
...Kelanjutan dari Episode kemarin......
Dua hari setelahnya. Kini di hari Rabu, Zora yang sebal tengah duduk sendirian di dalam perpustakaan selepas berdebat dengan Salma perihal ajakannya ke kantin.
Ia begitu malas bahkan hanya sekedar ke kantin pun ia tak ingin. Ia masih saja memikirkan dua temannya yang masih belum masuk sekolah. Pikirannya sibuk menerawang jauh sesaat sebuah tangan tiba tiba mendarat lembut di pundaknya.
"Lo, ngapain disini sendiri, temen Lo mana?"
Seorang gadis manis dengan rambut lurus di kuncir belakang dan poninya yang nampak imut menutupi keningnya. Gadis yang dari name tagnya bernama Almira nimas itupun langsung menghampiri Zora ke mejanya dan duduk tepat di hadapannya selepas mengetahui kesendirian Zora.
Zora yang sudah malas pun bertambah malas dengan adanya mira disini, terlebih selepas diketahui jika Mira adalah mantan pacar Wisnu. Moodnya semakin hancur saja.
"Bukan urusan Lo! udah sana pergi, gue lagi gak mood ngomong." Ucapnya acuh seraya tetap pada buku di tangannya yang sengaja diambilnya asal.
Mira pun tersenyum miring lantas membisikkan sesuatu di telinga Zora.
"Lagi ada masalah ya sama Wisnu?" Tanyanya begitu pelan, dan sedikit mengejek.
Zora yang merasa Mira terlalu ikut campur pun lantas menatap tajam kearahnya.
"Kan udah gue bilang bukan urusan Lo, jadi udah sana pergi. Urusin hidup Lo sendiri noh biar bener gak usah pake ngurusin hidup orang segala."
Zora nampak ngegas sesaat Mira membahas Wisnu. Bahkan ia pun mengalihkan pandangannya dari Mira karena kepalang emosi.
"Nanya gitu doang marah, ntar gue rebut Wisnu lagi baru tahu rasa Lo. udah ah gue cabut aja, gak seru ngobrol sama Lo." Selepas kepergian Mira, Zora pun memukul meja dihadapannya karena emosi bahkan ia pun mengundang banyak perhatian di sana karena ulahnya.
Tak berselang lama dari handphone miliknya yang tergeletak tak jauh darinya terdengar lah suara notifikasi yang berdering beberapa kali, bahkan Zora sampai risih di buatnya. Ia lantas meraih malas handphone itu lalu membuka nomor asing yang mengirimkan beberapa pesan padanya.
ya nomor asing sebab tidak ada namanya juga foto ibu ibu di bagian profilnya berhasil membuat kedua alis Zora menyatu. Kayak pernah kenal? Tapi siapa ya?
Awalnya Zora berpikir jika sang ibu pasti berbeda dengan sang ayah. Ia berpikir jika sang ibu pasti menyukai dirinya, tapi di bagian chat paling atas saja sudah tertera jelas jika beliau tak menyukainya. Bagaimana tidak, perempuan empat puluh tahunan itu tanpa basa basi langsung mengatakan pada Zora agar menjauhi putranya. Ia bahkan juga mengatakan jika sekarang Wisnu telah bertunangan. Haha drama apalagi ini, sungguh Zora langsung tertawa selepas menatap kata kata itu.
Ia bahkan masih sempat sempatnya mengirimkan emoticon tertawa ke nomor ibunya Wisnu tersebut. Sungguh Zora sama sekali tidak percaya sebelum Wisnu lah yang mengatakannya sendiri padanya. Dan itu takkan terjadi, pikirnya.
"Haha lucu banget nih ibu ibu. Pake bilang cowo gue tunangan segala haha, dia tuh pacar gue, selamanya dia tuh milik gue jadi berita pertunangan itu pastinya cuma lelucon mereka aja. Haha lawak sumpah sampe sakit nih perut karena ketawa." Ia masih saja tertawa saat mengatakan itu, bahkan ia tak menggubris kata kata kasar yang ibunda Wisnu lontarkan padanya sesaat mendengar ucapan tak percaya dari Zora.
Seminggu setelah hari itu....
Lalu tepat di jam sembilan pagi, sesaat jam istirahat pertama ia kembali dikejutkan dengan hadirnya Wisnu di koridor sekolah. Ia nampak berjalan santai dengan hanya mengenakan pakaian biasa. Zora mengernyit lantas berjalan kearahnya.
Ia lantas berhenti sesaat kedua tatapan itu saling bertemu. Dalam diam mereka saling melepas rindu, tapi sesaat setelah itu, Wisnu pun lantas berjalan ke arah Zora yang masih terpaku. Ia meraih tangannya begitu saja lalu menariknya.
Ia tak tahu kemana Wisnu akan membawanya, ia masih terpaku dengan kedatangannya yang tiba tiba sampai tak dapat mengatakan sepatah katapun.
Setelah beberapa saat berjalan tibalah mereka di taman di belakang sekolah. Wisnu nampak duduk di bangku biasa mereka duduk lalu menarik Zora tuk duduk di sebelahnya.
Mereka hanya diam, tak ada sepatah katapun yang terucap hingga di detik setelahnya Zora pun dibuat tersentak manakala mendapati pertanyaan Wisnu padanya.
"kamu apa kabar Ra?" Ra, dan bukan sayang seperti biasa. Sungguh Wisnu yang kali ini benar benar berbeda. Ia nampak tertutup seraya tatapannya yang datar berhasil membuat alis Zora mengerut.
"Baik, kamu sendiri gimana, kirain dah lupa sama aku." Zora masih tak menatap Wisnu. Pikirannya kembali berkecamuk. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa, tapi kali ini ia merasa jika Wisnu yang saat ini bersamanya bukanlah Wisnu yang biasanya.
Wisnu yang awalnya tertunduk mulai mengangkat wajahnya dan menatap kearah Zora di sebelahnya seraya tersenyum.
"Maafin aku karena udah hilang kabar selama seminggu, tapi..i-ini yang terakhir. Maaf, kayaknya kita gak bisa lanjutkan hubungan kita." Wisnu pun meneteskan air mata. ia tak berani menatap kearah Zora. Ia lebih memilih tuk memalingkan wajahnya kearah lain daripada menatap air mata Zora.
...Beberapa Minggu setelahnya.......
Kini Zora, dan semua teman seangkatannya telah resmi lulus dari SMA darma bakti. Dan diruangan remang remang itupun zora masih saja meringkuk di pojokkan kamarnya selepas kembali dari acara kelulusannya kemarin malam.
Ia masih tak dapat menerima keputusan sepihak dari wisnu seminggu yang lalu. Bahkan ia masih belum percaya jika kini ia dan Wisnu tak lagi ada hubungan.
Ya mereka telah putus, dan Wisnu lah yang memutuskannya. Ia beralasan jika ia akan melanjutkan pendidikannya di luar negeri selepas ini, jadi menimang itu Wisnu pun memutuskannya. Sungguh tak masuk akal bukan, ya memang tak masuk akal.
Zora pun membantah alasan itu, ia bahkan sampai mengatakan seribu bahasa dan segala alasan agar Wisnu dapat merubah keputusannya. Tapi akhirnya apa, keputusannya tak berubah, malahan ia juga mengatakan jika semua yang ibunya katakan adalah benar, jika ia telah bertunangan, dan parahnya lagi Wisnu juga mengatakan jika Sandra lah tunangannya sekarang.
"Aku gak bisa terima ini Wisnu, aku gak bisa terima ini. Kamu jahat Wisnu, jahat. tega kamu sama aku. Awas aja kudoain kamu gak bahagia sama sandra sama seperti saat kamu nyakitin aku kayak gini." Selepas mengatakan itu dengan lantang, dan berlinang air mata, Zora pun beranjak dari sana. Ia berlari tergesa gesa tanpa memperdulikan Wisnu yang sedari tadi memanggilnya.
Sampai kini di kondisi kamarnya yang berantakan Zora masih belum terima jika Wisnu memutuskannya secara sepihak. Bahkan dua Minggu semenjak hari itu tangis Zora masih belum surut. Ia bahkan menjadi pribadi yang pemurung dan pendiam setelah hari itu. Ia takkan keluar dari kamarnya saat tidak ada keperluan selebihnya ia akan menghabiskan hari harinya dengan menangis.
Bersambung.