah Dona???" Dona hanya mengangguk saja dan bertanya siapa wanita cantik itu kepada Doni.
Ibu Asih masih diam menunggu jawaban dari pertanyaan Dona dan terlihat Doni hanya tersenyum tawar karena merasa lucu diri nya di anggap sedang berpacaran dengan mbak Yuni di dalam kantor nya oleh Dona. lalu Doni berkata menjelaskan nya kepada Dona serta ibu nya.
"bibi dan Dona dengar ya baik-baik, wanita yang tadi siang berada diruangan kantor ku dan sudah di lihat oleh Dona itu, adalah seorang menejer yang mengatur salah satu cabang restoran pratama. bibi pasti tahu bahwa mendiang ayah mempunyai tujuh cabang restoran dan sekarang hanya tersisa lima cabang saja. nah di setiap cabang nya masing-masing ada yang memimpin nya yang menjabat sebagai menejer di restorant tersebut. salah satu menejer nya adalah wanita yang siang tadi berada di kantor ku, karena ia membuat kesalahan ketika mengirim data stok barang kepada ku. makanya aku panggil dia ke kantor ku karena jarak restorant pratama cabang satu itu dekat dengan kantor yang aku pimpin. apakah alasan ku ini masih belum jelas bi, Dona...???" Dona dan ibu nya yang sejak tadi mendengarkan alasan Doni tersebut, segera meredakan ketegangan mereka masing-masing dan kini Dona duduk di samping Doni seraya berkata.
"baik kalau begitu alasan mu, aku menerima nya. tetapi aku tak mau jika wanita itu sampai dekat sekali jarak nya dengan mu."
"ya jelas aku cemburu lah!" tegas Dona dan Doni hanya tersenyum sambil manggut-manggut.
Kemudian ibu Asih berkata kepada kedua muda-mudi itu.
"di setiap hubungan apapun itu, pasti ada yang nama nya masalah. tetapi masalah tersebut jadikanlah pembelajaran dan pengalaman kalian agar lebih dewasa untuk menghadapi nya bersama. ibu yakin kalian akan awet berhubungan jika kalian berdua sama-sama saling memahami karakter kalian masing-masing." ujar ibu Asih menceramahi Dona dan Doni yang sejak tadi mendengarkan ucapan ibu Asih.
Lalu Doni berkata kepada Dona dan ibu Asih.
"aku berjanji akan menjaga hubungan ku dengan Dona bi. kalau perlu sampai menikah pun aku sanggup."
"aku juga sama dengan apa yang kamu ucapkan itu sayang." ujar Dona menimpali ucapan Doni dan ibu Asih hanya tersenyum saja dan berkata.
"yasudah pasang cincin yang akan kalian pakai itu, ibu merestui hubungan kalian dan sepasang cincin yang kalian pakai itu adalah tanda terikat nya kalian sebagai sepasang kekasih mulai malam ini sampai kalian akan menikah nanti."
"terima kasih bi sudah mendukung kami."
"iya den, sama-sama." balas ibu Asih dan Dona segera berkata.
"yang penting pegang janji kamu itu sayang." Doni hanya tersenyum mengangguk tanda berjanji akan ucapan Dona tersebut.
Setelah kedua nya memasang cincin di masing-masing jemari jari manis tangan kiri mereka, kedua nya kini sudah resmi berpacaran dan sudah di saksikan secara jelas oleh ibu Asih. setelah dirasa perbincangan mereka telah cukup, Doni segera berkata kepada ibu Asih dan Dona untuk pamit pulang karena waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam dan besok Doni dan Dona harus bekerja lagi. sesudah pamit bersalaman dengan mencium punggung tangan ibu Asih dan Dona mencium punggung tangan Doni, Dona mengantar Doni sampai ke mobil nya dan ibu nya Dona sedang melihat-lihat belanjaan pakaian yang Dona dan Doni beli serta menyisihkan makanan ringan yang akan diberikan kepada keluarga pak Yono besok pagi. di saat Dona berada di halaman rumah nya dan berada di pintu kemudi mobil Doni, ia langsung berkata kepada Doni.
"pulang dari sini jangan mandi malam ya?! awas saja kalau kamu bandel! aku enggak akan mau balas pesan whatsapp kamu!"
"iya-iya sayang. tenang saja, aku juga tahu bahaya nya mandi malam-malam."
"yasudah kalau sudah tahu!"
"biasa saja kali sayang jawab nya, tak perlu jutek seperti itu."
"tau ah! sudah sana keburu pulang kemalaman kamu!"
"iya-iya sayang, tapi cium dulu ya..."
"enggak!"
"ayolah cium pipi saja, biar aku tak menghayali kamu macam-macam jika nanti mau tidur."
"dihh!! dasar tukang mesum!!"
"maka nya cium biar aku enggak mesum!" ujar Doni lagi merayu dan Dona mau tak mau lalu mencium pipi kanan Doni dan Di saat itu juga Doni langsung memegang kedua pipi Dona dan mencium bibir nya secara paksa dan kedua nya saling memagut dengan penuh cinta kasih. tetapi aneh nya Dona tak meronta, karena sebenar nya Dona pun menikmati nya dan ia hanya pura-pura tegar dan sok jual mahal saja di depan ibu nya dan Doni.
Setelah adegan ciuman selamat tinggal itu selesai, Doni pamit kepada Dona dan kini Doni sudah mengemudikan mobil nya untuk pulang ke kantor CV.Group Perkasa tempat Doni tinggal selama ini. Dona yang masih menatap kepergian mobil Doni yang semakin menjauh itu, hanya tersenyum manis dan membatin.
"hati-hati di jalan sayang. seumur hidup ku baru kali ini aku sangat bahagia sekali mengenal seseorang, yaitu kamu bos ku tersayang." setelah membatin begitu, Dona masuk ke dalam rumah nya dan ikut bergabung dengan ibu nya yang sejak tadi sedang mencoba beberapa pakaian yang dibeli oleh Dona dan Doni yang sekira nya sesuai dengan ukuran lekuk tubuh ibu Asih.