KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
AIB IBU DEWI


KEMUDIAN Pak Broto berkata kepada ibu Dewi dan suami nya Tomi.


"harus nya harta warisan tersebut di pergunakan dengan baik dan di kelola untuk jangka panjang. harta sebanyak itu jika kita mampu mengelola nya, suatu saat nanti akan berkembang dan hidup kita akan senang dan tidak akan sengsara." ujar pak Broto dan membuat sepasang suami istri itu menjadi salah tingkah karena singgungan secara halus tersebut membuat kedua nya merasa ditusuk perasaan nya dan mereka berdua tak bisa berbuat apa-apa selain diam menunduk.


Mereka berdua tak bisa berkutik mendengar ucapan bernada singgungan tersebut. Doni hanya tersenyum bangga dalam hati dan membatin.


"rasakanlah akibat kesombongan kalian itu.!!" dan pak Yaris kini membuka isi lembaran kertas amplop dan kemudian diberikan kepada ibu Dewi untuk membaca nya.


Ibu Dewi menerima nya dan suami nya ikut-ikutan ingin melihat isi dari surat wasiat tersebut. di bawah tulisan itu, sudah ada tanda tangan pak Broto, pak Yaris dan ayah nya Doni yang bertuliskan ;


Teruntuk Istriku yang sangat ku sayangi yang bernama Dewi Anggraeni. aku sebagai suami mu yang bernama Randi Pratama, telah menitipkan seluruh harta warisan ku kepada pak Yaris setelah kepulangan ku kepada tuhan yang maha kuasa. harta itu sudah aku bagi dua dan separuh dari seluruh harta ku, harus nya telah kau terima setelah sepeninggalku yaitu berupa rumah gedung mewah bertingkat dua beserta isi nya, lima mobil mewah beserta kunci nya, dua perusahaan restoran bintang lima beserta kantor nya. serta beberapa kotak perhiasan dan sertifikat dari rumah dan perusahaan tersebut. aku telah memberikan separuh harta itu untuk kamu kelola nanti nya. sepeninggal diriku, aku telah iklas dengan jalan hidup ku yang hanya sebentar ini. aku hanya pinta kepada mu, urus anak tunggal kita meskipun kau telah menikah lagi dengan selingkuhan mu itu. anggap lah anak ku Doni seperti anak kalian berdua. hanya harta itu yang aku berikan kepada mu istri ku yang sangat kusayangi. aku mohon kepada mu untuk tidak merebut harta ku yang masih tersisa dan masih berada di tangan pak Yaris. harta itu adalah semua keseluruhan harta ku yang ku simpan rapat-rapat dari tangan mu yang sering berpesta pora itu istri ku. harta warisan itu hanya akan aku berikan kepada anak tunggal ku yaitu Doni jika ia sudah dewasa dan berumur dua puluh lima tahun. dan aku mohon kepada mu untuk tidak ikut campur dengan warisan yang sudah aku berikan kepada anak ku nanti. jika kau menolak isi pesan ku ini, urusan mu ada pada saksi yang sudah bertanda tangan di bawah surat wasiat ini.


Isi pesan tersebut membuat ibu Dewi mulai mengeluarkan air mata nya. Tomi pun membaca isi surat wasiat yang sudah dilaminating tersebut. Ibu Dewi menatap pak Yaris, pak Broto serta Doni. mata nya merah karena memang sudah menangis. Tomi hanya diam saja karena ia merasa diri nya terbawa-bawa oleh kejadian tersebut karena di tulisan isi surat tersebut, ada kata-kata yang menyinggung ibu Dewi berselingkuh dengan lelaki lain.


Ibu Dewi memberikan surat wasiat tersebut kepada pak Yaris dan ibu Dewi menangis dan segera ditenangkan oleh Tomi yaitu suami nya. Doni penasaran dengan isi pesan tersebut dan mencoba meminta nya kepada pak Yaris untuk ia baca. pak Broto menatap pak Yaris yang sedang mengeluarkan kertas cek senilai lima ratus juta.


Pak Broto lalu berkata kepada pak Yaris.


"apakah itu uang cek yang di katakan mendiang pak Randi..???" pak Yaris hanya mengangguk setuju dan berkata.


"iya pak. ini adalah uang cek yang harus nya di berikan kepada ibu Dewi bersama warisan yang terdahulu telah saya berikan. saya baru ingat karena uang cek ini di simpan oleh mendiang pak Randi di dalam brankas nya bersama surat wasiat ini." ujar pak Yaris dan membuat pak Broto sebagai sang saksi manggut-manggut paham.


Kemudian ibu Dewi menerima sisa kekayaan pak Randi yang hanya senilai lima ratus juta. Doni masih diam tak berkata apa-apa karena ada dua orang yang membantu nya yaitu pak Yaris beserta pak Broto. Tomi ikut melihat uang cek tersebut dan terdengar pak Yaris berbicara.


"tukarkan saja uang cek tersebut di kantor bank di daerah dekat sini. nanti akan otomatis terdeteksi uang cek itu asli dari pak Randi. ibu sudah membaca semua yang ada di surat wasiat ini kan..???"


ibu Dewi sejak tadi menatap Doni yang sedang membaca isi surat wasiat tersebut.


"sebenar nya, harta warisan yang di berikan kepada Doni itu apa pak Yaris..???" pak Yaris menjawab pertanyaan ibu itu seraya mengambil beberapa sertifikat di dalam koper kecil tempat kertas kantoran dan sudah ia bawa sejak awal berangkat.


"ibu bisa lihat sendiri." lalu pak Yaris memberikan sertifikat-sertifikat itu kepada ibu Dewi.


Tomi selaku suami ibu Dewi ikut melihat juga karena penasaran. mereka berdua tercengang dan saling tatap setelah melihat isi dalam sertifikat tersebut. sertifikat itu adalah lima perusahaan di bidang restoran bintang lima yang sudah terkenal di jakarta dan di beberapa tempat lain nya dan kantor nya yang sudah resmi di beri nama CV.Group Perkasa serta beberapa buku rekening keuangan milik pak Randi yang jumlah nya miliaran rupiah.


Doni kini menatap sepasang suami istri itu dengan tatapan kemenangan terulas diwajah nya. ibu Dewi merasa tak terima dengan hal tersebut dan ia berkata kepada pak Yaris.


"ini tidak mungkin?!. aku tidak terima dengan semua ini..!!!"


"itu sangat mungkin ibu Dewi.!" tegas pak Yaris memotong ucapan bantahan dari ibu Dewi.


Lalu pak Yaris melanjutkan ucapan nya lagi.


"pak Randi bukan tak mungkin melakukan hal seperti itu. asal ibu Dewi tahu, saya adalah teman seperjuangan pak Randi dari semasa ia masih kuliah sampai sesukses sekarang. saya sebagai teman terdekat nya, sering mendengar keluhan beliau terhadap ibu Dewi yang selalu menghambur-hamburkan kekayaan yang diberikan oleh pak Randi serta menelantarkan anak semata wayang nya. beliau awal nya ingin menceraikan ibu Dewi ketika nak Doni ini masih berumur lima tahun. tetapi mendiang pak Randi tak tega karena ibu Dewi ini tak punya sanak keluarga atau pun saudara. ibu harus nya sadar dengan kelakuan ibu di masa lalu itu agar bisa berubah di masa sekarang. saya bukan nya menggurui ibu Dewi, saya hanya kasihan kepada ibu yang harus nya sekarang hidup nya senang malah sebalik nya akibat kelakuan ibu itu.! apa ibu tidak baca isi surat wasiat tersebut.??? semua nya sudah jelas dan nyata karena ada tanda tangan resmi dari pak Broto selaku jenderal kepala polisi bersama saya sendiri." ucap panjang lebar pak Yaris menegaskan ucapan nya. pak Broto pun membenarkan ucapan pak Yaris tersebut karena ia pun menjadi sang saksi yang masih hidup bersama pak Yaris.


Pak Yaris berkata begitu karena merasa tak terima dengan bantahan ibu Dewi karena yang merasakan dari keluhan pak Randi adalah pak Yaris sendiri. ia sangat prihatin kepada pak Randi yang sering sakit-sakitan dan istri nya terkadang tidak peduli sama sekali untuk mengurus suami nya. bahkan, ketika akan meninggal pun. hanya pak Yaris yang berada di sisi pak Randi. sedangkan ibu Dewi kala itu sedang asyik nya berpesta ria bersama selingkuhan nya yaitu Tomi.


Perihal mendiang pak Randi sudah mengetahui istri nya berselingkuh dengan lelaki lain, karena ia pernah menyuruh orang lain untuk memata-matai istri nya dan tanpa di sadari istri nya kepergok sedang asyik berbelanja dan bermesraan di sebuah cafee pada masa yang telah lalu. semua itu hanya diceritakan kepada pak Yaris saja oleh pak Randi dan pak Randi pura-pura tak tahu akan kelakuan bejat istri nya itu semasa pak Randi masih hidup.


Dan kini, cerita masa lalu tersebut sedang di umbar oleh pak Yaris karena Aib Ibu Dewi sangat perlu di bongkar dengan bertujuan agar membuat ibu Dewi jera untuk tidak merebut semua harta warisan yang sudah bukan hak milik nya lagi. sisa semua harta itu sudah menjadi milik Doni selaku anak tunggal nya mendiang pak Randi.


...*...


...* *...