
Sejak awal Kaesang memetik senar gitar dan bernyanyi, Tyas sama sekali tidak berkomentar.
Ia bisa dibilang terpesona dengan suara Kaesang yang begitu merdu dan cara bermain gitarnya yang sangatlah hebat.
Terlebih suasana di resto ini sangatlah romantis bila di tilik lebih lanjut. sejak awal kedatangan mereka di resto ini sama sekali tak ada pengunjung lain, hanya ada mereka berdua dan pelayan resto itu yang tetap stay di tempat mereka.
Tapi sejak awal Kaesang bernyanyi Tyas sudah meneteskan air matanya dan terbawa suasana oleh nyanyian Kaesang yang sangatlah mendalam.
lagu yang Kaesang nyanyikan tergolong begitu bagus dan memiliki makna yang sangatlah mendalam, lagu milik Virgoun itu menceritakan tentang seorang laki-laki yang sangat mencintai wanitanya dan begitu bersyukur bisa memiliki wanita itu dalam hidupnya.
Tyas sangatlah menyukai lagu itu, ia sudah lama memiliki lagu itu dalam ponselnya dan memutarnya bila ia menginginkannya.
Tapi itu ia dengar versi aslinya, yakni versi Virgoun yang ia download dan ia putar di waktu senggangnya.
Namun, untuk kali ini berbeda, sesaat Kaesang menyanyikan lagu ini Tyas sangat terbawa suasana dan sampai meneteskan air matanya saking terharunya ia mendengar Kaesang menyanyikan lagu kesukaannya itu.
Entah kenapa ia merasa Kaesang menyanyikan lagu itu bukan hanya sekedar bernyanyi melainkan ia seperti mengungkapkan rasa perasaannya yang begitu besar kepada Tyas.
lalu sesaat Kaesang selesai menyanyikan itu Tyas yang sangat terharu pun langsung saja bangkit dari kursinya dan berjalan tergesa kearah Kaesang.
Ia berdiri tepat di sebelah kursinya sembari menutup mulutnya, derai air matanya masih juga mengalir sedari tadi.
lalu Kaesang yang mengetahui Tyas bangkit dari kursinya dan berdiri tepat di sebelahnya sembari menangis pun membuatnya turut ikut berdiri.
semula ia letakkan gitar besar yang dipegangnya di bawah kemudian kembali menatap ke arah Tyas yang hingga kini masih juga menangis.
"Dear, kok kamu nangis, kenapa? suaraku gak bagus ya, atau kamu nggak suka sama lagu yang aku nyanyiin tadi?" tanya Kaesang sembari menepuk pundak Tyas dan menatapnya dengan sedih.
Namun sesuatu mengejutkan pun terjadi, bukannya menjawab pertanyaan Kaesang itu Tyas justru beranjak memeluk tubuh Kaesang dan menumpahkan air matanya di sana.
Huhuhu ...
"Dear, kamu nggak papa kan?" sesaat Kaesang mengetahui Tyas memeluknya sembari menangis pun membuatnya tak enak hati. ia merasa jika nyanyiannya tadi cukup merasuk ke hati Tyas dan membuatnya sampai seperti ini.
namun itu hanya dugaannya saja karena ia sendiri tak tahu apakah nyanyiannya tadi cukup disukai Tyas ataukah ia hanya biasa saja mendengarnya. Karena setelah sebelumnya ia belajar bernyanyi dan menghafal lagu ini ia pun sontak saja menepuk jidatnya setelah ia mendengar jika suaranya sangatlah fals.
"Kae, terima kasih sudah menyanyikan lagu ini, aku sangat menyukainya Kae, lagu ini adalah lagu kesukaanku, dan suaramu tadi sangatlah bagus. kamu tidak pernah bilang padaku kalau kamu pintar bernyanyi." ucap Tyas masih sembari menangis dan menarik ingusnya kuat kuat.
mengetahui jika Tyas menyukai lagu yang dinyanyikannya dan menyebut suaranya itu bagus sontak membuat Kaesang tersenyum seketika. Ia senang dan bahagia melihat respon Tyas itu, namun untuk sesuatu besar yang akan disampaikannya kepada Tyas sontak membuat Kaesang terdiam dan berfikir.
Dengan cara apa ia menyampaikannya kepada Tyas, dan dengan cara apa pula ia meyakinkan Tyas untuk menerima ajakannya itu.
Karena meminta Tyas untuk melakukan sesuatu ataupun menerima ajakannya tidak semudah yang dipikirkan.
"Kae, ehm tadi siang katanya kamu mau ngomong sesuatu ya sama aku makanya kamu ajak aku ke kantin, tapi tadi kok nggak jadi, kenapa?" tanya Tyas seraya mengurai pelukannya dan beranjak duduk kembali di bangkunya.
"kamu lupa ya kalau di belakang kita tadi ada Zefa dan gengnya? aku nggak mau kalau mereka sampai denger apa yang mau aku omongin itu." balas Kaesang sembari beranjak duduk kembali di bangkunya.
Ia yang semula mencomot sebuah cake sembari tersenyum langsung berubah serius setelah mengetahui raut wajah Kaesang itu.
Kaesang yang berubah serius membuat Tyas merinding, dan penasaran dengan apa yang membuatnya sampai seserius itu.
"Emangnya kamu ngomongin apa? kok sepertinya penting banget." tanya Tyas.
Ehm ...
Kaesang pun sontak tersenyum selepas mendengar respon Tyas itu. Ia senang mengetahui Tyas merespon ucapannya, namun untuk menjawab pertanyaannya itu Kaesang masih perlu berpikir.
"Aku mau ngajakin kamu liburan, dear, liburan ke jepang. Beberapa hari lagi kan tanggal merah, ehm rencananya di tanggal itu aku mau liburan sama kamu. Kamu nggak masalah kan kalau di tanggal itu kita habiskan buat liburan disana?" tanya Kaesang seraya menatap serius kearah Tyas dan terlihat gemetaran sedari tadi.
Keringatnya terus bercucuran selama ia mengatakan keinginannya itu, ia takut bila Tyas akan marah dan menolak tawarannya itu.
Huufftt ...
Namun, ternyata dugaannya itu tidaklah salah. Tyas tidak tersenyum dan berekspresi apapun.
Tatapannya masihlah sama seperti tadi, malahan kini terlihat seperti cemberut dan menatap kesal kearah Kaesang setelah Kaesang mengatakan keinginannya itu.
......................
Setelah selesai melakukan rapat dengan kolega bisnisnya dari luar negeri Indra yang terlihat lelah pun langsung saja beranjak pergi dari kantor dan menuju ke salah satu cafe favoritnya untuk sekedar ngopi dan melepas rasa penatnya.
awalnya ia hanya ngopi biasa dan mengecek kerjaannya di email, namun setelah sesuatu penting yang diketahuinya beberapa hari lalu lewat di beranda ponselnya lagi membuatnya begitu kesal.
sebenarnya sudah sejak lama Indra mengetahui hubungan Kaesang dengan seorang gurunya di sekolah. awalnya ia sama sekali tak mengetahui itu namun setelah ia mengunduh Instagram di ponselnya dan tak sengaja membuka akun milik Genius high school ia pun sontak terkejut selepas ia menyecroll postingannya dan menemukan sebuah berita yang sangat menggemparkan.
di sana terdapat foto Kaesang bersama seorang guru yang samar-samar Indra pernah melihatnya entah di mana.
sebenarnya foto itu hanyalah foto biasa yang seperti editan namun yang membuat Indra kaget itu adalah tulisan di bawahnya.
"Astaga, Jika benar Kaesang ada hubungan dengan guru itu apa yang harus kulakukan? aku tidak berani macam-macam dengan Kaesang karena walaupun aku ini ayahnya, aku begitu takut terhadapnya. ia adalah putraku satu-satunya, aku tak ingin kehilangannya lagi seperti aku kehilangan adiknya dulu."
"Ehm tapi wajah guru ini seperti tidak asing untukku, apa sebelumnya aku pernah bertemu dengannya ya? tapi dimana?" ucap Indra sembari menyeruput kopi cappucino yang dipesannya dan terus bertanya tanya.
Indra terus menerus menanyakan ini di kepalanya. Ia begitu penasaran bagaimana seorang seperti Kaesang bisa menjalin hubungan dengan gurunya sendiri.
bagaimana ia bisa memutuskan untuk pacaran setelah begitu lamanya ia tak menjalin hubungan.
"Apa ku ikuti saran Tony kemarin ya, untuk mencoba berbicara dengan guru itu. Siapa tahu dia mau menuruti keinginanku untuk menjauh dari Kaesang, dan dipindahkan ke sekolah lain. Tapi jika Kaesang marah bagaimana? bukankah itu akan sangat merepotkan?" lagi Indra seraya merogoh rokoknya dari saku celananya.
"Seharusnya kamu ini jadi ibunya Kaesang bukan malah menjadi pacarnya seperti ini." batin Indra seraya menatap kearah foto Kaesang dengan Tyas di ponselnya yang sebelumnya telah ia download dari akun Genius high school di Instagram.
Bersambung ...