Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 18- Orang misterius & mama


Kaesang, lelaki itu lebih memilih untuk berdiam diri di tempat itu selama kurang lebih beberapa menit, ia mencoba tuk mengosongkan pikirannya, dan tak memikirkan suatu hal apapun, akan tetapi perkataan dari orang yang mengaku ngaku Vierra tadi sungguh sungguh telah memenuhi pikirannya. Ia ingin tak mempercayai semua ini, akan tetapi entah mengapa ia dapat merasakan sesuatu dari orang itu, yang mengarah ke sosok Vierra. Ia mencoba untuk melupakan hal tadi, dan fokus pada tujuan hidupnya, serta membuang bayang bayang Vierra dari pikirannya. Lelaki itu berdiam diri di sana sembari menatap hempasan ombak di laut, dan tak melakukan apapun, hingga tanpa sadar sudah dua jam lebih dia di sana. Ia menatap sekilas kearah arloji di tangannya, kemudian menatap kedepan sebentar, lalu beranjak berdiri dari duduknya, membuka handphonenya sebentar, kemudian beranjak pergi dari sana, dan memutuskan untuk kembali ke bis nya saja karena jam sudah hampir menunjukkan pukul 12.30 siang. Akan tetapi di tengah jalan ia di cegat oleh seorang pria dewasa berusia sekitar 30 tahunan, dengan memakai jas hitam lengkap dengan sepatu, topi, dan juga kaca mata hitamnya. Saat mengetahui lelaki itu ada di hadapannya, pria itu pun berjalan mendekat kearah lelaki itu perlahan, akan tetapi lelaki itu hanya diam, sembari memandang kearah pria itu heran, 'siapa sih orang ini?'


"Halo, nak, apa kabar?" sapa orang itu saat ia telah berada di depan lelaki itu. Ia tersenyum miring, kemudian melepas kaca matanya, dan menatap lelaki itu lekat.


"Anda siapa, maaf saya buru buru." ucapnya hendak beranjak pergi dari sana, akan tetapi saat ia hendak melangkah tiba tiba lengannya dicekal oleh orang itu, lalu berbisiklah orang itu tepat di telinga lelaki itu.


"Kamu gak mau tau soal mamamu?, Zora vidyananta?" tawar pria tersebut sembari berbisik tepat di telinga lelaki itu, dan berhasil membuat wajah lelaki itu kaget seketika. 'siapa sebenarnya pria ini, mengapa ia bisa berkata demikian?, terlebih lagi, bagaimana ia bisa tahu kalau dia ini adalah putra dari orang yang ia sebut tadi?'


"Siapa anda sebenarnya?" tanyanya sembari menatap tajam kearah pria itu.


"Mamamu tidak sedang baik baik saja saat ini, dia tengah kesakitan, dan terus memanggil namamu, Kaesang, Kaesang." ucapnya lagi sembari tersenyum miring kearah lelaki itu.


"Cukup, sebenarnya anda siapa, jangan ngelantur, saya mau pergi." ucap tegas lelaki itu sembari hendak beranjak pergi, akan tetapi lagi lagi lengannya di cekal oleh pria itu, hingga ia tak dapat melakukan apapun.


"Mamamu di jebak oleh seseorang, dan itu teman dekatnya sendiri." ucapnya lagi sembari memelankan Suaranya.


"Apa kau tak mau tahu keadaan mamamu?" Tanyanya lagi.


"Dia sangat merindukanmu lho, Kaesang."


"Apa kau tak rindu dengannya?"


"Ini darinya, bawa, dan simpanlah baik baik, permisi." ucapnya sembari berlalu pergi begitu saja. Ia datang dengan begitu aneh, lalu pergi begitu saja. Laki laki itu tak henti hentinya bertanya dalam hatinya, benarkah yang di beritahu oleh pria tadi?, jika iya, siapa sebenarnya pria tadi, mengapa ia bisa tau tentang mamanya?. Kemudian ia lihat kembali pemberian dari pria tadi, sebuah flashdisk biru sekarang tengah berada di genggamannya. Ia ingin tahu apa sebenarnya isi dari flashdisk ini. Ia pandangi sebentar, kemudian ia masukkan kedalam saku jaketnya, dan rencananya akan ia cek saat ia telah selesai study tour nanti, karena laptopnya ada dirumah, dan membukanya hanya bisa dengan laptop. Lalu setelah ia selesai dengan semua hal tadi, beranjaklah ia dari sana, dan kembali ke bis nya semula, pikirannya begitu penuh saat ini, antara masalah Vierra dan masalah ini, semua itu menyatu di pikirannya, dan membuat lelaki itu tak dapat berpikir, apa yang harus dilakukannya. Sesaat kemudian langkahnya pun diiringi dengan sebuah suara yang begitu keras terdengar dari sebuah pengeras suara yang tak tahu asalnya dari mana, dan di suara itu memberitahukan kalau semua anak anak maupun guru Genius high school selepas ini harus segera membersihkan diri kemudian kembali ke bisnya masing masing, sebab setelah ini kita akan menuju ke resto yang telah di reservasi sebelumnya, dan makan siang disana, selepas itu beranjak menuju ke spot wisata selanjutnya. Tanpa menghiraukan hal itu, Kaesang pun tetap melanjutkan langkahnya untuk kembali ke bis 2, bis yang ia naiki sebelumnya. Ia sedikit malas tuk kembali ke bis nya lagi, sebab ada Tony disana, ia tak ingin sebangku dengannya lagi, karena menurutnya Tony terlalu cerewet, dan banyak tanya. Ia tak menyukai hal itu, lalu ia pun berhenti, dan berpikir, bagaimana jika ia duduk di tempat lain saja, di bangku paling pojok kiri, terlihat ada satu bangku kosong di sana, jadi bisa ia tempati, akan tetapi yang menjadi masalahnya adalah bangku itu adalah bangku yang diduduki oleh ibu guru yang sering bertemu dengannya itu sebelumnya, jadi dia agak sedikit ragu tuk duduk di sana, lalu sebuah asumsi mulai terbesit dipikirannya, kalau ibu guru itu setelah ini pasti akan bergabung dengan bis guru guru yang lain, jadi tak mungkin jika gurunya itu kembali ke bis ini lagi. Lalu mulai mantap dengan asumsinya itu, ia pun mulai melangkah masuk kedalam bis itu dengan mantap. Kegembiraannya pun bertambah saat dilihatnya ibu guru itu belum juga ada di dalam bis ini. Kemudian sembari menenteng hp di tangannya, lelaki itu tengah menuju ke bangku paling pojok kiri, yang saat ini tengah kosong. Ia tampak menghiraukan Tony yang sedari tadi memanggilnya, ia tak perduli sama sekali dengannya, dan tetap melanjutkan niatnya tuk duduk di sana. Selepas ia sampai di bangku itu, ia pun membaringkan bokongnya dengan manja di sana, tepatnya di samping jendela, ia senderkan tubuhnya ke bangku itu, lalu mengeluarkan handphonenya dari dalam saku celananya, ia buka handphonenya, lalu menuju ke Instagram, kemudian ia scroll scroll, sesaat kemudian tanpa di sadari nya, ternyata ibu guru itu telah berdiri mematung di samping bangku tempatnya duduk, ia sedikit kaget, lalu beranjak berdiri dari duduknya, dan hendak pergi dari sana, akan tetapi ibu guru itu menahannya, dan membiarkannya untuk duduk di sana, ia tak masalah sedikit pun. Kemudian saat ia mengedarkan pandangannya ke segala arah, ternyata tak ada satupun bangku kosong yang tersisa, ia pun bingung harus duduk dimana ia nanti, ia tak enak hati jika harus duduk sebangku dengan Kaesang, muridnya sendiri. Ia merasa malu, dan tak nyaman sedikit pun, terlebih lagi nanti pasti akan banyak sekali pasang mata yang akan menatap kearahnya, karena Kaesang ini termasuk idola sekolah, lalu ditengah perdebatannya dalam hati, Kaesang pun menyuruh ibu guru itu untuk duduk di sampingnya, ia tak apa, dan tak memusingkannya sama sekali, lalu karena tak ada bangku lain yang kosong, dengan langkah ragu ia pun segera duduk di bangku di samping lelaki itu. Ia pandangi sekitar, lalu ia rogoh tasnya, dan mengambil handphonenya dari dalamnya.


Kaesang, lelaki itu saat ini tengah menatap keluar jendela sembari sesekali melirik kearah ibu guru itu yang saat ini tengah berkutat pada handphone di tangannya. Ia dapat melihat dari wajahnya kalau saat ini ibu gurunya itu terlihat seperti tak nyaman saat duduk di sampingnya, tapi ia mencoba tuk menyembunyikan itu, dan bersikap seolah biasa saja, tapi mengapa?, mengapa gurunya itu bisa seperti itu, toh juga hanya duduk sebangku doang, gak lebih, Tapi, ah entahlah, tak perduli. Lelaki itu lebih memilih tuk menghiraukannya, dari pada terus memikirkannya, ia tak mau membebani pikirannya dengan hal hal yang tak penting seperti tadi, Lalu di tengah diamnya, tiba tiba saja ia dikejutkan dengan suara panggilan telepon dari layar handphonenya dengan sedikit keras hingga ibu guru itu pun langsung menatap kearahnya sekilas, lalu fokus pada handphonenya lagi. Ia pun mendengus kesal saat mengetahui siapa yang tengah menelponnya, ya papanya yang tengah menelponnya saat ini, tapi tak tau dengan tujuan apa papanya sampai menghubungi nya setelah dua hari yang lalu, Ia pandangi layar handphonenya itu, dan membiarkan panggilan itu terus berdering, hingga tak berapa lama mati dengan sendirinya. Ia begitu malas tuk berbicara dengan papanya saat ini, dengan alasan Vierra, dan juga perihal mamanya tadi, ia pusing memikirkan semua itu. Mengapa semua masalah ini harus datang dalam kehidupannya?.


Bersambung.