KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR

KISAH PRIA MISKIN YANG TAJIR
PARA TERSANGKA KINI DI PENJARA


KETUKAN Palu terdengar tiga kali dan bertanda persidangan itu selesai dilakukan. Para Tersangka Kini Di bawa untuk dimasukan ke dalam Penjara dan sudah mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatan nya itu. di sela ibu Dewi dibawa menuju sel tahanan bersama para tersangka lain nya, ia melontarkan kata mengancam pak Yaris dengan ucapan akan merebut kembali warisan tersebut setelah ia keluar dari penjara. pak Yaris hanya diam saja tak menjawab nya dan ia hanya menatapi para tersangka itu di giring menuju mobil polisi yang menuju ke tempat tahanan penjara.


Kini tempat sidang itu perlahan sepi dan semua orang yang ikut menyaksikan dalam pengadilan tersebut, perlahan pulang ke tempat nya masing-masing. pak Broto kini sudah pergi ke kantor nya untuk mengurus surat-surat para terdakwa yang bersalah. sedangkan pak Yaris, kini sedang mengantar Pak Yono pulang ke rumah nya dan setelah itu pak Yaris juga harus kembali menuju rumah sakit tempat Doni berada.


Di dalam ruangan rumah sakit, Doni terlihat sedang mengusap air mata nya yang terjatuh membasahi pipi nya. ia merasa sudah aman akan kendala perebutan warisan milik mendiang ayah nya yang kini sudah resmi menjadi milik nya. ibu nya yang kejam terhadap nya, kini telah dihukum atas tindakan nya dan pak Tomi selaku ayah tiri nya pun sama merasakan akibat nya juga. sedangkan ketiga anak nya mereka, masih diberi keringanan untuk dipenjara hanya di beri jangka dua minggu saja. karena ketiga anak itu hanya menjadi provokator karena telah ikut andil dalam rencana perampokan tersebut. setelah Doni mematikan televisi, pak Yaris tiba di rumah sakit itu dan kini menuju ruangan tempat Doni dirawat. sedangkan di rumah ibu Asih, Dona hanya berkata kepada ibu nya bahwa ibu Dewi pantas di penjara agar sadar atas kelakuan bejat nya itu. sang ibu hanya tersenyum kepada anak nya dan berkata.


"jangan menghakimi orang lain sayang. biarkan saja karma dan sang nasib yang melakukan tugas nya kepada orang tersebut melalui orang lain."


"ah ibu bicara apa sih?!" ucap Dona dengan ketus. sang ibu hanya terkekeh geli mendengar ucapan anak gadis nya itu yang kini telah berlalu menuju kamar nya untuk ganti pakaian.


Waktu kala itu sudah jam tiga sore dan anak gadis yang bernama Dona itu, sudah mandi terlebih dahulu karena ia merasa gerah kelamaan memakai jas kuliahan tadi dan ibu nya yang bernama ibu Asih itu, kini hanya bisa memikirkan nasib anak asuh nya itu. ia bertanya-tanya dalam hati nya tentang kabar anak asuh nya yang bernama Doni itu bagaimana sekarang keadaan nya dan sedang ada dimana. di dalam ruangan rumah sakit, pak Yaris sudah masuk ke dalam dan kini sudah duduk di kursi dekat Doni terbaring. anak muda itu sudah meredakan tangis nya dan hanya terlihat mata nya saja yang sedikit merah.


Pak Yaris lalu berkata tanya kepada Doni.


"kenapa matamu merah nak? apa kamu sudah bisa bicara??"


"tidak apa-apa pak. saya hanya merasa terharu saja ketika menonton berita pengadilan tentang ibu saya di televisi."


"apa kau menonton nya tadi nak?" Doni hanya mengangguk dan pak Yaris langsung mengusap kepala anak itu dan berkata.


"sekarang kamu sudah aman nak. kita berharap saja ibu mu serta keluarga nya jera atas tindakan nya itu." Doni hanya mengangguk dan kemudian pak Yaris berkata lagi kepada Doni.


"kamu bapak tinggal sendiri tidak apa-apa kan nak? bapak mau pulang dulu untuk mandi dan berganti pakaian."


"tidak apa-apa pak. saya sudah terbiasa sendiri kok." ucap Doni dengan senyum dan pak Yaris membalas senyuman itu seraya berkata.


"baiklah. bapak pulang lagi ya nak. kamu jangan memikirkan hal yang macam-macam dahulu. fokus untuk kesembuhan fisik kamu dulu. nanti kalau ada apa-apa, pencet tombol yang ada di dekat ranjang mu itu nak. nanti suster akan datang kemari."


"iya pak saya paham." jawab Doni dan kemudian pak Yaris pamit kepada Doni untuk pulang ke rumah nya dan berkata nanti akan menjenguk nya besok bersama keluarga nya.


Kini Doni sendirian lagi di dalam kamar rumah sakit itu. ia kemudian berbaring dan memejamkan mata nya untuk tidur. perasaan hati nya mulai kosong semenjak memutuskan hubungan nya dengan mbak Yuni. anak itu sempat depresi, tetapi ia sadar bahwa jalan nya masih panjang dan ingin cepat sembuh agar ia bisa bekerja memimpin perusahaan nya lagi dan bisa beraktivitas seperti biasa nya. tekanan batin akibat dendam terhadap ibu nya serta keluarga nya yang terlibat, kini sudah terbalaskan dengan ada nya kejadian tersebut.


Waktu kini telah cepat berlalu dan menunjukan pukul delapan malam hari. pak Yaris yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian, sekarang sedang makan malam dirumah nya bersama istri nya. di sela mereka sedang makan, sesekali mereka berbincang-bincang perihal kejadian berita viral yang sudah terjadi terhadap pak Yaris dan Doni.


"tadi mamah lihat di televisi tentang berita yang viral itu pah. mengapa mamah enggak lihat nak Doni ikut persidangan itu?"


"anak itu sedang dirawat di rumah sakit mah. betis kaki nya terluka akibat melawan dua perampok yang masuk ke dalam kantor itu."


"duhh.. kasihan sekali ya pah. untung nak Doni masih bisa diselamatkan, mamah jadi khawatir sama anak itu pah."


Lalu istri nya pak Yaris berkata tanya lagi kepada suami nya.


"iya pah. tadi mamah lihat, jahat sekali ya ibu nya nak Doni yang bernama ibu Dewi itu?" pak Yaris lalu minum dan setelah itu ia berkata.


"padahal dulu ketika masih muda, ibu Dewi adalah orang yang sopan, baik dan pemalu. tetapi entahlah, papah pun tidak mengerti akan sipat masa lalu nya yang sekarang telah hilang akibat keserakahan nya tentang harta warisan. sampai sekarang dipenjara, ibu Dewi terus saja melontarkan ancaman kepada papah ketika papah selesai menghadiri sidang itu. ia berkata mengancam akan merebut nya lagi ketika nanti sudah keluar dari penjara bersama para tersangka lain nya." ujar pak Yaris dan ia kini melanjutkan makan nya.


Istri pak Yaris yang bernama ibu Susi itu, hanya manggut-manggut saja mendengar ucapan dari suami nya itu. lalu ia berkata lagi kepada suami nya.


"sepuluh tahun atau lima belas tahun dari sekarang bukan waktu yang sedikit pah. mungkin suami istri itu bersama kedua perampok itu sudah menua dan tidak akan memungkinkan untuk mengancam bahaya kembali." ucapan ibu Susi tersebut langsung dijawab cepat oleh pak Yaris.


"itu sangat mungkin mah! ketiga anak ibu Dewi itu adalah suatu ancaman di masa mendatang. umur mereka sudah belasan tahun dan sejak kecil sudah di didik jahat oleh kedua orang tua nya. pasti suatu saat nanti mereka akan menimbulkan masalah terhadap nak Doni di kemudian hari." ujar pak Yaris meyakinkan ucapan nya.


Ibu Susi yang mendengar hal itu, menjadi merenungkan ucapan tersebut dan kemudian ia ikut meneruskan makan nya lagi dan sudah menyudahi obrolan tersebut. di satu sisi di salah satu dalam kamar rumah ibu Asih, Dona terlihat sedang belajar mengerjakan tugas kuliah nya. di saat yang bersamaan, telepon nya berdering dan ia lihat itu adalah nomor baru. rasa penasaran nya itu membuat Dona langsung mengangkat nya. lalu terdengar suara seorang lelaki berbicara kepada Dona lewat panggilan telepon.


"halo apa kabar Dona?"


"iya halo. ini siapa ya?" jawab Dona bertanya.


"aku Andi, masak kamu lupa sih?"


"An.. Andi mana? apakah Andi yang bekerja di jogyakarta?"


"iya ini memang aku."


"untuk apa kamu menghubungi ku lagi..??? bukankah kita sudah putus hubungan..???" tanya Dona lagi dan ia kaget juga, karena yang menelepon nya adalah mantan nya.


Ucapan dari pertanyaan Dona itu langsung di jawab lagi oleh suara lelaki yang mengaku Andi itu.


"memang kita sudah putus hubungan, tetapi aku menyesal telah memutuskan hubungan kita. aku telah keliru dan di rundung emosi hanya gara-gara tak mendapat balasan pesan dari mu Dona."


"langsung ke inti nya saja! apa mau kamu menghubungi ku lagi???"


"aku ingin kita balikan lagi seperti dulu lagi dan aku akan berjanji untuk merubah sikap ku. apa kamu mau memaafkan kesalahan ku yang dulu kepada mu itu sayang?" ucapan lelaki tersebut membuat jantung Dona berdegup kencang dan Dona belum menjawab nya karena ia sedang berpikir mencari jawaban dari ucapan mantan pacar nya itu.


...*...


...* *...