
DI SELA Doni dan ibu Elis sudah mencicipi martabak yang sudah dibeli Doni itu, terdengar suara motor terhenti di depan rumah itu dan tak lama kemudian muncul Dede bersama ayah nya masuk ke dalam rumah itu. Doni hanya tersenyum ketika pak Tohir mendekati nya dan bersalaman. kemudian Dede duduk lagi di tempat nya semula dan pak Tohir duduk di dekat Doni.
Kini Mereka mulai berbincang-bincang lagi, kecuali Dede dan Asri. kedua nya hanya menjadi pendengar saja karena itu adalah obrolan khusus untuk orang dewasa saja. lalu terdengar pak Tohir berkata tanya kepada Doni.
"sudah lama sekali kamu baru datang lagi kemari Doni?? apa kabar mu sekarang ini??"
"alhamdulilah baik pak." ujar Doni ramah dan pak Tohir bertanya lagi kepada Doni.
"penampilan mu dan perawakan mu sudah berbeda dari sebelum nya Doni. bapak tak habis pikir kamu bakal datang lagi ke rumah ini." Doni lalu menjawab ucapan pak Tohir itu.
"sebenar nya kedatangan saya kemari untuk bersilaturahmi dan mengajak bapak untuk bekerja di kantor tempat saya memimpin." pak Tohir lalu menatap istri nya yang sedang menyuapi Asri makan martabak manis dan Dede terlihat sedang asyik memainkan ponsel nya. kemudian pak Tohir menatap Doni lagi dan bertanya akan ucapan nya itu.
"maksud mu bekerja sebagai apa Doni??? bapak tak punya surat lamaran pekerjaan dan pengalaman kerja di kantor pun tak punya sama sekali." ujar pak Tohir mengeluh.
"tak perlu memikirkan hal itu pak. pekerjaan nya cuman bersih-bersih ruangan kantor saja kok." ujar Doni dan pak Tohir lalu bertanya lagi kepada Doni.
"bersih-bersih bagaimana Don?? bapak belum paham." ujar pak Tohir masih bingung dan Doni menjelaskan nya.
"pekerjaan nya itu semacam menyapu lantai, mengepel, membersihkan debu, dan lain-lain. nanti bapak akan Doni ajarkan cara-cara dan tugas apa saja yang harus dikerjakan."
"oh jadi begitu." ujar pak Tohir manggut-manggut paham dan kemudian Doni bertanya lagi.
"bagaimana? pak Tohir mau tidak???" lalu pak Tohir menatap ibu Elis yang sejak tadi hanya menjadi pendengar saja dan kemudian ibu Elis menyuruh suami nya untuk menyetujui nya. kemudian pak Tohir menyetujui saran tersebut dan Doni berkata kepada pak Tohir.
"baiklah kalau pak Tohir mau bekerja di kantor saya. besok bapak memakai pakaian biasa saja dan jangan lupa harus pakai sepatu. besok pagi sekitar jam tujuh pagi, bapak datang ya ke alamat ini." lalu Doni meyebutkan alamat ruko pinangsia berada dan pak Tohir sudah hapal akan alamat tempat tersebut karena ia berkata ketika mengojek ia sering mengantarkan para pegawai yang mengontrak dikampung itu berangkat bekerja di daerah ruko tersebut.
Setelah itu mereka mulai berbincang-bincang lagi dan pak Tohir baru diberi tahu oleh Doni bahwa pak Tohir nanti akan bekerja di kantor nya Doni dan bos nya adalah Doni sendiri. setelah perbincangan mereka di rasa cukup, kini Doni pamit undur diri untuk pulang kembali karena malam sudah semakin larut dan tak terasa waktu jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. kini Doni sudah masuk ke dalam mobil nya setelah ia bersalaman dengan keluarga ibu Elis. kini Doni pulang lagi menuju ruko pinangsia tempat tinggal nya selama ini. diperjalanan pulang, telepon nya menyala dan terdengar suara nada dering telepon.
Kemudian Doni mengangkat panggilan telepon tersebut dan ternyata itu adalah pak Yaris.
"halo pak?" tanya Doni dan terdengar suara pak Yaris menjawab nya.
"iya nak. kamu sedang berada dimana?" tanya suara pak Yaris karena ia mendengar suara bising kendaraan.
"saya sedang dijalan dan berada di dalam mobil pak. ini mau pulang habis dari rumah orang yang akan bekerja sebagai OB di kantor CV.Group Perkasa."
"oh begitu. ini bapak mau berbicara sebentar dengan mu nak."
"silahkan pak. ingin bicara apa?" ujar Doni dan kini pak Yaris menjawab nya.
"soal kamu beli tanah di kampung duren itu, bapak sudah mengecek nya tadi sore. tanah lahan nya memang lumayan luas dan lebar, tetapi yang membuat bapak heran. mengapa harga nya mahal sekali sampai tujuh miliyar rupiah???" pertanyaan dari pak Yaris tadi langsung dijawab oleh Doni.
"alasan nya apa emang nya sampai mereka bersikeras ingin menjual lahan yang harga nya tinggi itu???" lalu Doni menjawab nya dan menjelaskan nya.
"menurut seorang notaris yang ikut menjadi saksi dan perantara dalam pembelian tanah lahan itu, kata nya harga jual beli tanah di daerah jakarta kian tahun kian naik. di tambah pajak yang berlaku bagi lahan yang diperjualbelikan itu. itulah mengapa lahan tersebut bisa mahal sekali pak dan saya tahu itu dari notaris tersebut."
"hmm jadi begitu. lalu sertifikat nya ada dimana sekarang??"
"sertifikat nya sedang di urus oleh notaris itu dan akan segera di rubah nama pemilik nya pak."
"lho mengapa kamu memberikan nya nak?? bagaimana jika nanti sertifikat itu hilang atau dibawa kabur oleh notaris itu???" ujar pak Yaris mulai khawatir dan Doni menjelaskan nya.
"tak perlu khawatir pak. notaris itu ayah nya Wawan, mana mungkin ayah nya Wawan akan sebegitu nekat nya mengkhianati saya."
"oh jadi ayah nya Wawan itu seorang notaris, begitu???" ujar pak Yaris bertanya lagi dan Doni menjelaskan nya.
"dari dulu ayah nya Wawan memang seorang notaris. tetapi sekarang sudah pensiun karena sering sakit-sakitan dan ditambah karena faktor umur yang sudah tua juga."
"oh jadi begitu. baiklah kalau itu memang benar ada nya. lalu kapan kamu mau mulai membangun rumah nya nak???" pertanyaan pak Yaris itu membuat Doni merenung sebentar dan kemudian menjawab nya.
"mau nya sih secepat nya pak. bukankah bapak yang akan mencarikan mandor untuk membangun rumah saya itu???"
"bapak sudah menghubungi mandor itu nak. cuman bapak butuh kepastian kapan akan di mulai nya membangun rumah mu itu."
"bagaimana kalau besok saja di mulai nya pak."
"besok? baiklah bapak akan hubungi mandor itu untuk datang ke lokasi. soal semua keperluan membangun rumah mu itu, nanti bapak yang akan mengatur nya."
"baik pak terima kasih banyak." ujar Doni di sela menyetirkan mobil nya.
Lalu pak Yaris bertanya lagi kepada Doni.
"apakah benar kamu ingin membuat rumah yang seperti rumah mendiang ayah mu dulu nak???"
"darimana bapak tahu akan hal itu???" tanya Doni penasaran dan pak Yaris menjawab nya bahwa ia tahu hal itu dari ibu Asih. Doni hanya manggut-manggut paham dan Doni berkata bahwa ia benar menginginkan membangun rumah yang seperti rumah nya dulu. lalu pak Yaris berkata kepada Doni akan mengatur Rencana Membangun Rumah Don**i** itu. kemudian mereka menyudahi obrolan lewat telepon itu dan mobil Doni kini sudah masuk ke dalam ruko pinangsia menuju ruko kantor CV.Group Perkasa. setiba nya nanti di ruko kantor nya, Doni akan langsung beristirahat tidur karena pagi nya ia akan bangun subuh seperti biasa dan ditambah ada tugas baru nya, yaitu mengajari pak Tohir yang nanti akan bekerja sebagai petugas kebersihan besok pagi nya.
...*...
...* *...