KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
SAKSI HAK WARIS


PEMILIK Rumah yang bercat hijau itu sudah keluar dari rumah nya karena mendengar suara mobil berhenti di depan rumah mereka. pemilik rumah itu ternyata adalah ibu Dewi yang awal nya sedang berada di dalam bersama suami dan ketiga anak nya.


Mereka berdiri dan berada di ambang pintu sedang melihat siapa yang sedang keluar dari dalam mobil hitam yang bermerek mewah. para warga desa yang berada di depan rumah nya masing-masing tersebut, menatap aneh kepada mobil bagus tersebut karena yang keluar dari dalam mobil itu ternyata Doni yang tak lain adalah anak dari ibu Dewi yang sudah di usir oleh ibu nya.


Pak Yaris sudah keluar dari pintu kemudi mobil milik nya dan kini ia menunggu Doni yang baru keluar dari pintu sebelah kiri mobil tersebut. ibu Dewi mengenali pak Yaris dan kemudian muncul Doni mendekati pak Yaris. ibu Dewi, suami nya dan ketiga anak nya tercengang kaget melihat Doni turun dari mobil mewah tersebut dan menatap pemilik rumah tersebut.


Pak Yaris segera berjalan mendekati depan rumah itu dan ia mengucap salam. pemilik rumah itu menjawab salam nya pak Yaris dan Doni masih menatap tajam dan benci kepada orang-orang yang telah mengusir nya.


Ibu dengan lagak baik nya mendekati pak Yaris dan berkata.


"wah pak Yaris sudah lama sekali tidak bertemu. nak sini nak, salim gih ini pak Yaris orang yang pernah ibu bicarakan itu.." ujar ibu Dewi kepada ketiga anak nya dan kemudian ketiga anak nya bersalaman mencium punggung tangan pak Yaris. suami ibu Dewi yang bernama Tomi pun bersalaman dengan pak Yaris dengan sopan dan punggung membungkuk.


Doni yang melihat hal itu hanya tersenyum sinis dan sudah mengira keluarga yang ia anggap keluarga sialan itu hanya kedok belaka. lalu pak Yaris memanggil Doni dan Doni hanya diam saja ketika ibu Dewi memanggil Doni juga.


"sini nak Doni.."


"Doni anak ku sayang. kemari nak ibu kangen padamu. kamu pergi kok gak bilang-bilang pada ibu.." ujar ibu Dewi bepura-pura baik karena ada pak Yaris di dekat nya.


Doni menjawab ucapan ibu Dewi dengan kasar.


"aku bukan anak mu ibu brengsek.!! buka topeng setan mu itu didepan pak Yaris.!!" gertak Doni dan membuat ibu Dewi menjadi sedikit marah dan ia tahan kemarahan itu. Tomi hanya menatap Doni dengan tajam beserta ketiga anak nya. mereka tidak bisa melakukan seenak nya karena merasa segan terhadap pak Yaris yang terlihat seperti bos di suatu perusahaan dan berpakaian rapi serta wangi.


Pak Yaris segera mendekati Doni dan ingin menenangkan nya dahulu. sebelum nya, ibu Dewi bertanya kepada pak Yaris apa maksud tujuan pak Yaris datang ke rumah nya beserta anak nya Doni. pak Yaris hanya berkata nanti akan menjelaskan nya ketika sudah datang seseorang yang ia tunggu. dan seseorang itu kini sedang menuju rumah ibu Dewi.


Ketika pak Yaris menenangkan Doni agar menahan emosi nya dan menahan rasa benci nya itu, muncul sebuah mobil merah yang bagus sekali dan berhenti di belakang mobil pak Yaris. para warga tercengang kaget melihat ada mobil mewah lagi berhenti di depan rumah ibu Dewi dan membuat keluarga ibu Dewi pun semakin tercengang ketika pemilik mobil tersebut adalah seorang lelaki seumuran pak Yaris dan berseragam kepolisian berpangkat bintang jenderal.


Pak Yaris mengenali pak polisi itu karena ia yang menelepon nya dan memanggil nya lewat telepon sebelum berangkat bersama Doni ke rumah ibu Dewi. pak polisi itu mendekati pak Yaris dan bersalaman. pak Yaris mengenalkan Doni kepada pak polisi itu dan Doni kemudian bersalaman dengan pak Polisi tersebut.


Wajah pucat mulai terbayang di wajah keluarga ibu Dewi. mereka mengira Doni sudah melapor kepada polisi untuk mengurung keluarga ibu Dewi ke dalam penjara atas kelakuan mereka yang semena-mena terhadap Doni. lalu pak Yaris mendekati ibu Dewi dan Tomi untuk mengenalkan siapa pak polisi itu dan kemudian mereka masuk ke ruang tamu ibu Dewi untuk duduk dilantai beralas karpet serta memperbincangkan permasalahan yang sedang terjadi sebenar nya.


Terdengar pak Yaris memulai bicara nya.


"terima kasih kepada orang yang hadir di sini. terutama pak Broto, ibu Dewi dan nak Doni. kedatangan saya ke rumah ibu Dewi bukan karena tidak ada maksud tujuan tertentu. kedatangan saya kemari mengajak pak Broto dan nak Doni ini, perihal ada nya surat wasiat yang belum sepenuh nya di berikan oleh mendiang pak Randi Pratama terhadap ibu Dewi dan nak Doni selaku anak kandung nya." ujar penjelasan pak Yaris dan membuat ibu Dewi menjadi berbinar-binar mendengar harta warisan milik mendiang suami nya masih ada.


Ibu Dewi menatap suami nya yaitu Tomi dan kedua nya seperti anjing mendapatkan tulang dari majikan nya. senyum mulai terulas di wajah kedua nya dan membuat Doni muak melihat tampang sok baik dari kedua orang tersebut. Doni belum sepenuh nya memaafkan kesalahan ibu nya karena ia masih benci kepada nya beserta suami dan ketiga anak nya.


Lalu terdengar lagi pak Yaris meneruskan ucapan nya.


"harta warisan ini adalah pembagian yang sudah di tanda tangani oleh pak Randi sebagai pemilik warisan dan saya bersama pak Broto adalah Saksi ketika pak Randi membicarakan perihal Hak Waris ini jatuh hanya kepada anak tunggal nya saja." mendengar ucapan tersebut, ibu Dewi dan suami nya terkejut mendengar ucapan tersebut.


Perasaan mereka berdua seketika menjadi gelisah dan risau. Doni masih diam menatap tajam ke arah ibu dan ayah tiri nya. lalu terdengar ibu Dewi menyergah ucapan pak Yaris.


"me..mengapa hanya diberikan kepada Doni saja..?! saya sebagai istri sah nya pak Randi adalah orang yang paling berhak mendapat semua harta warisan tersebut." ujar ibu Dewi dan langsung di jawab oleh Doni.


"heh bu.!! warisan ayah yang dulu sudah di berikan oleh pak Yaris itu kemana hah.?! kau apakan warisan sebanyak itu..??? dasar ibu tak tahu diri.!! dasar kalian orang tua boros.!!" geram Doni dengan kasar dan segera di tenangkan oleh pak Yaris.


Pak Broto yang sejak tadi masih diam kini mulai angkat bicara.


"bukankah mendiang pak Randi sudah memberikan harta nya kepada istri dan anak tunggal nya pak Yaris..???"


pak Yaris menjawab pertanyaan pak Broto.


"warisan itu sudah saya berikan sebagian ketika sehari pak Randi meninggal dunia. saya memberikan nya kepada ibu Dewi ini dan di saksikan oleh pembantu nya yang bernama ibu Asih. tetapi, entahlah saya pun tak mengerti dengan apa yang sudah di lakukan ibu Dewi terhadap harta warisan tersebut. rumah gedung, mobil mewah, serta beberapa perusahaan nya pun entah masih ada atau tidak. menurut penuturan nak Doni ini, ibu Dewi telah menghambur-hamburkan warisan tersebut bersama ayah tiri nya dan sampai sekarang harta itu habis tak tersisa." ujar pak Yaris dan ia sengaja menyinggung seperti itu karena ia pun merasa kesal terhadap ibu Dewi karena sudah menghabiskan harta tersebut seorang diri dan tidak memberikan sedikit pun kepada Doni.


Pak Broto hanya manggut-manggut mendengar penjelasan pak Yaris dan membuat ibu Dewi dan suami nya tertunduk mati kutu tak bisa berkata apa-apa. Doni merasa puas atas sindiran yang dikatakan pak Yaris barusan. sebenar nya pak Yaris dan Doni sudah sepakat ingin mempermalukan ibu Dewi dan suami nya itu di depan pak Broto selaku pihak berwenang dan kini mereka berdua telah berhasil mempermalukan nya.