
...Kelanjutan dari episode kemarin......
Kaesang yang tengah perjalanan menuju ke villa keluarganya, seketika perhatiannya teralihkan pada sebuah resto minimalis yang ada empat meter di depannya, tepatnya di sebelah kiri. Ia yang kebetulan ingin pergi sarapan terlebih dahulu, akhirnya memutuskan tuk mampir sebentar ke resto tersebut, mumpung ini masih pagi juga.
Saat Lamborghini miliknya mulai memasuki halaman depan resto tersebut, ia di sambut dengan pemandangan resto unik, dan terkesan klasik di hadapannya, ia tersenyum miring, sebelum akhirnya ia parkirkan kendaraannya itu ke tempatnya, kemudian turun, dan mulai melangkahkan kakinya memasuki resto tersebut.
Sesaat ia tatap nama dari resto ini, ia seperti teringat dengan sesuatu hal, tapi ia lupa apa itu. Lalu mengesampingkan hal itu, kaesang pun buru buru mencari tempat duduk, memanggil pelayan disana, dan memesan apa yang ingin dipesannya, yaitu chicken steak 1, dan orange juice juga satu, ia memesan itu, karena ia merasa jika perjalanannya ke puncak masih jauh, dan itu pasti akan membuatnya lapar jika ia tak pergi sarapan terlebih dahulu. Selepas menerima pesanan kaesang, pelayan cantik itu pun berlalu pergi dari sana, guna membuat pesanan yang kaesang pesan barusan.
Sembari menunggu makanan yang dipesannya tiba, kaesang pun iseng merogoh handphone miliknya dari dalam saku celananya, membukanya lalu hendak menelpon Tyas, tapi sebelum itu terjadi, ia urungkan niatnya itu selepas ia ketahui jika Tyas tak sedang online saat ini.
...........................................................
Tyas yang telah selesai dengan semua pekerjaan rumahnya, kemudian memutuskan tuk pergi mandi, dan bersiap guna pergi ke rumah sakit satu jam lagi.
Ingin sekali dirinya menghubungi kaesang terlebih dahulu sebelum ia beranjak kerumah sakit tersebut, hanya sekedar memberinya kabar, ataupun menanyakan kabarnya, tapi jika ia melakukan itu, sudah pasti kaesang akan bertanya lebih padanya, dan sudah pasti ia bingung harus menjawab apa nanti jika ia bertanya, dan lagipula tak ada yang boleh tahu mengenai operasinya ini, ataupun mengenai penyakit yang di deritanya ini, lalu ia pun kembali menyimpan handphone miliknya itu, kemudian beranjak ke kamar mandi, dan mulai menunaikannya.
.......................................................
Di malam hari di London, nampaklah sesosok gadis cantik nan putih tengah duduk bersila di atas ranjang di kamarnya, dengan sorot lampu yang lumayan terang gadis itu rupanya tengah berkutat pada tugas tugas di laptopnya, bahkan pandangannya tak beralih sedikitpun dari layar laptopnya itu. Dialah Vierra, ia yang kebetulan tengah fokus pada tugas tugasnya, tiba tiba ketenangannya terganggu akan sang kakak yang tiba tiba memasuki kamarnya tanpa permisi, dan langsung memukul pelan pundaknya dari belakang.
"Lagi ngerjain apa dek?" tanya Reynald, sang kakak dari Vierra tersebut, yang notabenenya memiliki karisma tak jauh dari kaesang, tapi berumur dua tahun lebih tua darinya. Ia langsung memasuki kamar adiknya itu, bahkan tak di dengarnya ia mengetuk pintu terlebih dahulu, dia langsung duduk di sebelah sang adik lalu memukul pelan bahunya. Sementara Vierra yang terkejut dengan kedatangan sang kakak yang tiba tiba, dan langsung masuk ke kamarnya tanpa permisi, sontak melontarkan tatapan mautnya pada sang kakak begitu saja, sementara Reynald sendiri, dia malah senyum senyum saat menatapi tingkah adik semata wayangnya itu.
"Kepo banget sih jadi orang, kakak urusin aja urusan kakak sendiri, ngapain kesini segala." Mendengar jawaban ketus Vierra, bukannya membujuknya, dan meminta maaf padanya, Reynald justru tetap diam sembari tersenyum kearah adiknya itu.
"Apaan sih kak senyum senyum gitu, jelek tahu gak, jelek." Ejek Vierra sembari memandang sinis kearah sang kakak di sampingnya, kemudian fokus pada tugasnya kembali.
Saat mendengar ejekan sang adik, Reynald justru tersenyum kembali sembari mengacak acak rambut adiknya itu, dan melihat tingkah Vierra saat tengah marah, membuat Reynald tak henti hentinya tertawa, ia begitu gemas pada adik tersayangnya ini.
"Ah kakak, rambut aku jadi rusak kan, udah kalau emang kakak gak ada urusan lagi disini mending keluar aja kak, keluar, aku mau belajar jangan ganggu!" Ucap ketus Vierra, sembari mendorong pelan bahu sang kakak guna mengusirnya, lalu mulai merapikan rambutnya kembali sambil sesekali melirik kearah sang kakak di sampingnya.
"Apa?, pasti kakak mau bilang kan kalau kita liburan tahun ini di apartemen aja ya, tapi tahun depan kakak janji bakal ajakin kamu liburan keliling londong, huh! kapan kak?, dari dulu nanti nanti Mulu, udah ah, aku dah tahu apa yang mau kakak omongin, pasti kakak mau ngomong itu kan, udah ah kakak keluar aja, aku lagi gak mau di ganggu." Putus Vierra dengan nada ketus di setiap ucapannya, dan diakhir ucapan ia menginginkan agar sang kakak keluar dari kamarnya, mengingat ia juga tengah sibuk pada tugas sekolahnya itu.
"Hey, sok tahu kamu, udah daripada kamu sok tahu kayak gini, mending kakak langsung kasih ini aja ya ke kamu. Nih tiket buat kamu, besok kita berangkat kesana jam sembilan pagi jangan lupa. Ehm, Yaudah kakak tinggal ya, semangat ngerjain tugasnya maaf dah ganggu." Tanpa basa basi Reynald langsung menyerahkan sebuah tiket liburan pada Vierra, kemudian karena tak ingin mengganggu waktu belajar adiknya itu, Reynald pun memutuskan tuk keluar dari kamar adiknya, dan meninggalkannya seorang diri.
Saat sang kakak telah pergi dari kamarnya, Vierra pun lantas terdiam sembari memandangi tiket liburan di tangannya, ia masih tak percaya jika tiket ini memang benar benar ada di tangannya, dan sang kakak lah yang telah memberikannya.
'Besok??' Ucapnya tak percaya, jika setelah dua tahun terakhir ini dirinya beserta sang kakak akan pergi liburan juga, karena dari dulu entah kenapa sang kakak selalu tak mengijinkannya untuk pergi liburan ke luar, pergi pun mungkin sangat jarang sekali, dan kali ini kakaknya bahkan memberikannya tiket liburan langsung, lalu melihat ini mata Vierra pun lantas berbinar binar, ia kemudian turun dari ranjangnya, dan bersorak gembira, karena akhirnya udara segar liburan pun akan segera di dapatkannya.
................................................................
Saat mendapati makanan yang dipesannya tiba, Kaesang pun lantas menyimpan handphone miliknya itu kedalam saku celananya, kemudian menerima dengan baik makanan dan minuman yang telah di pesannya itu.
Sesaat pelayan tadi pergi sehabis menyajikan pesanan yang dipesan oleh kaesang, tanpa berlama lama kaesang pun mulai menyantap dengan baik makanan di hadapannya itu, mengingat hari juga semakin siang dan perjalanan ke puncak juga masih jauh. Ia takut jika ia pergi sedikit siang saja itu akan membuatnya terjebak kemacetan, dan itu akan memakan waktu lama tak sekedar sejam dua jam saja.
.......................................................
Selepas selesai dengan mandi dan bersiapnya, Tyas kini terlihat tengah berkaca di depan meja riasnya, menyisir rambutnya yang kusut, kemudian menyempatkan diri memakai beberapa make up nya, dan sebuah parfum yang kini mulai disemprotkannya pada setiap bagian di bajunya.
Ia menatapi penampilannya yang kemudian setelah dirasa sempurna, ia pun beranjak mengambil Sling bag nya, dompet, kemudian handphone beserta arloji yang langsung dipakainya di pergelangan tangannya, tak lupa ia juga membawa surat persetujuan operasi yang sempat ditandatanganinya waktu lalu, kemudian dilipatnya dan dimasukannya kedalam Sling bag nya itu. Setelah barang yang hendak dibawanya siap, Tyas pun beranjak mengambil sepatu selopnya lalu memakainya, dan selepas itu mulailah ia memesan taksi online guna sebagai kendaraan untuknya ke rumah sakit.
Sesaat taksi yang dipesannya sudah mulai berjalan menuju ke tempatnya, Tyas pun buru buru keluar dari rumahnya, menguncinya, lalu menunggu taksi yang dipesannya itu tiba.
Beberapa menitpun berlalu, akhirnya tibalah taksi biru yang tengah dipesannya itu lengkap dengan seorang pria tiga puluh tahunan sebagai supirnya. Tanpa berlama lama, Tyas pun mulai memasuki taksi tersebut, dan duduk tepat di belakang supir, dan setelah dirasa semuanya tak ada yang tertinggal, meluncurlah mereka menuju ke RS.Medika Mandiri.
Bersambung.