
DONI Kini sudah keluar dari dalam tempat tinggal nya itu menuju mobil nya terparkir berada. malam itu ia ada janji dengan Dona untuk pergi ke rumah pak Yaris untuk merundingkan peristiwa yang sudah terjadi diantara Dona dan Doni serta mbak Yuni. perjalanan mobil Doni kini sudah menuju ke arah rumah Dona. sedangkan Dona sedang duduk di kursi ruangan tamu nya sembari memainkan ponsel nya. ia sudah berdandan dan berpakaian layak nya perempuan tomboy yang memakai celana jeans, baju lengan panjang berwarna abu-abu. rambut nya dibiarkan meriap menambah kecantikan tersendiri bagi orang yang melihat Dona.
Ibu Asih sedang ada di ruangan tengah rumah nya dan terlihat sedang menonton televisi. jam malam pada waktu itu sudah menunjukan pukul tujuh malam dan Doni belum sampai juga ke rumah nya Dona. gadis cantik yang agak kesal karena menunggu Doni yang belum tiba itu, menggerutu dalam hati nya.
"janji jam tujuh akan datang! sekarang sudah lewat beberapa menit belum datang juga? huh!"
ucapan batin Dona itu membuat diri nya semakin jengkel ditambah pesan whatsapp yang ia kirim kepada Doni tak di baca maupun dibalas oleh Doni.
Lama nya Dona menunggu, akhir nya yang ditunggu datang juga. Dona langsung melongokkan wajah nya ke arah jendela luar rumah nya dan ternyata itu memang mobil Doni yang terparkir. lalu terlihat Doni keluar dari dalam mobil nya menuju depan rumah ibu Asih dan pada saat itu juga Dona membuka pintu depan rumah nya. Doni hanya tersenyum menatap Dona yang sedikit cemberut itu dan Doni berkata.
"mengapa wajah mu cemberut sayang?"
"habis darimana? sudah hampir setengah delapan baru sampai?" tanya Dona memaksa dan Doni menjawab nya.
"aku habis isi bensin dulu tadi sayang. di pom bensin nya ramai dan aku harus mengantri dulu." Dona yang mendengar alasan dari Doni itu, segera berkata mengajak nya untuk pamit dulu kepada ibu nya.
Doni hanya mengangguk saja dan kini mereka berdua masuk ke dalam rumah untuk izin dahulu kepada ibu Asih. setelah izin, kedua nya kini sudah masuk ke dalam mobil Doni dan arah tujuan mereka adalah rumah nya pak Yaris. diperjalanan menuju rumah pak Yaris, Doni dan Dona mulai berbincang-bincang dan dimulai dari Doni yang bertanya kepada Dona karena ia ingin mengetahui Aib Dona pada masa berpacaran dengan mantan nya.
"sayang aku mau tanya boleh???" Dona yang sejak tadi duduk terdiam Dan hanya fokus menatap ke arah depan nya, segera memalingkan wajah nya kepada Doni seraya menjawab pertanyaan dari Doni tadi.
"mau tanya apa sayang?"
"dulu ketika kamu masih berpacaran dengan mantan mu yang dulu, apa kamu sering melakukan hisapan kepada burung nya mantan pacar mu itu???" Dona yang mendengar ucapan dari Doni tadi tercengang heran dan balik bertanya.
"mengapa bertanya hal yang seperti itu?"
"yah aku hanya penasaran saja. soal nya ketika sore tadi kita melakukan hal begituan, kamu kayak nya sudah mahir sekali memainkan barang kelakian ku ini sampai puncak kenikmatan nya." ujar Doni dan Dona kini menatap ke arah depan nya dan menjawab nya.
"jika aku berkata jujur akan masa lalu ku dengan mantan ku itu, apa kamu juga mau jujur dengan masa lalu mu ketika masih berpacaran dengan si wanita jalank itu?"
"tentu saja. mengapa harus ditutup-tutupi? aku lebih baik berterus terang kepada mu meskipun kamu tidak mau berterus terang kepada ku." ucapan Doni tadi membuat Dona langsung menatap nya dan bertanya.
"yasudah kamu ceritakan saja dulu tentang hubungan mu dengan si wanita jalank itu, ketika melakukan adegan panas apa saja dengan nya." ucapan Dona tadi membuat Doni berkata menyetujui nya.
"baiklah, aku yang mulai duluan." lalu Doni melanjutkan ucapan nya lagi.
"kalau soal berciuman itu adalah hal yang lumrah dan tak aneh dalam hubungan percintaan. dulu aku pernah meremas buah dada mbak Yuni dan menghisap nya bergantian. menjilati sarang burung nya pun aku sudah pernah. begitu pun juga diri nya, ia pernah juga menghisap kejantanan ku ini sampai puncak kenikmatan nya."
"apa pernah sampai berhubungan badan begitu? maksud ku burung mu dimasukan ke dalam sarang burung nya si Yuni itu?" pertanyaan Dona yang serentak itu langsung dijawab oleh Doni yang sembari fokus menyetir mobil nya.
"kalau soal itu aku belum pernah melakukan nya. walaupun mbak Yuni dulu merengek kepada ku agar memasukan burung kejantanan ku ke dalam sarang nya, aku menolak nya dan masih bisa menguasai rasa napsu ku."
"benarkah? jangan mencoba mendustai ku dan berkata bohong!'
"sumpah demi tuhan! kalau tak percaya, kau tanyakan saja kepada si Yuni nya langsung." ujar Doni berkata meyakinkan dan Dona menjawab nya.
"iya aku percaya! tak perlu aku bertanya langsung kepada si wanita jalank pun aku sudah percaya kepada mu."
"yasudah kalau kamu percaya. sekarang giliran kamu yang menjelaskan tentang hubungan mu dengan mantan mu itu dulu sayang."
"baiklah." ujar Dona dan kini ia menarik napas dan menghembuskan nya secara perlahan.
Kemudian Dona mulai berkata tentang apa saja yang pernah dilakukan nya dengan mantan nya dulu.
"busyet! lama sekali?!!" ucap Doni bernada kaget dan Dona mulai melanjutkan ucapan nya lagi.
"singkat nya aku sudah berpacaran dari semenjak kelas dua SMA sampai aku masuk kuliah. suka, duka dan senang kami jalani berdua dari zaman kami sekolah sampai lulus pun kami menjalani nya. seperti yang kamu katakan tadi, kalau soal ciuman. itu sudah menjadi hal yang biasa terjadi di dalam percintaan. sama hal nya dengan yang kamu lakukan kepada ku sore tadi, mantan ku pun melakukan hal yang seperti itu kepada ku. begitu pun aku, karena keseringan menghisap barang kelakian mantan ku. jadi aku sudah lihai dan biasa saja ketika ******* barang kelakian mu itu."
"jadi selama hampir sepuluh tahun kalian sering begituan?" tanya Doni lagi dan Dona menjawab nya.
"tidak juga. paling hanya ketika mantan ku itu libur bekerja, dia sering mengajak ku main keluar dan akhir nya ya begitu juga. tapi aku masih perawan lho ya! sarang burung ku belum pernah dimasuki burung kelakian milik mantan ku itu."
"alasan nya?" tanya Doni semakin penasaran dan sejak tadi wajah nya menatap lurus ke depan karena ia harus fokus menyetir mobil nya dimalam hari itu.
Pertanyaan dari Doni tadi, langsung dijawab oleh Dona.
"aku tak mau kesucian ku direnggut oleh laki-laki yang belum sah menikah dengan ku secara resmi. ibu sering wanti-wanti kepada ku jika aku sedang berduaan dengan lelaki, aku harus menolak ajakan diluar batas yang sudah pasti ajakan hubungan terlarang itu. kau pun tahu, bahwa ibu ku pernah berkata begitu kepada mu dulu ketika kita baru saja resmi berpacaran."
"iya aku baru ingat." ujar Doni mengingat nya dan Dona lanjut berkata lagi.
"maka dari itu, aku dan mantan ku sama hal nya dengan dirimu dan si wanita jalank itu." Doni hanya manggut-manggut paham dan ia lalu bertanya.
"lantas lebih besar mana barang ku dengan barang punya mantan mu itu?"
"ya lebih besar punya mu lah! entah apa yang aku rasakan nanti jika burung besar mu itu masuk ke dalam sarang burung ku dan mendobrak selaput keperawanan ku, pasti aku bakal menjerit kesakitan."
"wkwkwk belum dicoba ya mana tahu sayang." ujar Doni sembari tertawa dan Dona berkata lagi.
"maka nya cepat nikahi aku! jangan sampai menunda-nunda pernikahan yang ujung-ujung nya malah ditikung orang ketiga!" ucap Dona sedikit tegas dan ketus.
Doni yang mendengar ucapan dari Dona itu, langsung berkata.
"apa kamu yakin ingin cepat segera menikah dengan ku?" Dona lalu menatap Doni dan menjawab nya.
"ibu ku tadi berkata kepada ku ketika di rumah untuk bertanya kepada mu."
"coba jelaskan?" tanya Doni penasaran.
"ia bilang, kamu mau membangun rumah sesudah menikah atau sebelum menikah."
"terus?" tanya Doni lagi.
"hanya itu saja sayang." Doni yang mendengar hal itu, segera berkata.
"setelah permasalahan dengan si Yuni ini selesai, aku ingin membangun rumah dulu. mungkin butuh setahun kurang sampai menjadi rumah untuk ditempati oleh kita nanti."
"memang kamu mau bikin rumah yang seperti apa sampai selama itu sayang?" tanya Dona makin penasaran.
"aku akan membuat rumah seperti yang pernah kita tempati ketika kita berdua masih kecil dan berpisah."
"maksud mu rumah orang tua mu yang dulu?" tanya Dona lagi dan Doni mengangguk sembari menjawab nya.
"rumah itu mengingatkan ku akan mendiang ayahku, mendiang ayahmu, ibu mu dan diri mu. kecuali ibu kandungku!. meskipun tanpa ayah ku dan ayah mu, aku masih bisa berharap ibu mu selalu berada di dekat kita berdua. kau pun sudah tahu, bahwa aku adalah anak asuh ibu mu dan aku sudah menganggap ibu mu adalah ibu kandung ku sendiri. maka dari itulah alasan ku akan membuat rumah yang sama persis seperti rumah orang tua ku dulu." Dona yang mendengar ucapan Doni tadi, sedikit mengeluarkan air mata nya karena terharu.
"baiklah aku paham sayang." setelah Dona berkata begitu, kemudian mobil Doni berhenti di depan rumah besar bertingkat dua yang ada di dalam perumahan komplek golongan atas semua dan sudah dipastikan itu adalah rumah nya pak Yaris.