KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
DEBT COLECTOR


DONI Yang mendengar suara ancaman dari salah satu dua lelaki berwajah sangar itu langsung membalas nya dengan ucapan tegas.


"permisi ada apa ini?!"


semua orang yang ada di dalam rumah itu menatap Doni secara bersamaan. dari salah satu dua orang berwajah sangar yang berkumis tipis, segera berkata kasar kepada Doni.


"siapa kamu bocah..?! kalau tidak ada urusan nya, mending pergi sana!!" ucap lelaki itu dengan kasar.


Tampilan Doni yang sederhana itu hanya di tatap oleh pandangan mata meremehkan dan senyum sinis dari kedua orang lelaki berwajah sangar yang tak dikenal nya itu. Doni yang di panggil 'Bocah' oleh kedua orang penagih hutang yang biasa di sebut Debt Colector itu, segera menurunkan adik nya Dede dari gendongan nya dan dialihkan kepada Dede.


Doni lalu menatap kedua orang asing itu dan kemudian ia bertanya kepada ibu Elis dan suami nya tentang siapa kedua orang tak tahu sopan santun itu. pak Tohir masih menunduk dan ibu Elis yang menjawab pertanyaan Doni.


"kedua tamu ini adalah orang yang ingin menagih hutang ke rumah ini Don. awal nya kami pinjam uang kepada bank keliling untuk biaya berobat kakek yang sakit. baru berapa hari saja pinjam, ini sudah di tagih lagi oleh mereka." ucap ibu Elis bernada sedih. Dede yang ada di situ segera menggendong adik nya dan Doni menyuruh Dede untuk keluar terlebih dahulu.


Setelah Dede keluar dengan menggendong adik perempuan nya itu, Doni langsung bertanya kepada ibu Elis.


"memang nya pinjam berapa banyak uang nya bu..???"


"tak banyak Don. hanya lima ratus ribu saja, tetapi bunga nya besar dan sekarang malah harus bayar sekitar dua juta rupiah." ucapan ibu Elis terhenti karena dari salah satu penagih hutang itu, langsung menyela ucapan ibu Elis.


"itu sudah perjanjian yang kalian setujui sebelum nya.!! bunga pinjaman tujuh puluh persen dan jaminan sertifikat rumah ini jika kalian tak mampu membayar nya.!!" ucap lelaki yang tak berkumis berkata tegas.


Doni yang sudah paham akan persoalan tersebut, langsung membuka tas nya dan berkata ia akan melunasi nya. kedua orang penagih hutang itu hanya diam menatap sinis kepada Doni karena mereka menyangka Doni hanyalah anak miskin yang berpakaian lusuh dan hanya modal besar mulut saja.


Disela mereka memperhatikan Doni, anak itu langsung mengambil satu gepokan uang senilai sepuluh juta rupiah. para pasang mata di dalam rumah itu mendelik menatap Doni yang sedang merobek kertas kecil yang ada tulisan jumlah nominal nya yaitu label yang mengareti uang gepokan tersebut. Doni langsung menghitung nya dan mengambil uang dua juta rupiah.


Ia lalu memberikan nya kepada kedua orang penagih hutang itu seraya berkata.


"terima kasih!." dengan tegas pula dan kedua nya kini keluar rumah itu tanpa permisi lagi.


Setelah penagih hutang itu pergi mengendarai motor besar itu secara berboncengan, Ibu Elis dan pak Tohir lalu berkata berterima kasih banyak kepada Doni atas pertolongan nya itu. Doni hanya tersenyum dan kini ia duduk bersila sembari memberikan uang yang masih tersisa seraya berkata.


"ini ibu ambil. saya ada rezeki buat keluarga ibu dan biaya sekolah Dede. uang ini masih tersisa banyak dan bisa ibu pakai buat bikin warung kecil-kecilan. bukan kah ibu Elis pernah berkata ingin memiliki warung untuk berjualan ketoprak...???" ucap Doni kepada sepasang suami istri tersebut dan ibu Elis sebenar nya memang pernah berkata kepada Doni ingin membuka warung ketoprak. tetapi ia tak ada modal untuk membuka usaha kecil-kecilan tersebut.


Ibu Elis hanya mengangguk dan menerima uang tersebut. ibu Elis lalu berkata meminta maaf kepada Doni tentang ucapan nya yang awal ketika Doni baru datang ke rumah itu langsung di kecam oleh ibu Elis akibat meninggal nya kakek Sarkim yang sakit. ibu Elis menceritakan kepada Doni tentang ayah nya yang sudah meninggal itu, selalu menyebut-nyebut nama Doni sampai detik menghembuskan nafas terakhir nya.


Doni masih diam merenungi ucapan tersebut dan ia pun berkata telah bersalah akan aksi nekat nya yang pergi ingin mencari pekerjaan sembari membawa barang-barang nya. pak Tohir selaku suami nya ibu Elis hanya bisa berkata meminta maaf kepada Doni karena semua itu berawal dari rasa curiga nya pak Tohir kepada Doni.


Semua itu telah berlalu dan Doni sudah memaafkan persoalan yang telah usang itu. setelah mereka berbincang-bincang tentang Doni bekerja dimana, ia lalu pamit karena perut nya sudah mulai kelaparan. ia tak mengatakan bahwa diri nya sedang lapar, tetapi ia hanya berkata diri nya sedang ada perlu dengan orang lain dan ia harus cepat pulang ke mes tempat kerja nya.


Doni sengaja berkata begitu karena ia ingin menutupi identitas nya yang sudah menjadi seorang pengusaha sukses walaupun usaha itu ia dapat dari warisan ayah nya. ibu Elis dan pak Tohir tak banyak bertanya karena mereka pikir ucapan Doni itu benar ada nya dan bukan beralasan menutupi sesuatu.


Uang yang ia berikan kepada pak Ustad Rojak untuk biaya pemakaman sampai tujuh hari nya kakek Sarkim pun, ia berkata mengaku itu dapat dari Casbon di bos nya bekerja kepada ibu Elis dan suami nya. sama hal nya dengan uang yang ia berikan kepada ibu Elis juga, karena ia tak ingin identitas nya diketahui oleh siapa pun. kecuali pak Ustad Rojak, karena Doni sudah berkata kepada pak Ustad Rojak untuk tetap tutup mulut akan siapa sebenar nya Doni itu. pak Ustad Rojak hanya mengangguk dan menyetujui atas saran Doni tersebut.


Setelah di rasa perbincangan mereka cukup, Doni pamit kepada sepasang suami istri itu berserta kepada kedua anak nya. Dede yang masih menggendong adik nya itu hanya melambaikan tangan nya kepada Doni dan Doni juga melambaikan tangan perpisahan kepada keluarga kakek Sarkim. kali ini Doni telah mengucapkan kata perpisahan kepada keluarga tersebut karena waktu Doni nekat ingin pergi dari rumah itu, ia hanya pamit kepada kakek Sarkim saja. kini giliran Doni pamit secara baik-baik kepada mereka, lalu ia berjalan pulang dengan rencana yang gagal akan tujuan awal ingin membicarakan perihal memberangkatkan nya kakek Sarkim naik haji ke mekah. uang yang ia bawa hanya sekitaran enam puluh juta saja dan itupun uang nya ia jadikan untuk bersedekah kepada orang yang telah menolong nya semasa masih menjadi orang susah. Doni sudah iklas akan uang yang jumlah nya tidak sedikit itu ia berikan kepada orang yang pernah menolong nya. karena memang dari awal Doni sudah berniat ingin menyumbangkan sebagian kecil dari harta nya untuk orang yang baik dan tulus kepada nya.


Setelah perpisahan yang mengharukan itu berlalu, kini anak muda itu sedang menuju sebuah warteg untuk makan siang yang telat. karena waktu itu jam menunjukan pukul dua siang hari. uang untuk kebutuhan nya, ia simpan di dompet kupluk nya dan kini anak itu sedang duduk memesan makanan di warteg tersebut.


Di satu tempat yang berbeda dan berada di dalam sebuah rumah yang tak terlalu besar, keluarga besar Dona sedang mengumpulkan dana untuk biaya pemakaman serta biaya tujuh hari nya almarhumah nenek Uminah. kedua adik ibu Asih beserta suami dan istri nya, telah menyumbangkan uang masing-masing sekitar lima juta rupiah. sedangkan dari ibu nya Dona, ia hanya bisa memberikan uang senilai dua juta rupiah dan itu pun uang dari pemberian Dosen nya Dona.


Kedua adik nya ibu Asih memaklumi akan keterbatasan kakak tertua nya itu. mereka tahu ibu Asih adalah seorang janda dan untuk mencari uang pun sangat mustahil mendapat lebih dan sudah pasti hanya pas-pasan untuk makan saja. mereka juga tahu anak nya ibu Asih masih berkuliah yang terbilang masuk nya itu telat beberapa tahun. telat nya Dona masuk kuliah itu, hanya di karenakan minim nya biaya untuk masuk kuliah nya. biaya masuk kuliah Dona memang ada dan itu pun dari bantuan beasiswa sekolah nya Dona dari hasil prestasi nya ketika di sekolah. uang tersebut diperkirakan tak seberapa besar nominal nya. untuk menambah biaya tambahan kuliah Dona yang kurang itu, semua berasal dari hasil kerja keras ibu nya dalam bekerja sebagai tukang kuli cuci pakaian. ibu Asih tak mau merepotkan kedua adik nya itu dengan cara meminta tambahan biaya kuliah anak nya. Ia tak mau disebut seperti pengemis dan ia lebih baik bekerja keras selagi diri nya masih sehat bekerja di umur nya yang sudah tak muda lagi itu. tekad ibu Asih yang seperti itu, pernah dikatakan kepada anak asuh nya yaitu Doni. ucapan tersebut sudah berlalu dan kejadian tersebut terjadi ketika ibu Asih masih menjadi pembantu rumah tangga di rumah majikan nya dulu. dan kini, celotehan ibu Asih kepada anak asuh nya kala itu. telah dilakukan oleh Doni dengan cara menolak untuk menjadi pengemis selagi fisik nya masih normal, ia tak akan melakukan hal tersebut sebelum mendapatkan pekerjaan yang layak.