Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 45- Kebersamaan dan cinta


Kelanjutan dari episode kemarin...


Dilain sisi, Tyas yang baru selesai bersiap dan tengah berkaca di depan meja riasnya, lalu mulai menatap kosong kedepan. Baru saja ia hendak mengambil bedaknya yang ada tepat di depannya, tiba tiba ia merasakan kepalanya pusing kembali, tapi tak sepusing tadi. Lalu ia pun buru buru tuk mengambil obat obatnya tadi, kemudian meminumnya. Setelah itu rasa pusingnya pun sedikit lebih membaik, tapi ia sedikit cemas, bagaimana jika nanti penyakitnya kambuh kembali?


'Aku khawatir, jika nanti penyakitku ini kambuh lagi, semoga saja tidak terjadi apa apa deh, kuharap.' Setelah berucap demikian ia pun segera mengambil Sling bag nya kemudian berjalan keluar kamar, dan menuju ruang tamu miliknya guna menunggu sang kekasih tiba.


Kembali pada Kaesang, ia yang sudah hampir terlelap tiba tiba saja tersentak, dan teringat jika saat ini ia ada janji untuk pergi ke pasar malam dengan Tyas, lalu saat teringat itu, ia pun buru buru bangun dari tidurnya, kemudian merapikan penampilannya, mengambil handphone miliknya, kunci mobil, dan tak lupa ia juga menyemprotkan parfum ke beberapa bagian tubuhnya, barulah setelah itu ia pun beranjak keluar dari kamarnya, dan mengendarai mobilnya menuju ke kediaman milik Tyas. Ia tengah terburu buru untuk menuju ke rumahnya, sebab jam janjiannya sudah lewat beberapa menit lalu, ia takut jika nanti Tyas akan marah padanya jika ia sampai telat dalam menjemputnya.


Sudah beberapa menit berlalu, tapi Kaesang juga belum sampai sampai di kediaman milik Tyas, ia yang tengah duduk manis di ruang tamu, sembari memainkan handphonenya, tak lupa ia juga sesekali melongok keluar rumahnya guna memastikan Kaesang telah sampai ataukah belum, tapi sedari tadi tak di dengarnya mobil milik Kaesang itu tiba di depan rumahnya, ia pun menyikapi itu dengan sabar, dan tak ingin menjadi kekasih yang terlalu lebay, ataupun membebani Kaesang, lalu di sela sela kegelisahannya, tak sengaja mobil milik Kaesang tersebut terdengar telah tiba di halaman depan rumahnya, lalu ia pun berdiri dari duduknya, berjalan kearah pintu, kemudian mulai membukanya, dan benar, orang yang telah dinanti nanti olehnya sedari tadi telah tiba, dan tengah berjalan kearahnya.


Kaesang yang telah berdiri tepat di hadapan wanita itu seolah terhipnotis dengan apa yang ada di hadapannya, sebab untuk kesekian kalinya ia terpana oleh kecantikan Tyas yang sangatlah berbeda untuknya, walau sekarang Tyas tengah mengenakan dress santai, tapi menurutnya ia tetaplah cantik, bahkan saat tak mengenakan make up sekalipun.



Setelan dress yang dikenakan Tyas;


Tyas yang melihat Kaesang ada di hadapannya, seolah kaget, dan tak percaya jika dia benar benar Kaesang, sebab orang yang ada di hadapannya ini tengah mengenakan pakaian super tertutup, dan benar benar berbeda dengan Kaesang biasanya, dan itu membuatnya melihat Kaesang dari ujung kaki hingga ujung kepala, yang semuanya serba hitam.



Setelan penampilan Kaesang;


"Maaf ya nunggu lama." Ucap Kaesang memulai.


"Eng-enggak kok gak papa. Santai aja." Balas Tyas sembari tatapannya tak berpindah sedikit pun dari Kaesang.


"Kamu kenapa sih?, kok ngelihatin aku gitu banget, aneh ya penampilan aku?" tanya balik Kaesang sembari mulai menatapi penampilannya dari atas hingga bawah, kemudian tatapannya kembali pada Tyas, dan menunggu jawaban darinya.


"Sedikit sih, habisnya ini tertutup banget, gak kayak kamu yang biasanya gitu, tapi aku sadar sih, kita kan lagi bestreet, jadi gak boleh ada yang tahu juga kan? yaudah yuk berangkat, keburu malam nanti." Jawab Tyas sembari mengomentari penampilan Kaesang tersebut, kemudian mengajak Kaesang tuk segera berangkat ke tempat dimana pasar malam itu berada.


"Iya kamu benar. Yaudah yuk." Setelah berucap demikian, Kaesang juga Tyas pun segera beranjak memasuki mobil milik Kaesang, kemudian melajulah mereka ke tempat dimana pasar malam itu berada, tanpa mengatakan apapun lagi.


Sesaat setelah itu...


Sewaktu di dalam mobil, terlihat keduanya sama sama diam, dan tak ada satu diantara keduanya yang memulai pembicaraan, hingga akhirnya Kaesang lah yang memulai pembicaraan tersebut tuk memecah kecanggungan yang sedari tadi di rasakannya.


"Dear, diem aja, kenapa?, kamu, gak enak badan ya, maaf ya kalau seumpama aku maksa kamu buat ke pasar malam bareng aku." Ucap Kaesang masih sambil menyetir, tetapi ia sempatkan tuk melirik kearah Tyas, yang saat ini terlihat tengah menatap kedepan, sembari memikirkan sesuatu hal.


"Ehm, nggak. Aku baik baik aja, cuma agak pusing dikit kok, tapi gak papa, serius." Balas Tyas sembari menatap kearah Kaesang sekilas, kemudian tersenyum kearahnya guna memecah kekhawatirannya.


"Yakin?, kalau gak kita putar balik aja ya, aku anterin kamu pulang, terus istirahat, aku gak mau maksain kamu buat datang kalau seumpama kamu lagi sakit, oke, aku anterin kamu pulang aja ya." Ucap Kaesang menawarkan, agar Tyas diantarkannya pulang saja, mengingat Tyas tengah sakit, karena dirinya tak tega jika nanti dirinya bersenang senang di pasar malam tersebut sementara Tyas sendiri tengah sakit, jadi akan lebih baik jika ia mengantarkan Tyas kembali ke rumahnya, dan takkan pergi ke pasar malam tersebut.


"Kae, aku baik baik aja kok, serius. Kamu percaya kan sama aku." Ucap Tyas sembari tersenyum kearah Kaesang, lalu menyentuh lembut lengannya guna meyakinkannya.


"Serius, kamu baik baik aja?" Tanyanya masih sedikit ragu.


"Iya, kita kesana ya."


"Yaudah, dear. Tapi kalau seumpama kamu ngerasa pusing atau gimana gimana bilang ke aku ya, oke." Pinta Kaesang sembari menoleh kearah Tyas sekilas kemudian kembali fokus menyetir.


"Iya iya, okay. Aku kan cuma ngingetin, tapi kalau seumpama kamu baik baik aja ya udah, kita lanjut, okay." Timpal Kaesang.


"Iya." Balas singkat Tyas.


Setelah percakapan singkat tersebut, Kaesang pun buru buru tuk menuju ke lokasi tempat pasar malam itu berada, yang perkiraan tinggal beberapa meter lagi. Selepas pasar malam itu mulai terlihat, Kaesang pun buru buru memarkirkan mobilnya, kemudian turun dari mobil itu bersama sama dengan Tyas. Setelah selesai membayar tiket masuk, Kaesang juga Tyas pun berjalan berdampingan sambil sesekali mengobrol, dan menatapi suasana pasar malam yang kini tengah ramai oleh pengunjung.



"Dear, kesana yuk." Ajak Kaesang pada Tyas sembari menariknya menuju ke suatu kedai yang menyediakan sebuah permainan lempar gelang kearah botol botol di depannya.


Tyas yang melihat Kaesang begitu antusias langsung tersenyum seketika, dan dirinya pun ikut bahagia sebab dapat melihat Kaesang bahagia seperti ini, lalu saat sesampainya di kedai tersebut, Kaesang yang sudah membayar dan mulai memainkannya, telah beberapa kali gagal, bahkan dirinya sendiri pun geram, lalu ia pun meminta Tyas tuk mencobanya, semula ia menolaknya dengan alasan tak dapat memainkan permainan itu, tapi setelah bujuk rayu Kaesang, akhirnya Tyas pun mau mencobanya. Dan di percobaan pertama gagal, kedua pun gagal, dan akhirnya di percobaan terakhir, mengingat gelang tersebut tinggal satu biji, Tyas pun berhasil memasukkan gelang tersebut kedalam botol, dan sontak ia pun bersorak gembira, lalu melakukan tos dengan Kaesang, hingga raut kebahagiaan mulai tergambar jelas di wajahnya. Sudah lama ia tak merasakan kebahagiaan seperti ini, dan akhirnya laki laki muda inilah yang berhasil membuat tawa bahagianya kembali, walaupun terselip rasa kekhawatiran di balik rasa bahagianya itu.


"Akhirnya, masuk juga, sampai geram aku, gagal terus."


"Iya, kamu hebat, malahan aku gagal terus dari tadi,"


"Kamu juga hebat, itu kan cuma masalah hoki aja, jadi tenang aja, oke."


"Neng, mau hadiah apa?" Tanya Abang pemilik kedai tersebut sembari menawari Tyas hadiah hadiah yang tengah terpajang manis di tempatnya guna sebagai buah atas kemenangannya itu.


Ia pun sempat bingung hendak mengambil hadiah apa, lalu setelah menimbang nimbang akhirnya pilihannya pun jatuh pada sebuah gelang unik bermotif bunga, yang sempat membuat Kaesang tertarik.


Setelah dari permainan itu, Tyas pun mengajak Kaesang tuk jalan jalan sebentar sembari melihat lihat, dan Kaesang pun setuju saja akan hal itu, lalu saat tengah melihat lihat tak sengaja dilihat olehnya ada sebuah kedai es krim di sebelah timur dari tempatnya berdiri, yang terlihat tengah sedikit pengunjung, kemudian Kaesang pun kembali mengajak Tyas kesana, dan Tyas pun setuju setuju saja, asalkan jangan terlalu banyak makan es krim, katanya. Saat sesampainya di sana, Kaesang pun segera memesan dua gelas es krim rasa stroberi coklat, dan vanilla coklat. Kemudian sembari menunggu pesanannya selesai dibuat, pergilah mereka menuju ke sebuah meja yang kebetulan tengah kosong, lalu mendudukinya. Mereka yang tengah duduk berhadapan, sembari mengobrol ngobrol, tanpa mereka sadari ternyata es krim yang mereka pesan telah selesai di buat, dan telah tersaji di hadapan mereka, dengan Abang abangnya yang telah kembali ke tempatnya, dan terlihat tengah melayani pembeli yang lain.


Kaesang yang tanpa aba aba langsung melepaskan masker mulutnya, kemudian mulai menyantap es krim vanilla coklat tersebut, dan selepas itu ia sendokkan satu sendok es krimnya lalu meminta Tyas tuk merasakannya, Tyas yang awalnya ragu, kemudian menerimanya, dan membiarkan Kaesang menyuapinya, walaupun ia sedikit malu dalam melakukan itu sebab posisi mereka saat ini tengah ramai oleh orang di sekitar mereka.


"Gimana, dear?, enak?" Tanya Kaesang pada Tyas sesaat setelah ia selesai menyuapi Tyas es krim miliknya tersebut.


"Seperti biasa, enak kok, cuma aku agak kurang suka coklat sih, tapi it's okay." Jawab Tyas sembari menikmati es krim yang tengah dimakannya itu.


"Kamu gak suka coklat, yah keburu kupesanin coklat tuh, yaudah aku pesenin lagi ya, yang gak ada coklatnya." Ucap Kaesang sembari berdiri, dan hendak berjalan memesan sebuah es krim lagi untuk Tyas, tapi dihentikan olehnya.


"Eh, gak usah, ini aja dah cukup kok." Balas Tyas, sesaat setelah itu duduklah kembali Kaesang di kursinya semula.


"Tapi tadi katanya gak suka coklat, kalau mau kupesanin lagi aja ya," Tawar Kaesang, tapi lagi lagi berhasil di hentikan oleh Tyas, ia tak mau terlalu merepotkan Kaesang untuk hal hal kecil seperti ini.


"Kae, gak papa, ini aja enak kok. Tadi aku kan cuma bilang kurang suka, bukan berarti gak suka kan, jadi gak papa, aku makan ini aja, okay. Nih liat aku makan gak papa kan, jadi tenang aja." Ucap Tyas mengelak sembari menyuapkan sesendok es krim ke dalam mulutnya, bahkan dua kali hingga mulutnya sedikit gelepotan karena es krim tersebut.


"Kamu nih, kayak anak kecil aja, makan es krim masih suka gelepotan." Ucap Kaesang sembari tertawa kecil menyikapi sikap Tyas tersebut, kemudian mengambil tissue di hadapannya, dan mengelap bibir Tyas yang terkena es krim tersebut. Tyas yang mendapati sikap Kaesang tersebut seketika dadanya berdetak kencang, bahkan tak dapat ia kontrol sama sekali.


"Ehm makasih ya, aku kalau makan es krim emang suka gini, gelepotan, maklumlah dewasa tapi berjiwa anak anak." Ucap Tyas sembari tertawa kecil menyikapi perkataannya tersebut.


"Udah biasa kalau itu mah, siapapun juga pasti gelepotan kalau makan es krim, contohnya aku, kalau udah makan es krim, pasti tuh es krimnya dah kemana mana, liat aja deh." Balas Kaesang.


Tyas yang mendengar itu seketika langsung tertawa dibuatnya, karena ternyata pribadi Kaesang sama sekali diluar dugaannya.


Bersambung.