
Mendengar ucapan Zefa yang terdengar serius, Tyas pun balik menatapnya dengan serius pula. Dia menghela nafas kasar dan mengalihkan pandangannya dari Zefa.
"Memang kamu murid saya, tapi apa hak kamu menyuruh saya begitu, hm? itu urusan pribadi saya dengan Kaesang, jadi kamu tak perlu ikut campur. Saya sudah tau semuanya, Zefanya, saya tau kalau kamu mendapatkan Kaesang dulu karena sikap burukmu dan caramu yang kotor. Kamu dan teman teman kamu sudah menjebaknya." ucap Tyas lantang dan serius, tak lupa tangan yang tetap terlipat di depan dada juga wajah terlihat marah.
Setelah sebelumnya Zefa mengajak Tyas ke taman dekat sekolah untuk membicarakan hal penting, rupanya Tyas pun sudah memikirkan segala sesuatu yang mungkin menjadi topik pembicaraan Zefa nantinya. Selain Kaesang dan hubungannya, apakah ada hal lain yang dapat Zefa bahas, Tyas tau jika Zefa sangat membencinya kali ini, jadi tak ada pembicaraan yang lain selain pembicaraan itu, dan rupanya dugaannya itu tidaklah salah.
Hm, mendengar ucapan Tyas barusan tentu saja Zefa terkejut dan tak habis pikir. Sebelumnya Zefa mengajak Tyas bertemu hanya ingin membahas Kaesang dan membuat hubungannya dengan Tyas itu hancur, karena dugaan Zefa sebelumnya, Tyas itu sangatlah baik, dan peduli dengan semua orang terutama muridnya, dia kira Tyas akan merasa kasihan dengannya dan merelakan hubungannya itu. Zefa kira akan semudah itu membuat Tyas menjauhi Kaesang, namun rupanya Tyas justru membuka semua aib itu. Astaga, dia tau darimana semua itu? siapa mulut yang sudah membocorkan semuanya pada Tyas?
Plok ... plok ... plok ... (suara tepuk tangan)
Tyas kira Zefa akan terkejut dan marah dengan ucapannya tadi, dia kira Zefa akan melakukan hal lain untuk memisahkannya dengan Kaesang. namun, bukannya marah Zefa malah tepuk tangan, bahkan bukan hanya itu, Zefa juga terlihat tertawa dan mundur beberapa langkah kebelakang.
"Congratulation, you are great, miss. hahaha, you are great, anda bisa menebaknya dengan sangat benar, hahaha." ucap Zefa seraya tertawa dan bertepuk tangan.
Selain Tyas, kedua sahabat Zefa juga sama terkejutnya seperti Tyas. mereka hanya diam seraya tetap memandangi Zefa, mengawasinya, dan bingung dengan tertawanya yang begitu aneh.
"Apa yang kau tertawakan, Zefanya? apakah ucapan saya tadi adalah hal yang lucu?" tanya Tyas masih dengan ekspresi yang sama.
"Apakah kau tak sadar dengan apa yang kau tertawakan ini?" lagi Tyas.
Setelah mendengar cecaran Tyas, Zefa yang semula tertawa pun berubah diam, dia melayangkan tatapan tajamnya pada Tyas, lalu berjalan perlahan kearahnya.
Tyas mengira Zefa hanya lah ingin mengobrol lebih dekat dengannya, namun ternyata dugaannya salah. Zefa bukanlah ingin mengobrol dengannya melainkan dia mendorong Tyas kebelakang dengan sangat keras. Begitu kerasnya dorongan Zefa, sampai yang di dorongnya pun jatuh tersungkur ke tanah yang berbatu batu.
Ouch ...
"Zefanya, kamu ..." rupanya Tyas terjatuh tepat di tanah yang berkerikil dan berbatu batu. selain pantatnya yang nyeri karena bertabrakan langsung dengan batu, rupanya telapak tangan kirinya pun sedikit tergores dan mengeluarkan darah segar.
Zelyn yang melihat itu hanya mampu terdiam seraya membulatkan matanya sempurna, dia tak mengira jika Zefa akan sampai seperti ini. Astaga, Bu Tyas bahkan sampai jatuh, itu pasti akan semakin runyam, kan?
"Jika anda tau lalu apa yang mau anda lakukan, hah?" pertanyaan Tyas tadi berhasil membuat Zefa mendelik kesal, dan mengepalkan kedua tangannya di bawah sana.
Dorongan Zefa ini termasuk sesuatu hal di luar rencananya. dia awalnya hanya ingin mengobrol dengan Tyas dan menjauhkannya dari Kaesang. Namun, hal yang Tyas tau dan ucap, tentu saja membuat Zefa terkejut dan tak segan segan tuk melakukan hal yang lebih. dia yang sebelumnya takut tuk melakukan hal yang kasar pada Tyas yang notabenenya adalah Guru, menjadi berani dan jauh lebih beringas.
Setelah mengusap tangannya yang berdarah, Tyas pun beranjak berdiri kembali. dia mengusap rok beserta lengan bajunya yang lumayan kotor serta ujung bajunya yang juga kotor serta basah oleh air.
Zefa pun tersenyum miring, kilatan amarah terpancar jelas dari matanya, ia melipat kedua tangannya di depan dada lalu menyorot begitu tajam kearah Tyas.
"Jika anda bukanlah pacar Kaesang, dan anda tetaplah guru seperti biasanya, mungkin hal seperti ini tidak akan pernah anda alami. Mungkin anda akan hidup tenang dan jauh dari bahaya." ucap Zefa tegas.
"Sebenarnya anda itu cantik Bu Tyas, anda juga baik, dan ramah pada kami semua, pada guru maupun pada pak Zaky. Sebenarnya saya dulu menyukai anda, dan segala yang ada pada anda. Tapi, setelah Kaesang, orang yang sangat saya cintai anda ambil, rasa suka, segan dan semua hal baik dari saya untuk anda sudah saya hapus." lagi Zefa seraya tersenyum sinis.
"Lalu apa yang kamu mau, hm?" tanya Tyas.
"Sudahlah, ibu tak perlu menutupi semuanya dari saya, saya tahu semuanya. itu memang rencana Anda, kan? Anda berpacaran dengan Kaesang hanya karena hartanya saja, iya kan?" timpal Zefa masih dengan ekspresi yang sama.
"Diam, Zefanya. kamu tahu apa soal saya? memangnya kenapa jika saya berpacaran dengan Kaesang, dan pernah di ciumnya. jika kamu memang tak suka dengan saya atau hubungan ini, mau kamu apa, hah? tak lelah kamu bicara panjang lebar seperti ini?" ujar Tyas seraya meninggikan suaranya.
Zefa tersenyum masam mendengar ucapan Tyas. dia bahkan mengepalkan tangannya kuat dan rahangnya terlihat mengeras.
"tentu saja saya tidak akan membiarkan hubungan anda dengan Kaesang berjalan mulus. Saya akan menghalalkan segala cara untuk menjauhkan Anda dari Kaesang, dan membuat reputasi anda hancur." timpal Zefa lalu berbalik dan menarik kedua temannya tuk pergi dari sana, meninggalkan Tyas yang masih termangu di tempatnya masih dengan posisi berdiri dan tangan terkepal erat menahan amarah.
"Lakukanlah apa yang mau kamu lakukan, Zefanya, mau kamu menghinaku, atau melakukan apapun itu, aku tidak peduli. aku akan tetap mempertahankan Kaesang, dan cinta yang kami miliki." ucap Tyas.
......................
" pa, papa nggak kasihan sama aku ya, papa ngelakuin semua ini hanya demi keuntungan papa sendiri kan?" ujar marah Kaesang sesaat dirinya dan papanya sudah di perjalanan pulang.
"Kae, papa tau kamu kaget dan marah dengan perjodohan mendadak ini. papa tau kamu marah sama papa karena nggak ngomong sama kamu sebelumnya. tapi, jika kamu kira perjodohan ini papa lakukan hanya demi keuntungan papa sendiri, kamu salah besar, Kae." timpal Indra masih sembari menyetir mobilnya.
"Kae, dulu kamu pernah bertemu dan berteman baik dengan Celine sewaktu di rumah nenek di kampung. dia adalah teman masa kecilmu yang sangat kamu sukai." ucapan indra kali ini berhasil membuat Kaesang tersentak dan seketika mengalihkan pandangannya kearah sang ayah.
"Teman masa kecil ..." ucap Kaesang seraya berpikir dan mengingat ingat, apakah sebelumnya dia memang pernah bertemu dengan Celine atau kah tidak. Apakah ucapan papanya itu benar atau cuma sebuah trik demi lancarnya perjodohan itu.
Bersambung ...