
ANAK Gadis yang bernama asli Dona Pratiwi itu, sedang di tanyai keterangan oleh Dosen perempuan yang bernama ibu Susi. Dona masih berdiri mematung di depan kelas dan kepala nya menunduk sambil sesekali wajah nya mengarah kepada ibu Susi.
Percakapan mereka berdua di mulai dari pertanyaan ibu Susi kepada Dona, murid nya yang kesiangan itu.
"kamu dari mana jam segini baru masuk kelas Dona...???"
"maaf bu. pagi tadi hujan deras dan saya telat akibat terlalu lama menunggu angkutan umum tiba." jawab Dona dengan sopan dan ia hanya tertunduk mengaku salah.
Ibu Susi lalu memperhatikan Dona dengan seksama dan kemudian ia menatap kepada para murid nya dan berkata kepada para murid nya yang sedang duduk.
"buka buku akuntansi perkantoran kalian semua. cari halaman tiga ratus yang judul nya tentang kebijakan standar individual sekertariat office." ujar seruan ibu Susi kepada para murid nya yang sedang duduk di kursi meja nya masing-masing.
Dona yang masih diam mematung di depan kelas, tidak bisa berbuat apa-apa sebelum mendapat perintah dari ibu Susi yang menurut nya, ibu Susi itu Dosen yang agak judes terhadap para murid nya.
para murid kuliahan yang terdiri dari laki-laki dan perempuan yang diperkirakan berjumlah tiga puluh orang itu, sedang membuka buku pelajaran mereka seperti yang sudah diperintahkan oleh guru mereka barusan.
Lalu ibu Susi menatap Dona dan berkata tegas kepada nya.
"lain kali jangan di ulangi lagi!. sekarang kamu ibu maafkan dan segera duduk di kursi kamu!." ucap ibu Susi penuh ketegasan. Dona hanya mengangguk menuruti apa kata ibu Susi dan tak lupa juga Dona mengucapkan kata terima kasih kepada ibu Susi yang telah memaafkan kesalahan Dona yang telat masuk kelas itu.
Keadaan tempat berpindah di sebuah kamar lebar dan luas. kamar itu adalah kamar Doni dan pemilik kamar tersebut sudah selesai mandi pagi nya. ia sedang memakai pakaian yang sering ia pakai sehari-hari ketika masih tinggal di rumah ibu Dewi. pakaian nya sangat sederhana dan kali ini cara berpakaian nya tak jauh beda dari yang ia pakai semalam. hanya saja, celana jeans nya panjang dan kaos berwarna putih polos.
Anak muda itu masih belum berani memakai pakaian yang baru di beli nya dan pakaian itu terlihat sangat bagus karena pakaian nya bermerek mahal. pakaian bagus dan tergolong mahal itu, sudah ia beli ketika diri nya membeli ponsel baru nya yang kala itu di antar oleh pak Yaris ketika mereka pulang dari rumah ibu Dewi dan mampir ke sebuah super mall untuk membeli barang kebutuhan Doni.
Entah apa yang ada di pikiran anak muda yang selalu merendahkan diri nya itu. meskipun diri nya terbilang sudah termasuk orang kaya atau pribahasa zaman sekarang yang di sebut 'Sultan', semua kekayaan harta yang di milik nya itu. tak menjadikan nya untuk ajang dipamerkan kepada siapapun atau di poto lalu di sebarkan lewat sosial media. anak itu bukan nya belagu atau sok alim akan harta kekayaan yang sipat nya mewah itu. ia hanya memikirkan orang yang posisi nya berada di bawah nya yang contoh nya adalah pedagang kecil atau pengemis sampai kalangan bawah lain nya. jati diri Doni masih terperangkap di dalam kisah masa lalu nya yang pahit. ia masih sadar akan hidup nya yang dulu pernah susah dan tak ingin menjadi orang yang serakah terhadap kekayaan seperti ibu kandung nya.
Pakaian yang masih tersegel rapi sudah Doni taruh kembali di lemari baju nya. ia akan memakai pakaian itu jika dirinya sedang bepergian ke suatu tempat atau jika sewaktu-waktu ia berkunjung ke lima perusahaan restorant nya itu, baru ia akan memakai pakaian yang bermerek mahal tersebut.
Hujan di pagi hari itu yang sebelum nya deras, kini sudah mulai tinggal gerimis nya saja. Doni sedang mengambil uang beberapa gepokan di brankas besi nya dan ia telah memasukan nya ke dalam tas kecil nya yang berwarna coklat kulit. tas kecil yang ia selempangkan di punggung nya itu, isi nya hanya uang yang jumlah nya puluhan juta rupiah. ia sengaja membawa uang gepokan itu, untuk ia sumbangkan ke dalam kotak amal yang berada di dalam masjid yang pernah ia bersihkan ketika membantu kakek Sarkim bekerja sebagai marbot masjid atau pengurus masjid.
Tak banyak orang yang membantu Doni ketika ia masih kesusahan mencari tempat tinggal sampai mencari pekerjaan. hanya keluarga kakek Sarkim dan pak Ustad Rojak saja yang rela iklas membantu kesusahan Doni kala itu.
Do'a yang selalu di panjatkan oleh kakek Sarkim dan pak Ustad Rojak kepada Doni ketika selesai melaksanakan shalat lima waktu, kini sudah terkabul dengan derajat nya Doni yang awal nya hanya anak biasa yang tanpa arah tujuan, kini menjadi seorang anak yang memiliki harta kekayaan yang jumlah nya tidak sedikit. semua itu terjadi karena mendiang ayah Doni adalah seorang pemilik perusahaan besar dan ketika meninggal nya telah mewariskan harta nya kepada anak semata wayang nya itu. tetapi jika ayah Doni hanyalah seorang buruh pabrik atau pekerja serabutan, maka tak ada harta warisan yang patut di wariskan kepada anak nya. bahkan untuk menjadi seorang Bos suatu perusahaan atau sampai memiliki harta yang jumlah nya triliunan rupiah itu, semua sesuatu itu pasti mustahil terjadi dan mungkin sampai tua lalu mati pun tak akan pernah kesampaian.
Anak muda itu kini sudah turun ke lantai satu dan membuka pintu kantor yang masih di kunci. setelah Doni membuka pintu kantor itu, ia kemudian keluar dan mengunci lagi pintu kantor tersebut. arah yang ia tuju adalah sebuah masjid yang bernama masjid al-barjanji. jarak nya agak jauh dari ruko pinangsia menuju masjid tersebut. demi mempercepat sampai nya, Doni sedang memesan ojek online dan ia kini sedang berdiri di trotoar jalan.
Awan mendung perlahan-lahan mulai berganti dengan cerah nya sinar matahari pagi menuju siang. gerimis air hujan sekarang sudah mereda dan hanya menyisakan jalanan yang becek dan hawa yang lembab.
Doni segera memakai sweater hitam nya karena ia pun merasa dingin akibat hawa sehabis hujan itu. masker tak lupa ia pakai dan tudung sweater nya ia kenakan dikepala nya. tampilan Doni sangat tertutup sekali, dari mulai celana jeans biru panjang sebatas mata kaki dan juga sepatu sneaker hitam putih yang masih baru ia beli sebelum nya sudah ia kenakan. hanya kaos yang bermerek saja yang tak ia pakai dan malah memakai sweater hitam nya yang sudah kusam dan lecek.
Ia masih menunggu ojek online nya tiba dan kepala nya menatap ke kiri dan kanan arah jalan. ramai nya kendaraan yang berlalu lalang membuat Doni merasa iri untuk memiliki kendaraan pribadi. ia lalu merenung dan membatin dalam hati nya.
"bawa motor saja aku tak bisa, apalagi mengemudikan mobil...???" ucap batin Doni dan kemudian melanjutkan ucapan batin nya.
"apa aku harus belajar dulu kepada pak Yaris kali ya. setelah bisa, aku akan membeli mobil pribadi supaya gampang mau pergi kemana-mana dan tak perlu sampai harus menunggu seperti ini." ujar batin Doni berkecamuk sendirian di dalam hati nya.
Ojek online yang sudah ia pesan ketika masih berada dikamar nya, kini sudah datang dan berhenti di tepi trotorar. ojek online itu lalu bertanya kepada Doni.
"mas Doni bukan.???"
"iya bang. saya yang pesan ojek online." ujar Doni menjawab pertanyaan abang ojek online itu.
Kemudian Doni duduk di jok belakang motor abang ojek online itu setelah Doni berkata antarkan ke alamat rute yang sudah di kirimkan kepada ponsel abang ojek online itu sebelum nya. abang ojek online itu hanya menganguk dan kemudian membawa Doni ke tempat yang ia tuju.
...*...
...* *...