
"Tapi Pi, aku mau pindah ke sana, aku mau Deket sama Kaesang Pi, aku mau awasin dia!" ujar Celine sembari terus menggoyangkan lengan sang ayah dan membujuknya.
Sedari tadi Celine terus membujuk Wisnu untuk menyetujui permintaannya bahwa dia ingin pindah ke Jakarta ke sekolah Kaesang berada.
Semenjak dia merasa tidak enak badan, Celine pun memutuskan tuk tidak masuk sekolah, dia ingin beristirahat di rumah dan memikirkan keinginannya semalam.
"Celine, kamu tau kan kalau pindah sekolah itu begitu ribet, papi mau saja menuruti kemauanmu itu, tapi jika kamu pindah sekarang itu sama saja percuma, sebentar lagi kamu akan naik ke kelas tiga, dan jika kamu pindah sekarang papi nggak bisa jamin untuk kamu bisa beradaptasi di sana. Ehm, papi ada ide, papi akan menyetujui permintaanmu itu tapi jika kamu sudah akan naik ke kelas tiga gimana?" sahut Wisnu sembari menaikkan kedua alisnya dan tersenyum kearah Celine.
Sebenarnya Celine menginginkan kepindahannya sekarang, tapi ucapan papinya tadi juga ada benarnya. Jika dia pindah sekarang itu sama saja percuma, dengan otak Celine yang tak begitu dapat menerima materi dengan cepat membuatnya ragu untuk pindah sekolah saat ini.
Tapi jika pindah saat kenaikan kelas itu akan sangat lama, apakah Celine dapat sabar menunggu sampai hari itu tiba?
"Yaudah Pi, aku setuju, kepindahanku ke Jakarta pas aku naik ke kelas tiga aja, sekalian aku juga mau nyelesain urusanku di sini dulu. Ehm Pi, kepalaku kerasa pusing nih, aku ke kamar duluan ya." ujar Celine sembari beranjak pergi dari sana, setelah ada anggukan kepala dari Wisnu, Celine yang sudah begitu malas berada di sana pun segera beranjak pergi begitu saja.
Lalu Wisnu yang mengetahui Celine sudah pergi pun langsung menyunggingkan bibirnya.
Sembari membalikkan badannya, dia pun menatap lurus ke depan dengan begitu tajam dan penuh dengan senyuman aneh.
Wisnu pun langsung beranjak pergi dari sana sesaat setelah ia mengatakan hal ini di dalam hatinya, "Tenang saja nak, kepindahanmu itu sudah papi atur, jadi kamu tidak usah khawatir. Sementara kamu menyelesaikan sekolahmu di sini, papi akan terus memantaumu dan mengurus segalanya. Selama nanti kamu tinggal di Jakarta, papi di sini akan terus menjagamu, papi akan kirim orang ke sana untuk menjagamu dari jauh. Walaupun papi tau kamu itu seperti apa di luar sana, bagi papi kamu tetaplah anak kecil papi. Disaat kamu menyukai Kaesang, dan menginginkannya untuk menjadi suamimu, pasti papi akan berusaha untuk mendapatkan laki laki itu. Lagipula kamu adalah harta terakhir papi dari wanita itu, jadi apapun yang kamu minta pasti papi akan turuti, sekalipun itu adalah nyawa dari seseorang, papi pasti tidak akan ragu untuk mendapatkannya."
Dengan penuh senyuman Wisnu pun terus menerus menggumamkan untuk akan mendapatkan Kaesang untuk Celine. Dia akan berjuang sekuat tenaga untuk mewujudkan keinginan putrinya itu.
......................
Lalu di Genius high school saat ini adalah waktunya untuk istirahat, sementara Kaesang yang saat itu tengah begitu malas untuk beranjak dari bangkunya tetiba saja di tarik paksa oleh Zeya dan dibawanya menuju ke kantin.
sebenarnya Kaesang begitu malas untuk beranjak dari bangkunya, dia ingin duduk saja di bangkunya sampai nanti pulang sekolah, namun karena Zeya sudah menarik lengannya menuju kantin pun membuatnya hanya menghela nafas kasar dan menuruti keinginan Zeya itu.
Huufftt ...
Kaesang pun begitu lelah melihat semua atensi anak-anak di Genius high school pada menatap kearahnya dan Zeya dengan sorot bingung dan penuh tanda tanya.
Mereka pantas untuk bingung karena sebelum-sebelumnya dirinya dan Zeya tidak pernah bersama. Mengobrol pun tidak pernah jika tidak ada hal penting yang mendesak, lalu melihat keduanya saling bergandengan tangan menuju kantin pun membuat semua yang berada di sana terkejut.
Bahkan anak-anak yang semula begitu riuh dan bersenda gurau dengan temannya langsung saja terdiam dan mengalihkan atensi mereka ke arah Kaesang dan juga Zeya.
Tatapan mereka semua sontak sama, bukan tatapan tajam dan tak suka yang mereka gambarkan, tapi lebih ke tatapan bingung dan kaget yang semua anak-anak lukiskan mengetahui Kaesang dan juga Zeya yang tiba-tiba bersama.
Bahkan samar samar Kaesang sempat mendengar ada beberapa anak yang mengatakan jika Kaesang telah putus dari Tyas dan kini telah resmi pacaran dengan Zeya.
Astaga, mendengar itu Kaesang pun menjadi pusing sendiri. dia ingin membungkam semua mulut mereka dan menghujani mereka dengan tatapan tajamnya seperti kemarin kemarin.
Ia ingin marah tapi Ia juga tak ingin mengecewakan Tyas. walaupun saat ini Tyas tidak tahu tapi itu tetap sama saja, ia tetap melanggar permintaan Tyas, dan menghianati kepercayaannya.
"Kae, Lo dari tadi kok diem aja, kenapa? marah Lo sama gue, iya?" tanya Zeya disaat dirinya dan Kaesang telah duduk di kios kantin paling ujung dan telah memesan makanan disana.
Lebih tepatnya Zeya yang memesan, gadis itu entah lapar atau doyan, Kaesang begitu heran. Ia saja yang tak bisa makan banyak dan akan mules di saat makan dengan porsi yang begitu banyak kini begitu heran melihat Zeya memesan bakso tiga porsi, nasi ayam geprek dan juga es teh.
Wuihh, apa tidak melilit perutnya ntar?
"Zey, Lo kesurupan apa sih bisa sampai pesen makanan sebanyak itu?" tanya Kaesang heran.
Lalu Zeya yang saat itu tengah memainkan ponselnya dan terlihat begitu serius tetiba saja langsung menghela nafas dan mengalihkan atensinya kearah Kaesang.
Dengan malas Zeya pun langsung meletakkan ponselnya di atas meja, dan beranjak menopang dagunya.
"Kenapa, gak ikhlas Lo traktir gue makan di kantin?" tanya Zeya tajam.
Huufftt ...
"Bukan gak ikhlas Zey, tapi gue cuma heran aja liat Lo pesen sebanyak itu, Lo apa gak takut melilit hah, makan bakso tiga porsi, terus ayam geprek, astaga gue gak mau tanggung loh ya kalo ntar perut Lo kenapa napa." sahut Kaesang sembari menggelengkan kepalanya, dan merogoh ponselnya dari dalam saku celananya.
Lalu dari kejauhan terlihatlah Tyas Tengah melangkahkan kakinya menuju ke kios kantin paling ujung selatan seorang diri. Sebenarnya Tyas telah mengajak beberapa rekan kerjanya untuk menemaninya ke kantin, namun mereka yang menolak ajakan Tyas dengan berbagai alasan pun membuat Tyas akhirnya memutuskan untuk beranjak menuju ke kantin seorang diri.
Namun sesat Tyas telah tiba di kios yang dia maksud, dan dia juga bermaksud akan memesan sesuatu, tetiba saja saat atensinya tak sengaja menyapu seisi kantin, Tyas pun begitu terkejut sesaat mendapati Kaesang tengah duduk berdua dengan Zeya di kios paling utara kantin.
Memang mereka hanya terlihat makan biasa dan mengobrol layaknya teman biasa, tingkah Kaesang dan Zeya pun masih terlihat seperti Tom and Jerry.
Muka Kaesang yang selalu datar dan dingin, serta Zeya yang juga terlihat sama pun membuat Tyas tersenyum.
Memang dia senang mengetahui persahabatan Kaesang dengan Zeya, tapi dia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri jika saat ini dia merasa cemburu dengan kedekatan mereka.
Sifat mereka begitu mirip, prestasi mereka juga sebelas dua belas, walaupun mereka terlihat saling membenci, Tyas begitu takut bila Kaesang akan berpaling darinya.
Karena wajah Zeya juga lumayan cantik, dia begitu putih dan rambutnya juga begitu panjang terurai. fisiknya begitu sempurna hanya saja sifatnya yang begitu dingin dan tertutup membuat Tyas sedikit penasaran dengannya.
"Kaesang, Zeya, pertemanan kalian aku menyukainya, dan tentu saja aku mendukung pertemanan kalian itu. tapi melihat kalian dekat seperti ini entah kenapa aku merasa begitu cemburu. Huh, semoga saja ini tidak akan bertahan lama. melihat mereka dekat itu adalah cita-citaku sejak dulu, jadi seharusnya aku senang dong melihat mereka berteman seperti ini, bukan malah cemburu." batin Tyas sembari mengalihkan atensinya kearah lain, dan beranjak memasuki kios kantin yang tadi di tujunya.
Dia merasa lapar, dan tujuannya pergi ke kantin itu ya untuk makan, bukan malah cemburu seperti itu.
Bersambung ...