Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 32- video dan koper merah


Kelanjutan episode kemarin...


'Melihatmu dapat tumbuh besar adalah impian mama sejak dahulu,'


'Mendengar mu saat kau memanggilku dengan sebutan mama, aku membeku seketika, rasa bahagia tiada Tara telah kurasakan.'


'Tapi mengapa kerikil kecil tiba tiba dapat menggoyahkan hubungan kita?, perpisahan ini membuat hati mama hancur seketika, apalagi saat tahu kau lebih memilih tinggal bersama dengan papamu daripada aku. Tak apa, i am fine, walaupun setiap malam air mata selalu menetes dari pelupuk mataku. Tapi tak apa, yang penting mama tetap sayang kamu, apapun yang terjadi.'


'Hmm, sedih ya, tapi... Terima kasih karena kamu sudah memberikan kebahagiaan di hidup mama, bahkan sampai saat ini.'


'Sepi ya, apa kamu akan terkejut dengan kondisi mama saat ini, Kae?, ya, mama sedang tak baik baik saja saat ini, tapi tak usah dipikirin, cukup kamu fokus pada diri kamu sendiri. Mama akan senang sekali jika kamu dapat mencapai cita cita kamu, impian kamu, mama akan berdoa dari sini, Kae.'


Pause.


"Jadi mama cuma mau ngomong gini doang, kirain ada hal penting apa, sampai sampai ngirimnya sembunyi sembunyi gitu, eh ternyata malah..., ah tapi tanggung tinggal dikit lagi, yaudahlah.." Ucapnya malas sembari memutar kembali rekaman video tersebut.


Play.


'Kae, mungkin mama tak lagi ada di dekatmu, dan tak dapat menjagamu lagi. Tapi ingat, Kae, jaga diri kamu baik baik, sebab, dia yang berambisi tuk menghancurkanmu masih ada, dan dia adalah orang terdekatmu, walaupun dia membencimu, tapi masih ada sedikit rasa sayangnya padamu di lubuk hatinya. Kae, lawan dia, atau pergi. Pilihan apapun yang kau pilih mama akan selalu dukung kamu, kae.'


Pause.


"Tunggu.., dia?, dia siapa?, apa maksud dari perkataan mama tadi?, membenciku?, orang terdekat, what?!, beneran, serius?, siapa?, pusing gua lama lama."


Play.


'Kae, kalau kamu masih bertanya tanya tentang kondisi mama sekarang, mama akan jawab. Ya mama sedang tidak baik saat ini, sebuah perjalanan wisata berhasil merenggut segalanya. Dan mereka, mereka jahat terhadap mama, teganya mereka berbuat demikian terhadap mama, sedih, kecewa, ya itulah yang mama rasakan saat ini. Tapi, kae, mama harap setelah kamu tonton video ini, kamu jangan pernah cari mama lagi ya, kae. Lupain mama, dan jangan coba cari mereka yang telah jebak mama, percuma gak akan ketemu juga, Kae, satu hal yang mau mama tekankan sama kamu, jangan pernah percaya terhadap siapapun, bahkan papamu sendiri, temanmu, atau bahkan orang terdekatmu, karena hanya dirimu sendirilah yang dapat kau percaya.'


'Kae, di video ini mungkin kali terakhir mama ngobrol sama kamu, tapi sebelum video ini berakhir, mama berpesan sama kamu, jangan pernah sekalipun percaya terhadap orang lain, karena walaupun kamu sudah berbuat baik terhadap mereka, belum tentu mereka berbuat demikian juga terhadap kamu, jadi berhati hatilah. Kae mama sayang kamu sampai kapanpun, jangan pernah lupain mama ya, doain mama selalu.'


'Oh iya sampai lupa, Kae, lupakan saja soal koper merah itu."


end.


"Sebenarnya aku juga masih sayang sama mama, dan ingin bertemu mama lagi, tapi ya, keadaan yang tak memungkinkan.., hmm tunggu.., koper merah?, itu bukannya sesuatu yang mama beritahu lewat mimpi tempo lalu, lantas bagaimana mama bisa tahu mengenai koper merah itu, apakah kini mama benar benar telah tiada?, semoga saja ini tidaklah benar, kuharap..'


"Ah tapi, apa aku harus cari tahu ya tentang sesuatu yang nimpa mama ini, sebenarnya males banget sih, tapi ya sudahlah." Ucapnya sembari mematikan laptopnya, kemudian beranjak dari kasurnya menuju ke kamar mandi.


Keesokan harinya....


Sebuah mobil Lamborghini putih baru saja tiba di parkiran Genius high school. Setelah mobil terparkir sempurna, keluarlah sesosok lelaki tampan dari dalamnya, ya siapa lagi kalau bukan Kaesang, dia dengan setelan seragam barunya saat ini tengah berjalan santai di area pelataran sekolah sembari menggendong tas ransel di punggungnya.


Sama seperti biasanya, sesaat ia mulai melangkahkan kakinya di area sekolah, nampak, dan terdengar di telinganya ada beberapa cewek cewek centil tengah menatap kearahnya sembari tersenyum, kemudian menyapanya alay. Ia tak menggubris sama sekali hingga tiga orang gadis menyebalkan yang sangat dibencinya itu nampak tengah berjalan kearahnya. Ia mencoba tuk mempercepat langkahnya, akan tetapi berhasil di hadang oleh tiga orang gadis itu, yang saat ini telah berada di hadapan lelaki itu.


"Kae, bentar lah, buru buru amat. Aku mau ngomong sesuatu nih sama kamu, boleh ya, satu menit aja, please." Balas zefa sembari memasang wajah memelas.


"Apaan sih?!, gua buru buru, cepetan minggir atau.."


"Iya iya bentar, gini loh, ehm aku mau kasih ini ke kamu.., jangan lupa datang ya, aku tunggu. Bye, Kae." Ucap zefa sembari menyerahkan sebuah kartu undangan ulang tahun pada Kaesang kemudian setelah urusannya selesai beranjaklah ia dari sana bersama kedua temannya.



Sesaat setelah itu tak sengaja matanya menangkap sesosok Tyas yang saat ini tengah berdiri dua meter di depannya sembari menatap kearahnya juga zefa sebelum dia pergi, ia menatap sekilas kemudian berlalu pergi dari sana. Setelah dipastikan jika itu benar benar Tyas, tanpa basa basi Kaesang pun segera beranjak pergi dari sana, dan berusaha menyusul Tyas, yang sudah tak nampak batang hidungnya.


Setelah dicarinya ke segala penjuru sekolah, akhirnya pencariannya berhenti di perpustakaan sekolah, sebab perempuan yang dicarinya itu saat ini tengah duduk sendirian di dalam perpustakaan sembari membaca sebuah buku di tangannya. Tahu apa yang saat ini tengah terjadi, Tanpa berlama lama Kaesang pun segera menulis sebuah surat kecil kemudian di lipatnya rapi, setelah itu diselipkannya ke dalam saku seragamnya. Setelah selesai dengan suratnya, Kaesang pun segera masuk ke dalam perpustakaan tersebut, kemudian sengaja lewat di samping perempuan yang dicarinya itu, lalu secara diam diam ia berikan secarik surat yang tadi dibuat-Nya pada Tyas, dan selepas urusannya selesai keluarlah ia dari dalam perpustakaan tersebut sembari melirik kearah perempuan itu sekilas.


......................................................


"Apa ini?" Tanyanya sendiri sembari menatap punggung Kaesang yang saat ini tengah berjalan menjauh.


Setelah dibukanya secarik surat tersebut, ia mengerutkan dahinya, sembari berpikir, 'kenapa mendadak begini, ada apa sih sebenarnya?


Isi surat tersebut,


'Kutunggu di taman merpati, sepulang sekolah.'


.........................................................................


Tiga orang gadis remaja tengah berjalan di depan kelas kelas sembari bercengkrama antara satu dengan yang lain, sembari membahas seorang cowok yang saat ini tengah populer di kalangan Genius high school, siapa lagi kalau bukan Kaesang, mereka bertiga sibuk membahas acara party ulang tahunnya zefa yang akan berlangsung pada hari Minggu esok. Bagi zefa yang terpenting pada hari itu bukanlah kelengkapan pestanya, ataupun berjalannya pestanya, baginya yang terpenting yaitu kedatangan sesosok Kaesang di acara ulang tahunnya itu, ia akan sangat bahagia jika dapat melihat Kaesang menghadiri acara ultah nya tersebut.


"Lo, yakin, Kaesang bakal Dateng ke acara ultah Lo itu?" Tanya Lina memastikan.


"Yakinlah, seratus persen yakin gua mah, Kaesang pasti Dateng kok, tunggu aja." Jawab zefa yakin.


"Serius, kalau seumpama gak Dateng gimana?, apa bakalan batal acaranya?" Tanya zelyn sembari menoleh kearah zefa lalu tersenyum jahil.


"Gua yakin dia pasti Dateng, udahlah tunggu aja. Tapi kalau emang gak Dateng, ya silakan kalian nikmati pestanya tapi tanpa gue, gue gak bakalan Dateng kalau Kaesang gak Dateng." Jawabnya kekeh.


"Yaelah zef, kan elo yang punya acara masa gak Dateng sih, cuma karena satu cowok doang, aneh Lo." Timpal Lina.


"Terserah gua lah," Balasnya nyolot, sesaat setelah itu pergilah ia mendahului teman temannya menuju ke kelasnya.


"Eh woy, tunggu," Ucap Lina sembari berteriak kemudian pergi menyusul zefa mengekor di belakangnya.


Bersambung.