Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 37- Kerinduan


...3 hari kemudian......


3 hari setelah hari itu, hari dimana Kaesang, dan juga Tyas mendatangi party ulang tahunnya Zefa di kediamannya. Setelah hari itu, Kaesang juga Tyas tak lagi saling bertemu, hanya handphone lah media tempat mereka mengobrol juga mengutarakan rasa rindu mereka, itupun jarang. Sebab keduanya tahu jika saat ini mereka tengah ada kesibukan masing-masing, selaku Guru, dan murid. Dan dihari ini pula, semua murid Genius High School termasuk Kaesang tengah melaksanakan ujian akhir semester, yang tentunya ia akan sedikit sibuk untuk tiga hari kedepan, begitupun dengan Tyas, posisinya sebagai seorang guru menjadikannya sedikit sibuk akhir-akhir ini, sebab ia harus mempersiapkan ini, mempersiapkan itu, demi kelangsungan ujian akhir semester tahun ini. Semua ia lakukan dengan setulus hatinya, hingga membuat waktunya menjadi lebih padat dari biasanya, jadi tak ada waktu baginya tuk dapat bertemu dengan Kaesang, bahkan mengobrol pun jarang, sebab waktu Tyas jauh lebih padat dari pada Kaesang, yang notabenenya ia adalah seorang guru bahasa Inggris, yang tentunya waktunya jauh lebih padat daripada guru guru yang lain. Tapi mereka sama sama memaklumi itu, dan menahan kerinduan mereka demi menuntaskan kewajiban mereka.


Disisi lain, seorang pria dengan seragam rapinya tengah berdiri membelakangi pintu kelasnya sembari menelpon seseorang, tapi karena sudah beberapa menit tak dijawab telponnya itu, menyerahlah ia, kemudian disimpannya telepon miliknya itu kedalam saku celananya, lalu berbaliklah ia, dan masuk kembali kedalam kelasnya, sebab jam kedua untuk ujian dihari itu akan segera dimulai.


Dilain sisi, seorang wanita cantik lengkap dengan seragam keguruan nya tengah duduk manis di mejanya sembari menulis sesuatu di sebuah map. Ia nampak begitu sibuk hingga tak menggubris rentetan panggilan yang berbunyi sedari tadi dari handphonenya, bahkan ia tak segan segan untuk membuang handphonenya itu karena telah mengganggu nya, tapi karena ia tak mau membuang buang waktunya tuk hal yang tak berguna, ia biarkan itu, dan kembali mengerjakan tugas tugasnya yang menumpuk. Bahkan panggilan yang berdering keras pun kini tak lagi mengganggunya, ia masih tetap fokus pada tugas yang tengah dikerjakannya itu.


"Pokoknya harus tuntas hari ini juga." Janjinya, sembari tetap pada tugasnya itu tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.


...Selang beberapa saat kemudian.......


Seorang lelaki tengah berjalan malas di sepanjang koridor sekolahnya, matanya telah menyapu seisi koridor tersebut guna mencari perempuan yang sedari pagi di carinya itu, ia tahu jika hari hari ini adalah hari yang sibuk untuk keduanya, tapi walaupun begitu Kaesang tetap harus memastikan jika keadaan Tyas masih baik baik saja, baru setelah itu ia dapat merasa tenang, tapi sedari tadi bahkan bertemu, menelpon pun sangatlah sulit, apakah kekasihnya itu tengah begitu sibuk hari ini, hingga tak ada waktu untuknya tuk menjawab telepon?, tapi walaupun Tyas seorang guru, tak mungkin kan ia dapat sesibuk ini, tapi ah sudahlah.


"Dia lagi apa ya sekarang?, gue telepon ajalah." Ucapnya sendiri sembari merogoh handphone miliknya itu dari dalam saku celananya, membukanya, lalu mencari nomor Tyas di handphonenya itu, kemudian menelponnya, siapa tahu ia akan menjawabnya kali ini.



Dilain sisi, telepon milik Tyas tersebut tergeletak tak bertuan di atas mejanya, tapi tak ada Tyasnya disana, tak tahu kemana perginya. Lalu sesaat kemudian, masuklah seorang pria, rekan kerja dari Tyas tersebut, yang juga seorang guru bahasa Inggris. Sesaat ia memasuki ruangan guru tersebut, ia tak langsung duduk di mejanya, melainkan malah mendatangi meja milik Tyas, yang sama sekali tak ada siapapun di sana. Sesaat ia baru sampai di samping meja milik Tyas, matanya teralihkan dengan handphone milik Tyas tersebut yang tengah berdering di atas meja. Semula ia raih handphone milik Tyas itu, lalu ia lihat sesiapa yang tengah menelpon tersebut. Tapi setelah dilihatnya, mengernyit heranlah ia,



"Hah, siapa nih?" Tanya heran guru tersebut sembari tetap menatapi panggilan tersebut.


"Ah, pak Zaky, Selamat siang." Sapa Tyas selepas masuk kedalam ruang guru tersebut, lalu berjalanlah ia kembali ke mejanya. Tapi terkejutlah ia setelah dilihatnya pak Zaky tengah berada di mejanya, juga sedang memegang handphonenya itu.


"Ah, Bu Tyas, siang juga Bu. Tadi saya baru aja selesai ngajar, dan saat saya mau ke meja saya, saya gak sengaja denger handphone ibu lagi bunyi, makanya saya samperin deh, siapa tahu penting. Hmm, maaf ya Bu, udah lancang, ini handphonenya." Jawab pak Zaky sembari menyerahkan handphone milik Tyas itu pada si empunya, lalu sembari tersenyum manis diambilnya handphone miliknya itu dari tangan Zaky, kemudian mengobrol sebentar dengannya.


"Oh iya pak tidak apa apa kok, terima kasih ya." Balas Tyas sembari menyimpan handphone miliknya itu kedalam saku baju seragamnya.


"Sama sama, oh iya Bu, maaf tadi saya gak sengaja lihat, yang tadi nelpon ibu itu kalau gak salah namanya, hmm..murid tersayang, iya bener itu. Maaf dia salah satu anak disini ya?" Tanya Zaky lagi. Kini rasa penasarannya berhasil membuat Tyas gugup, dan tak tahu harus menjawab apa. Ia hanya dapat tersenyum, dan menjawab sebisanya agar hubungannya tersebut tak terbongkar.


"Oh itu, itu tadi adik saya yang nelpon, dia anak sini juga, cowok, kalau gak salah kelas sebelas IPA dua dia." Jawab Tyas ngasal sembari mencoba bersikap santai agar si pak zakinya tak menaruh curiga.


"Oh adik ibu ya, maaf saya kira siapa?, yasudah Bu saya mau kembali ke meja saya dulu." Ucap pak Zaky. Sesaat setelah itu pergilah pria itu dari sana, dan kembali ke mejanya lagi.


Mulai legalah Tyas saat mendapati pak Zaky telah menjauhi mejanya, tapi kelegaannya sesaat menghilang setelah pak Zaky dengan tiba tiba menghentikan langkahnya, kemudian berbalik, dan memanggil Tyas kembali.


"Oh iya Bu Tyas." Panggilnya lagi.


"Haduh, mau ngapain lagi sih ni Guru." Dumalnya dalam hati.


"Ah, iya pak, bapak perlu bantuan?" Jawab Tyas lembut, tapi juga sedikit was was, takutnya jika pak Zaky akan menanyakan yang tidak tidak lagi padanya, yang tentunya tak tahu harus menjawab apa ia nantinya.


"Oh tidak kok, saya cuma mau bertanya, Bu Tyas sudah mau pulang, atau masih mau disini?, kalau sudah mau pulang, mari bareng saya saja, mumpung saya lagi gak boncegin siapa siapa." Tawarnya.


"Makasih pak, tapi saya masih mau disini, tugas tugas saya belum selesai soalnya." Tolak halus Tyas. Selain tugas tugasnya belum selesai, ia juga tak mau jadi omongan orang jika ia sampai menerima tawaran pak Zaky tuk pulang bersamanya, dan ia tak dapat menyangkal jika pak Zaky adalah guru tertampan, sekaligus terpopuler di kalangan Genius High School ini. Bukan hanya para guru guru wanita saja, bahkan tak sedikit dari anak siswi di Genius High School juga menyukai pak Zaky karena ketampanannya.


"Baiklah kalau begitu, saya pulang duluan ya Bu." Balas pak Zaky. Setelah selesai berkata demikian, pergilah ia dari sana, dan beranjak pulang, meninggalkan Tyas sendiri bersama beberapa guru yang juga tengah lembur bersamanya.


Setelah pak Zaky pergi, barulah Tyas dapat melanjutkan mengerjakan semua tugas tugasnya yang tersisa dengan tenang. Tapi sebelum ia menyentuh pulpennya, ia kembali teringat dengan panggilan Kaesang beberapa menit yang lalu, yang berhasil terpergok oleh pak Zaky. Ia pun kembali merogoh handphone miliknya itu dari dalam saku baju seragamnya, kemudian membukanya, dan melihat isi panggilan Kaesang.



Setelah melihat isi panggilan Kaesang, yang kurang lebih sepuluh panggilan lah banyaknya, Tyas pun kembali meletakkan handphone miliknya itu di atas meja, kemudian melanjutkan mengerjakan semua tugas tugasnya yang tersisa.


"Maaf, Kae, setelah semua tugasku selesai, kita pasti akan bertemu, aku janji." Ucap Tyas sendiri sembari memegang sebuah pulpen di tangannya.


Selepas itu, kembalilah ia berkutat pada tugas tugasnya tersebut, dan mengesampingkan semua perasaannya. Ia ingin mewujudkan semua impiannya dimasa kecil dulu, dimana impian itu adalah impiannya juga impian almarhumah ibunya. Itulah sebabnya mengapa ia begitu bekerja keras sedari dulu, agar semua impiannya itu dapat terwujud.


Bersambung.