
"Serius, mana berani gue bohong sama Lo." balas Lina takut-takut.
Zefa terlihat diam dan berfikir, namun ...
"Ngomong-ngomong soal foto itu, Lo dapet darimana?" tanya Zefa dingin.
Setelahnya Lina menghela nafas berat.
"Itu Zelyn yang dapet. Tadi dia bilang ke gue kalau dia ada perlu sebentar sama abangnya, dan waktu dia keluar itu, nggak sengaja dia lihat Kaesang sama Bu Tyas. Lihatnya juga nggak sengaja sih, waktu itu abangnya mau nerima telepon dari temennya, dan berhenti dong di tepi jalan. Nah pas banget mobil abangnya Zelyn tuh berhenti tepat di depan mobilnya Kaesang." jelas Lina.
Zefa terlihat menyimak sembari mengetuk ngetukkan jarinya di meja.
"Terus, Zelyn kok bisa tau kalau itu mobilnya Kaesang?" tanya Zefa.
"Ck, Zef Zef, siapa sih yang nggak tau mobilnya Kaesang yang Lamborghini putih itu. Lagian Zelyn tadi bilang waktu nggak sengaja noleh ke belakang dia kaget waktu liat Kaesang lagi begituan sama Bu Tyas. Dan dia yakin banget kalau itu mereka karena dia lihatnya jelas banget." jawab Lina kemudian.
Tidak usah kalian pertanyakan bagaimana ekspresi Zefa setelah mendengar kabar tersebut. Wajahnya merah padam, dan tangannya mengepal kuat di atas meja. Namun, dia masih tak begitu yakin soal ini, karena pikirnya bagaimana bisa lelaki setampan dan sepintar Kaesang dapat berpacaran dengan guru biasa seperti Tyas. Lagi pula umur mereka berjarak sangat jauh. Itu sangatlah mustahil kecuali jika Kaesang memang menyukai perempuan yang lebih tua darinya.
Zefa juga menyadari jika Kaesang tidaklah menyukainya, namun jika Kaesang ingin selingkuh haruslah dengan perempuan yang sepadan dengannya, tapi ini, dia justru selingkuh dengan guru?? sungguh lucu, tapi juga tidak bisa menyangkal jika Bu Tyas memanglah cantik dan ramah pada semua murid juga para guru.
Huh! memikirkannya saja sudah membuat otak Zefa serasa meledak. Pikirannya kacau, dan dia sangatlah marah. Jika saja foto itu buram atau terlihat seperti editan ia tidak akan semarah ini, tapi foto itu terlihat sangatlah jelas bahkan lekuk tubuh keduanya pun terlihat begitu nyata.
"Lo yakin kan, kalau itu bukan editan??" tanya Zefa berusaha memperjelas kembali.
Lina pun menghela nafas panjang sepenuh dada.
"Sumpah, Zef, gue yakin kalau itu mereka. Atau kalau Lo mau bukti lebih lanjut, gimana kalau kita cari tau lebih dulu?" usul Lina.
lalu Zefa pun merogoh handphonenya dari dalam tas, kemudian membukanya dan menghubungi seseorang. Sorot matanya terlihat tajam, wajahnya pun sangatlah dingin. Ia sangatlah penasaran dan juga marah saat itu.
Kring ... Kring ... Kring ...
"Halo,"
^^^"...."^^^
"Gue ada kerjaan buat Lo. Cari tau data pribadi dan hubungan kedua orang yang fotonya gue kirim. Cari tau semuanya, jangan sampai tersisa. Gue mau besok malam Lo udah setorin data-data itu ke gue."
^^^"...."^^^
"Cari tau aja, pokoknya besok Lo harus dapet apa yang gue suruh. Ngerti?!"
^^^"...."^^^
"Oke bagus."
Tut ... Tut ... Tut ... (telepon di matikan)
Lina terlihat menatap Zefa seraya terkagum-kagum. Sementara Zefa yang merasa tengah ditatap, langsung balik menatap Lina seraya mengernyit heran.
"Ngapain Lo liatin gue gitu banget?" tanya Zefa datar.
Lina pun terlihat memalingkan wajahnya seraya tersenyum.
"Nggak kok, btw tadi Lo hubungin siapa?"
"Emang apa urusannya sama Lo?!" jawabnya sedikit ketus.
Lina pun tersenyum kecut.
"Ya gue sih cuma nanya aja, jawabnya nggak usah ketus gitu juga kali." balas Lina seraya memalingkan wajahnya.
"Itu tadi orang suruhan gue, dia gue minta buat cari tau apapun tentang Kaesang ataupun Bu Tyas. Oh ya gue baru inget kalau habis ini mau ada urusan, gue balik dulu ya, sampein terima kasih gue ke Zelyn buat infonya." ucap Zefa.
"Oke hati-hati ya."
Setelahnya Zefa terlihat berdiri dan meninggalkan cafe tersebut.
......................
"Hati-hati ya dirumah, kalau seumpama lagi perlu sesuatu hubungi aku aja." ucap Kaesang setelah sampai tepat di depan rumah Tyas.
Alhasil, Tyas pun menghentikan langkahnya yang akan keluar lalu berbalik menghadap Kaesang.
"I love you, dear." setelahnya Kaesang terlihat tersenyum seraya menggenggam tangan Tyas.
Sementara Tyas yang mendengar kata sensitif itupun hanya mampu tersenyum seraya mengangguk.
"I love you more, Kaesang."
Lalu Tyas pun turun dari mobil Kaesang, dan menutup kembali pintunya. Ia berdiri di sebelah mobil Kaesang seraya melambaikan tangannya.
Karena sudah merasa puas akan jawaban Tyas, Kaesang pun berniat akan pergi. Dia lajukan kembali mobilnya seraya sesekali melirik kearah spion mobil.
Dari kejauhan, Tyas terlihat mulai melangkahkan kakinya kearah rumah lalu menghilang bersamaan dengan mobil Kaesang yang semakin menjauh.
"Semoga setelah ini nggak akan ada lagi masalah yang menimpaku ataupun Tyas." batinnya.
......................
Sementara di tempat lain, terlihatlah seorang gadis cantik tengah duduk sendirian di dalam kamarnya. Dia duduk di tepian ranjang seraya tatapannya yang mengarah lurus kearah jendela yang tertutup korden. Tak ada apapun yang dipikirkannya sampai tanpa permisi terlebih dahulu, masuklah sang kakak lalu duduk tepat di sebelah gadis itu.
"Lagi ngapain dek, kok sendirian aja?" tanya Reynald tiba-tiba.
"Lagi duduk." ternyata Vierra sudah mengetahui kedatangan Reynald, dan ia pun tak terkejut.
"Kok nggak kaget sih, abang kira kamu bakal kaget tadi." ucap Reynald seraya tertawa kecil menoleh kearah Vierra.
"Emang udah tau, ngapain harus kaget." jawab Vierra begitu singkat dan tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.
Reynald yang mengetahui ada sesuatu yang tengah dipikirkan sang adik, dia pun menyentuh pundak Vierra dengan tangan satunya sementara tangannya yang lain sibuk mengusap-usap rambut hitam milik gadis itu.
"Adek abang lagi mikirin apasih? Kok serius banget?" tanya Reynald begitu lembut.
"Nggak ada." jawab Vierra singkat.
"Kamu ... Kangen Kaesang ya?" tebak Reynald.
Namun, setelah mendengar ucapan sang kakak, Vierra pun lantas menoleh seraya menyatukan alisnya.
"Kok tiba-tiba bahas Kaesang?"
Reynald pun tersenyum.
"Tuh kan, kamu noleh berarti bener dong kalau kamu lagi kangen sama bocah itu."
Tapi Vierra justru mengalihkan pandangannya.
"Abang sok tau." balas gadis itu.
"Kalau kamu memang kangen sama Kaesang, abang bisa kok bawa kamu buat nemuin dia." ucapan Reynald lagi-lagi berhasil membuat Vierra terkejut dan sontak menoleh ke arah sang kakak.
"Abang serius?" tanya Vierra.
"Serius dong." jawab Reynald santai.
"Apasih yang nggak bisa abang kasih ke adek. Lagian nemuin Kaesang itu nggak susah, besok juga abang bawa kamu nemuin dia di rumahnya sepulang dia sekolah." ucap Reynald terlihat serius.
Setelahnya tanpa aba-aba Vierra lantas memeluk Reynald begitu erat seraya menumpahkan tangisannya.
"Makasih abang, sebenarnya Vierra nggak mau bahas soal Kaesang lagi sama Abang, tapi Vierra nggak bisa nutupin kalau selama ini Vierra masih sayang sama Kaesang. Vierra pengen nemuin dia sekali saja sebelum kita balik lagi ke London." ucap Vierra seraya menyeka air matanya.
"Maafin abang ya dek, abang nggak bisa kasih apa yang adek mau, tapi besok abang janji buat bawa adek nemuin Kaesang. Abang pengen lihat adek bahagia dan nggak sedih lagi." ucap Reynald terdengar tulus, namun setelah beberapa lama, tak ada satupun respon dari Vierra.
Reynald pun tersenyum setelah melihat adiknya tertidur di pundaknya. Di wajahnya masih dipenuhi air mata, Vierra terlihat begitu lelah. Lalu Reynald pun memindahkan tubuh Vierra dengan nyaman di atas ranjang, dan menyelimutinya. Adiknya tertidur dengan pulas, hingga terdengar dengkuran halus darinya.
Setelah menyelimuti tubuh Vierra, Reynald pun mengusap pelan rambut adiknya itu sebelum akhirnya ia keluar dari kamar sang adik dan membiarkannya tuk beristirahat.
Bersambung....