
WAKTU Sudah menunjukan pukul sebelas dan sebentar lagi siang hari akan tiba. jenazah kakek Sarkim yang sudah dimandikan dan kemudian dibawa masuk ke dalam rumah nya, kini sudah selesai di kafani dan siap untuk di shalatkan. para santri Ustad Rojak sudah menggotong jenazah kakek Sarkim yang sudah dikafani dan dimasukan ke dalam keranda mayat menuju masjid al barjanji untuk nanti di shalatkan.
Doni yang sudah meredakan tangis nya itu, segera mendekati pak Ustad Roni yang sedang duduk bersila di dalam rumah duka itu sambil menghitung lembaran uang receh dua ribuan untuk di masukan ke dalam amplop yang nanti nya akan dibagikan kepada para warga yang akan menyolatkan jenazah nya kakek Sarkim.
Doni yang melihat hal itu, langsung membuka isi tas nya dan mengeluarkan satu gepokan uang pecahan seratus ribu yang nilai nya sekitar sepuluh juta. di dalam tas nya masih ada beberapa gepokan uang yang sama dan sengaja tidak dikeluarkan. semua mata para pelayat yang hadir di dalam rumah kakek Sarkim, mendadak mata nya mendelik melihat uang satu gepok yang Doni pegang.
Ustad Rojak pun menatap heran kepada Doni yang sedang mendekati nya sambil membawa uang gepokan tersebut. lalu Doni berkata kepada pak Ustad Rojak setelah Doni duduk bersila menghadap pak Ustad itu.
"pak Ustad, ini saya ada rezeki untuk menambah biaya pemakaman kakek Sarkim sampai tujuh hari nya. apa segini cukup pak Ustad...???" lalu Doni memberikan uang gepokan yang masih ada di segel kertas label yang bertuliskan nominal sepuluh juta rupiah.
Ustad Rojak semakin heran dengan ucapan Doni dan ibu Elis serta suami nya hanya menatap bengong melihat kejadian tersebut. para warga yang melayat pun tak banyak berkomentar karena mata mereka sibuk menatap uang gepokan berwarna merah yang baru saja di terima oleh pak Ustad Rojak.
Setelah menerima uang tersebut, pak Ustad Rojak menjawab ucapan Doni.
"kau dapat dari mana uang segini banyak nya Don..??? apa ini di dapat dari hasil kerja di tempat mu bekerja..???" tanya pak Ustad Rojak bertanya-tanya.
Anak muda itu hanya tersenyum dan berkata membenarkan apa yang dikatakan pak Ustad tadi benar ada nya. pak Ustad itu hanya geleng-geleng kepala saja mendengar pengakuan dari Doni dan awal nya tak percaya juga Doni akan datang kembali ke rumah itu.
Datang nya Doni ke rumah itu hanya saja disaat yang tidak tepat dan kemudian pak Ustad Rojak berkata kepada orang yang ada di situ.
"anak ini bernama Doni Pratama dan ia dulu nya pernah bekerja membantu almarhum kakek Sarkim mengurus masjid besar itu. tak lama, anak ini kemudian bekerja di kota dan ia datang kemari awal nya hanya untuk bersilaturahmi dengan keluarga kakek Sarkim. anak ini sudah di anggap cucu oleh kakek Sarkim dan uang yang saya terima dari anak ini, akan saya pergunakan untuk membiayai pemakaman kakek Sarkim sampai tujuh hari nya. apa di pihak keluarga kakek Sarkim yaitu, ibu Elis dan pak Sarto ada yang keberatan...???" ujar penjelasan pak Ustad Rojak sengaja berkata begitu karena di antara para pelayat itu tidak ada yang tahu siapa itu Doni sebenar nya. dan kemudian pak Ustad Rojak bertanya kepada keluarga kakek Sarkim akan Dana Amal Dari Cucu Angkat nya kakek Sarkim untuk membiayai pemakaman kakek Sarkim sampai tujuh hari nya.
Sepasang suami istri itu hanya mengangguk menyetujui saran pak Ustad tersebut karena menurut mereka berdua, uang sebanyak itu lebih baik di kelola oleh pak Ustad Rojak daripada di kelola oleh mereka berdua. tangan kedua nya sering gatal jika sedang memegang uang yang jumlah nya banyak. gatal dalam artian, sering lupa daratan untuk membelanjakan uang tersebut untuk kebutuhan pribadi mereka atau untuk kebutuhan keluarga.
Di satu sisi diwaktu itu juga, Dona sudah pulang dari kelas kuliahan nya. karena hari sabtu, jadwal belajar kelas nya hanya satu mata pelajaran saja dan biasa nya jam sebelas siang ia sudah pulang ke rumah nya. tetapi kali ini ia sedang berada di kantor ruang guru Dosen nya yang agak judes dan bernama ibu Susi.
Ibu Susi sedang duduk di kursi kantor nya dan di kursi depan meja nya, ada Dona yang sedang duduk menghadap nya. terdengar ibu Susi berkata kepada Dona.
"Dona, apa kamu tahu alasan ibu memanggil mu datang ke kantor ibu ini...???" tanya Dosen perempuan yang diperkirakan berumur empat puluh tahun. Dona lalu menjawab pertanyaan dari Dosen nya itu.
"gara-gara saya terlambat masuk kelas kan bu...???" ibu Susi hanya menggelengkan kepala nya dan berkata.
"bukan soal itu murid ku yang cantik. ibu memanggil mu datang kemari, karena ada sesuatu yang ingin ibu sampaikan kepada mu nak." ujar Ibu Susi dan membuat Dona segera bertanya akan soal apa yang akan di sampaikan nya itu.
Dosen yang masih terlihat cantik dan bodi nya yang masih terawat itu, langsung menjawab pertanyaan Dona.
"akhir-akhir ini nilai mata pelajaran mu semakin berkurang nak. nilai praktek sampai skripsi tertulis pun sama-sama berkurang dari semester sebelum nya. apakah kamu bisa bercerita akan sesuatu yang membuat nilai mata pelajaran mu semakin menurun nak..??" ujar ibu Susi menjelaskan nya kepada Dona.
Dona yang mendengar ucapan dari pertanyaan ibu Susi, hanya diam dan tiba-tiba menunduk sedih. ibu Susi masih diam memandangi Dona yang tiba-tiba menunduk sedih seperti itu. karena merasa pertanyaan nya tak dijawab oleh Dona, ibu Susi langsung berkata kepada Dona dengan suara yang pelan.
"lebih baik kamu ceritakan saja apa yang membuat nilai mu turun nak. jangan ragu-ragu untuk menceritakan apapun kepada ibu. nak Dona, ibu berjanji akan menjaga rahasia jika kau mau jujur kepada ibu tentang murung nya kamu itu." ucap ibu Susi lagi dan membuat Dona perlahan menengadahkan kepala nya menatap wajah ibu Susi dan terlihat jelas di kedua pipi mulus Dona, ada air mata yang baru saja mengalir dari pelupuk mata nya yang teduh itu.
...*...
...* *...