Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 59- Mimpi Tyas


...Kelanjutan dari episode kemarin......


Suara kicauan burung, dan gemercik air di selokan selokan, menambah kemerduan di pagi hari itu. Kaesang yang masih asik jalan jalan di sekitar sana sembari menjelajahi apa saja yang ada di tempat itu, seketika menundukkan kepalanya hormat sesaat ada ibu ibu maupun bapak bapak yang lewat dan menyapa dirinya. Pertama tama kakinya mulai ia langkahkan di jalanan setapak yang masih tanah dengan kanan kiri diapit oleh beberapa pepohonan yang tinggi menjulang, bisa dibayangkan jika akan sangat rindang dan menyejukkan bila kita ada di bawahnya, atapun berjalan melewatinya, tapi jika malam hari tiba mungkin akan terkesan seram.


Saat kaesang nampak seorang bapak bapak sepuh, dan terlihat berjalan melewatinya, sontak kaesang pun tersenyum sembari menyapanya hormat, tapi anehnya si bapak tersebut tak meresponnya sama sekali, seolah tak mendengar panggilan kaesang itu, padahal nyatanya Kaesang sudah memanggilnya dengan sedikit keras. Saat kaesang mulai mengabaikannya dan berjalan kembali, entah kenapa ia merasa sepertinya si bapak tadi juga tengah berhenti, dan menatap kearahnya. Merasa itu dirinya pun lantas menghentikan langkahnya, dan langsung berbalik badan, semuanya kosong, tak ada bapak bapak tadi di sana, lantas kemana kah bapak tadi pergi, diusinya yang setua itu tak mungkin kan ia dapat berjalan cepat seperti itu, ataukah dijemput oleh motor, ia sama sekali tak mendengar laju kendaraan sedari tadi, lantas kemanakah si bapak tadi pergi??


Merasa ada yang tak beres, kaesang pun lantas berjalan kembali dengan sedikit cepat, karena jika pun ia berbalik dan kembali ke villanya, takutnya jika diperjalanan bapak bapak tadi langsung muncul di hadapannya tiba tiba, dan membuatnya bingung, maka dari itu ia pun memutuskan tuk melanjutkan langkahnya kembali, karena nampak dari kejauhan sebuah warung kelontong yang juga ada beberapa bapak bapak di sana, yang rencananya ia akan berhenti di sana sementara waktu, hanya untuk sekedar istirahat saja.


..........................................................


Sudah sejaman yang lalu sejak operasi tersebut berlangsung, dan kini nampaklah Tyas tengah terbaring lemah di dalam ruang operasi tersebut dengan dokter yang masih menjalankan tugasnya. Dokter Ridwan beserta rekannya terlihat begitu berusaha dalam menyembuhkan penyakit yang diderita Tyas tersebut, bahkan disini juga nampak ketulusan yang begitu ketara di wajah dokter Ridwan yang mencoba ditutupinya. Berulang kali ia mencoba mencuri pandang dengan Tyas, tapi berhasil dialihkannya mengingat ia juga tengah melakukan tugasnya, apalagi tugasnya ini juga menyangkut nyawa seseorang.


..............................................


Dialam bawah sadar Tyas, ia terbangun di sebuah bangku di tempat yang begitu indah, namun terkesan asing, banyak terlihat olehnya beberapa pepohonan, air, dan juga tebing tebing tinggi di segala sisinya, semuanya berhasil membuatnya takjub, tak terkecuali satu hal yang tak lepas dari pandangannya yaitu sebuah gunung kembar nan tinggi yang tertutup kabut, dan berada sedikit lebih jauh dari tempatnya berdiri. Ia memutari sekitar, semuanya indah, nan cantik, banyak kicauan burung yang berhasil di dengarnya, dan langit biru membentang yang melengkapi keindahan tersebut. Sekali lagi ia berhasil dibuat takjub dengan keindahan tempat ini yang tak pernah di temukannya di tempat manapun, tapi menimbang hal itu, tempat ini juga terkesan mengerikan, mengingat sejauh mata memandang hanya dirinyalah yang ada di tempat itu. Ia mulai melangkahkan kakinya di atas rerumputan hijau dengan pandangannya tetap tertuju pada kanan dan kirinya.


Ia bingung, apakah ini hanya mimpinya saja, mengapa ia tak dapat menemukan seseorang pun di sini, lalu jauh di depannya yang nampak seperti sebuah pendopo berhasil menarik perhatiannya, apalagi setelah jaraknya dan pendopo tersebut tinggal beberapa meter, nampaklah dimatanya sebuah tulisan tulisan aneh yang berada tepat di atas pendopo tersebut, juga ada beberapa Kilauan putih yang menyelimutinya. Sungguh tempat ini sangat misterius untuknya.


Lalu dari kejauhan dari dalam pendopo tersebut, nampaklah olehnya beberapa orang berpakaian putih berkilau yang setelah di perhatikan baik baik, ia seperti mengenali orang orang tersebut. Tyas yang penasaran akhirnya berjalan kearah pendopo tersebut, dan terlihat orang orang tersebut juga tengah berjalan kearahnya. Saat jaraknya tak jauh dari pendopo tersebut, dan orang orang tersebut juga ada dua meter di depannya, Tyas pun seakan terbesit sebuah kenangan, dan melihat mereka, Tyas pun langsung menyebut jika mereka adalah keluarganya, yaitu ayahnya, bundanya, dan juga seorang laki laki dewasa yang tak pernah dikenalnya sebelumnya.


"Aayahh...bunddaa...itu sungguh kalian?" tanya Tyas tak percaya dengan apa yang dilihatnya ini, dan sembari berjalan ia juga meneteskan air mata, karena ternyata benar dugaannya, jikalau orang orang yang ada di depannya ini adalah anggota keluarganya sendiri.


Kini berhentilah ia tepat di hadapan orang orang tersebut, ketiga orang tersebut langsung tersenyum sesaat Tyas menatap kearah mereka. Dan satu di antara mereka, melainkan si ibu langsung membelai lembut puncak kepala Tyas, dan meneteskan air mata, di samping itu ia juga mengatakan sesuatu hal yang sudah lama sekali suaranya tak Tyas dengar, semenjak kematian mereka.


"Tyas..Kamu sudah besar sekarang, nak. Kamu cantik, bunda kangen banget sama kamu, sayang." Selepas mengatakan itu sembari menangis, si ibu pun langsung meraih Tyas lalu memeluknya erat. Dan disini Tyas juga nampak terbawa suasana, ia nampak menangis, dan sama sama memeluk tubuh bundanya itu erat, bisa dibayangkan, betapa rindunya ia pada sosok ibunya itu, setelah ia meninggalkannya bertahun tahun yang lalu.


"Ini beneran bunda, Tyas gak lagi mimpi kan?, Tyas beneran ketemu bunda, dan ayah. Tyas kangen banget sama kalian, kenapa kalian tinggalin Tyas sesaat Tyas masih butuhin kalian.." Tanyanya sedih sembari tetap pada pelukannya itu, lalu sesaat mendengar pertanyaan dari sang putri, bundanya pun langsung melepas pelukannya dari Tyas, lantas menatapnya lembut.


"Sayang, kami juga kangen banget sama kamu, nak, tapi takdir berkehendak lain, tak ada yang bisa melawannya. Nak, mungkin sekarang ini kau lagi mengalami masa masa sulit, iya kan? tapi bunda yakin kau pasti bisa melewatinya, karena Tyas bunda, adalah anak yang pantang menyerah, hmm. Dan satu lagi, bunda betul betul bahagia nak, karena ternyata ada seorang lelaki muda yang begitu menyayangi mu, dan mau berkorban untukmu. Disini kami merasa tenang, karena ternyata kamu ada yang jaga, dan ada yang lindungin kamu nak. Tyas, kamu jangan pernah merasa sendirian, oke, karena diluar sana ada banyak sekali orang yang sayang sama kamu, dan kami juga akan selalu jagain kamu disini." Ucap si ibu sembari memegang lembut kedua pipi Tyas.


"Ekhem..apa Tyas gak kangen sama ayah.." Sahut si ayah sembari melipat kedua tangannya di depan dada, kemudian menatap kearah Tyas lalu tersenyum kearahnya.


"Tyas juga kangen sama ayah..kangen banget." Sahut Tyas sembari datang, dan langsung memeluk tubuh ayahnya erat, begitupun sang ayah, yang juga melakukan hal yang sama.


"Wah, ayah lihat kau sudah menjadi guru SMA di suatu sekolah, benar kan?..haha hebat anak ayah, gak nyangka Tyas kecil ayah, sekarang sudah menjadi orang dewasa, ayah betul betul bangga sama kamu, karena kamu berhasil wujudin impian ayah, ehm oh iya, apa kamu gak kangen sama kakak kamu?" Tanya sang ayah tiba tiba sembari melepas pelukannya, lalu menunjuk kearah lelaki dewasa di sampingnya, yang terlihat tengah menatap kearah Tyas sembari tersenyum.


"Kakak?, maksud ayah?" Tanya Tyas tak mengerti akan ucapan ayahnya barusan, bukannya seingatnya kakaknya dulu meninggal saat seusia sepuluh tahun ya, tapi ini jelas jelas laki laki dewasa, bahkan ia tak begitu ingat seperti apa wajah kakaknya itu, mengingat saat ia meninggal, Tyas masih begitu kecil.


"Tyas, ini kakakmu, Ryan. Apa kau sudah lupa dengannya, hah?, ini dia, apa karena wujudnya yang dewasa kau sudah tak ingat dengan kakakmu ini, ayo sana, temui dia." Sesaat mendengar penuturan sang ayah, Tyas pun sempat terkejut sebelum akhirnya ia berjalan, dan mendekat kearah lelaki yang dibilang kakaknya itu.


"Adek..kamu, lupa sama aku ya, hmm.." Ucap lelaki tersebut saat Tyas sudah ada tepat di hadapannya.


"Ja-jadi ini beneran kak Ryan?..sungguh? ini beneran kak Ryan yang aku kenal dulu, aku gak lagi mimpi kan?, aku beneran ketemu sama kak Ryan lagi?, kak Ryan.." Selepas mengatakan itu, tanpa aba aba Tyas pun langsung memeluk tubuh kakaknya itu, dan terlihat sang kakak juga melakukan hal yang sama. Mereka sama sama terlarut dalam kerinduan masing masing.


"Iya, ini aku, ini penampilanku yang sekarang. Gimana aku ganteng kan?" ucapnya sembari melepas pelukannya.


"Kaesang?, anak mana?, pacarmu ya?, haha seganteng apa sih?, palingan cuma curut kampung sebelah, haha." Ejek Ryan sembari tertawa lepas menertawai ucapan Tyas barusan.


"Kakak, ih!" sahut Tyas, ia merasa kesal dengan ucapan kakaknya barusan mengenai kaesang yang katanya dibilang curut kampung sebelah.


"Udah udah. Ehm Tyas, waktu kita gak banyak sayang, dan kamu juga harus kembali, waktu kamu di dunia masih panjang, dan sudah seharusnya kamu untuk kembali, hmm." Tegur sang ayah. Saat mendengar itu, Tyas pun sontak terdiam lalu menatap kearah sang ayah, bunda, dan kakaknya bergantian, lalu mulai menangis dengan sendirinya.


"Gak bisakah Tyas disini lebih lama? Tyas masih begitu rindu sama kalian, Tyas masih ingin berlama lama sama kalian disini, apa, Tyas ikut kalian aja, Tyas gak mau pisah sama kalian lagi." Ucap Tyas sembari menangis.


"Sayang, kami juga masih ingin berlama lama sama kamu, tapi, diluar sana, ada seseorang yang juga rindu sama kamu, dan sedang nungguin kamu juga, udah kamu pulang ya sayang, temui dia, suatu saat kita pasti akan berkumpul lagi kok. Sayang pulang ya nak, kami sayang banget sama kamu." Sahut sang bunda pada Tyas sembari mendekatkan diri padanya, lalu memegang pundaknya lembut.


"Baiklah..tapi sebelum Tyas kembali, Tyas pengen banget kalian semua peluk Tyas, boleh?" Selepas mengatakan itu, bunda, ayah, dan Ryan pun sama sama memeluk Tyas erat, dan tangisan mereka pun tak terbendung saat itu.


............................................................


Saat sesampainya ia satu meter dari warung kelontong tersebut, kaesang pun berhenti sebentar sebelum akhirnya ia langkahkan kakinya mendekat kearah warung kelontong itu.


"Permisi pak, numpang istirahat sebentar.." Sapa kaesang pada beberapa bapak bapak yang juga berada di sana, dan terlihat tengah berbincang bincang satu sama lain.


"Oh mari den, silakan." jawab salah satu dari mereka sembari mempersilahkan kaesang tuk duduk di kursi kosong di sebelahnya.


Kaesang yang merasa sungkan akhirnya duduklah ia di samping bapak bapak tersebut, lalu memesan sebuah kopi cappucino pada pemilik warung tersebut selepas itu.


"Aden dari mana?, kok sendirian aja?" Tanya si bapak memulai pembicaraan.


"Ah, saya dari villa Bougenville 3 di ujung sana pak, dan kebetulan saya emang lagi liburan sendiri di sini" Jawab kaesang sembari menunjuk kearah dimana ia datang tadi.


"Oh gitu, ya ya, ehm oh iya, minum den." Ucap si bapak sembari menawari kaesang kopi hitam miliknya.


"Gak usah pak, makasih, saya sudah pesan sendiri kok." Tolak halus kaesang.


"Oh yasudah kalau begitu." Sahut si bapak, dan kemudian ia pun mulai menyeruput kopi hitam miliknya, bersamaan dengan kaesang yang mulai merogoh handphone miliknya dari dalam saku celananya, lalu mulai membukanya, dan menekan sebuah nomor.


'Ini sudah jam sembilan pagi, apa Tyas sudah di perjalanan ke Cianjur ya?' pikirnya dalam hati, sebelum rasa penasarannya memuncak, akhirnya ia pun memutuskan tuk mengirimi Tyas pesan, siapa tahu ia online saat ini.



Tapi setelah dilihatnya ternyata Tyas tak sedang online saat ini, bahkan ponselnya pun terlihat terakhir dibuka pada pukul lima pagi tadi, dan karena tak mau berpikir yang macam macam kaesang akhirnya memasukkan kembali handphone miliknya kedalam saku celananya, dan rencananya ia akan mencoba menghubungi Tyas nanti.


"Ini den, kopi cappucino nya, Monggo diminum." Ucap seorang ibu paruh baya pemilik warung kelontong tersebut sembari menyajikan kopi yang dipesan oleh kaesang tadi.


"Ah, iya buk, makasih." Tak mau berpikir yang macam macam, kaesang pun memilih tuk meminum kopi tersebut, sebelum akhirnya ia berpikir, kenapa Tyas tak online selama ini, apakah di Cianjur sana tak ada sinyal, ataukah memang ada sesuatu?


Bersambung.