Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 120 -Zefa adalah milikku


Tuk ... Tuk ... Tuk ...


Bernafas kasar langsung Kaesang lakukan disaat banyak perempuan yang mengerumuninya dan berusaha mencuri perhatiannya sewaktu dirinya berjalan di koridor sekolah.


Hhhh ...


"Kae, Kaesang ..." panggil seorang gadis dari arah belakang Kaesang, dan setelah Kaesang berhenti dan membalikkan badan ternyata gadis itu adalah anak sekelas dengannya yang kalau tidak salah bernama Zeya.


Kaesang pun memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya lalu melayangkan tatapan datarnya pada gadis itu.


"Kae, sekarang Lo ikut gue, pak Andi panggil kita berdua ke ruangannya, dan kayaknya sangat penting." ucap Zeya dengan sikap dan perilaku kurang lebih samalah dengan Kaesang. Wajahnya dingin dan datar, ucapannya santai namun terlihat serius.


Tanpa berkata sepatah katapun pada Zeya atau sekedar mengajaknya berjalan, Kaesang pun berjalan pergi menuju ke ruangan pak Andi tanpa mengajak Zeya sedikitpun, jangankan mengajak berkata iya pun tidak.


"Tuh cowok kayaknya perlu di sleding deh lama lama, udah nggak ngomong apa-apa, muka sama ekspresi dingin, trus cuek lagi sama gue. Astaga, Zey, mimpi apa Lo semalam sampe Lo bisa berurusan sama Kaesang begini?" batin Zeya seraya berjalan di belakang Kaesang dan melontarkan tatapan tajam kearahnya.


......................


"Nanti Lo sepulang sekolah ikut gue bentar ke perpustakaan sekolah buat bahas olimpiade tadi." ucap Kaesang dingin dan nyaris tanpa ekspresi.


Zeya pun melangkah pergi di saat dirinya telah melontarkan deheman pada Kaesang dan menoleh sekilas kearahnya.


......................


Hari ini, suasana rumah sangat sepi walaupun biasanya memang sepi di tambah dengan kepergian Zefa kesekolah beberapa saat yang lalu. ya, Zefa pergi dan katanya dia akan memberikan pelajaran pada Zeya di sekolah nanti. Salma senang melihat suami serta putrinya begitu percaya padanya, percaya dengan semua tuduhannya pada Zeya. Sebenarnya Salma tak ingin berurusan lagi dengan Zeya atau semacamnya, dia benci anak itu dan merasa senang melihatnya meninggalkan rumah ini. Namun, beberapa hari lalu ketenangan Salma kembali terusik di saat melihat Zeya datang lagi ke rumah ini. alasannya sih hanya mau mengambil motornya yang masih berada di rumah ini. Namun, salma tetap tak suka melihatnya datang lagi ke rumah ini, walau sebenarnya ini memanglah rumahnya.


"Ku harap Zefa nanti dapat melakukan hal setimpal pada Zeya. Ku harap Zeya menderita dan pergi sejauh mungkin dari kehidupan kami. Rasanya aku begitu benci padanya di saat dia mencampuri urusanku, astaga, Salma kendalikan dirimu, kau harus tetap tenang dan jangan terbawa emosi hanya karena anak itu." ucap Salma sendiri seraya tatapannya tak lepas dari tayangan drama Korea di Tv di hadapannya.


......................


Udara berhembus pelan, cuaca begitu panasnya di saat seorang gadis cantik tengah berlari di lapangan sekolahnya karena hukuman yang di terimanya. Gadis itu adalah Celine, dia hanya melamun di saat pelajarannya tadi, dan hal itu lah yang menyebabkannya di hukum. Dia tak menjawab pertanyaan guru dan alasannya melamun pun tidak ia beritahu, Celine hanya memikirkan satu hal hari ini, dia memikirkan Kaesang dan perjodohannya. Bagaimana semua itu bisa terjadi jika jarak keduanya pun sangatlah jauh seperti ini.


Huufftt ...


"Lin, ikut gue ke kantin sebentar." sesaat Celine masihlah berlari, dan tak memandang sekeliling, ia dibuat terkejut oleh suara panggilan seorang lelaki dari arah belakang tubuhnya. Suaranya begitu Celine kenal, astaga untuk apa dia menemuiku di saat seperti ini?


......................


"Astaga panas sekali hari ini, kurang berapa meter lagi untukku sampai di rumah Kaesang?" dialah Gina, kerabat Kaesang yang sengaja menemuinya karena suatu hal.


suara ponsel membuat Gina meminggirkan kendaraannya dan menghentikannya begitu saja. Setelah merogoh hp nya dari dalam tasnya, Gina pun menatap layar ponsel. "huufftt, ada apa lagi ini? Jangan bilang dia menelponku hanya mau menggodaku saja." tak urung jari Gina menekan tombol accept pada layar ponselnya dan menempelkannya di telinganya.


"Halo sayang." astaga, dia.


"Ada apa, kenapa kau menelponku?" jawab Gina malas.


"Apa aku tak boleh menelpon pacarku sendiri?" ujarnya, yang tak lain dan tak bukan adalah Rezky, seorang lelaki muda seumurannya yang merupakan rekan kerjanya sekaligus pengganggu bagi Gina.


"Astaga, benar kan dugaanku, dia menelponku hanya mau berbasa-basi saja. Hhhh, lebih baik aku segera ke tempat Kaesang dan memberitahukan semuanya padanya." ucap Gina seraya memasukkan hp nya ke dalam tasnya, dan melajukan mobilnya kembali.


......................


Sesaat langkah kaki Kaesang sudah hampir sampai di kelasnya, dia di buat berhenti oleh seseorang yang membuatnya rindu dan kangen sehari ini. Ya, Tyas. Wanita itu berjalan dari arah berlawanan arah dengan Kaesang, dan membawa setumpuk besar buku di tangannya.


Hmm ...


Sejenak Kaesang tersenyum di saat Tyas berjalan melewatinya, bahkan bukan hanya Kaesang, melainkan Tyas pun sempat tersenyum dan mengangguk sekilas sesaat langkah kakinya sampai pada tempat Kaesang berdiri.


"Rasanya sekarang ku mulai canggung berpacaran dan dekat dengan seorang Guru begini, apalagi posisiku muridnya kan sekarang, apakah hubungan ini akan bisa bertahan lama, ku harap dia tetap setia menungguku sampai aku lulus, dan bekerja nanti." batin Kaesang sesaat sebelum dirinya masuk ke dalam kelasnya.


......................


Wuusshhh ...


"Astaga, kenapa kau lama sekali, hah? Sudah ku tunggu kau dan anak buahmu di tempat ini dari tadi pagi!!"


Di sebuah bar nampaklah sekumpulan laki laki tengah duduk dan minum minum di sebuah meja seraya bergurau, laki laki itu adalah klub motor terkenal di kotanya dan begitu ganas.


"Maaf tuan, kami ada kendala sedikit tadi." ujar salah satu dari mereka.


aish!!


"Semalam sudah ku beri tau kan, apa tugas kalian?!" tanya salah satu dari mereka seraya tersenyum.


Setelah mendengar ucapan dari pria tadi, semuanya pun manggut-manggut dan mulai tertunduk.


"Bagus, setelah ini kalian lakukan tugas itu, dan bereskan sebelum besok malam, bisa?" ucapnya tegas.


Tak seorangpun bicara, mereka hanya menganggukkan kepala dan tetap menunduk. Selain takut pada yang menugaskan mereka, semua yang berada di sana juga segan pada pria itu, Vero andreano Arez. Memang dia masihlah belasan tahun namun kekuasaan serta kekuatannya lah yang membuat semua yang berada di sana takut dan tak berkutik.


"Kaesang kaesang, sudah cukup lelah aku berdiam diri seperti ini, cukup lelah aku hanya diam disaat melihatmu dan Zefa bermesraan seperti itu. Hubunganmu dan Zefa bukanlah apa apa ketimbang hubunganku dulu dengannya. Lihat saja, Kae, aku akan mengirimu ke gudang kehancuran, dan juga siksaan. aku akan membuatmu hancur dan begitu menyesal. Aku akan membuatmu menyesal karena telah mengambil Zefa dariku." batin Vero seraya menatap tajam ke depan.


"Selamanya Zefa adalah milikku, milik Vero andreano Arez bukanlah Kaesang!" batin Vero lagi.


"Ingat, kalian harus menjalankan tugas ini dengan tenaga penuh, dan juga kewaspadaan. Kaesang itu pria yang pintar jadi kalian perlu berhati hati, baik, kalian boleh pergi." ujar Vero pada semuanya dengan tegas.


"Jika usaha kali ini sampai gagal, sampai kapanpun akan tetep gagal. Jangankan memberi pelajaran pada Kaesang, mengambil Zefa kembali saja aku takkan mampu, ku harap usaha kali ini berhasil dan Zefa bisa kembali ke pelukanku, dia hanya milikku dan selamanya akan tetap begitu." batin Vero.


Bersambung ...


GUYS, JANGAN LUPA TEKAN LIKENYA YA, TERIMA KASIH😚