
Kelanjutan dari episode kemarin....
Di keesokan paginya, Indra yang baru terbangun dari tidurnya, dikejutkan dengan keadaannya yang baru terbangun di atas Sofanya sembari selimut yang sudah setengah tersingkap. Ia pun lantas beranjak bangun dari tidurnya, sembari menyenderkan tubuhnya di sofa tersebut ia pun mengucek matanya, lalu berpikir, apa Kaesang sudah pulang semalam?, ah, aku ketiduran, jadi tak bisa membukakannya pintu. Selepas berpikir demikian, dirinya pun lantas berdiri, meregangkan otot tubuhnya, kemudian mulai melangkahkan kakinya hendak menuju kamar putranya itu, hanya untuk memastikannya saja, tapi baru saja ia hendak melangkah, terlihat Kaesang tengah menuruni tangga dengan seragam yang sudah melekat rapi di tubuhnya, rupanya lelaki tersebut sudah hendak berangkat sekolah. Melihat putranya tersebut ada tepat di hadapannya, Indra pun lantas berjalan mendekatinya, lalu menyapanya.
"Kae, mau berangkat sekolah?" Tanya ramah Indra memulai pembicaraan.
"Hemm." Hanya dibalas deheman oleh Kaesang, Indra pun lantas mendengus lalu memikirkan apa lagi yang harus dikatakannya.
"Oh iya, kemarin kamu balik jam berapa?, papa tungguin juga," Tanya lagi Indra.
"Setengah sepuluh. Lagian siapa yang suruh papa nungguin aku, kan aku gak minta." Jawab dingin Kaesang sembari memasang muka datarnya.
"Emangnya kemarin kamu kemana?, kok balik sampai selarut itu, apalagi kemarin kata bi Inah, kamu pergi buru buru terus pakai pakaian tertutup gitu, kamu kemana sih kemarin?, gak kayak biasanya?" Tanya curiga Indra. Melihat papanya mulai mencurigainya, Kaesang pun lantas berdecak kesal, lalu menatap dingin kearahnya.
"Mau kemana pun aku kemarin, itu bukan urusan papa. Udah ah, mau berangkat, dah telat." Saat Kaesang mulai melangkahkan kakinya, dan hendak berjalan pergi, tiba tiba papanya menghentikannya dengan mencekal lengannya.
"Nanti sepulang sekolah kamu gak ada acara kan?, papa mau ngomong sesuatu sama kamu." Tanya Indra pada putra semata wayangnya itu.
"Kita lihat nanti." Balasnya acuh, selepas berkata demikian, Kaesang pun melangkah pergi, melajukan mobilnya menuju ke sekolah, dan meninggalkan papanya yang masih setia berdiri di tempatnya, menatapi punggung putranya yang perlahan menjauh.
............................................................
Sepuluh menit sebelum kedatangan Kaesang, sebuah Ferrari merah sudah lebih dulu tiba, dan menguasai parkiran tersebut, siapa lagi kalau bukan mereka, Yap, selepas mobil terparkir rapi di tempatnya, keluarlah tiga orang gadis cantik dari dalam Ferrari merah tersebut, dialah zefa, zelyn, dan Lina. Selepas turun dari mobil, mereka nampak berjalan beriringan sembari membicarakan hal yang tak penting, tapi saat ketiga gadis tersebut mulai melangkahkan kakinya di koridor sekolah, sontak semua mata langsung mengarah pada mereka, bangga dengan hal itu, zefa lantas semakin memelankan langkahnya, sembari tersenyum centil, ia melirik setiap mata lelaki yang menatapnya, seolah ingin memberitahukan jika dirinya lah ratu di sekolah tersebut, tapi seketika ia tersentak, lalu menghentikan langkahnya, saat mendapati lelaki yang disukainya, yaitu Kaesang mulai menampakkan dirinya dua meter di di depannya. Ia seolah merapikan rambutnya, lalu hendak melangkah menemui Kaesang, tapi Kaesang sudah lebih dulu melihatnya, lalu dengan cepat ia menghindar, lalu melangkah pergi.
Berharap zefa tak mengikutinya, ia pun lantas tenang tenang saja, dan malah memelankan langkahnya, tapi sesaat setelah itu alangkah terkejutnya Kaesang saat menyadari zefa beserta kedua kacungnya tengah berjalan cepat kearahnya. Ia pun lantas masuk saja kedalam toilet pria yang kebetulan ada di jalurnya berjalan, ia cukup lama di toilet tersebut, karena mendengar suara ketiga cewek ganjen itu masih menungguinya di luar pintu toilet.
'Sialan, kenapa gak pergi pergi sih tuh cewek. Mempersulit hidup gue aja, pakai ditungguin lagi, ck.' Selepas berkata serta mengumpat sendiri, tak sengaja telinganya mendengar ketiga gadis tersebut tengah di tegur oleh salah seorang guru, mengetahui itu Kaesang pun lantas senang, dan berharap guru tersebut dapat mengusir pergi ketiga cewek sialan itu.
.........................................................
Dilain sisi, Tyas yang merasa dirinya sudah baikkan, memaksakan diri tuk datang mengajar hari ini, padahal jikapun ia absen hari ini, itu tidak akan jadi masalah, tapi ia merasa jika posisinya sebagai guru baru, tidaklah pantas tuk terlalu sering absen. Lalu sesaat selepas itu kakinya mulai ia langkahkan di area koridor sekolah, tersenyum, lalu menjawab setiap sapaan yang mengarah padanya. Tyas terkenal baik, dan ramah pada siapapun di sekolah ini, makanya tak jarang banyak dari kalangan guru maupun murid di Genius high school yang begitu senang dengan kehadiran Tyas di sekolah tersebut.
Saat dirinya hendak sampai di ruang guru, tinggal beberapa langkah lagi, ia di kejutkan dengan sebuah panggilan yang ditujukan untuknya dari arah belakang tubuhnya, mendengar ada yang tengah memanggilnya, Tyas pun sontak langsung berbalik badan, dan melihat siapa yang tengah memanggilnya tersebut.
"Ah, pak Zaky?, ternyata anda, saya kira siapa." Tersentak melihat pak Zaky berjalan kearahnya, dan langsung memanggilnya tiba tiba, Tyas pun langsung tak enak hati, lalu tersenyum menatap kearah guru tampan di hadapannya, kemudian berlagak seolah merapikan buku yang tengah dipegangnya itu, hanya sekedar tuk menghilangkan rasa canggungnya saat berada di dekat pak Zaky.
"Iya, ini saya, maaf kalo seumpama Panggilan saya mengejutkan Bu Tyas." Balas Zaky saat sudah ada tepat di hadapan Tyas, lalu tersenyum layaknya guru sesama guru pada umumnya.
"Oh tidak papa kok pak, saya aja yang lagi ngelamun tadi, mangkanya gak fokus." Balas Tyas seadanya.
"Ah sakit?, tidak, saya baik baik saja pak, ini buktinya saya dapat pergi ngajar hari ini, ehm terus pak Zaky tahu dari mana kalau seumpama saya habis sakit, padahal saya kan tak mengatakan apapun pada pak Zaky." Tanya heran Tyas. Saat mendapati pertanyaan dari Tyas, entah kenapa ia dapat melihat raut keterkejutan begitu ketara di wajah pak Zaky, seperti ada sesuatu hal yang tengah di sembunyikannya.
"Ah itu, ehm oh iya, sepulang ngajar Bu Tyas ada waktu luang gak?" Tanya balik Zaky mencoba tuk mengalihkan pembicaraan, walaupun begitu, Tyas tetap merasa ada sesuatu hal yang janggal dari sikap pak Zaky hari ini.
"Ah, kayaknya saya mau lembur pak hari ini, tugas tugas saya pada numpuk, memangnya ada apa ya pak?"
"Hmm, rencananya kalau Bu Tyas nanti kosong, saya mau ajak Bu Tyas buat makan di resto langganan saya, tapi kalau Bu Tyas mau lembur ya sudah, lain kali saja." Selepas mendengar tawarannya di tolak oleh Tyas, ada raut kekecewaan yang begitu ketara di wajah Zaky, sepertinya ia kecewa karena tawarannya ditolak oleh Tyas begitu saja.
"Maaf ya pak, saya memang mau selesain semua tugas saya hari ini, tapi mungkin lain kali saya bisa terima tawaran pak Zaky." Balas lembut Tyas. Mendengar jawaban Tyas, Zaky pun langsung tersenyum, lalu mereka pun berjalan beriringan menuju ke ruang guru sambil sesekali mengobrol.
.............................................................
Saat tak lagi mendengar suara ketiga gadis tersebut di luar pintu toilet, Kaesang pun mulai memberanikan diri untuk keluar dari toilet, berjalan perlahan, lalu celingak-celinguk mencari keberadaan ketiga gadis itu, saat benar tak ada ketiga gadis itu di sana, Kaesang pun langsung bernafas lega, lalu melangkahlah ia menuju ke kelasnya, mengingat sudah beberapa menit ia berada di dalam toilet, dan tepat sekali hari ini juga ada pembagian rapot, walaupun begitu ia tetap berjalan santai, dan tak terburu-buru sama sekali, seolah tak ada yang tengah menunggunya di kelas.
...........................................................
Disisi lain kita di perlihatkan keadaan kota yang tengah ramai, saat kendaraan sibuk berlalu lalang, seorang perempuan cantik nan sederhana terlihat tengah berjalan di pinggir trotoar sembari menjajakan dagangannya, perempuan cantik itu seumuran dengan Kaesang, tapi ia lebih memilih sekolah setengah hari saja, karena pagi ia memilih tuk membantu ibunya berjualan terlebih dahulu. Kehidupan kota yang keras mengharuskannya untuk melakukan semua itu di usianya yang terbilang muda. Berparas cantik, ramah serta telaten membuat dagangannya begitu laris di beli orang, ia pun tersenyum bahagia selepas itu, dan di sela sela sepinya berjualan ia pun memilih tuk membaca baca ulang materinya, mengingat ia masih seorang siswi di suatu sekolah.
"Clar.." Panggil seorang ibu paruh baya pada gadis tersebut, sontak ia pun langsung mendongak, lalu tersenyum saat menapaki siapa yang tengah memanggilnya itu.
"Ibu.." Ucapnya sembari berdiri dari duduknya, lalu berjalan mendekat kearah ibu paruh baya tersebut, tak lupa dengan barang dagangannya yang juga ikut dibawanya.
"Gimana nak, habis dagangan kamu?" Tanya lembut ibu ibu tersebut.
"Tinggal dikit lagi Bu." Balasnya sembari tersenyum.
"Yasudah biar ibu saja yang lanjutkan, kamu pergi sekolah sana, sudah mau siang ini, nanti kamu terlambat." Ucap ibu dari gadis tersebut sembari mengusap lembut rambut sang gadis.
"Yasudah kalau begitu, aku pulang dulu ya Bu, habis itu berangkat sekolah. Ibu hati hati ya, kalau seumpama ibu capek, mending ibu pulang saja, gak usah di terusin." Balas gadis tersebut, ada rasa khawatir di setiap ucapannya, mengingat ibunya tersebut tengah sakit sakitan, apalagi kini dirinya sudah tak mempunyai seorang ayah lagi, hal ekonomi juga yang membuatnya harus melakukan semua itu demi mencukupi kebutuhannya juga ibunya.
"Iya nak, udah, kamu sekolah saja yang rajin, gak usah pikirkan ibu, ibu baik baik saja." Mencoba meyakinkan sang anak, sang ibu pun lantas tersenyum sembari mengusap lembut kepala sang anak.
"Baiklah kalau ibu bilang begitu, aku tinggal ya Bu, ibu hati hati, assalamualaikum." Selepas berpamitan dengan sang ibu, mengucap salam lalu mengecup lembut telapak tangan ibunya, gadis itu pun meletakkan dagangannya, lalu melangkah pergi dari sana.
"Walaikumsalam." Balasnya, selepas sang anak pergi menjauh, sang ibu pun memutuskan tuk stay di sana, mengingat barang dagangan anaknya itu hanya tinggal beberapa, dan juga keadaannya yang mengharuskannya tuk tak boleh banyak berjalan, itu sebabnya ia memutuskan tuk tetap di sana saja sembari menunggu pelanggan membeli dagangannya yang tersisa.
Bersambung.