
MAAF ATAS KETERLAMBATANNYA..
...Kelanjutan dari scene Tyas......
Selviera Andini atau kerab dipanggil Vera oleh orang di sekitarnya tersebut terlihat tengah berjalan anggun dengan muka tertekuk menuju kearah kantin rumah sakit. Ia yang semula ingin menenangkan diri di tempat tersebut sembari membeli beberapa camilan seketika berhenti dan atensinya langsung teralihkan pada sepasang sejoli di sebuah taman tak jauh dari tempatnya berdiri.
Suasana hati yang semula sudah tak baik kini semakin memanas kala menatap kearah sepasang sejoli itu, terlebih mereka adalah Ridwan dan Tyas, yang baru dikenalnya baru baru ini.
Vera yang semula ingin pergi ke kantin mulai mengurungkan niatnya awal lalu pergi secara diam diam dan memantau mereka dari kejauhan. Sesaat darahnya mendidih kala mengetahui tangan kanan Ridwan mulai menggenggam jari jemari Tyas. Ia mengeratkan kepalan tangannya lalu menatap tajam kearah mereka, ia sempat pergi dari sana selepas itu karena tak kuat menatap kemesraan mereka. Tapi sebelum ia beranjak ia sempat berucap dengan nada dinginnya, dan menatap tajam kearah mereka. "Apa yang sudah kalian lakukan padaku hari ini, akan kubalas berkali kali lipat suatu saat nanti." Selepas mengatakan itu dengan amarahnya yang terpendam Vera pun beranjak dari sana, ia memutuskan tuk pergi ke tempat tujuannya awal yaitu pergi ke kantin rumah sakit. Walau rasa sakit hatinya kini semakin bertambah sakit mengenang kejadian tadi, ia masih bisa berpikir positif, dan bisa meredam amarahnya agar tak meledak, karena kalau tidak, semua orang yang lewat dan menyapanya sedari tadi mungkin sudah kena semburnya.
"Aku tahu aku bukanlah wanita yang suci dari dosa, dan juga bukanlah wanita yang baik. Aku mungkin juga pernah berbuat tak baik di belakang mu, mencurangimu, atau pun berbohong padamu. Tapi aku tak pernah menyangka jika kamu akan berbuat demikian padaku, terlebih dia adalah perempuan yang baru kau kenal. Aku sungguh tak habis pikir akan isi kepalamu. bisa bisanya kau mengatakan dengan entengnya jika kau menyukainya di hadapanku. Aku tahu aku bukanlah gadis baik seperti idamanmu, tapi apakah kau memikirkan perasaanku selepas mengetahui pernyataanmu itu? aku begitu terkejut dan hancur kau tahu. Tapi aku tak gegabah, aku tak ingin dianggap bodoh tatkala Tyas berhasil merebut dirimu dariku. Apa kau lupa aku siapa, kau lupa siapa gadis yang membantumu sedari nol hingga sekarang, hah? mungkin Tyas jauh lebih cantik dariku, tapi jika telah merebut dirimu dariku, aku tak bisa toleran lagi padanya. Maaf mungkin aku bukanlah gadis baik, tapi sekali lagi kuingatkan jangan pernah panggil aku Vera jika aku tak berhasil merebut apa yang sudah menjadi milikku, sekalipun itu Tyas atau siapapun itu." Dengan sorot dingin dan gelas plastik yang diremasnya hingga gepeng gadis satu tahun lebih tua dari Tyas tersebut sekarang tengah duduk di sebuah bangku di pojok kantin dengan hanya seorang diri. Berulang kali ia terpaksa memasang senyumannya tatkala ada yang menyapa dirinya, atau menanyakan kesendiriannya. Tapi selepas tak ada siapapun lagi ia pun beranjak meremas gelas plastik di tangannya itu hingga gepeng dan menghancurkan beberapa es batu yang tersisa di dalamnya, sementara airnya sendiri sudah diteguknya hingga tandas beberapa saat lalu.
......................
"Maksud dokter?" Dengan sorot bingung dan jantung yang mulai berdebar sedari tadi. Tyas yang kini masih duduk berdua dengan dokter Ridwan di taman tersebut, sekarang mulai gelisah, dan pikirannya mulai dipenuhi dengan beberapa fakta fakta buruk. Berulang kali ia memalingkan mukanya kesana kemari tapi tak ada satu pun jawaban yang keluar dari mulut lelaki berumur 30 tahun tersebut. Ia masih diam sembari sorot datarnya yang ia torehkan ke depan, dan menyisakan Tyas yang masih bingung atas pernyataan yang dibuat dokter Ridwan beberapa saat lalu.
Lalu tanpa tahu sebelumnya, tiba tiba dokter spesialis penyakit dalam itu pun memalingkan wajahnya, ia menatap Tyas penuh perasaan, dan mulai menghangat, sangat jauh berbeda dari ekspresi nya awal.
"Saya suka sama Bu Tyas. Dari dulu, dari saat awal ibu berobat ke saya hingga sekarang. Maaf jika saya buat ibu terkejut akan pernyataan tiba tiba saya ini, tapi inilah kenyataannya. Bu saya tidak ingin jawaban dari ibu, ataupun tahu perasaan ibu ke saya. Tapi saya hanya ingin ibu tahu apa yang saya rasa selama ini. Dan inilah kebenarannya. Maaf Bu, jika menurut ibu ini adalah kesalahan, dan saya akan melupakannya selepas ini."
Tak tahu apa yang harus dilakukannya lagi selepas ini. Tyas yang mendengar pernyataan dokter Ridwan itu tak dapat berbuat apapun selain terkejut dan berusaha untuk baik baik saja. Ia yang ditembak secara langsung oleh lelaki lain selain muridnya, kaesang. Mendadak bingung, dan berusaha tuk tetap tersenyum sembari memalingkan wajahnya kearah lain guna menghindari tatapan mata dokter Ridwan yang sedari tadi hanya menatap kearahnya.
Tapi karena tak ingin berlama lama lagi Tyas pun merenung sejenak lalu kembali berucap dengan senyum yang perlahan mengembang, "Maaf dok, saya tak bisa menjawab perasaan dokter. Tapi saya hargai kejujuran dokter, terimakasih karena sempat suka sama saya, tapi maaf perasaan kita berbeda. yaudah dok, jika hanya itu yang mau dibicarakan, saya pamit ya. Permisi." Karena tak ada lagi yang harus dibicarakan atau dilakukannya lagi Tyas pun beranjak dari sana tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya itu. Sebab Ridwan sedari tadi bungkam tanpa berkata kata lagi, dan itu tentu saja membuat Tyas bingung dan memilih tuk beranjak saja dari sana.
......................
...Kelanjutan dari scene Di hotel......
...Pukul tiga pagi......
Lalu mata yang tak tahu semenjak kapan tertutup itu pun perlahan terbuka. Dengan sorot kabur, dan pening di kepalanya yang belum juga sembuh, lelaki tampan delapan belas tahun itu pun perlahan bangkit dari tidurnya, ia masih memegangi kepalanya yang pening sampai ia terkejut manakala mendapati dirinya yang sudah tanpa busana sama sekali. Iapun mulai berpikir, dan menerawang jauh kebelakang, guna mengetahui apa yang telah dilakukannya sebelum ini sampai akhirnya ia berada di sebuah ruangan yang nampak seperti kamar hotel dengan kondisinya yang telah full naked. Ia pun mengedarkan pandangannya ke sudut sudut ruangan tempatnya berada saat ini, hingga bola matanya membulat sempurna manakala mendapati seorang gadis yang amat amat dikenalnya. Tapi bedanya kini ia tengah mengenakan lingerie tipis hingga berhasil membuat kaesang menapaki setiap lekukan tubuh si gadis.
Dengan rambut tergerai bebas, dan tubuhnya yang nampak seksi, juga ehm aduhai. Berhasil membuat kaesang menelan ludahnya dan pandangannya pun tak beralih sedikitpun dari si gadis, apalagi si gadis juga nampak terkejut, dan langsung berjalan kearahnya.
Terlebih sesaat ia berjalan berulang kali kaesang menggeleng gelengkan kepalanya sebab kedua Boba si gadis yang lumayan menantang kini tengah bergerak naik turun tatkala si gadis mulai berjalan. Dan itu membuat pikiran kaesang mulai dipenuhi oleh hal hal yang tak pernah dipikirkan nya sebelumnya.
Bersambung.