
HARI Demi hari silih berganti. pemuda yang bernama Doni itu membantu kakek tua itu bekerja sebagai pengurus masjid dan membersihkan nya setiap pagi sampai sore. lama kelamaan ia mulai jenuh dengan pekerjaan itu dan ia sejak tadi sedang merenung di teras masjid itu. ia sempat berpikir agar segera mencari pekerjaan yang layak dan gaji yang mencukupi kebutuhan nya. uang yang di berikan pak satpol pp dan uang pecahan dua ribuan yang di beri dengan dilempar oleh karyawan tak tahu diri itu, masih ada dan tersimpan dengan aman di tas nya.
Doni hanya makan dan minum dari hasil kerja nya membantu kakek itu yang digaji sehari dua puluh ribu. dari hasil gaji harian itu ia tabung dan di sisihkan sisa nya untuk keperluan nanti nya. ia ingin membeli seragam untuk melamar pekerjaan dan berkas-berkas yang valid untuk melamar pekerjaan. disela melamun nya itu, datang pak ustad selaku imam masjid itu dan berkata kepada Doni.
"kau sedang melamuni apa Don..??" tanya pak ustad yang sudah kenal dengan Doni.
"tidak kok pak ustad.." jawab Doni menutupi apa yang sedang ia pikirkan. pak ustad itu kini duduk di samping Doni dan mulai bertanya-tanya.
"sebenarnya, kamu ini mengapa nekat pergi dari rumah mu dan berniat mencari pekerjaan di kota ini..???" ujar pak ustad yang sudah tahu asal-usul nya Doni dari kakek Sarkim.
Doni menatap pak ustad itu dan bertanya.
"pak ustad dari mana tahu akan hal itu..??"
"kakek Sarkim yang memberitahukan nya kepada bapak. apa kamu bisa ceritakan nak apa masalah mu itu kepada bapak yang sebenar nya??? siapa tahu bapak bisa membantu mu." Doni awal nya ragu untuk mengungkapkan permasalahan sebenar nya. tetapi ia tidak bisa memecahkan persoalan itu sendirian dan kini, ia mencoba terang-terangan berkata kepada pak ustad yang bernama pak ustad Rojak.
Setelah lama Doni merenung, ia memulai ucapan nya.
"awal nya begini pak ustad. saya adalah anak tunggal yang yatim dan hanya mempunyai ibu kandung saja. ibu saya itu tak pernah tulus mengurus hidup saya dari semenjak saya lahir sampai sebesar sekarang. ibu saya terus saja mengomeli saya seakan dengan ada nya diri saya di rumah itu, adalah biang penyakit dan kesialan. sebelum saya kehilangan ayah yang saya sayangi dari umur sepuluh tahun, ibu saya menikah setelah hamil di luar nikah oleh lelaki yang sekarang menjadi ayah tiri saya yang kejam."
"innalilahi...! kok bisa sampai hamil di luar nikah begitu nak..???" tanya pak ustad Rojak sembari menggelengkan kepala nya tanda tak menyangka akan kejadian yang di ucapkan Doni itu.
Doni sejak tadi duduk bersila dan badan nya menyender tembok masjid. ia menatap wajah pak ustad itu dan menjawab pertanyaan nya.
"karena saya melihat jelas pergumulan mesum mereka ketika saya masih berumur sepuluh tahun pak ustad."
"astagfirullah...! baru kali ini bapak mendengar cerita seperti ini dari mu nak. coba kau teruskan cerita mu itu lagi nak." ujar pak ustad Rojak mulai tertarik dengan cerita masa lalu Doni.
Doni hanya mengangguk dan mulai membeberkan masa lalu nya itu. selama ini ia hanya memendam masa lalu nya yang penuh duka lara dan terbilang semakin sakit jika semakin di pendam sendirian itu.
Pak ustad manggut-manggut memahami masalah keluarga Doni. lalu Doni melanjutkan cerita nya lagi.
"sampai sekarang, anak mereka sudah tiga dan ayah tiri saya seorang pengangguran. ditambah ketiga anak nya yang selalu boros meminta uang jajan kepada ibu yang sehari-hari nya sebagai pembantu ibu rumah tangga." ujar Doni dan ia meneruskan ucapan nya lagi.
"menurut saya pribadi, itu adalah Karma Bagi Ibu Yang Kejam terhadap bibi Asih dan para pembantu yang telah ia pecat dan di usir kala saya masih kecil." ujar Doni dan kini pak ustad menatap Doni dengan senyum terulas di wajah nya.
Pak ustad menepuk-nepuk pundak Doni dan berkata.
"karma atau pembalasan yang setimpal dari seseorang itu memang datang nya tidak langsung hari itu nak. pak ustad setuju dengan ucapan kamu itu. bahwasan nya, karma atau pembalasan itu ada dan akan terjadi kepada orang itu di waktu yang akan datang dan seperti yang kamu bicarakan tadi. ibu mu kala itu kejam dan menindas para pembantu di rumah mu, dan sekarang kejadian itu menimpa ibu mu yang sekarang telah menjadi pembantu di rumah orang lain."
"tetapi ibu itu seakan tak pernah menyesal akan perbuatan nya itu pak ustad. padahal jelas-jelas harta warisan itu habis oleh diri nya dan suami malas nya itu. sekarang kedua nya merasakan akibat dari pemborosan nya dan kedua nya malah menyalahkan saya ketika saya meminta biaya sekolah yang tak seberapa besar nominal nya itu." ucap Doni memotong ucapan pak ustad Rojak dan ia mengingat ketika ia masih sekolah dan biaya nya itu dari sisa uang dari penjualan rumah besar nya.
Ustad itu hanya manggut-manggut dan berkata kepada Doni.
"kamu harus sabar nak. mungkin ini adalah ujian dari tuhan. kamu harus tetap berdoa dan bersabar menjalani cobaan ini. lalu, dirimu ini di usir apa pergi dengan keinginan diri sendiri..???"
"saya di usir oleh ibu saya pak ustad. gara-gara saya bertengkar dengan ayah tiri saya."
"bertengkar soal apa..?? apa bekas luka memar di wajah mu itu adalah bekas perkelahian mu dengan ayah tirimu itu nak..??" tanya pak ustad Rojak semakin tertarik dengan cerita Doni.
Doni menjelaskan awal nya ia terusir oleh ibu nya kepada ustad Rojak.
"kala itu saya ingin makan siang. seperti biasa, saya selalu tidak kebagian jatah makan. di dapur rumah kala itu ada ayah tiri saya yang sedang merokok. ia memancing-mancing amarah saya dan saya sudah tidak memikirkan resiko nya lagi. saya menyerang ayah tiri saya dan sampai bertengkar dengan nya. kami di pisahkan oleh ibu dan tiga anak nya. setelah itu, saya di usir dan tidak diperbolehkan untuk datang lagi ke rumah itu." ujar Doni dengan singkat jelas dan padat. pak ustad Rojak kini sudah jelas mengapa Doni bisa nekat pergi membawa koper dan tas hitam nya. ia awal nya ingin membantu Doni agar pulang kembali ke rumah nya. tetapi, setelah pak ustad Rojak mendengar dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi kepada Doni itu. ia menjadi tak tega dan ingin membantu kesulitan Doni di bab selanjutnya.
...*...
...* *...