Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 68- Rencana zefa


...Kelanjutan dari episode kemarin......


Tyas yang memang sudah di perbolehkan untuk pulang kini terlihat tengah mengemasi beberapa barangnya yang tersisa. Ia bahkan sempat tersenyum tipis sesaat tak nampak dokter Ridwan di sekelilingnya. Ia hanya tak nyaman itu saja. Akan tetapi tak tau kenapa tiba tiba ia kembali teringat akan kaesang, apalagi ia juga sempat ada firasat buruk tentangnya. Tapi ia tetap menetralkan pikirannya, ia tak ingin berpikiran buruk dulu sebelum ia memang benar benar melihat kondisi kaesang seperti apa.


Dengan menghela nafas, dan mencoba mengulas senyum hangat di bibirnya, Tyas pun meraih handphone miliknya dari atas nakas lalu mencoba mencari nomor kaesang, dan menghubunginya. Sudah beberapa kali ia mencoba menghubungi kaesang tapi tak ada satupun jawaban darinya, bahkan kini mulai tidak aktif. Sungguh aneh memang, tapi Tyas juga bingung, sebab tak biasanya kaesang seperti ini. Lantas dia sekarang ada di mana, apa dia baik baik saja?


Sesaat beberapa Panggilan darinya tak kunjung ada jawaban dari kaesang, Tyas pun tak kunjung menyerah, ia kembali mengirim beberapa pesan chat pada kaesang, berharap sang kekasih dapat segera menjawab pesannya itu. Tapi lagi lagi ternyata dunia sedang tidak berpihak padanya, ya chat yang dikirimnya itu hanya bercentang satu abu abu. Melihat itu wajah Tyas pun berangsur cemas seketika, ia tak tahu kenapa seolah ada sebuah bisikan yang mengatakan jika kaesang sedang tidak baik baik saja. Karena Tyas adalah orang yang tenang dan tidak mudah cemas bila belum tahu kebenarannya seperti apa, maka raut kecemasannya yang sudah terlihat jelas itu ia redam dalam dalam. Tapi sekali lagi di tengah kecemasan yang belum reda itu, ia dikejutkan dengan adanya dokter Ridwan di belakang tubuhnya tepat. Ia bahkan tak mendengar adanya langkah kaki memasuki ruangannya apalagi suara pintu di buka ia tak mendengarnya sama sekali.


Belum sempat Tyas mengucapkan sepatah katapun, mengingat ia yang begitu terkejut saat itu, Tyas masih menatap dokter Ridwan dengan sorot kaget yang bercampur tanda tanya. Kapan dokter Ridwan datang? kok aku gak denger langkah kaki masuk tadi? apa karena aku saking cemasnya mikirin kaesang tadi makanya jadi gak denger hal lain. Nah dokter Ridwan yang tahu akan keterkejutan Tyas karena kedatangannya yang tiba tiba lantas mulai berdehem dan sontak membuat Tyas tersadar dari tatapannya pada dokter Ridwan tersebut.


Karena malu dirinya yang secara terang terangan ketahuan sedang memperhatikan dokter Ridwan, Tyas pun gelagapan lalu mengalihkan atensinya dari pandangan dokter Ridwan. Ia kembali mengemasi barangnya itu tanpa memperdulikan adanya dokter Ridwan disitu.


Tapi tak berselang beberapa menit setelah itu, dokter Ridwan yang hanya diam disitu mulai tersenyum sembari memperlihatkan dua buah lesung pipinya, lalu mengeluarkan suara lembutnya, "Saya tidak dianggap nih?" selepas mengatakan itu tanpa adanya pergerakan sama sekali darinya, Tyas pun mulai menghentikan kegiatannya kemudian maju dua langkah menghadap dokter Ridwan. Dengan senyum manis yang sengaja diperlihatkannya itu Tyas pun kembali berucap lirih, "Maaf dok. Dokter ada perlu sama saya?" Tyas pun kembali bertanya sembari mengalihkan pertanyaannya itu. Ia hanya sedang memikirkan ucapan dokter Ridwan tadi, yang dirasanya seperti sebuah ucapan yang diperuntukkan hanya untuk menggodanya saja.


Dokter Ridwan pun kembali menggeleng sembari tersenyum, "Tidak Bu Tyas. HM Bu Tyas sudah mau pulang ya?" Saat lagi lagi dokter Ridwan kembali bertanya sembari tersenyum hingga menampakkan dua buah lesung pipinya, Tyas tak dapat mengalihkan pandangannya itu. Yap dia hanya tak ingin dianggap munafik saja, mengingat dokter Ridwan ini memang benar benar tampan, dan juga berwibawa. Apalagi dengan lesungnya itu, tapi tak ingin terlena dengan semua itu, Tyas pun lantas mengangguk, "Iya dok. Saya...saya mau pulang habis ini."


Tak tahu apa yang tengah dipikirkannya, tiba tiba dokter Ridwan pun kembali tersenyum lantas mengangguk, "Bu Tyas, kalau ibu bersedia, mari saya antarkan pulang. Mumpung saya lagi gak ada pasien juga."


Tak ada hujan tak ada apa tiba tiba saja dokter Ridwan kembali menunjukkan kebaikannya itu. Tapi satu hal yang membuat Tyas semakin penasaran dengan sosok dokter Ridwan ini, Yap senyum misteriusnya, yang kadang kala selalu ditujukannya pada dirinya, atau mungkin pada orang lain juga.


"Oh tidak usah dok, terima kasih. Saya masih bisa kok pulang sendiri." Saat Tyas menolak tawaran dari dokter Ridwan dengan senyumannya yang tak pernah pudar serta tangannya yang mulai meraih tasnya dari atas ranjang pasien di belakangnya. Nampak raut kekecewaan yang tergambar jelas di wajah dokter Ridwan yang kini mulai ia tutupi dengan sikap santainya dan juga senyum yang perlahan mengembang itu.


Karena Tyas yang semakin lama semakin tak nyaman dengan dokter Ridwan, mulai kembali berbicara sesaat beberapa lamanya terdiam, "Maaf dok, kayaknya taksi yang saya pesan sudah nungguin saya deh di depan. Ehm saya permisi ya. Mari dok." Selepas mengatakan itu sembari tersenyum sekilas, Tyas pun lantas keluar dari ruangan itu tanpa menunggu jawaban dari dokter Ridwan terlebih dahulu. Ia lantas berjalan begitu saja selepas menarik tasnya lalu keluar begitu saja. Ia terpaksa mengambil alasan itu karena ia memang tidak ingin jika terus terusan merepotkan dokter Ridwan. Ya memang dia ingin melakukannya sendiri tanpa Tyas minta sekalipun, tapi tetap saja ia merasa tak enak pada yang lain, mengingat perlakuan dokter Ridwan yang terlewat biasa saja.


Tyas yang yang masih berjalan santai tiba tiba terhenti selepas ada seorang suster yang memanggilnya dari arah belakang. Ia lantas berbalik badan dan menatap suster tersebut yang kini tengah berjalan cepat kearahnya.


Dengan sorot bingung Tyas pun kembali bertanya, "Iya sus, ada apa ya?"


Sebelum menjawab suster itu pun menghela nafas sekejap kemudian kembali bicara dengan nada suara yang sudah ia buat sesantai mungkin.


"Maaf Bu Tyas jika mengganggu waktunya, tapi saat ini Bu Tyas sedang di tunggu dokter Vera di ruangannya. Beliau ingin bertemu dengan Bu Tyas." Selepas menyampaikan itu si suster pun beranjak dari sana. Dan Tyas pun kembali berpikir, dokter Vera? bukankah sejauh yang ia tahu dokter Vera itu adalah pacar dokter Ridwan ya, lantas kenapa beliau ingin menemuinya? apa ada hal penting lain yang ingin beliau katakan? Tapi kok gak biasanya, jika pun ingin membahas tentang kesehatan, lha dokter Vera sendiri itu adalah dokter kandungan, kan ya tidak mungkin. Lantas ada apa ya sampai beliau ingin menemuiku seperti ini?


Selepas berpikir panjang Tyas pun lantas menghela nafas sebentar lalu kembali melangkahkan kakinya, tapi bukan keluar rumah sakit melainkan ke ruangan dokter Vera yang sudah ia ketahui dimana. Dan dengan berbekal rasa penasaran Tyas masih melangkahkan kakinya itu hingga tibalah ia di depan ruangan milik dokter Vera.


.........................................................................


Selepas mengetahui jika kaesang telah pingsang, zefa pun mulai melancarkan aksinya, selepas meminta para teman temannya tuk pulang ke Jakarta dengan alasan hari telah sore, teman temannya pun mengiyakan saja, mereka pulang selepas itu, tapi mereka juga sempat bertanya tentang kondisi kaesang, apa dia mereka bawa kembali saja ke Jakarta. Tapi dengan segala alasan yang dilontarkan zefa, teman temannya pun pulang tanpa membawa kaesang yang tengah pingsan itu dengan mereka. Mereka semua pergi begitu saja dengan hanya tinggalah zefa, Lina dan juga zelyn saja di sana. Terlebih adanya kaesang juga yang kondisinya tengah tak sadarkan diri.


Dan dengan senyum dan sorot tajamnya, zefa pun mulai menatap kearah Kaesang yang tengah tak sadarkan diri itu kemudian tersenyum misterius kearahnya, "Kalian angkat tubuh kaesang, dan masukin ke mobil gue sekarang."


Dengan sedikit seringaian kecil zefa pun kembali menatap kearah kaesang lalu kedua temannya bergantian tetap dengan sorot yang sama.


Lina dan zelyn yang memang mengetahui semua rencana zefa tersebut hanya bisa menuruti apa yang ia katakan pada mereka tanpa mau melawan sedikitpun. Memang sesekali mereka juga sempat heran, bagaimana seorang gadis secantik zefa dapat melakukan hal sebegininya pada laki laki apalagi itu kaesang. Mereka tahu, dan sadar jika zefa telah menyukainya dari lama, tapi yang zefa lakukan ini sungguh telah membuat mereka tak habis pikir, dan hanya dapat menurutinya saja tanpa mau berkata kata lagi yang ujung ujungnya hanya dapat berimbas pada mereka.


Singkat waktu, kini mobil yang dikendarai zefa tengah melaju dengan kecepatan sedang menuju ke suatu tempat yang sudah ia persiapkan dari kemarin hari. Ia tersenyum seraya menatap kearah kaca atas yang menampilkan kaesang yang tengah tak sadarkan diri dengan diapit Lina dan juga zelyn di kedua sisinya. Tak tahu apa yang tengah dipikirkannya, zefa pun kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lebih tinggi sekarang, dan tetap dengan senyumannya yang tak pernah pudar sedari tadi.


"Hari ini akan menjadi hari bersejarah buat gue. Thank kaesang karena Lo udah hadir gitu aja di tempat itu, thank karena Lo udah buat gue rencanain semua ini. Semua karena Lo Kae, semua karena Lo. Pokoknya hari ini harus berhasil, apapun yang terjadi." Selepas menyunggingkan senyum miringnya, dan berucap dalam hati. Zefa pun kembali melirik kearah kaesang di belakangnya, yang masih belum ada tanda tanda hendak sadarkan diri, dan itu tentu saja membuatnya kembali menyunggingkan senyum miringnya untuk yang kesekian kalinya.


Tanpa sadar, kini berhentilah mobil yang dikendarai zefa tersebut tepat di depan sebuah hotel berbintang. Zefa yang memang tahu akan kemana, lantas tersenyum kemudian melajukan mobilnya memasuki hotel tersebut. Ia parkirkan kendaraannya itu, sebelum akhirnya ia berhenti lalu berbalik, dan menatap kedua temannya yang saat ini tengah menatap kaca dengan pandangan tertuju ke nama dari hotel berbintang ini. '---Hotel pinnacle of heavenly comfort' baru membaca namanya saja langsung membuat kedua perempuan itu tak percaya, jika hotel yang tengah ramai dibicarakan orang orang karena kemewahannya itu sekarang ada tepat di hadapan mereka, apalagi yang membuat mereka bergidik yaitu harga per malamnya yang dapat mencapai puluhan juta. Bukannya tak sanggup membayar, tapi keduanya hanya heran melihat zefa yang akhirnya memilih hotel ini tuk melancarkan rencananya.


"Zef Lo yakin, mau kesini?" dengan sorot tak percaya Lina pun kembali bertanya dengan netranya tak beralih sedikitpun dari hotel mewah di hadapannya.


sembari menyunggingkan senyum miringnya, zefa pun menatap dingin kearah kedua temannya itu, sebelum akhirnya ia kembali berkata dengan nada santainya, "Iya, dan sekarang tugas terakhir untuk kalian. Bantuin gue angkat kaesang sampai ke kamar yang gue pesen." Selepas mengatakan itu pada kedua temannya sembari tersenyum, zefa pun mulai keluar dari mobilnya terlebih dulu sebelum akhirnya ia buka pintu bagian belakang, dan mendapati kedua temannya itu tengah sama sama terbengong sembari menatap satu sama lain.


Tak lagi mau berpikir lebih jauh, Lina dan zelyn pun mulai membopong tubuh kaesang memasuki hotel tersebut dengan zefa yang menjadi pemandu. Mereka masih berjalan memasuki lobi hotel menuju ke salah satu kamar hotel yang telah dipesannya sebelumnya, dan sudah dicek in kan juga, jadi tinggal ia masuki saja.


Setelah sampai pada kamar yang dipesan, zefa pun memutar kuncinya, selepas pintu terbuka dan lampu ruangan pun menyala ia pun lantas memasukinya dengan Lina dan zelyn yang tetap mengekor di belakangnya. Mereka lantas membaringkan tubuh kaesang tepat di atas ranjang di kamar tersebut.


"Makasih ya kalian udah bantuin gue. sekarang kalian boleh pergi." Selepas mengatakan itu sembari tersenyum, zefa pun melanjutkan ucapannya kembali.


"Eum kalian bisa pulang sendiri kan? atau mau gue pesenin taksi buat pulang ke Jakarta?" imbuhnya seraya menatap kedua temannya bergantian.


Lina dan zelyn yang saling bertukar pandang lantas kembali menjawab dengan senyum yang sengaja di torehkannya di bibir mereka.


"Gak usah lah zef, kita bisa pulang sendiri kok, iya kan Lyn?" Mendengar Lina meminta persetujuan darinya, zelyn yang sedari tadi diam lantas mulai menjawab dengan sorot datarnya.


"Iya, Lo tenang aja kita bisa pulang sendiri kok. Lagian yang terpenting sekarang, Lo selesain aja rencana Lo itu. Semoga aja berhasil oke. Kita balik dulu."


"Thank ya guys. Kalian berdua emang sahabat terbaik gue. Hati hati di jalan ya, sorry gak bisa nganterin." Selepas zefa bercipika cipiki dengan kedua temannya itu, dan melambaikan tangannya pada mereka. Zelyn dan Lina pun beranjak pergi dari sana, meninggalkan zefa dan kaesang berdua di ruangan itu, tanpa tahu mau melakukan apa. Tapi selepas itu zefa pun lantas mengunci kembali pintunya, dan mulai berjalan mendekat kearah kaesang, ia naik keatas ranjang lalu duduk tepat di sebelahnya.


"Kemarin kemarin mungkin kau bisa menolakku Kae. Tapi tidak untuk hari ini. Maafkan aku ya Kae, karena mungkin cara ini akan sedikit lebih kejam untukmu, tapi gak ada cara lain lagi. Jadi sekali lagi maafin aku atas kekhilafanku ini, dan selamat datang di pelukan zefa yang nyaman." monolognya seraya tersenyum menatap kearah Kaesang yang tengah tak sadarkan diri di sebelahnya.


Bersambung.