KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
KEBENCIAN


DI DALAM Sebuah kamar yang luas dan bagus, terlihat Doni sedang membaringkan badan nya di sofa. ia sesekali sedang memainkan ponsel nya sembari senyum-senyum sendiri menatap layar ponsel nya. ternyata ia sedang Video Call dengan pacar nya yaitu Dona. gadis cantik itu terlihat sedang berbaring juga di ranjang nya dan ia pun menatap layar ponsel nya sembari sesekali tertawa walau tak keras. sudah hampir satu jam Doni dan Dona Video Call dan tujuan mereka yang seperti itu karena alasan rindu dari kedua nya.


Hari-hari yang mereka lewati itu selalu mendapatkan kesan kerinduan ketika kedua nya berpisah ke tempat nya tinggal masing-masing. dalam jenjang Video Call tersebut, mereka mulai berbincang-bincang dan di mulai dari Doni bertanya kepada Dona.


"apa benar dulu pernah ada orang yang datang menawar harga kebun milik tetangga rumah mu itu ke rumah mu sayang???"


"benar sayang. itu sudah lama sekali ketika aku masih sekolah SMA. kala itu orang itu bertanya begitu kepada ibu ku dan ibu ku tak tahu akan hal tersebut. tetapi di saat itu juga ibu Yanti yang melihat hal itu di depan rumah nya, segera datang menghampiri. aku dan ibu ku tak ikut campur dengan obrolan tawar menawar itu. ibu Yanti dulu pernah mengungkapkan bahwa ia melelang tanah kebun nya senilai lima miliyar rupiah. di saat itu juga orang yang menawar itu tak jadi membeli karena tak bisa di tawar dengan harga yang kurang dari segitu. padahal saat orang yang mau menawar tanah itu, ia membawa seorang notaris juga untuk mengukur berapa luas tanah kebun tersebut."


"lalu setelah itu?" tanya Doni masih penasaran.


Mereka berdua itu berbicara lewat Video Call dan Dona lalu berkata menjawab pertanyaan Doni tadi.


"pemilik tanah kebun itu tak membolehkan notaris itu mengukur tanah tersebut oleh ibu Yanti. bahkan pak Sarto pun melarang nya juga."


"mengapa bisa begitu?" tanya Doni lagi penasaran.


"entah lah aku juga tak mengerti akan larangan itu. mungkin hanya alasan nya saja kali agar tidak diketahui luas dan lebar tanah tersebut. jadi orang tahu nya harga kebun itu senilai lima miliyar rupiah." ujar Dona menjelaskan nya dan Doni yang menatap Wajah Dona sejak tadi itu segera berkata.


"bagi ku uang segitu tak ada apa-apa nya sayang. bisa saja aku membeli tanah itu sekitar harga yang dikatakan oleh mu tadi. tetapi apakah kamu membolehkan aku untuk membeli nya? keputusan ku hanya terserah padamu sayang." ujar Doni dan membuat Dona sedikit merenung sembari masih menatap layar ponsel nya.


Doni masih diam menunggu Dona menjawab ucapan Doni tadi dan kemudian Dona berkata.


"aku sebenar nya melarang kamu untuk membeli tanah yang harga nya selangit itu. tetapi aku sadar bahwa tujuan mu membeli tanah tersebut, untuk lahan rumah kita nanti setelah menikah. aku membolehkan hal itu jika tujuan mu baik sayang."


"jadi kamu menyetujui nya sayang?"


"Iya sayang, aku sangat menyetujui nya."


"baiklah kalau begitu sayang. besok aku akan kesana untuk membeli nya langsung."


"mengapa buru-buru sayang? kan masih lama juga jika dibuat rumah untuk kita nanti menikah?" ucapan dari Dona tersebut hanya dibalas gelengan kepala saja oleh Doni sembari berkata.


"sayang ku yang cantik, aku sengaja mendahulukan membeli tanah lahan itu agar nanti tidak didahului oleh orang lain. meskipun kemungkinan nya sangat kecil, tetapi hal ini hanya untuk jaga-jaga saja sayang."


"hmmm jadi begitu. yasudah terserah kamu sayang." ujar Dona pasrah dan Doni berkata lagi kepada Dona.


"baiklah. besok pagi aku akan ke rumah mu sayang."


"wkwkwk.. kamu ini ngigau apa gimana sayang? besok kan hari sabtu, jadi kantor libur."


"masa sih?" ujar Dona tak percaya. lalu Dona segera melihat kalender yang ada di tembok kamar nya dan ternyata malam itu adalah malam sabtu dan besok adalah hari sabtu.


Doni yang melihat Dona seperti orang pikun itu hanya tertawa geli saja dan berkata.


"masih muda kok sudah pikun sih!?" Dona yang mendengar ejekan dari Doni itu langsung berkata ketus.


"nama nya juga manusia! ada lupa nya tauk!"


"hahaha iya sayang iya. sudah jam sebelas malam, saat nya istirahat sayang."


"yasudah sayang. besok mau jam berapa kamu datang kemari?"


"nanti jam sembilan atau jam sepuluh pagian deh."


"yasudah kalau begitu sayang."


"iya sayang. cium dulu dong" ujar Doni merajuk dan Dona mencium nya dengan mendekatkan bibir nya ke arah layar ponsel nya dan Doni pun melakukan hal yang serupa.


Setelah mereka mengatakan selamat tidur dengan ucapan mesra, kini kedua nya menyudahi panggilan Video Call tersebut. Doni kini beranjak dari rebahan di sofa nya menuju tempat tidur nya. diri nya sudah menguap sejak tadi karena sudah kelelahan dan mengantuk. setelah merebahkan badan nya di ranjang nya, Doni langsung tertidur dengan lelap nya tanpa memikirkan hal apapun lagi. sedangkan Dona belum mengantuk karena ia sedang membuka grup whatsapp yang di masuki nya lewat seorang pegawai kantor yang bernama Lesti.


Ketika ia membuka grup tersebut, wajah orang-orang yang awal nya semua pegawai kantor itu. kini menjadi berganti dengan poto-poto lelaki tampan semua yang bertelanjang memamerkan barang kelakian nya serta ada juga perempuan muda yang memamerkan belahan dada nya dan hanya memakai bikini saja. Dona tercengang kaget dan tak habis pikir akan hal yang tiba-tiba itu. ketika ia melihat nama grup yang ia masuki itu, ternyata nama grup itu baru saja berganti nama dengan tulisan 'Grup Open Boking Out'.


Obrolan di dalam grup itu adalah obrolan membahas tarif boking jual diri antara sesama anggota grub nya. Dona cepat-cepat keluar dari grup itu karena ia tak tahan jika melihat hal-hal yang seronok dan berbau mesum. setelah ia keluar dan menghapus grup nya, mulai bermunculan pesan whatsapp baru yang ternyata adalah anggota lelaki tadi yang menawarkan jasa boking. Dona tak membalas nya dan langsung memblokir satu persatu pesan yang masuk itu. di salah satu pesan dari poto profil tak ada gambar nya, Dona membuka nya karena ia penasaran dengan gambar apa yang dikirim dari orang yang tak dikenal itu.


Ternyata orang itu mengirim poto-poto telanjang sedang melakukan hubungan badan. Dona tersentak kaget ketika melihat wajah lelaki nya, ternyata itu adalah wajah Doni. sedangkan wajah perempuan nya adalah wajah mbak Yuni. ada sekitar sepuluh poto yang menampakan adegan panas itu dan di akhir poto ada pesan tertulis.


"halo gadis dungu! lihatlah poto-poto di atas, itu adalah bukti yang jelas bahwa bos Doni pernah berhubungan badan dengan ku. poto itu ketika aku belum hamil dan kau lihat sendiri bukan, tubuh ku masih langsing dan montok. badan mu tak akan menyaingi badan ku yang mampu menggoda bos Doni itu. hahaha! dasar gadis bodoh! kau itu sudah di bodohi oleh alasan bos Doni itu, karena nanti bos Doni sebentar lagi akan aku paksa untuk menikahi ku agar bertanggung jawab akan benih yang ia tanah di rahim ku ini. aku sarankan kau sudahi saja hubungan mu itu dengan bos Doni itu, agar kau tidak menyesal di kemudian hari nanti." Dona yang membaca pesan itu langsung menscreen shoot isi pesan itu dan segera menyimpan poto-poto adegan tak layak dilihat oleh Dona itu di ponsel nya.


Air mata Dona sudah jatuh sejak tadi dan ia membungkam mulut nya agar tangisan nya itu tak sampai terdengar keluar dan membangunkan ibu nya. ketika Dona ingin membalas pesan tadi, tiba-tiba saja pesan itu hilang dengan sendiri nya dan Dona sudah tahu bahwa pesan tersebut sudah dihapus oleh pengirim nya dan bahkan diblokir oleh pengirim tadi. Dona sudah tahu bahwa orang yang mengirim itu adalah mbak Yuni sendiri dan sudah dipastikan orang itulah pelaku nya. Dona kini berbaring menutup wajah nya dengan bantal dan sudah melepaskan ponsel nya di samping nya. ia tak bisa berkata-kata karena lidah nya bagai kelu dan hanya bisa menangis saja walaupun tak terdengar isak tangis nya. kejadian tersebut membuat Dona semakin teringat lagi akan Kebencian nya terhadap lelaki yang dulu pernah terjadi kepada mantan pacar nya yang bernama Andi dan kini terjadi lagi kepada Doni.


"semua lelaki sama saja! hixhixhix!" Dona terus saja menangis dengan di tahan sekuat tenaga nya sampai lama kelamaan Dona melamun dalam tangis nya, ia tertidur karena kelelahan dalam tangis dan pikiran nya.