
...Kelanjutan dari episode 55......
Dari sore menjelang malam, kini di sebuah perpustakaan pribadi dengan satu sorot lampu di satu sisinya, nampaklah kaesang tengah duduk di depan cahaya lampu tersebut dengan pandangan matanya tak lepas dari buku novel di hadapannya, ia memilih tuk menyibukkan malam ini dengan membaca beberapa novel di perpustakaan pribadinya tersebut, karena jika pun ia ingin menghubungi Tyas, ataupun hanya sekedar tuk menanyakan kabarnya, itu terkesan lebay, karena mengingat dia baru saja menelponnya, lalu kembali pada novel romance di hadapannya, sesaat ia membalik satu halaman di novel tersebut, didapatinya sebuah pembatas buku bergambar dua ekor beruang madu coklat, dan itu membuatnya teringat sesuatu, Yap, pembatas buku ini adalah pemberian dari Vierra dua tahun yang lalu, tepatnya saat ia tengah belajar guna ujian akhir yang hendak mereka jalani. Dirinya yang saat itu tengah fokus membaca buku materi di tangannya, tiba tiba fokusnya teralihkan dengan kedatangan Vierra yang langsung memberikannya pembatas buku tersebut, dan pergi.
Mengingat memori itu kembali, kaesang lantas meremas pembatas buku tersebut, lalu melemparnya ke sembarang arah. Ia begitu kesal, kenapa masih ada saja sisa sisa kenangannya dengan Vierra, padahal setahun lalu ia sudah membuang semuanya, bahkan ia sempat membakarnya. Tapi ternyata masih ada kenangan kenangan kecil yang tersisa.
..............................................................
Selepas selesai membuang paket tadi di luar rumah, dan mendapati jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, Tyas pun memutuskan tuk langsung tidur saja, mengingat esok ia akan menjalankan operasi kelimanya tepat pukul sembilan pagi di rumah sakit Medika Mandiri.
Tapi sebelum menutup matanya, ia sempatkan meraih sebingkai foto kedua orang tuanya di atas nakas, memandanginya sebentar, menciumnya lalu menaruhnya kembali di tempatnya. Ia berharap jika operasi kali ini akan berjalan lancar, bahkan berbeda dari yang sebelum sebelumnya, tapi semoga saja memang seperti itu.
..................................................................
...Di keesokan harinya........
Saat sinar matahari sudah melewati setiap celah di jendela kamarnya, dan menyorot kearahnya, kaesang pun lantas membuka kedua matanya sayu, kemudian beranjak bangkit dari tidurnya, meregangkan tubuhnya, lalu memutar pandangannya kesegala arah, saat mendapati semuanya biasa saja, dan aman, kaesang pun lantas bangkit dari ranjangnya, dan memutuskan tuk mandi bersih bersih sebelum akhirnya ia memutuskan tuk pergi ke salah satu villa milik keluarganya di pegunungan dekat puncak, tepatnya di Bogor. Sebenarnya ia ingin mengajak Tyas juga berlibur kesana, tapi mengingat Tyas ada urusan mendadak, makanya ia putuskan tuk pergi seorang diri kesana.
Selepas selesai bersih bersih, dan berganti pakaian dengan setelan khusus berliburnya, kaesang pun tengah mempersiapkan tas kecilnya dengan beberapa pakaian serta satu dua buah alat make up nya, dan satu buah parfum. sebelum beranjak ia menyempatkan diri tuk berkaca di depan cermin besarnya, mengecek jam, selepas itu keluarlah ia dari dalam kamarnya sembari menenteng tas kecilnya tadi.
Sesaat ia diluar dan hendak menutup pintu kamarnya, tak sengaja ia berpapasan dengan papanya yang juga baru keluar dari kamarnya dengan setelan jas lengkap dengan sepatu hitamnya, kaesang yang melihat itu tak mau terlalu menggubris, lalu berlalu begitu saja, tapi sang ayah yang juga melihatnya, langsung berjalan cepat guna menyusul mensejajarkan diri di samping sang putra.
"Mau kemana, Kae, gak sekolah?" tanya Indra pada kaesang saat dirinya sudah berjalan tepat di samping sang putra.
"Ke villa kita di puncak. Lagipula ini kan udah libur semester, jadi aku bebas dong mau liburan ke mana pun yang aku mau, udah ya pa, aku pergi dulu." Selepas selesai mengatakan itu, kaesang pun mulai dengan buru buru menuruni tangga, dan berlalu pergi begitu saja. Indra yang mendapati sikap kaesang tersebut hanya bisa geleng geleng kepala sebelum akhirnya ia pun turut meninggalkan rumah guna berangkat ke kantornya, mengingat hari ini ada rapat penting dengan beberapa koleganya.
...........................................................
Dilain sisi, Tyas yang baru terbangun dari tidurnya, seketika merasakan kepalanya pusing kembali tapi untungnya tak sepusing yang kemarin kemarin, lalu mengingat ini masih pukul setengah tujuh pagi, dirinya pun memutuskan tuk beberes rumah terlebih dahulu, barulah setelah itu ia akan siap siap guna perjalanan pergi ke rumah sakit.
Walaupun rumah milik Tyas ini tak terlalu besar, tapi jika hanya tinggal seorang diri tentu akan sedikit melelahkan jika beberes, dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya setiap hari, dan tentu saja sepi. Tapi bagi seorang Tyas itu sudah biasa, dan cenderung dunianya, mengingat ia sudah ditinggal pergi kedua orang tuanya sesaat ia masih berumur sepuluh tahun. Tapi untuk sekarang ini ia sudah terbiasa dengan keadaan tersebut, walaupun kadang ia juga merasa kesepian, dan butuh seorang teman hidup.
..................................................
Lalu di sela sela menyetirnya dia kembali diingatkan oleh sosok Tyas yang katanya akan berpergian ke Cianjur hari ini, dan tentunya seorang diri, kaesang teringin sekali tuk mengantarkannya kesana, tapi anehnya Tyas malah menolak niat baiknya itu, dengan alasan yang berhasil membuat kaesang mengernyit. Tapi ia lupakan sejenak semua pemikiran itu, dan perhatiannya kembali ia fokuskan pada jalanan yang kini mulai terlihat ramai, bahkan mobil mobil sudah banyak berlalu lalang. Mengingat puncak masih jauh, dan dia juga belum sarapan pagi, ia pun memutuskan tuk mampir sejenak di resto resto terdekat sembari membeli beberapa camilan.
..............................................................
Di sebuah swalayan yang kebetulan tengah sepi pengunjung kita di perlihatkan sesosok pria tampan nan tinggi yang kerab di sapa pak Zaky tersebut tengah berbelanja beberapa barang di swalayan tersebut seorang diri. Ia mengambil beberapa keperluan yang dibutuhkannya, kemudian selepas usai ia pun membayarnya ke kasir, dan pergi. Tapi baru saja ia hendak menaiki motornya, perhatiannya pun teralihkan oleh sebuah Lamborghini putih yang melintas di jalanan satu meter di depannya, ia seperti teringat sesuatu sesaat ia menatap mobil tersebut, tapi segera di tepisnya itu, kemudian mulailah ia menaiki motornya dan pergi.
.......................................................
Di sebuah kamar minimalis dengan desain uniknya, nampaklah sesosok gadis cantik, nan putih tengah duduk sembari menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang, dan setengah kakinya masih tertutupi selimut. Dia adalah Agnes, ia masih saja merenungi atas apa yang telah dikerjakannya semalam, ia menyesal tapi semuanya terkesan tak berguna, sebab semua penyesalan pada kaesang hanya akan mendatangkan malapetaka baginya, dan tentu saja jika ia menyesalinya sekarang itu sudah sangat terlambat. Tapi mengingat tentang lelaki itu, Agnes kembali teringat, dimana dulu dirinya, Vierra dan juga kaesang sama sama bersekolah di suatu SMP yang sama, hanya saja saat itu Agnes tak satu kelas dengan kaesang, mengingat saat pembagian kelas, dirinya tak mendapatkan kelas yang sama dengannya, tapi karena ia adalah sepupu jauh Vierra, teman sekelas sekaligus pacar kaesang, ia jadi sering bertemu dengan lelaki itu, apalagi kalau sedang istirahat sekolah, mereka jadi sering ngobrol, dan bertemu satu sama lain.
Ia sempat dibuat kagum bahkan menyukai sosok kaesang tersebut karena penampilan sempurnanya, berulang kali ia mencoba tuk menepis pemikiran tersebut mengingat kaesang adalah pacar sepupu baiknya, yaitu Vierra, tapi semakin ia sering bertemu dengan kaesang karena paksaan Vierra, dirinya menjadi tak dapat lagi memendam perasaannya tersebut, pernah sekali ia mengungkapkan perasaannya itu pada kaesang di belakang sekolah, dan tepat sekali saat itu tak ada Vierra, jadi dia bisa dengan leluasa mengobrol dengan kaesang. Walaupun ia merasa tak enak dengan Vierra, karena tengah menyukai pacarnya, ia tetaplah melakukan itu, karena menurutnya, perasaan, dan cinta itu tak ada yang tahu, bahkan bisa saja cinta itu datang pada waktu yang tak tepat, contohnya seperti sekarang ini, dia bisa dapat menyukai kaesang padahal posisinya dia adalah pacar sepupunya sendiri.
"Mau ngomongin apa sih lo, sampe ngajakin gue ke belakang sekolah segala, pakek berdua duaan lagi, cepet mau ngomongin apa Lo sama gue, soalnya gue habis ini ada janji sama Vierra buat ngerjain tugas bareng di perpus." Tanya kaesang pada Agnes dengan sorot mata malas, juga muka datarnya yang senantiasa melekat di wajahnya.
Agnes yang bingung mau memulai dari mana lantas gugup, keringat dinginnya mulai luruh dan membasahi wajahnya, dan tubuhnya pun nampak gemetaran sedari tadi, dirinya bahkan sama sekali tak dapat mengangkat kepalanya, dan menatap wajah lelaki itu, mengingat ini adalah kali pertama ia mengungkapkan perasaannya pada seorang lelaki.
"Aku...ada yang mau aku sampaikan ke kamu, tentang suatu hal." Jawab gugup Agnes, ia masih tak dapat mengangkat wajahnya, dan tetap menundukkan kepalanya sedari tadi, ia bahkan meremas ujung roknya saking gugupnya.
"Hah?, kok jadi formal gini, apa sih yang sebenarnya mau Lo omongin ke gue, cepet, dah mau bel nih." Desak kaesang pada Agnes sembari memandangi arlojinya berulang kali.
"Ah, gue, gue, gue suka sama Lo sang, gue udah suka Lo dari dulu, tapi Lo tenang aja, gue gak minta balasan apapun kok, gue cuma mau ngungkapin perasaan gue aja, dan gue harap Lo ngerti." Sahut Agnes tanpa titik koma sedikit pun, dan kini ia mulai memberanikan diri mengangkat wajahnya, dan menatap kearah kaesang dihadapannya, saat menatap wajah kaesang, ada sorot bingung yang terpancar jelas di matanya, tapi Agnes berharap semoga kaesang mengerti akan perasaannya ini.
"Wbahaha, belajar ngelawak dari mana Lo sampe bisa bikin candaan sekocak ini, gue inget kalau Vierra lihat ini pasti dia bakal ketawa paling kenceng saking lucunya, hahaha lain kali jangan gini lagi ya nes, takut sakit perut gue ketawa mulu, haha. Ehm udah kan, gak ada yang mau diomongin lagi kan, gue cabut ya, dah ditungguin Vierra di perpus kayaknya, hmm kalau Lo mau ikut boleh aja sih, eh, oh iya Lo kan beda kelas ya yaampun, sorry sorry, yaudah gue cabut dulu ya, hati hati Lo, jangan suka kayak gini lagi, capek gue." Selepas tertawa, dan mengejek semua perkataan Agnes barusan, kaesang pun pergi begitu saja tanpa merasa bersalah sedikitpun, ia melangkah dengan santainya guna menemui Vierra di perpus, dan meninggalkan Agnes yang masih setia berdiri di tempatnya, ia masih tak percaya jika respon kaesang akan seperti ini, bahkan ia tak menganggap serius semua ucapannya. Tapi melihat respon kaesang seperti itu, hati Agnes pun seakan teriris, rasanya begitu sakit, ia sempat menangis sebelum akhirnya ia hapus air matanya itu sesaat di dengarnya bel masuk sudah berkumandang.
..........
Sesaat kenangan itu tiba tiba terbesit begitu saja di kepalanya, Agnes pun buru buru menyeka air matanya yang sempat luruh, kemudian bangkit dari ranjangnya, dan mulai memasuki kamar mandi pribadinya, guna menuntaskan kewajibannya sebagai seorang wanita, karena tepat sekali ia tengah datang bulan saat ini, dan karena halangannya ini dirinya jadi tak diberi tugas lagi oleh atasannya, ataupun menunggu sampai datang bulannya ini sembuh, tapi menimbang ini, akhirnya udara segar pun bisa kembali di rasakannya, dan dirinya juga bisa bernafas lega untuk dua hari kedepan, mengingat pekerjaan berat yang beberapa hari ini di kerjakan nya.
Bersambung.