
Setelah sebelumnya berpamitan dengan Gina, kini Kaesang terlihat duduk di dalam suatu taksi seraya terdiam menatap ke arah luar jendela. Ia memutuskan untuk kembali ke villanya setelah beberapa lamanya berpikir.
ia telah memutuskan jika akan kembali ke Jakarta hari ini juga. selain karena menurutnya telah terlalu lama, ia juga belum mengabari Tyas sama sekali. Hp nya mati, karena dari kemarin tak kunjung diisi daya. Mungkin saja Guru cantik itu tengah khawatir padanya, atau mungkin saja tidak.
Setelah tak begitu lamanya mengemasi barangnya yang tersisa, kaesang terlihat memanasi mesin mobilnya lantas memasukinya. Ia tak banyak bicara hingga bergeraklah mobil itu.
Suasananya begitu hening dan hanya ditemani deru kendaraan yang melintas di sisi kanan kiri mobilnya saja. Hingga akhirnya tibalah ia di kawasan komplek rumahnya. Ia pacu mobilnya hingga tibalah ia di depan rumah kelahirannya. Setelah terbukanya gerbang setinggi dua meter itu, tanpa menunggu lama Kaesang pun segera melajukan Lamborghini putihnya itu hingga berhenti tepat di sebelah mobil Ferrari hitam milik papanya. yang bisa ditebak jika sang papa pasti telah kembali dari perjalanan bisnisnya di London.
Ia menyatukan kedua alisnya, heran lantas keluar dari mobilnya. Ia langkahkan kakinya pada paving abu abu itu hingga sampailah ia dihadapan pintu kayu tebal setinggi satu meter yang tengah tertutup manis tersebut. Ia masuk tanpa diminta, lantas beranjak menuju kamar miliknya di lantai dua. Walaupun ada lift, tapi dirinya malas tuk menggunakannya. Ya, ia tak terlalu suka menggunakan lift karena suatu tragedi kecil yang pernah dialaminya dulu.
"Huufft,,"
Sampai pada tangga kedua menuju kamar miliknya, samar samar ia melihat siluet seseorang dari lantai atas yang hendak ditujunya. Tanpa memedulikan itu, kaesang tetap saja berjalan hingga terlihatlah siapa orang dibalik siluet yang dilihatnya tadi. Ya, dialah papanya.
Dengan setelan kasual dan celana pendek selutut nya, sang papa terlihat acak acakan persis seperti orang baru bangun dari tidur. Ia mengerjap berulang kali setelah dilihatnya sang putra ada di hadapannya.
Berbeda dengan sang papa yang nampak terkejut dan sontak langsung berhambur kearahnya. Kaesang nampak biasa saja dan terus saja berjalan tanpa memedulikan sang papa yang hendak mengajaknya bicara. Ia sama sekali tak menyahut sampai pernyataan sang papa mengejutkannya, dan membuatnya terpaku.
"Kae, papa mau minta persetujuan dari kamu, papa mau nikah lagi, kae. Papa harap kamu senang dengan berita ini, karena sebentar lagi kamu akan punya mama baru, dan kebahagiaan kita yang sempat hilang itu perlahan akan kembali dengan hadirnya dia. Kae, kamu gak ada masalah kan kalau papa nikah lagi sama orang lain?" Indra pun tergesa dalam mengatakannya hingga berhasil membuat kaesang berhenti lantas berbalik menatap kearahnya. Sorot matanya terlihat terkejut hanya saja kaesang tetap diam tanpa sepatah katapun.
"Sama siapa?" Tanyanya kemudian.
Indra pun tersenyum sekilas mengetahui adanya respon dari sang putra.
"Sama rekan kerja papa di kantor. Kita udah dekat selama beberapa bulan ini, dan setelah dekat dekat dekat akhirnya kita pun pacaran dan berlanjut ke jenjang yang lebih serius. Hm, makasih ya atas restu kamu, papa bahagia sekali." senyum Indra pun mengembang tapi beberapa saat senyum itupun surut dibarengi kaesang yang berbalik dan memasuki kamarnya tanpa merespon kembali.
Indra hanya tersenyum nanar menatap punggung kaesang yang perlahan lenyap diiringi pintu yang menutup.
Didalam kamar, kaesang langsung mencari chargenya lantas mencolokkannya ke listrik lalu ke hp nya hingga memunculkan simbol petir di layar hitam itu.
Kaesang sempat menghela nafas kasar kemudian berjalan kearah nakas di sebelah ranjangnya. Ia buka laci paling bawah lantas meraih handphone berlogokan apel kroak dari dalamnya. Ia nyalakan hp itu kemudian mencari nomor Tyas yang sempat ia salin sebelumnya.
Setelah ketemu, ia pun langsung memencet gagang telepon yang tertera di sana. Ia tunggu beberapa detik hingga akhirnya terdengarlah jawaban dari seberang. Suaranya terdengar serak persis seperti orang baru bangun tidur.
"Halo dear. Ini aku Kaesang."
^^^"Kae, ini kamu? kok nomor kamu lain, nomor kamu yang lama kemana?"^^^
"Bilang kangen dulu kek, nanyain kabar kek. Ini malah nanyain nomor! emang kalau nomor aku ganti, kamu gak mau lagi sama aku?" Kaesang pura pura merajuk. Ia sengaja mengatakan itu untuk menggoda Tyas.
^^^"Iya iya baby, aku kangen banget sama kamu. Kamu gimana kabarnya, aku nungguin kamu, tapi pesan dari aku gak dibales bales. telepon pun gak aktif. Sebenarnya kamu tuh muncak apa nyelem sih?! gak aktif berhari hari! disini akutuh khawatir sama kamu. Nungguin kamu, buat ngasih kabar aku, tapi syukur deh kalau kamu baik baik aja."^^^
Tyas terlihat khawatir dari nada bicaranya. Bahkan tanpa sadar ia memanggil kaesang dengan sebutan baby hingga berhasil membuat lelaki delapan belas tahun itu tersenyum bahagia tanpa menyela sedikitpun.
"Maaf ya, gak sempet hubungin kamu, sinyal disana jelek jadi kamu tau sendiri kan, tapi makasih ya kamu udah khawatir sama aku, aku seneng banget, dan eum makasih lagi untuk panggilan baby nya."
Semburat merah langsung tercipta di kedua pipi Tyas. Ia terhenti beberapa saat hingga ia pun kembali berucap.
mulutnya bingung harus mengatakan apalagi, terlebih kata kata kaesang barusan cukup berhasil membuatnya tersipu dan menghapus seluruh kata kata yang sempat dirangkainya itu.
^^^"Sama sama. Hm, ngomong ngomong gimana liburannya?"^^^
Kaesang pun terdiam lantas kembali menjawab.
"Biasa aja, sama sekali gak seru malah."
Pernyataan kaesang berhasil membuat kedua alis Tyas mengerut.
^^^"Kok gak seru, kenapa, ada kendala semasa liburan?"^^^
"Kalau dibilang kendala kayaknya enggak sih, cuma yang jadi masalah itu ada di kamu. Harusnya liburan kali ini tuh jadi liburan kita berdua setelah kita pacaran. Tapi malah aku sendirian, mana disini banyak pasangan yang lagi pacaran lagi, kan aku jadi iri. Ehm tapi gimana sama nenek kamu, udah baikkan? kamu udah balik dari rumah nenek kamu?"
Senyum yang diiringi tawa itu perlahan surut selepas kaesang membahas perihal nenek padanya. Tyas teringat jika sebelumnya ia sempat menolak ajakan kaesang dengan alasan neneknya tengah sakit di kampung, dan mengharuskannya tuk datang merawatnya karena tidak adanya yang menjaga. Sebenarnya neneknya telah lama meninggal dan itu hanya alasannya saja agar kaesang tak terus saja membujuknya.
Selama itu Tyas menjalani operasi pada penyakitnya tanpa kaesang ketahui. Ia dapat tersenyum lega setelah mengetahui jika penyakitnya dapat terangkat walau tak sepenuhnya. Dalam artian masih ada lima persen dari penyakitnya yang tertinggal.
"Ehm, nenek...nenek udah baikkan kok syukurlah. Dan aku baru pulang kemarin setelah selesai nganterin beliau cek up ke puskesmas. Dan sekarang semua udah baik baik aja."
Tyas terdengar gugup saat mengatakannya walaupun begitu tak terlihat sama sekali kecurigaan di mata kaesang. Ia tak menanyakan lagi apapun mengenai nenek Tyas tersebut. Yang ada kaesang terus saja menggoda Tyas dengan kata kata gombalan recehnya.
Bersambung.