KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
BERARGUMENTASI


RINTIK Hujan terdengar perlahan-lahan menitik di atas genteng nya rumah ibu Asih. malam hari yang harus nya cerah karena cahaya rembulan itu, kini meredup karena terhalangi awan mendung yang menggumpal menutupi rembulan purnama pada malam itu. ibu Asih baru saja masuk ke dalam rumah nya dan seperti nya ia sudah mengangkat jemuran baju nya yang lupa ia angkat ketika sore tadi di depan rumah nya. di saat yang bersamaan, muncul mobil berwarna hitam mengkilap dan ibu Asih segera melongok ke arah depan rumah nya. ternyata itu adalah mobil Doni yang kini sudah berhenti di depan rumah tersebut.


Orang yang ada di dalam mobil itu sudah keluar yang di antara nya adalah Doni, Dona, Wawan serta Avril. ibu Asih menatap heran dengan mereka berempat itu habis darimana dan lagi pula ibu Asih belum mengenal siapa itu Wawan. karena hujan semakin besar, ke empat orang itu segera bergegas menuju ke teras rumah ibu Asih dan duduk diteras nya seraya membuka sepatu mereka masing-masing. setelah ke empat nya naik ke teras, ibu Asih langsung bertanya kepada Doni.


"aden habis darimana bersama Dona dan yang lain nya???" Doni belum menjawab nya karena ia salim dulu kepada ibu Asih dan begitu juga Dona, Avril serta Wawan.


Setelah mereka salim, Doni langsung menjawab pertanyaan ibu Asih tadi.


"pulang kerja tadi kami jalan-jalan dulu bi."


"jalan-jalan dari mana den???" tanya ibu Asih lagi dan malah Dona yang menjawab nya.


"dari mall bu. tadi sore Dona dan Avril di ajak bos Doni dan mas Wawan jalan-jalan ke mall."


"benar ibu." ujar Avril dan Wawan serta Doni pun membenarkan. lalu ibu Asih berkata lagi kepada semua nya.


"oh begitu. tidak apa-apa, asal kalian jangan terlalu pulang larut malam saja."


"iya ibu." ujar mereka serempak dan kemudian ibu Asih mengajak ke empat muda-mudi itu untuk masuk ke dalam rumah nya karena hujan semakin lebat dan cuaca semakin dingin.


Setelah ke empat orang itu duduk di sofa beserta ibu Asih juga, lalu Wawan memberikan bungkusan salah satu martabak dari dua loyang yang sejak awal ia bawa itu kepada ibu Asih dan ibu Asih menerima nya seraya bertanya.


"terima kasih nak. siapa nama mu?"


"saya Wawan bu." jawab Wawan dan ibu Asih lalu menatap Dona seraya berkata.


"ambilkan minum dulu buat teman mu ini sayang."


"baik bu." jawab Dona dengan patuh dan ia kini bergegas menuju dapur rumah nya. ibu Asih lalu menatap Doni yang duduk bersebelahan dengan Wawan dan Avril duduk dikursi yang awal nya berduaan dengan Dona.


Lalu ibu Asih bertanya kepada Doni sembari menyimpan kotak martabak di meja ruangan tamu itu.


"apakah nak Wawan ini karyawan baru di kantor nya den Doni???"


"iya bi dan Wawan adalah teman saya semasa sekolah juga." ujar Doni dan ibu Asih hanya manggut-manggut paham. lalu ibu Asih menatap Avril seraya bertanya kepada nya.


"apakah pak Yono tak khawatir akan mencari mu neng Avril???"


"tidak bu. paman sudah tahu bahwa aku akan pulang malam bersama Dona dengan diantar bos Doni dan mas Wawan ini." jawab Avril dengan sopan.


Di saat itu juga Dona datang membawa tiga gelas air putih dan di simpan dimeja. ketiga nya lalu minum ari putih sugunan Dona tadi dan mereka sudah tak malu-malu lagi terhadap ibu Asih. setelah Dona duduk di kursi bersebelahan dengan Avril, ibu Asih bertanya lagi kepada Doni.


"den, tadi pagi ketika ibu menyapu halaman rumah ini. pemilik kebun sebelah rumah ini menanyakan tentang aden kepada ibu."


"apa yang ditanyakan nya bu???" tanya Dona dengan cepat dan membuat Doni penasaran. Avril dan Wawan hanya diam saja seraya menjadi pendengar yang budiman.


Lalu ibu Asih berkata lagi menjelaskan nya kepada Doni dan di dengar oleh orang yang ada disitu.


"setelah itu bagaimana lagi bu? apakah ia menyebutkan harga luas kebun itu?" ibu Asih hanya menggelengkan kepala nya saja tanda tak tahu.


Di saat itu juga Dona berkata kepada Doni dan di dengar oleh semua nya.


"dulu yang pernah aku tahu, ibu Yanti dan pak Sarto pernah menawarkan semua tanah kebun beserta isi nya itu sekitar lima miliyar lebih."


"hah?!!" ujar Wawan dan Avril serentak dan Doni juga ikut kaget walaupun tak bersuara. ibu Asih lalu berkata dan membenarkan apa kata Dona barusan bahwa pemilik kebun itu sering kali menawarkan harga tak wajar akan tanah kebun nya yang dijual itu. Lalu Wawan bertanya kepada ibu Asih tentang rasa heran nya.


"memang nya luas kebun itu berapa meter sih bu?" semua mata menatap Wawan dan ibu Asih juga menatap nya seraya menjawab pertanyaan Wawan tadi.


"ibu kurang tahu akan luas nya berapa meter. tapi yang jelas tanah kebun itu lumayan luas juga dan bisa untuk membuat satu atau dua rumah penduduk seukuran rumah ibu ini." ujar Ibu Asih dan ke empat muda-mudi yang mendengar nya dengan jelas itu hanya manggut-manggut kepala nya saja.


Lalu Doni bertanya kepada Wawan dan di dengar oleh orang yang ada di situ.


"kira-kira zaman sekarang satu meter tanah harga nya berapa Wan???"


"kalau aku tak salah ingat, tahun kemarin sekitar dua jutaan. entah tahun sekarang berapa." ucapan Wawan tersebut langsung di tanya oleh Avril.


"kamu tahu darimana akan hal seperti itu mas???" lalu Wawan menatap Avril dan menjawab nya.


"karena ayah ku adalah seorang pensiunan notaris akta tanah. jadi aku tahu sedikit tentang info tersebut dari para tamu yang sering datang ke rumah ku dan menanyakan hal tersebut kepada ayah ku." ucapan Wawan tersebut langsung di jawab oleh Dona.


"bagaimana nanti kamu tanyakan saja kepada ayah nya mas Wawan ini sayang?"


"ide yang bagus sayang." jawab Doni seraya tersenyum menatap Dona.


Avril dan Wawan lalu saling tatap dan Wawan lalu bertanya kepada Doni.


"sebenar nya kamu mau membeli tanah kebun itu buat apa Doni???" ibu Asih yang sejak tadi diam memperhatikan muda-mudi itu saling Berargumentasi, kini menjawab pertanyaan dari Wawan itu sebelum Doni menjawab nya.


"den Doni mau bikin rumah di samping rumah ini nak Wawan."


"ouh jadi begitu." ujar Wawan manggut-manggut paham dan di saat itu juga ponsel Avril nyala, lalu ia berkata kepada Wawan.


"kakak perempuan ku menelepon ku sayang."


"angkat gih sayang." ujar Wawan menyuruh dan Avril lalu mengangguk sembari mengangkat telepon kakak nya Avril yaitu istri nya pak Yono.


Ibi Asih yang mendengar kata 'Sayang' dari Avril dan Wawan itu langsung bertanya kepada Doni.


"mereka berdua pacaran juga den???" Doni hanya tersenyum dan membenarkan apa kata ibu Asih. Dona pun berkata membenarkan apa kata ibu nya itu dan ibu Asih lalu berkata kepada Wawan yang sejak tadi menatap Avril yang sedang berbicara dengan ponsel nya.


"kalian sangat cocok sekali, semoga hubungan nak Wawan dengan neng Avril bisa sampai ke pelaminan ya."


"amin..." ujar Doni, Dona, Wawan dan Avril serempak. ibu Asih hanya tersenyum kepada mereka yang ikut tersenyum juga dan kini mereka saling diam karena sengaja membiarkan Avril berbincang dahulu dengan kakak kandung perempuan nya itu yang tak lain adalah istri nya pak Yono.