Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 78- Masa lalu Zora 3


Dengan langkah malas Zora yang tengah ditarik ibunya itu lantas duduk di sofa kiri ayahnya. Ia masih menatap bingung ibu dan ayahnya yang hingga kini masih fokus pada buku kecil di tangannya. Sesaat melihat buku yang dipegang sang ayah, Zora menjadi teringat sesuatu. Ya buku diary. Buku diary miliknya yang sempat hilang Minggu lalu. Ia sempat mencarinya kemana mana, tapi alhasil capek lah yang ia dapat. Ia menyerah akan buku itu walaupun ia juga menyesalinya, sebab keluh kesahnya dan diary cintanya semua tertulis di buku itu. Ia hampir saja menangis hingga berhari hari karena tak menemukan buku diary kecilnya itu. Dan saat menemukannya buku itu malah ada di tangan sang ayah.


Sungguh Zora tak habis pikir, bagaimana buku itu ada di tangan ayahnya? apa ayahnya yang menemukannya? ataukah lebih parahnya lagi ayahnya yang mengambilnya?


Hm, semoga saja semua dugaannya salah, dan itu bukanlah diarynya.


"Zora, kamu sudah tahu kan kenapa ayah ingin bicara denganmu sekarang?" tanya sang ayah seraya mengalihkan pandangannya dari buku yang dibacanya dan beralih menatap Zora di sampingnya.


Deg!


'Kok perasaan gue gak enak ya. Hm, sebenarnya ayah mau ngomongin apa sih? jangan jangan beneran lagi kalau tuh buku adalah buku diary gue yang hilang Minggu lalu, dan parahnya ayah yang nemuin trus baca. Haduh bisa mati gue kalau ayah sampe baca buku itu.' ucapnya dalam hati seraya menatap resah sang ayah yang sampai detik ini masih menatap kearahnya dengan sorot mengintimidasi.


"Eum..gak tahu yah. Emangnya ada apa? ada yang mau ayah bicarain sama Zora?" Tanyanya masih dengan nada santai dan lembut miliknya. Juga bibir yang ia paksakan tuk tersenyum.


"Semoga aja bukan buku gue, semoga aja bukan buku gue," gumamnya lirih nyaris tak terdengar.


Melihat muka serius sang ayah membuat nyali Zora semakin menciut, terlebih ekspresi sang ayah selepas membaca kembali bukunya membuat Zora tak bisa lagi menutupi rasa resahnya.


"Kau masih berhubungan dengan lelaki itu? padahal setelah ayah mati matian melarangmu untuk melanjutkannya?" Tanya sang ayah dengan nada mengintimidasi dan sorot matanya yang tak lepas dari buku di tangannya.


Deg!


Dugaannya benar, ternyata sang ayah juga membawa hubungannya dalam obrolan ini. Terlebih di dalam buku diary yang dipegang sang ayah juga terdapat banyak foto dirinya bersama sang pacar yang sangat tak disukai ayahnya itu.


Hanya diam membeku, dan otak serta lidah yang tak dapat diajak kerja sama. Zora pun menundukkan kepalanya seraya menggenggam erat ujung rok yang dikenakannya. Ia tak dapat berpikir disaat sang ayah kembali menanyakan hubungannya. Terlebih sang ayah telah beberapa kali menekankan agar dirinya tak lagi berhubungan dengan Wisnu. Tapi keras kepala, dan rasa sayang Zora terhadap Wisnu telah mencapai level maksimal, ia pun tak mengindahkan permintaan orang tuanya itu. Ia seakan mengabaikannya dan tetap melanjutkan hubungannya dengan Wisnu tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.


Tapi melihat muka ayahnya kali ini, sungguh Zora mulai merasa takut. Ia tak tahu kenapa ayahnya sangat tak menyukai Wisnu, dan melarangnya untuk berhubungan dengannya ataupun keluarganya. Sebab saat dirinya menanyakan alasan pada sang ayah, sang ayah justru diam seraya memberi kode pada Zora supaya meninggalkannya sendiri.


"Zora, ayah bicara padamu! Apakah benar kau masih ada hubungan dengan Wisnu?!" Saat sang ayah kembali mengulangi ucapannya dengan nada sedikit tinggi, Zora pun tersentak, ia tetap tak mengangkat wajahnya dan tangannya yang telah saling bertaut.


Selepas menghela nafas berat, dan tubuhnya yang bergetar zora pun mengangkat wajahnya. Ditatapnya wajah sang ayah yang hingga kini masih menunjukkan sisi kemarahan dan kekecewaan yang bercampur menjadi satu.


"Zora minta maaf ayah." Dengan mata yang berkaca kaca juga tangannya yang masih saling bertaut Zora pun mengatakan apa yang ingin dikatakannya.


Sakit memang jika harus melawan kehendak sang ayah demi mempertahankan hubungan. Sebab tanpa alasan yang jelas sang ayah juga ibunya sangat tak menyukai Wisnu, mereka bahkan menolak keras hubungan putrinya dengan lelaki tersebut. Sungguh serba salah rasanya menjadi Zora. Di satu sisi ia sayang pada kedua orang tuanya, tapi di sisi lain, ia juga tak ingin kehilangan Wisnu. Ia tak ingin kehilangan apa yang telah mati matian ia raih, dan pertahankan. Sebab mendapat posisi sebagai pacar seorang Wisnu tidaklah gampang. Banyak pesaing pesaingnya di luar sana yang ingin mendapatkan Wisnu juga tak terkecuali Sandra. Maka sampai detik kapanpun Zora akan tetap mempertahankan hubungannya dengan Wisnu sekalipun kedua orang tuanya tak mendukungnya.


......................


Di tempat berbeda, di sebuah taman luas di belakang rumah mereka. Wisnu yang baru saja sampai rumah di berikan pesan oleh mbak agar segera menuju ke taman belakang dengan alasan papa mama nya telah menunggunya di sana. Ia mengerutkan keningnya saat menapaki gadis lain di sebelah sang mama, dan parahnya lagi ia tahu siapa gadis itu.


Sandra


Ya musuh bebuyutan Zora sekaligus gadis yang selalu mengejar cinta Wisnu tanpa lelah. Dialah orangnya, dan keberadaannya di sana membuat pikiran Wisnu melayang pada kejadian beberapa hari yang lalu. Ya suatu mimpi buruk baginya sebab di hari itu tanpa adanya sebuah perundingan ataupun ba-bi-bu kedua orang tuanya tiba tiba saja ingin menemuinya dan langsung memberitahukan padanya jikalau mereka tengah mempersiapkan pernikahan Wisnu dengan Sandra selepas lulus sekolah. Syok, kaget tentu saja. Terlebih selepas wisnu tahu siapa Sandra. Terlepas dia adalah cucu pemilik yayasan, ternyata dia adalah anak rekan bisnis papanya sekaligus sahabat baiknya.


"Maksudnya apa sih pa? nikah gimana? aku masih sekolah dan juga aku gak ada rasa sama Sandra. Papa sama mama kenapa tiba tiba bicarain ini sama aku. Aku nolak, dan aku gak mau." Ucapnya penuh dengan keterkejutan dan kemarahan yang menyampur menjadi satu.


Sang papa yang telah menduga penolakan anaknya sedari awal hanya tersenyum miring seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


Ia sempat mengernyit selepas membaca kalimat pertama yang tertulis di berkas itu. Tapi detik itu juga ia pun tersentak selepas ia selesai membaca keseluruhan berkas. ya bisa dibilang suatu ancaman lah yang tertulis di sana hanya saja sifatnya sangat halus dan memaksa.


"Papa ngancem aku?! papa tega ngelakuin ini sama anak papa sendiri?!" ucap Wisnu tegas dan penuh aura kemarahan.


"Terserah kamu mau nganggep itu apa. Yang penting kamu harus ngikutin apapun yang tertulis di berkas itu, tanpa terkecuali dan tanpa penolakan. Atau kalau gak resiko yang tertulis di sana bakal kamu rasain tak lama setelah itu." Ucap sang ayah tepat di depan telinga Wisnu.


Saat kedua orang tuanya hendak melangkah pergi, tiba tiba Wisnu meraih tangan sang papa dan membuatnya berhenti seketika.


"Tapi pa Wisnu gak mau kuliah di luar negeri. Wisnu mau disini pa, Wisnu gak mau jauh dari kalian. Dan papa juga kenapa sih tiba tiba jodohin aku sama Sandra segala. Pa, Wisnu dah gede Wisnu bisa cari pasangan Wisnu sendiri tanpa harus papa jodohin segala. Lagipula Wisnu sama Sandra itu gak ada rasa sama sekali, jadi itu gak mungkin." rengeknya sedikit tegas.


Sang papa hanya tersenyum miring lalu menghembuskan nafas kasar.


"Papa sudah atur semuanya. Jadi kamu sama sekali gak bisa nolak, juga mengenai Sandra, kamu tahu sendiri kan dia anak om Hadi rekan bisnis papa. Keluarganya itu sudah banyak membantu papa dari papa nol hingga sekarang jadi papa ingin membalas Budi pada mereka---"


"Dengan ngorbanin aku?" Potongnya sinis.


"Papa minta maaf Wisnu, tapi cuma ini yang mereka inginkan. Mereka ingin kalau kamu dan Sandra segera menikah saat lulus sekolah nanti. Papa sebenarnya sayang sama kamu tapi papa gak ada pilihan lain. Papa gak mau kehilangan rekan baik seperti mereka." Tambah sang papa dengan sorot seriusnya.


"Berati papa lebih rela kehilangan aku daripada kehilangan mereka gitu?" Tambahnya.


"Papa minta maaf. Tapi kamu tenang aja, ini cuma sekedar menikah, dan kedua keluarga kita juga sudah mengatur semuanya, jadi kamu dan Sandra cuma tinggal menerimanya saja."


"Oke papa pergi dulu. Dan tentang kuliah kamu, papa udah daftarin kamu dan Sandra di salah satu universitas terbaik di London, jadi nanti setelah resmi menikah kamu dan Sandra akan berangkat ke London untuk melanjutkan kuliah. Ngerti, ini gak bisa dibantah Wisnu, dan gak boleh. Jadi apapun yang terjadi kamu tetap harus melakukannya. Baiklah papa keluar dulu, istirahatlah." Selepas kedua orang tuanya melangkah keluar, Wisnu pun lantas beranjak menutup pintu ia merebahkan tubuhnya diatas kasur seraya menjambak kasar rambutnya selepas itu.


Ia frustasi benar benar frustasi. Sebab semua ini terlalu cepat untuknya, dan tidak ada satupun celah untuknya melawan sebab resiko dari ia melawan adalah hubungannya dengan Zora. Sebelumnya papanya telah tahu dan ia sangatlah murka. sebab ternyata Zora yang menjadi pacar putranya adalah anak dari musuh bebuyutannya sedari SMA dulu.


Agus Hermawan


Ia langsung menatap tajam Wisnu dan mengomelinya tanpa ampun. Ia menyuruh Wisnu tuk memutuskan hubungannya dengan Zora selepas ia tahu status asli gadis itu. Tapi Wisnu yang sama keras kepalanya dengan Zora pun lantas mengabaikannya. Ia tetap melanjutkan hubungannya tanpa sepengetahuan sang ayah.


"Arrrgghhh. Kenapa jadi seperti ini sih!!" Teriaknya seraya melepas semua kekesalannya.


Saat teringat bayangan di hari itu Wisnu pun lantas menggeleng gelengkan kepalanya. Ia menatap kedua orang tuanya yang tengah asik mengobrol dengan Sandra dengan tatapan datarnya. Ia menghembuskan nafas kasar lalu mulai melangkahkan kakinya kearah mereka.


Saat mendengar langkah Wisnu atensi mereka bertiga pun langsung mengarah padanya. Ia tetap melangkah dengan diiringi tatapan datarnya sementara mereka termasuk Sandra tengah menatap kearahnya sembari tersenyum manis.


Gadis itu lantas berdiri dari duduknya dan menatap kearah Wisnu yang tengah berjalan kearahnya.


"Hai wis." Seraya tersenyum manis dan melambaikan tangannya kearah Wisnu, Sandra pun sempat berpikir jika usahanya tuk merengek rengek pada papanya selama ini agar segera menjodohkannya dengan Wisnu yang notabenenya adalah anak rekannya mulai ada sedikit cahaya kemenangan. Ia pun tak henti hentinya bersorak dalam hati seraya berkata kata sesuatu.


"Zora Zora, dasar gadis rendahan. Lu kira bisa gitu menang dari gue. Hahaha, gue jadi pengen tahu deh ekspresi lu gimana saat tahu pacar kesayangan Lu ini nikah sama gue." Ucapnya dalam hati seraya tersenyum manis menatap kearah Wisnu.


Bersambung.