
...Kelanjutan dari episode kemarin......
Sudah dua jam sejak operasi tersebut berlangsung, tapi hingga kini masih belum memunculkan tanda tanda operasi tersebut berhasil, kedua dokter tersebut yang menangani Tyas pun nampak tengah melakukan tugasnya, bahkan tanpa lelah mereka tetap melakukannya dengan setulus hati, dan tetap konsisten.
...................................................................
Kaesang yang merasa sudah sejaman ia di warung tersebut, akhirnya memilih beranjak dari sana setelah membayar kopinya tersebut, dan berpamitan pada beberapa bapak bapak di sana.
ia mulai melangkahkan kakinya beberapa langkah hingga diantara bapak bapak tadi ada yang memanggilnya.
"Tunggu den.." Panggil seorang bapak bapak sembari datang kearah Kaesang, lalu mensejajarkan diri di sampingnya.
"Iya pak, ada apa ya?" Tanya kaesang padanya.
"Ehm Aden mau lewat sana kan? saya bareng ya.." ucap bapak bapak tersebut sembari menunjuk kearah dimana kaesang datang tadi.
"Oh iya pak, saya emang mau pulang lewat sana, dan kalau bapak mau bareng, ya boleh boleh aja, ayo."
"Bapak bapak, saya pulang dulu ya, mari den." Selepas berpamitan dengan para bapak bapak yang lain, si bapak dan kaesang pun sama sama berjalan pulang dengan melewati jalanan dimana kaesang bertemu dengan si bapak misterius tadi.
Di perjalanan mereka pun mengobrol, dan di obrolan mereka, tak sengaja kaesang membahas sesuatu hal, dimana dirinya pernah bertemu dengan si bapak misterius sesaat tadi ia melewati jalanan ini, dan reaksi si bapak di sebelahnya berhasil membuat kaesang bertanya tanya, apakah pertanyaanku tadi salah ya?, kok reaksi bapaknya sampai gitu banget?.
"Aden serius, ketemu sama bapak tadi di sini?" Tanya si bapak di sebelahnya dengan raut wajah cemas bercampur ketakutan yang begitu ketara di mimik wajahnya.
"Ehm iya, memangnya si bapak tadi siapa? kok bapak sampai kayak ketakutan gitu, kenapa? apa dia bukan orang sini?" Tanya kaesang pada si bapak di sebelahnya masih sambil berjalan.
"Gini den, rumah bapak kan ada gak jauh dari sini, mending Aden mampir dulu ke rumah bapak, nanti bapak ceritain semuanya, gimana?" Tawar si bapak.
"Ehm yaudah deh pak boleh." Selepas kaesang setuju ajakan si bapak tuk mampir ke rumahnya, si bapak dan kaesang pun sama sama berjalan beriringan menuju ke rumah si bapak yang katanya ada tak jauh dari sini guna membahas sesuatu hal.
...............................................................
Di depan rumah milik Tyas, nampaklah Zaky, rekan kerja Tyas dengan penampilan kerennya lengkap dengan sepatu kulitnya, dan sebuah hadiah di tangannya. Berulang kali ia mengaca pada kaca spion di motornya, sebelum akhirnya ia memilih tuk mengetuk pintu rumah Tyas tersebut sembari memanggilnya. Berulang kali ia melakukan itu, tapi nyatanya tak ada satupun respon dari dalam, dan melihat itu Zaky pun lantas bingung, kemanakah Tyas pergi pagi pagi begini, dan kenapa handphonenya juga tak bisa di hubungi. Setelah melihat Tyas tak ada di rumah, dan ditelpon juga tak kunjung diangkat, Zaky pun beranjak menaiki motornya, dan pergi. Setelah diamati, ada raut kekecewaan yang begitu ketara di wajahnya, bagaimana tidak, sebab khusus di hari ini, ia ingin mengatakan sesuatu hal pada Tyas, dan sepertinya ini menyangkut jiwa dan raganya, tapi semuanya gagal mengingat Tyas tak sedang ada di rumah.
.......................................................
Sesampainya kaesang di rumah si bapak, ia langsung disambut baik oleh si bapak dan isterinya, dan langsung dipersilahkan untuk masuk kedalam rumahnya. Setelah kaesang duduk di kursi ruang tamu di rumah si bapak tersebut, si bapak pun kemudian meminta pada isterinya agar membuatkan minuman untuk kaesang tapi berhasil di hentikan olehnya, dengan dalih tak ingin merepotkan.
Setelah si bapak duduk kembali bersama isterinya, dan berbasa basi sebentar dengan kaesang, akhirnya kaesang pun memberanikan diri tuk kembali membahas apa yang tadi dikatakannya, dan menjadi pertanyaannya.
"Jadi gini den..dulu disini ada seorang bapak bapak ya mungkin seumuran dengan bapak saya lah, 60 tahunan gitu, namanya pak Subardjo. Beliau juga adalah teman baik ayah saya, tetangga saya malah, beliau dan keluarganya adalah salah satu orang termakmur di desa ini, orang ramah, dan selalu baik pada kami warga disini. Tapi semenjak beberapa tahun yang lalu entah kenapa, keluarga mereka itu sudah hilang begitu saja, seolah sudah hilang di telan bumi. Maupun pak bardjo dan semua keluarganya sama sama gak ada yang tahu di mana, dan nak, yang tadi kamu temui itu kemungkinan besar adalah pak bardjo, tapi kamu beneran ketemu beliau?, sungguh?" Tanya si bapak mulai serius, dan nampak wajah si ibu, kaesang seperti melihat ada sesuatu hal yang beliau sembunyikan, tapi tak mau terlalu menggubris, akhirnya kaesang pun buka bicara.
"**Ehm maksudnya, hilang bagaimana pak?"
"Husst, gak boleh ngomong gitu pak, gak baik**." Tegur si ibu sembari menepuk punggung si bapak guna mengingatkannya.
"I-iya Bu, maaf. Hmm tapi kalau dilihat lihat, wajah Aden ini mirip sama seseorang ya Bu?" Tanya si bapak pada si ibu sembari pandangannya sesekali mengarah pada kaesang, dan kaesang yang mendengarnya seketika kaget, dan tak mengerti, apa maksudnya ada orang yang mirip dengannya?
"Hmm iya ya pak, ibu jadi teringat seseorang, ehm oh yaampun, astaga jadi dia.." Suara ibu itu berhasil membuat kaesang juga si bapak melonjak kaget, dan langsung menatap kearahnya.
"Kenapa Bu? dia siapa?" Tanya si bapak ikut panik.
"Itu pak, anak ini wajahnya mirip banget sama Mira, anak bungsunya pak bardjo yang menikah sama orang Jakarta itu, bapak inget kan?" Tutur si ibu, dan mendengar itu, kaesang pun bertanya tanya dalam pikirannya, apa maksudnya ini, siapa Mira, dan apakah betul mirip dengannya?
"Mira?, ah iya, bapak inget, Mira yang disebut sebut kembang desa itu kan, yang dulu teman sepermainan mu, bapak inget banget, hmm katanya keluarganya pak bardjo menghilang dua tahun setelah Mira meninggalkan rumah iya kan?"
"Iya pak, kasian si Mira, pernikahannya gak direstui sama keluarganya, bahkan dia sampai diusir lho dari rumah, hmm kira kira gimana nasibnya ya sekarang?, apa dia masih hidup?"
"**Ibu kok ngomong nya gitu, semoga dia baik baik, kan katanya suaminya itu orang kaya, iya kan, pasti hidupnya baik baik, enak, gak kayak kita."
"Bapak, gini gini kita kaya lho pak, kaya akan kasih sayang."
"Halah bisa saja ibu ini**." Selepas sama sama tertawa akan ucapan si ibu kaesang pun bertanya apa yang sedari tadi mengganjal pikirannya.
"Hmm pak, Bu, maaf, kira kira seperti apa ya wajah perempuan yang namanya Mira itu, kok katanya mirip sama saya?" Tanya kaesang pada mereka, dan saat mendengar pertanyaan kaesang, si bapak pun sempat bersitatap mata dengan si ibu sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan kaesang.
"Gini nak, ehm sebelum bapak jawab pertanyaan kamu, siapa kamu namanya? biar enak gitu nyebutinnya."
"Saya kaesang pak." Jawab kaesang atas pertanyaan dari si bapak tersebut.
Setelah mengetahui nama kaesang, si bapak pun manggut manggut lalu kembali pada ceritanya, ia kini menceritakan latar belakang, dan background dari perempuan bernama Mira ini, awalnya si ibu sempat melarang si bapak agar tak menceritakannya terlalu jauh mengingat kaesang adalah orang asing disini, tapi karena katanya si bapak tersebut percaya pada kaesang, si bapak pun kembali menceritakannya, ia bercerita jika Mira adalah anak bungsu dari pak bardjo, atau orang yang ia ceritakan tadi, si bapak juga bercerita jika Mira ini kerab dijuluki kembang desa, karena rupanya yang amat cantik, dan ayu. Karena si bapak tak ingin menceritakan lebih jauh takut terjadi apa apa, si bapak pun langsung memperlihatkan sebuah foto di dalam handphone miliknya, yang dimana itu adalah foto dari perempuan yang bernama Mira tersebut.
Kaesang yang melihatnya sempat terdiam sebelum akhirnya ia pun mengiyakan jika wajah perempuan itu memang mirip dengannya, tapi ia tak tahu mengapa bisa seperti itu, mengingat ia sama sekali tak ada hubungan apapun dengan perempuan itu, lantas apakah ini hanya suatu kebetulan?
"Iya ya bener bener mirip lho, hmm ada hubungan apa kamu sama mbak Mira, kok wajah kamu bisa mirip gitu?" Tanya si ibu pada kaesang, tapi kaesang hanya bisa diam, mengingat ia sama sekali tak tahu apa yang harus di katakannya untuk menyikapi semua ini.
"Ya mana saya tahu pak, Bu, saya kan gak kenal sama beliau, tahu keluarganya aja enggak, ini saya baru aja tahu informasinya dari bapak dan ibu. Hmm emangnya semirip itu ya?" Tanya lagi kaesang.
"Iya nak, kurang lebih mirip, beneran deh." Mendengar penuturan si bapak, kaesang pun mengernyit heran, apakah memang benar seperti itu, tapi jika pun benar, ada hubungan apa dia dan perempuan bernama Mira itu?
Tapi mengingat itu, ia pun teringat sesuatu, Yap, jika ia bukanlah anak kandung ibunya, Zora, itu berarti ada kemungkinan kalau ibu kandungnya masih berkeliaran diluar sana kan? tapi siapa, dan dimana? dan mengingat wajahnya yang mirip dengan perempuan bernama Mira ini, apakah ia ibu kandungnya, tapi apa itu mungkin?
Bersambung.