
"Terus bagaimana dengan gadis itu, apa kamu akan membiarkannya tetap seperti itu?" tanya Tyas seraya menoleh kearah Kaesang yang tengah menyetir.
Setelah mendengar semua penjelasan Kaesang, ekspresi Tyas yang terlampau biasa hingga penjelasannya yang berhasil membuat kedua mata Kaesang membola sempurna. Kini keduanya terlihat berjalan pulang bersama. Mereka telah sama-sama memaafkan, dan memutuskan untuk memulainya dari awal.
Walau telah sama-sama memaafkan, Tyas sendiri masih merasa belum sanggup jika harus menjalani hubungan kembali dengan Kaesang. Ia masih trauma dengan apa yang baru saja terjadi di antara mereka. Ia takut jika semua masalah itu akan terulang kembali, lebih-lebih lagi rentan umur keduanya yang terlampau jauh, juga tanggapan masyarakat jika suatu saat hubungan itu akan terungkap. Namun, di tengah keraguan itu, Kaesang justru tersenyum, ia tersenyum begitu manis lalu untuk pertama kalinya dia bergerak mendekat ke arah Tyas lalu mengecup punggung tangannya hingga beberapa saat.
Dalam beberapa saat degup jantung Tyas berdetak begitu cepat. rasanya begitu kaget saat menerima perlakuan spontan itu dari seorang Kaesang. karena sudah sejak lama ia tak lagi mendapatkan perlakuan spesial itu, namun kini justru muridnya lah yang memberikannya padanya.
"Maafin aku, ya ... bahkan sampai detik ini pun aku masih belum benar-benar bisa menjadi pacar yang baik buat kamu. Aku masih gagal ngejagain kamu dan bikin kamu kecewa kayak gini. Sekali lagi maafin aku ya, sebenarnya aku nggak berhak ngomong ini, tapi di depan kamu aku berjanji, mulai detik ini aku akan selalu ada buat kamu, ngejagain kamu, dan nggak lagi-lagi buat kamu terluka apalagi nangis. Ehm ... Walau umur aku jauh di bawah kamu, tapi kamu nggak usah khawatir, karena aku akan membuat kamu bahagia sebisa aku." ucapan Kaesang terdengar pelan, dengan sebelah tangannya yang mengusap lembut punggung tangan Tyas.
Namun, kini Tyas dikejutkan oleh Kaesang yang tiba-tiba menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Loh, Kae kenapa berhenti?" tanya Tyas bingung seraya menatap ke arah Kaesang di sebelahnya. Namun, lelaki itu tak bergeming, ia tetap diam di tempatnya seraya kedua tangannya yang masih memegang roda kemudi.
pandangan yang semula menatap lurus ke depan tiba-tiba saja menoleh ke arah Tyas dengan ekspresi yang tak berubah. malahan menurut Tyas, ekspresi Kaesang jauh lebih dingin dan menakutkan dari saat sebelum keduanya berhenti.
suasananya begitu senyap seketika, tak ada satupun obrolan yang terucap dari bibir keduanya. Lantas Kaesang pun mulai melepaskan sabuk pengaman yang melilit tubuhnya dan mendekatkan dirinya pada Tyas yang masih membeku di tempatnya.
Cup.
Sebuah ciuman manis seketika mendarat di bibir merah Tyas.
dag...Dig...dug...
Jantung Tyas rasanya mau copot. Perlakuan Kaesang bahkan jauh lebih ekstrem sekarang. Dan kalian tahu, Kaesang tak berhenti sampai di situ. Ia menciumnya lagi dan lagi, bahkan kini Tyas mulai terbawa suasana dan mulai melingkarkan kedua tangannya di leher Kaesang. Hm ... dan untuk pertama kalinya Tyas melenguh nikmat seraya memperdalam ciuman keduanya.
Deru nafas dan keringat keduanya menyampur menjadi satu hingga akhirnya Kaesang terpaksa menghentikan perbuatannya sesaat Tyas memintanya untuk berhenti dan mendorong dada Kaesang untuk menjauh.
"Maaf, dear, aku kelepasan. Aku terlalu merindukanmu sampai aku tak bisa menahan diriku seperti ini." ucap Kaesang seraya memasang sabuk pengamannya kembali.
Namun, Tyas sama sekali tak bereaksi. wajahnya terlampau datar dan pandangannya yang tertunduk.
Dan karena tak mau ambil pusing, akhirnya Kaesang pun melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Tyas untuk mengantarkannya pulang.
Dan disela kecanggungan itu sebuah senyuman pun terlukis di bibir Kaesang, dia menatap ke depan dengan perasaan damai, lalu menyematkan beberapa harapan kecil di sana.
"Aku harap semuanya akan tetap seperti ini sampai nanti."
......................
Kring ... Kring ...
"Halo."
^^^"Halo, Zey, Lo dimana sekarang? jadi ke basecamp nggak?"^^^
"Gue lagi di mobil, entar dua jam lagi gue otw basecamp. Sekarang gue mau ke mall dulu ada yang perlu di beli."
^^^"Cie ngemall, tapi ntar gue nitip es cappucino ya sebelum kesini, nih anak-anak juga ada mau nitip cemilan." ^^^
"Gue beliin kalo nggak lupa. Dah ya gue tutup, bye."
Tut ... Tut ... Tut ...
Lalu dari kejauhan nampak olehnya sebuah bangunan tinggi yang menjadi tempat tujuannya. bangunan tinggi dan besar, serta full color seketika menginterupsi penglihatannya. dia pun tersenyum miring lalu melajukan kendaraannya, dan belok ke kanan ke arah jalan masuk yang tertera.
Brum ...
Sebuah pisau lipat dan sebuah pistol sekarang berada di tangannya. Dia sempat memandangi kedua benda tersebut sebelum akhirnya turun dan berjalan ke arah mall.
Tap ... Tap ... Tap ...
Sebelumnya ia telah mempersiapkan semuanya dengan begitu matang. mulai dari jaket, topi, masker semua telah ia pakai dengan begitu rapat. Ia juga membawa sebuah tas kecil yang isinya ada beberapa barang yang mungkin saja diperlukannya selama menjalankan misi.
"Aku harus menyelesaikan ini secepat mungkin." batinnya.
Dia pun berjalan santai kedalam mall seraya memandangi sekitar. Namun saat dia tengah berjalan tak sengaja dia menabrak seorang lelaki hingga terjatuh.
Brak ...
"Maaf." saat dia menoleh kearah pria yang ditabraknya, dia terkejut karena ternyata pria itu adalah seseorang yang tengah di carinya.
"Kau ..."
......................
"Zef, gue ada kabar buruk buat Lo." ucap Lina sesaat keduanya bertemu di cafe berlian sesuai permintaan Lina beberapa waktu lalu di chat.
Zefa yang mendengar pun sempat mengernyit sebelum akhirnya menghela nafas.
"Kabar apa? tumben Lo ngajak ketemu mendadak banget?" tanya Zefa santai seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
Sebuah tarikan nafas panjang seketika Lina lakukan sebelum akhirnya ia raih handphone miliknya dari dalam tas, membukanya tergesa lalu memperlihatkan beberapa foto di galerinya pada Zefa.
"Lo liat ini baik-baik. Siapa laki-laki dan perempuan di foto itu." ucap Lina serius.
Sebelumnya Zefa begitu santai memandangi beberapa foto yang Lina tunjukkan padanya. Bahkan dia begitu gampangnya mengatakan jika kaesanglah laki-laki di foto itu. Namun setelah sadar dengan apa yang dikatakannya barusan, kedua matanya pun membola sempurna, jantungnya berpacu begitu cepat, dan dia pun nampak terkejut.
"Dia Kaesang??" tanya Zefa dengan sorot terkejut.
"Benar, Zef. Dia Kaesang, dan Lo tau siapa perempuan di foto itu?" tanya Lina berapi-api.
Zefa berusaha mengontrol emosinya. Dia hela nafasnya berulang kali sambil mengatakan tidak.
"Memangnya siapa dia?" tanya Zefa lagi.
Lina pun tersenyum lalu, "Dia orang terdekat Lo Zef. Bahkan Lo sering ketemu sama dia di sekolah."
"Dia salah satu teman kita di sekolah?" tanyanya.
"Ck bukan. Dia guru Zef, masa Lo nggak ngenalin dia sih?!" ucap Lina geram.
"Guru?" Zefa pun terlihat bingung sampai akhirnya Lina pun menjawab.
"Bu Tyas Zef, dia Bu Tyas, guru bahasa Inggris di sekolah kita."
Lina sedikit menjauhkan tubuhnya dari Zefa, seraya menatap takut padanya. Karena setelah mendengar itu, Zefa sontak berdiri dari bangkunya lalu mendekatkan wajahnya pada Lina. Wajahnya terlihat menyeramkan menurut Lina bahkan dia saja sampai gemetaran.
Sorot matanya terlihat tajam, wajahnya dingin dan mimik tubuhnya terlihat berbeda.
"Kalau Lo sampai bohong, gue jamin Minggu depan Lo nggak bakalan sekolah lagi di Genius High school!" ancam Zefa serius.
Bersambung ...