
Sekarang adalah pukul empat sore di saat Tyas telah berada di depan gerbang sekolah dengan maksud beranjak pulang. sudah lumayan sore saat ini namun, cuaca masih juga panas hingga membuat seorang Tyas gerah dan ingin meneduhkan diri kembali ke sekolah.
Tuk ...
Tuk ...
Tuk ...
Sedari tadi Tyas belum juga pulang karena masih menunggu taksi yang tak juga lewat. astaga, sudah banyak guru yang pulang dan melewatinya begitu saja. mereka hanya melontarkan senyum lalu pergi meninggalkannya dengan kendaraannya.
Di saat Tyas tanpa sengaja membalikkan badannya, dia terkejut di saat gedung sekolah yang harusnya sudah sepi justru terlihat ramai. ada tiga gelintir anak yang masih berada di sana dan bermaksud akan keluar. tiga anak itu bukanlah orang asing bagi Tyas. mereka adalah Zefa dan gerombolannya. ketiga anak itu bersenda gurau sambil dorong dorongan satu sama lain.
Hhhh ...
Tyas bermaksud akan membalikkan badannya kembali, namun, tindakannya itu di hentikan begitu saja oleh Zefa yang tiba tiba memanggilnya seraya berteriak dan juga berlari.
"Ehm, Bu Tyas mau pulang ya?" tanya Zefa terdengar ramah namun terlihat dipaksakan.
Mendengar Zefa berkata begitu manis, Tyas yang pintar tak langsung menanggapinya dengan manis pula. dia hanya diam seraya menatap intens kearah Zefa.
Zefa yang tau Tyas tak juga menjawab pertanyaannya justru tetap tersenyum seraya menyikut temannya di sebelahnya. dia sebenarnya begitu malas untuk bersikap begitu manis seperti ini pada Tyas, orang yang sekarang menjadi musuh sekaligus pelakor untuknya. namun, untuk berhasilnya rencananya, Zefa terpaksa melakukan ini. dia ingin rencananya berhasil, dan sesuai keinginannya.
"Ehm, Bu, kita ada yang mau di omongin nih sama ibu. eee sesuatu penting." ujar Lina seraya menyikut kembali kearah Zefa.
Melihat tingkah mereka yang aneh dan ucapan mereka yang tak seperti biasanya membuat Tyas memicingkan matanya serta melipat kedua tangannya di depan dada.
......................
Kaesang begitu marah saat ini. dia tak habis pikir sekaligus bingung dengan cara pikir sang ayah yang sangat kejam tersebut. awalnya Kaesang mengira jika acara ini bukanlah acara penting, dia begitu santai dan juga tenang semenjak di rumah tadi, namun siapa sangka jika acara kali ini bukanlah acara biasa melainkan acara penting yang menurut Kaesang sangatlah keramat.
Bagaimana tidak, Tadi siang waktu dia dan sang ayah baru tiba di tempat, Kaesang sedikit kaget waktu sang ayah ternyata mengajaknya ke sebuah rumah megah dan tampak biasa saja. tak ada keramaian dan dekorasi yang tampak seperti acara pernikahan, hmm, jika demikian, akan ada apa ini??
awalnya biasa saja, Kaesang masuk ke rumah itu bersama sang ayah lalu berbincang hangat dengan pemilik rumah tersebut. mereka adalah sepasang suami istri, Wisnu dan juga Ester. orang yang ramah dan juga murah senyum.
Mereka adalah tipikal orang Jawa yang sangat menjunjung tinggi tata Krama dan juga kesopanan. walau Indra dan mereka begitu asyik mengobrol, Kaesang dengar mereka tidaklah menggunakan bahasa Indonesia melainkan bahasa Jawa.
Astaga, sejak kapan papa bisa bahasa Jawa? bukankah papa lahir dan besar di jakarta ya, sejak dulu juga papa jarang ke mari, kan, dia bilang karena sibuk kerja dan banyak urusan.
"Kae, bagaimana kabarmu, nak?" barulah setelah bicara dengan Kaesang, Wisnu menggunakan bahasa Indonesia. dia hanya menanyakan kabar Kaesang dan hal lain yang bersangkutan dengannya, yang tentu saja tidaklah penting.
"Ehm, baik om." sahut Kaesang tanpa ekspresi.
Wisnu pun hanya manggut-manggut mendengar jawaban Kaesang. dia paham dan mengerti seperti apa sifat Kaesang itu. dia dingin namun dia tetaplah baik.
Tuk ...
Tuk ...
Tuk ...
"Pi, ini ada apa ya? kenapa papi sama mami nyuruh aku pulang cepet cepet, ada acara penting atau mau ke suatu tempat?" setelahnya semua pandangan pun terarah pada sumber suara.
Huufftt ...
Rasanya Kaesang tak asing dengan gadis ini. memang baru kali ini Kaesang bertemu dan melihat gadis itu, namun wajahnya itu seperti mirip atau pernah melihatnya sebelumnya. tapi rasa rasanya tidak, gadis ini kan berasal dari sini, jadi tak mungkin kan Kaesang pernah bertemu dengannya.
Ternyata tadi adalah suara seorang gadis yang merupakan anak bungsu dari pak wisnu. Gadis itu mengenakan jaket Levis yang menutupi seragam sekolahnya dilengkapi sepatu hitam juga rambut yang terurai sukses membuat Kaesang berpikir, apakah sebelumnya dia memiliki kenalan yang mirip dengan gadis itu?
"Celine, duduk sini, nak. papi sama mami mau ngomongin hal penting sama kamu." ujar Wisnu seraya menepuk tempat kosong di sebelahnya.
Melihat itu gadis bernama Celine itupun hanya mengulas senyum hangat lalu beranjak duduk di tempat yang di tepuk papinya sebelumnya.
"Ini mau ada apaan ya? kok firasat gue nggak enak." batin Celine seraya tersenyum kaku menatap kearah sang ayah dan kedua tamunya.
Setelah sebelumnya menghirup nafas panjang, Wisnu pun tertunduk sekilas lalu beralih menatap kearah Celine, indra serta Kaesang bergantian.
"Sayang, sebelumnya papi terima kasih karena kamu sudah pulang dengan cepat dari biasanya. Kamu sudah bersikap baik dan juga sopan, papi sangat bahagia melihatmu, sayang. Papi juga senang melihatmu datang sendiri kali ini, bukan di temani teman cowokmu itu." ucap Wisnu seraya tersenyum dan menepuk nepuk pelan pundak Celine.
Mendengar itu Celine pun hanya tersenyum kecut kemudian mengalihkan pandangannya dari sang ayah.
"Lin, mereka adalah teman papi, yaitu om Indra dan juga puteranya Kaesang. mereka dari jakarta dan baru tiba di tempat kita sejam yang lalu." ucap Wisnu memperkenalkan indra dan juga Kaesang kepada Celine sembari tersenyum.
Celine pun hanya menanggapinya dengan tersenyum ucapan papinya tersebut. Dia beralih menatap kedua tamu papinya itu bergantian lalu melontarkan senyum padanya. melihat senyum Celine, indra pun menanggapinya dengan tersenyum balik. namun, saat senyum itu Celine arahkan pada Kaesang, bukan senyum balik yang Celine dapatkan melainkan tatapan dingin serta sikap cuek lah yang di lontarkan Kaesang pada Celine tanpa adanya senyum sama sekali.
"Lin, papi mau jodohin kamu sama putera pak Indra yakni Kaesang."
What??
Ucapan Wisnu kali ini berhasil membuat Celine maupun Kaesang teriak secara bersamaan. membuat dada keduanya berdebar kencang dan kedua mata yang membola sempurna.
......................
"Jadi apa hal penting yang mau kamu omongin sama saya, Zefanya??" tanya Tyas seraya menatap serius kearah Zefa di depannya. Tangannya terlipat di depan dada, dan mata yang sama sekali tak beralih ke manapun, Tyas begitu penasaran dengan apa yang hendak Zefa katakan padanya.
melihat respon serius dari Tyas berhasil membuat Zefa tertawa lepas di dalam hati. Dia memang hanya tersenyum saat ini namun, sebenarnya dia muak dengan apa yang dilakukannya kali ini. dia ingin menuntaskan semua rencananya dan pergi dengan cepat.
"Anda pasti bahagia kan sekarang bisa pacaran dengan Kaesang? dengan lelaki tampan, dan anak pengusaha terkenal. pasti di kamar anda sudah banyak berserakan benda benda mahal dari Kaesang, dan berbagai foto couple bersamanya. aduh, membayangkannya saja sudah membuat saya iri. saya sedih melihat Kaesang lebih memilih ibu daripada saya." ucap Zefa santai.
Kedua alis Tyas pun menyatu dengan sempurna mendengar ucapan Zefa yang terdengar sedikit ngawur tersebut. dari semua ucapannya menunjukkan bahwa dirinya memang merasa iri dan kesal dengan Tyas. dia sepertinya ingin kasar dalam menyikapinya namun karena Tyas itu guru, Zefa pun berubah dengan cara halus lah dalam menyikapinya. selain dulu Tyas adalah panutan dan guru favoritnya di sekolah, Tyas juga sangatlah baik padanya. namun, kebaikannya itu telah di hapus dengan rata oleh Zefa seutuhnya setelah hubungannya dengan Kaesang terungkap. dia berubah kesal sekaligus benci pada Tyas disaat dialah perempuan yang berhasil mendapatkan Kaesang dan juga cinta tulusnya.
Huufftt ...
"To the points saja, saya ingin ibu jauhin Kaesang sekarang juga." akhirnya inilah ucapan Zefa yang menjadi rencananya. dia memang berniat menjauhkan Tyas dari Kaesang dengan cara ini. Selain benci dengan Tyas, Zefa ingin hubungan Tyas dengan Kaesang hancur lebur karena rencananya. dia ingin Kaesang kembali padanya dan hubungannya yang dulu.
Bersambung ...