KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
PENGALAMAN


HARI SENIN Kini telah tiba, seperti biasa semua orang yang bekerja dimanapun tempat nya sudah mulai berangkat bekerja pada pagi hari nya. waktu itu baru saja jam delapan pagi dan sudah saat nya para karyawan kantor di CV.Group Perkasa mulai bekerja. Doni sedang berada di dalam kantor khusus HRD bersama Wawan dan juga pak Yaris. sedangkan Dona dan Avril sedang berada diruangan kerja mereka dan sedang bekerja seperti biasa. para karyawan kantor lain nya yang berjumlah tiga puluh orang itu, terlihat sedang bekerja juga di kursi kerja mereka masing-masing.


Di ruangan khusus HRD, pak Yaris mulai mengobrol dengan Wawan serta Doni.


"jadi nak Wawan ini adalah OB yang kamu bawa itu nak Doni???"


"iya pak." jawab Doni singkat dan Wawan yang sudah berkenalan dengan pak Yaris itu masih diam belum berkata apa-apa. pak Yaris lalu menatap Wawan seraya berkata.


"apakah nak Wawan ini tak mau bapak angkat untuk naik jabatan?"


"maksud bapak?" tanya Wawan keheranan dan Doni yang sudah tahu maksud dari perkataan pak Yaris itu, hanya senyum saja karena ia dan pak Yaris sudah merencanakan sesuatu di balik layar drama ini.


Wawan yang kebingungan itu menatap Doni dan Doni angkat bahu tanda tak tahu. kemudian pak Yaris berkata lagi kepada Wawan.


"dilihat-lihat dari surat lamaran kerja mu ini, rata-rata nilai izajah mu bernilai lumayan juga. kalau semisal bapak kamu angkat jadi seorang menejer di suatu perusahaan, apa kamu bisa memegang perusahaan itu dan memimpin nya nak???" ucapan pak Yaris tadi membuat wajah Wawan seketika pucat pasi dan berkata gugup.


"ap.. apakah ini cuman mim.. mimpi pak?" lalu Doni berkata.


"kalau mimpi mana mungkin wajah mu sampai pucat pasi berkeringat dingin begitu Wan. hehehe." Wawan lalu menatap Doni yang cengengesan itu dan kemudian menatap pak Yaris seraya bertanya.


"tetapi aku belum punya pengalaman untuk bekerja di bidang seperti itu pak. lebih baik bapak alihkan saja kepada karyawan kantor ini yang pengalaman nya sudah banyak dan keahlian yang mumpuni. lagi pula bekerja menjadi OB saja dikantor ini, diriku sudah sangat bersyukur sekali pak." ucapan Wawan tersebut membuat Doni dan pak Yaris tersenyum dan saling tatap.


Kemudian pak Yaris berkata kepada Wawan dengan sangat berwibawa ditambah dengan tatapan penuh keharuan.


"baru kali ini bapak menemukan seorang pegawai yang tidak gila jabatan. kamu mengingatkan akan bapak yang masih berumur dua puluh tujuh tahun lalu. kala itu bapak pernah diangkat menjadi HRD kantor tempat bapak bekerja dulu, tetapi bapak menolak karena bapak merasa masih banyak kekurangan dibandingkan karyawan lain nya. bapak berkata tentang banyak nya karyawan lain yang pantas untuk memegang jabatan tersebut. bapak yang kala itu hanya karyawan kantor biasa dan beberapa kali bapak menolak nya, dengan tegas nya bapak kemudian diresmikan untuk di angkat jabatan nya oleh bos perusahaan tempat bapak bekerja dulu." lalu Doni bertanya langsung kepada pak Yaris.


"apakah ada alasan nya bapak sampai di angkat menjadi HRD kantor tersebut???" pak Yaris lalu menjelaskan nya dan Wawan serta Doni mulai mendengarkan nya dengan seksama.


"seperti yang dulu pernah bapak katakan kepada mu nak Doni. bapak adalah teman ayah mu yang bekerja selalu tak ingat waktu, karena tugas yang banyak itu bapak dan ayah mu sepakat untuk bekerja lembur setiap malam. lama nya pekerjaan bapak ketika menjadi karyawan kantor bersama ayah mu, hal itu membuat bapak dipanggil oleh atasan ketika ayah mu berhenti bekerja karena suatu urusan pribadi nya. nah, kala itu bapak pun langsung diajukan untuk naik jabatan karena kerja keras bapak terhadap tanggung jawab dalam pekerjaan yang bapak lakoni. maka mau tak mau bapak harus menuruti saran atasan itu. sekarang terjadi lagi kepada nak Wawan ini yang mengingatkan akan bapak yang masih muda dulu." Doni dan Wawan manggut-mangut membayangkan Pengalaman pak Yaris dulu ketika masih menjadi seorang pegawai kantor biasa.


Kemudian pak Yaris berkata lagi kepada Wawan.


"jadi bagaimana, apa kamu mau bapak angkat untuk mengurus perusahaan cabang satu dan bapak jadikan menejer di restorant itu nak Wawan???" Wawan lalu merenung sebentar dan kemudian menjawab nya.


"mbak Yuni sudah merelakan pekerjaan nya itu dan bapak sudah menelepon nya tadi malam. ia akan kemari nanti untuk meminta maaf kepada nak Doni dan nak Dona. atas pemecatan yang bapak katakan kepada nya semalam lewat telepon, ia berkata memang berniat akan mengundurkan diri dari pekerjaan nya dan akan fokus mengurus jabang bayi nya." lalu Doni menambahkan.


"benar sekali apa yang dikatakan pak Yaris tadi Wan. kau tak perlu khawatir akan siapa yang akan menggantikan pekerjaan mu ini, nanti pekerjaan mu sebagai OB dikantor ini. akan ada ganti nya, dan itu aku yang akan mengurusnya." ujar Doni dan Wawan membalas ucapan dari kedua nya.


"baiklah kalau pak Yaris dan bos Doni berkata begitu, saya hanya bisa menuruti nya saja." setelah Wawan berkata begitu, terdengar ketukan pintu dari luar dan pak Yaris berseru menyuruh nya masuk.


Setelah pintu terbuka, nampaklah seorang wanita berumur tiga puluh dua tahun yang dikenal dengan nama Lesti. ia lalu masuk dan segera menutup pintu kantor itu dan berjalan mendekati kursi kosong yang sudah di siapkan olah Wawan dan Doni sebelum nya. kursi kosong yang berhadapan dengan meja pak Yaris itu ada empat dan tinggal satu lagi yang masih kosong dan itu nanti akan ada yang menempati nya. setelah Lesti dipersilahkan duduk oleh pak Yaris, ia lalu berkata kepada pak Yaris.


"maaf pak Yaris. apa ada sesuatu yang penting akan pribadi saya ini???" Doni dan Wawan belum berkata-kata sebelum pak Yaris menyuruh nya. lalu pak Yaris segera menjawab ucapan pertanyaan dari Lesti tadi.


"begini mbak Lesti, sebenar nya bapak menyuruh kamu masuk ke ruangan bapak ini. ada suatu keperluan yang menyangkut diri mu dan mbak Yuni." mendengar ucapan tadi, tiba-tiba saja Lesti mendadak pucat pasi dan Wawan dan Doni melihat dengan jelas nya.


Kemudian Lesti bertanya kepada pak Yaris lagi dengan gugup.


"ap.. apa itu pak??"


"apa benar diri mu itu disuruh oleh mbak Yuni untuk memata-matai hubungan bos Doni dan sekertaris nya yang bernama mbak Dona itu???" perkataan pak Yaris tadi membuat Lesti salah tingkah dan Lesti lalu beralasan.


"bapak tahu dari mana akan hal tersebut."


"saksi mata ada di samping mu mbak. mas Wawan ini yang pernah mendengar mu sedang menelepon dengan mbak Yuni untuk meminta nomor nya mbak Dona dan memata-matai hubungan kedua nya. kamu tak perlu beralasan lagi mbak Lesti, kalau kamu mau jujur kepada bapak. surat pemecatan yang akan bapak buat, akan bapak tangguhkan dan hanya akan memberi mu surat peringatan yang ketiga karena telah merugikan pemilik perusahaan. lihat wajah bos Doni yang sedikit terlihat memar itu, itu adalah bukti dari perbuatan mu itu." Lesti yang mendengar ucapan panjang dari pak Yaris itu segera menunduk dan berkata memohon.


"maafkan saya pak Yaris dan bos Doni. saya hanya di suruh saja oleh Yuni dan saya menolong nya hanya karena suatu balas budi kepada nya. saya merasa balas budi tersebut bisa terbayar dengan tugas yang ia berikan kepada saya itu. sumpah saya tak disuruh dengan bayaran uang atau apapun itu." ujar Lesti memohon dan pak Yaris berkata lagi.


"baiklah kalau alasan mu seperti itu. nanti akan bapak pertimbangkan jika mbak Yuni dan suami nya akan datang kemari."


"kapan itu pak???" tanya Doni dan kemudian pak Yaris melihat jam tangan nya, lalu menatap Doni dan menjawab nya.


"mungkin sebentar lagi ia akan datang kemari." ucap pak Yaris dan membuat Doni, Wawan serta Lesti, berhenti berbincang sebentar dahulu untuk menunggu kedatangan mbak Yuni dan suami nya datang ke kantor itu.