KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
DONA DAN DONI


MOBIL Mewah berwarna hitam mengkilap terlihat sedang parkir di halaman depan kantor CV.Group Perkasa. pemilik mobil mewah itu adalah Doni yang baru keluar dari mobil itu menuju kantor nya. ditangan kanan nya ia menjinjing bungkusan nasi bungkus yang ia beli sebelum nya di warteg langganan nya. setelah Doni masuk dan mengunci pintu kantor nya, ia langsung naik ke lantai tiga untuk mandi sore yang harus nya sudah telat karena kemagriban.


Setelah Doni menaruh makanan nya di meja, ia langsung mandi dan di saat itu pula terdengar suara adzan magrib berkumandang. Doni hanya samar-samar saja mendengar nya dan ia terus melanjutkan mandi nya. di sisi lain di sebuah ruangan tengah rumah ibu Asih, Dona terlihat sedang melaksanakan shalat maghrib bersama ibu nya secara berjamaah. setelah mereka selesai beribadah dan berdoa, kini Dona mulai berkata tanya kepada ibu nya.


"bu? Dona boleh bertanya tidak?" sang ibu yang saat itu sudah selesai berdoa, kini menatap anak nya seraya berkata.


"mau bertanya apa sayang?" ucap sang ibu malah balik bertanya.


Dona lalu berkata meneruskan ucapan nya lagi.


"apa ibu boleh menceritakan bagaimana awal nya ibu bisa bertemu dengan ayah? lalu dimana itu tempat nya bu???" ucapan tersebut membuat ibu nya berkerut dahi dan malah balik bertanya.


"apakah itu penting sayang? mengapa baru sekarang kamu berpikiran dengan pertanyaan yang seperti itu nak???"


"anu bu..., Dona hanya ingin tahu saja bagaimana ibu dan ayah bisa saling kenal sampai menikah." ujar Dona berterus terang dengan alasan yang masuk akal.


Ibu Asih yang mendengar hal tersebut hanya tersenyum kepada anak nya dan berkata.


"baiklah jika itu mau mu sayang. lagi pula ibu tak pernah menceritakan awal ibu bertemu dengan ayah mu dulu." Dona hanya diam saja dengan tatapan mata berbinar-binar menunggu ibu nya meneruskan ucapan nya lagi tentang cerita masa lalu ibu nya dan ayah nya. lalu terdengar sang ibu mulai bercerita dengan apa yang pernah di alami nya dahulu.


"dulu..., ketika ibu masih gadis dan berumur dua puluh delapan tahun. ibu baru bekerja di rumah mendiang pak Randi dan ibu Dewi. kala itu pembantu rumah tangga nya hanya ada ibu saja dan satu lagi adalah satpam keamanan di rumah itu. satpam itu bernama pak Rival yang tak lain adalah ayah mu nak. wajah nya lumayan ganteng dan berkulit putih dan ketampanan nya satu tingkat dibawah mendiang pak Randi."


"kenapa perbandingan nya seperti itu bu???" tanya Dona berkerut dahi mendengar ucapan dari ibu nya itu.


Sang ibu lalu menjawab pertanyaan anak nya itu.


"secara fisik, tinggi badan ayah mu serta badan nya yang berisi itu hampir sama dengan perawakan mendiang pak Randi. tetapi dari segi ketampanan, wajah ayah mu di bawah satu tingkat dari mendiang pak Randi. mendiang pak Randi kala itu sudah menjadi orang yang kaya nak, jadi wajar saja kalau orang kaya itu perawatan nya serba mahal. tetapi ayah mu hanyalah orang biasa dan hanya sebagai petugas keamanan dirumah besar nya mendiang pak Randi dan ibu Dewi. jadi ibu bicara begitu karena memang kenyataan nya seperti itu nak." ujar ibu Asih jujur dan Dona hanya manggut-manggut saja tanda mengerti ketika mendengar pengakuan dari cerita ibu nya.


Lalu Dona berkata kepada ibu nya lagi agar ibu nya meneruskan cerita nya lagi.


"ibu pertama mengenal ayah mu setelah dikenalkan oleh mendiang pak Randi ketika ibu baru saja masuk untuk bekerja di rumah itu. ayah mu baru seminggu bekerja di rumah itu karena mendiang pak Randi dan ibu Dewi baru seminggu membeli rumah mewah dan besar itu. pada saat kami bertemu, saat itu juga mata kami saling pandang dan ibu langsung jatuh cinta pada pandangan pertama." Dona yang mendengar hal itu langsung tertawa mengikik geli dan langsung di cubit pinggang nya oleh ibu nya.


"hayoooh.... apa nya yang lucu hah...??? ucap ibu Asih gemas karena merasa di tertawakan oleh anak gadis nya itu.


Ibu nya hanya cemberut dan berkata ketus kepada anak gadis nya itu.


"sudah ya cerita nya! kata nya mau mendengarkan cerita ibu, kok kamu malah mengejek ibu dengan menertawakan nya seperti itu nak?"


"ya maaf bu. habis nya Dona mendengarkan cerita ibu sembari membayangkan nya. jadi wajar saja jika Dona tiba-tiba tertawa geli begitu." ucap Dona berterus terang dengan wajah sedikit murung. sang ibu hanya menghembuskan napas kedongkolan nya saja dan berkata lagi.


"yasudah kalau begitu, dengarkan baik-baik sayang."


"iya ibu..." ucap Dona yang kini sudah patuh dan sudah bisa menguasai rasa geli nya.


Ibu Asih lalu melanjutkan cerita nya lagi sembari mata nya menerawang jauh.


"pertama kali ibu melihat ayah mu, rasa suka terhadap nya langsung ada. tetapi ibu sebagai wanita hanya bisa menutupi rasa suka itu dengan senyuman dan tatapan mata saja. ketika kami sedang masing-masing beristirahat bekerja, terkadang ayah mu itu datang menemui ibu di taman atau ketika sedang menyetrika pakaian untuk iseng-iseng berbincang-bincang mengakrabkan diri. lama kelamaan ibu semakin nyaman dengan sikap ayah mu yang berpikiran dewasa itu." di saat sang ibu berkata begitu, Dona memotong ucapan ibu nya.


"waktu itu umur ayah berapa tahun bu?" tanya Dona penasaran.


Ibu Asih tak marah ketika ucapan nya terpotong oleh anak nya itu dan ibu Asih lalu menjawab nya.


"kala itu ayah mu lebih muda dari ibu, kira-kira berumur dua puluh lima tahunan."


"berarti beda tiga tahun dong bu?"


"ya persis seperti itu sayang." ujar ibu Asih membenarkan ucapan anak nya itu. kemudian ibu Asih melanjutkan cerita nya lagi.


"setelah ibu dan ayah mu saling mengenal satu sama lain, kami berdua lalu meminta izin kepada mendiang pak Randi untuk menikah, dan mendiang pak Randi merestui nya serta mengizinkan kami berdua cuti kerja dahulu. pada saat itu mendiang pak Randi mencari pembantu lain untuk sementara menggantikan pekerjaan ibu. begitulah singkat nya ayah dan ibu mu saling bertemu dan jatuh cinta sayang." ucapan tersebut didengar jelas oleh Dona dan anak gadis itu kemudian bertanya lagi kepada ibu nya.


"lalu bu, apakah anak nya mendiang pak Randi dan ibu Dewi seumuran denganku? lalu mengapa nama kita hampir sama? maksud ku kesamaan nama Dona dan Doni. apa ibu bisa menjelaskan nya???" di saat itu juga ibu Asih segera teringat akan mantan anak majikan nya itu.


Kemudian ibu Asih menjawab pertanyaan anak nya tanpa basa-basi lagi.


"ketika ibu setelah menikah dan mengandung, ibu Dewi juga saat itu sedang mengandung juga. kandungan ibu dan ibu Dewi hanya berkisar beda beberapa bulan saja dan lebih dulu ibu Dewi. di saat masing-masing sudah melahirkan, mendiang pak Randi menjenguk ibu dirumah sakit bersalin yang kala itu ibu di temani oleh ayah mu dan nenek mu. mendiang pak Randi mengatakan anak nya adalah laki-laki dan telah diberi nama Doni Pratama, lalu ia mengusulkan nama anak ibu dengan nama lahir Dona Pratiwi. usulan tersebut disetujui oleh kami bertiga karena mendiang pak Randi berkata bahwa anak nya dan anak ibu setelah besar supaya nanti nya bisa akrab setelah bertemu dan main bersama. semua itu sudah kamu rasakan ketika berumur tujuh tahun sampai hampir umur mu sepuluh tahun nak. apa kamu masih ingat???" tanya ibu nya dan Dona hanya mengangguk menandakan masih ingat akan kejadian yang telah usang itu.