Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 152 -Kedekatan Kaesang dan Zeya


Mengetahui waktu istirahat telah tiba membuat Zefa, Zelyn dan juga Lina yang saat itu lumayan lapar membuat mereka bergegas menuju kantin.


awalnya mereka begitu riang pergi saat itu karena keadaan perut mereka yang sudah lumayan lapar, dan kebetulan hubungan Lina dan juga Zefa sudah mulai membaik.


Mereka pergi ke kios kantin nomor dua dari ujung utara kemudian bergegas memesan apa yang ingin mereka makan, ada bermacam-macam makanan yang mereka pesan, ada spaghetti, mie ayam, bakso, dan beberapa minuman dingin.


lalu tak lupa Lina yang memang menyukai gorengan pun juga sudah memesan beberapa, kemudian setelah mereka selesai memesan, mereka pun segera bergegas keluar dari kios itu dan duduk di meja makan di sana.


Mereka pun sibuk bersenda gurau dan mengobrolkan berbagai hal, mulai dari tentang laki-laki, make up, sampai juga tentang pakaian.


Maklumlah, namanya juga cewek, pasti yang mereka obrolkan hanya berkutat dalam beberapa hal itu.


lalu saat Zelyn tak sengaja mengalihkan atensinya ke arah belakang tubuhnya, dia pun merasa terkejut sewaktu mendapati Kaesang dan juga anak baru yang kalau tidak salah bernama Zeya tengah makan dengan santainya di meja belakang mereka.


Sungguh, bagaimana bisa mereka tidak mendapati adanya Kaesang dan juga gadis itu di sana.


jika dirinya yang mendapati itu mungkin tidak masalah, tapi jika Zefa yang mendapatinya bagaimana?


mungkin dia akan bersikap seperti kemarin-kemarin, marah-marah tidak jelas, cemburuan, dan juga nangis-nangis semalaman.


Zefa hanya melakukan itu, sejauh ini hanya itu yang dia lakukan. namun jika Zefa sampai melakukan hal yang lebih dari itu, wuihh ... bisa-bisa kelar hidupnya.


Bukan takut terhadap Zefa, tapi Zelyn hanya tak ingin dibuat ribet atas kelakuannya.


lalu Zelyn yang tak ingin Zefa mengetahui keberadaan Kaesang dengan gadis itu pun langsung saja membalikkan tubuhnya kembali.


dia mencoba bersikap biasa agar Zefa tidak curiga terhadapnya. karena jika Zefa sampai tahu keberadaan Kaesang dengan gadis itu, pasti Zelyn dan Lina akan dibuat ribet.


urusannya akan semakin panjang nanti, dendam Zefa pada Tyas saja belum lunas, ini malah ditambah gadis itu lagi, haduhh ..


Lalu sesaat Zefa tak sengaja mengalihkan atensinya ke arah utara, dia pun begitu terkejut sewaktu mendapati adanya Kaesang dan juga musuh bebuyutannya yakni Zeya di sana.


Mereka terlihat tengah makan biasa dan mengobrol layaknya teman biasa. tak ada sedikitpun keromantisan dan kedekatan di antara mereka, namun melihat mereka dekat tentu saja membuat Zefa terkejut dan tak percaya.


sebab setahunya sebelumnya Kaesang dan juga Zeya tak pernah sedikitpun terlihat dekat ataupun berteman.


melihat itu tentu saja ia ingin marah, tapi setelah tahu dan ingat seperti apa posisi Kaesang di sekolah ini pun membuat Zefa menahan emosinya dan mengurungkan niatnya untuk melabrak Zeya.


Berulang kali Zefa menaik turunkan nafasnya, dan menahan emosinya yang sedari tadi terus saja membara di dalam hatinya.


rasa-rasanya ia ingin mendatangi mereka dan meluapkan kemarahannya pada mereka.


namun setelah tahu dan ingat posisinya sekarang seperti apa membuatnya memikirkan baik-baik cara dan trik untuk memisahkan mereka jika mereka memang dekat.


"Guys, cabut yuk, dah kenyang nih gue .." ujar Zefa sembari beranjak bangkit dari kursinya diikuti kedua temannya yang terlihat bingung dengan muka Zefa yang terlihat berbeda dari biasanya.


awalnya dia terlihat ceria seperti biasanya, namun tak lama ini kenapa mukanya berubah dingin seperti itu?


Lalu Zelyn yang mengingat tentang Kaesang pun membuatnya berpikir jika Zefa mungkin telah melihat Kaesang dengan gadis itu.


Waduhh, jika itu terjadi pasti akan sangat merepotkan ... Zefa tidak akan tinggal diam jika dia sedang marah, jadi setelah melihat Kaesang dengan gadis itu sudah pasti Zefa akan marah.


mukanya sih hanya terlihat dingin dan cuek, namun sebagai sesama perempuan Zelyn bisa merasakan jika saat ini Zefa Tengah menahan amarahnya.


lalu setelah selesai membayar, Zefa, Zelyn dan Lina pun segera bergegas pergi dari sana.


Mereka berjalan beriringan namun diantara mereka tidak ada satupun yang memulai pembicaraan. sejak tadi Zefa terlihat diam, dan melihatnya diam seperti itu sontak membuat Lina yang selaku sahabat dekat Zefa begitu khawatir dan penasaran dengannya.


Dengan hal apa yang membuat sahabatnya itu bisa sampai seperti ini.


......................


Mereka begitu kenyang, lebih tepatnya Zeya yang kenyang. Sedari tadi Zeya terus mengelus perutnya, dan tersenyum begitu puas.


dia begitu puas karena akhirnya dia berhasil mengerjai Kaesang.


sebenarnya orang seperti Kaesang ini kurang jika hanya dikerjai seperti ini, namun karena Zeya tak memikirkan hal lain saat itu jadi hanya hal inilah yang dapat diambilnya untuk mengerjai Kaesang.


Itung-itung menghemat pengeluarannya.


"Zey, Lo sebenci itu ya sama Zefa?" tanya Kaesang tiba-tiba.


Sesaat ia dan Zeya telah sama-sama meninggalkan kantin, dan tengah berjalan beriringan menuju ke kelas mereka di lantai tiga, Kaesang yang teringat sesuatu pun langsung saja menanyakan kepada Zeya tentang sebenci apa dia dengan Zefa.


Dari cerita Zeya kemarin sepertinya dia begitu benci dengan Zefa.


Sorot mukanya sudah memperlihatkan dan menggambarkan betapa dia sangat membenci Zefa, bahkan Kaesang ingat jika semalam Zeya juga sempat mengatakan tentang ibu tirinya.


lalu Zeya yang tahu pertanyaan itu tiba-tiba terucap dari Kaesang pun membuatnya langsung melirik tajam ke arahnya.


"Gak usah bahas dia, gue nggak suka." balas Zeya tajam.


Ouh ...


Respon Zeya seperti itu, itu tandanya dia memang sangat membenci Zefa dan ibu tirinya.


Tapi Kaesang sangat penasaran dengan bagaimana Zeya bisa membenci mereka. apa yang membuatnya bisa sebenci itu, dan hubungannya dengan keluarganya sekarang bagaimana.


Semua pertanyaan-pertanyaan itu sudah tercetak jelas di kepala Kaesang, menunggunya untuk mengutarakannya pada Zeya.


Namun, mengingat hubungannya sekarang dengan Zeya belum terlalu akrab membuat Kaesang mengurungkan niatnya itu.


Ia akan menunggu waktu yang pas dan saat yang pas untuk menanyakan semua hal itu pada Zeya.


......................


Saat ini Tyas Tengah duduk di meja kerjanya sembari merevisi tugas anak-anak yang beberapa saat lalu telah dikirimkan ke mejanya.


Memang mereka saat mengirimkan itu terlihat begitu cuek dan seperti tidak menyukai Tyas, tapi Tyas yang tahu dan sadar pun hanya mampu tersenyum dalam menanggapi itu.


Dia tidak seperti Kaesang, yang jika melihat tatapan tak suka dari mereka saja pasti Kaesang akan langsung menghukum mereka.


Tyas tak ingin ambil pusing akan hal itu, dia lebih memilih diam daripada harus ribet mengurusi orang-orang yang tak suka akan hubungannya dengan Kaesang.


Baginya jika orang-orang itu tak suka akan hubungannya ya biarkan saja, toh Tyas tak hidup dengan uang mereka kan?


jadi jika mereka tidak menyukai hubungan Tyas dengan Kaesang ya biarkan saja. terserah mereka mau melakukan apapun, bagi Tyas itu tak masalah.


Selama mereka tak melakukan hal yang berbahaya bagi Tyas tidak masalah.


Huufftt ...


"Capek sekali ya, rasanya cuma duduk dan merevisi tugas tugas anak anak, tapi kok aku bisa sampai secapek ini, astaga .. pandanganku juga perlahan mulai mengabur .. apa ini terjadi karena aku tidak tidur semalam ya, Jika iya bisa gawat, semoga saja aku tidak akan ketiduran di sini .." ucap Tyas sendiri sembari terus fokus merevisi tugas-tugas anak-anak.


Dia masih terus fokus melakukan kegiatannya, namun matanya yang mengantuk sama sekali tak bisa dibohongi. sedari tadi Tyas terus menerus menguap, dan menggelengkan kepalanya untuk mengusir rasa kantuknya.


Bersambung ...