
Kelanjutan dari episode kemarin...
Disisi lain seorang Kaesang, tengah mengemudikan mobil kesayangannya itu di atas jalanan yang tengah ramai oleh kendaraan, ia tengah berjalan pulang saat ini, tapi ia juga tengah galau, sebab sedari pagi Tyas tak mengabarinya sama sekali, itu tentu saja membuatnya cemas, tapi juga kesal, akan tetapi ia tetap mencoba tuk positif thinking, dan melanjutkan perjalanannya kembali.
Ditengah perjalanannya ia pun kembali teringat, jikalau saat ini papanya tengah mengadakan sebuah party kecil di dalam rumah mereka guna merayakan keberhasilannya atas sebuah proyek besar yang baru saja di menangkan olehnya. Ia begitu malas untuk bertemu dengan para kolega papanya tersebut, sebab mereka pasti akan berbasa basi dengannya terlebih dulu. Maka dari itu Kaesang pun memutuskan tuk takkan pulang kerumahnya terlebih dulu, sampai acara party yang digelar papanya tersebut usai. Ia pun memutuskan tuk pergi ke starlight cafe seperti biasanya, guna merefresh pikirannya tersebut, yang ternyata jaraknya dari cafe tersebut tak terlalu jauh, hanya 1 km lah jaraknya.
...Sesaat kemudian......
Setelah menempuh waktu beberapa menit, sampailah lelaki itu di halaman depan Starlight cafe, dengan langkah malas segera diparkirkannya kendaraannya itu di parkiran seperti biasa, lalu setelah usai terparkir rapi, segera berjalanlah ia memasuki cafe tersebut.
Penampakan starlight cafe;
Selepas sampainya ia di dalam cafe tersebut, segera ia cari meja untuknya duduk, lalu memesan sebuah minuman pada pelayan di sana. Sembari menunggu pesannya tiba, ia mainkan handphonenya itu, sambil menunggu sebuah panggilan dari Tyas, siapa tahu ia akan mengabarinya setelah ini. Tapi suatu kebetulan atau tidak, setelah diedarkan pandangannya ke segala arah, tak sengaja matanya menangkap sosok wanita yang menurutnya tak asing, dan dia seperti pernah mengenalnya sebelumnya, tapi ia sedikit lupa. Lalu sesosok lelaki berbadan kekar, dan berkepala plontos mendatangi gadis tersebut, dan menyapa wanita tersebut, yang membuat Kaesang heran, dan bertanya tanya.
"Permisi bos, Agnes, semua tugas sudah saya kerjakan, dan barang yang bos minta sudah saya suruh orang tuk mengirimkan ke rumah lelaki tersebut." Ucap pria yang bersama wanita tersebut dengan suara lirih, tapi masih tetap terdengar jelas di telinga Kaesang, karena posisinya tak jauh dari meja wanita tersebut.
"Bagus, tapi kamu yakin kan, tak ada seorangpun yang tahu, termasuk Kaesang, dia tidak curiga apapun kan?" Tanya wanita tersebut dengan suara lirih, lalu menyuruh pria tersebut tuk duduk di kursi kosong di depannya.
"Aman bos, gak ada seorangpun yang tahu, bahkan lelaki itupun gak curiga sama sekali, seakan gak perduli gitu." Jawab pria tersebut sembari membisikkan sesuatu pada wanita dihadapannya.
"Yaudah bagus kalau begitu, kuharap dia tetap seperti itu sampai saatnya tiba, hmm... thanks ya Bara, kamu boleh pergi." Ucap lagi wanita tersebut.
"Baik bos, saya permisi." Balas pria yang bernama bara tersebut, lalu unjuk diri dari sana, dan melenggang pergi.
"Tunggulah, sebentar lagi aku akan datang." Ucap sendiri wanita tersebut lalu tersenyum miring, dan mulai meraih sebuah minuman di hadapannya, lalu meneguknya.
Kaesang yang sempat mendengar percakapan mereka menjadi heran, sebab ia seperti pernah mengenal sosok wanita yang konon bernama Agnes tersebut, tapi ia lupa dimana, dan kapan ia mengenalnya.
"Kayak pernah kenal, tapi dimana ya?" Tanya Kaesang sendiri sembari pandangannya tetap pada wanita tersebut.
.......................................................
Dilain sisi, Tyas yang baru saja selesai dengan semua tugas tugasnya tengah beberes dan hendak berjalan pulang, tapi sebelum itu ia kembali mengecek handphone miliknya, siapa tahu ada panggilan dari Kaesang beberapa saat lalu, tapi setelah dilihatnya tak ada satupun panggilan dari Kaesang sedari tadi, lalu ia pun kembali berpikir, apakah Kaesang telah ngambek dengannya kali ini?. Ia ingin menelpon lelaki itu, tapi ia takut mengganggu waktu istirahat Kaesang, maka ia urungkan niatnya itu, lalu mengambil tas pinggang nya, serta beberapa buku bukunya, kemudian berjalan pulang, dan meninggalkan beberapa guru yang masih tetap disana, karena tugas mereka yang tersisa.
..........................................................
Saat merasa sudah cukup lama ia di dalam cafe tersebut, maka setelah membayar minumannya, berjalan pergilah ia dari sana, tapi sebelum ia melewati ambang pintu cafe, ia pun sempat melirik kearah wanita yang bernama Agnes tersebut, yang sekarang masih fokus pada handphone di tangannya.
"Hai, Kae, kamu disini juga?, gak nyangka ya kita bisa ketemu disini." Sapa zefa sembari berjalan mendekat kearah Kaesang bersama seorang bodyguard di belakangnya.
"Lo, ngapain disini?" Tanya dingin Kaesang sembari memasang muka datarnya.
"Ya have fun an lah, ngapain lagi, aku tuh suntuk dirumah, makanya aku kemari, terus gak sengaja papasan sama kamu disini. Eh ngomong-ngomong, kamu belom pulang Kae, kok masih pakai seragam sekolah aja? Tanya zefa lagi sembari tersenyum manis, hingga membuat siapapun lelaki yang menatapnya langsung jatuh hati padanya, karena paras serta senyumannya itu.
"Ini mau pulang, tapi Lo cegah." Jawab dingin lelaki itu.
"Ehm sorry sorry, aku sebenernya manggil kamu ini cuma mau nanya, waktu party ulang tahunku tiga hari yang lalu, kenapa tiba tiba kamu mutusin buat pulang duluan, terus pakek gak bilang bilang aku lagi." Interogasinya sembari mendekatkan diri pada Kaesang, dan membuat Kaesang harus mundur kebelakang karena hal itu.
"Ada urusan." Balas dingin Kaesang, sembari berjalan memasuki mobilnya, dan meninggalkan zefa yang masih berdiri di tempatnya, dan menatap kesal kearah Kaesang yang langsung meninggalkannya begitu saja.
Selepas mobil Kaesang melesat pergi, zefa pun langsung berdecak kesal, lalu menghentakkan kakinya berulang kali. Ia menatapi mobil Kaesang yang mulai menjauh, setelah mulai tak terlihat, barulah ia bersama seorang bodyguard nya berjalan kearah mobilnya terparkir, lalu melaju pergi dari sana, dan meninggalkan cafe tersebut.
...............................................................
Di sebuah apartemen mewah di tengah tengah kota London, terdapat seorang wanita cantik, nan putih tengah duduk diatas ranjang di kamarnya sembari berkutat pada laptop di hadapannya. Ia tengah mengerjakan tugas sekolahnya di laptop tersebut. Sudah beberapa menit ia berkutat pada laptopnya itu, hingga akhirnya ia matikan laptopnya tersebut, turun dari ranjangnya, dan menaruhnya kembali diatas meja belajarnya.
Lalu setelah usai dengan itu, naiklah kembali ia keatas ranjangnya semula, meraih handphone miliknya dari atas nakas, dan mulai memainkannya.
Gadis tersebut tengah memandangi sebuah foto seorang lelaki di galeri foto pribadinya, ia tersenyum tipis, lalu menzoom foto tersebut tepat di wajahnya.
"Aku kangen kamu, Kae. Bahkan sampai saat ini pun aku sama sekali gak bisa lupain kamu. Tapi gimana kabarmu disana ya?, pasti kamu dah bahagia, hmm, Kae, semoga kita bisa bertemu lagi." Ucap Gadis tersebut, sembari tetap memandangi foto lelaki itu, dan mulai meneteskan air mata, tapi buru buru disekanya setelah sang kakak dari gadis tersebut meminta sang gadis tuk segera keluar buat makan siang.
"Vier, come out, honey. Let's have lunch, Setelah ini kakak mau ajak kamu ke resto baru milik sahabat kakak, yang tempatnya gak jauh jauh banget sih dari sini. Kamu buruan dandan yang cantik, kakak tunggu di depan, oke." Panggil seorang pria tampan nan tinggi tepat di depan pintu kamar gadis tersebut.
"Ah, iya kak," Balas singkat gadis tersebut. Setelah percakapan singkat itu, sang gadis pun segera untuk mandi dan berdandan seayu mungkin guna keluar dengan kakaknya selepas ini.
Setelah beberapa menit berlalu, selesailah gadis tersebut dari acara dandan dandannya, dan keluarlah ia dari dalam kamarnya guna menemui kakaknya di depan.
Setelah melihat sang adik telah berdiri tepat di hadapannya, sang kakak pun tak dapat berkedip sama sekali, karena telah tersihir oleh kecantikan adiknya ini, yang dari dulu tak pernah berubah.
"Kak, jadi keluar gak?, ayo berangkat." Ajak sang adik pada kakaknya yang baru terbangun dari lamunannya karena panggilan dari sang adik.
"Ah, jadilah, yuk." Balas sang kakak. Setelah percakapan singkat mereka, pergilah keduanya ke resto seperti yang diberitahu oleh sang kakak sewaktu di depan kamar sang adik tadi dengan mengendarai Ferrari biru milik sang kakak.
Bersambung.