Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 158 -Tentang Zelyn


Tap ... Tap ... Tap ...


Setelah melewati jalan berbelok-belok dan melintasi lampu merah, kini langkah Kaesang sudah tiba di sebuah butik mewah milik teman dari papanya.


Huufftt ...


Kaesang pun langsung mendengus selepas setibanya Ia di depan butik itu ia mendapati jika butik itu dalam keadaan ramai. terlihat banyak pengunjung di dalam butik itu mau dari anak-anak, orang dewasa maupun remaja semuanya ada di dalam butik itu.


Bahkan, Kaesang pun semakin kesal selepas dilihatnya adanya Zefa dan kedua temannya di sana. ketiga gadis itu tengah memilih-milih pakaian di dalam butik itu.


"Ngapain sih mereka pake ada di sana segala!" batin kesal Kaesang.


Setelah menunggu beberapa saat lamanya ketiga gadis itu tak kunjung keluar dari butik itu. Lalu Kaesang yang sudah cukup bosan pun segera melangkahkan kakinya pergi dari sana.


selangkah dua langkah Kaesang terus berkeliling di dalam mall itu sampai akhirnya ia tiba juga di lantai paling atas dari mall itu. di sana Kaesang tak juga menemukan sebuah toko yang cocok dengan kriterianya.


Namun, mengingat jika hari sudah semakin malam pun membuatnya tak ada pilihan lain selain mampir di sebuah butik yang lumayan sepi di hadapannya. lebih tepatnya berada di 200 meter dari tempat Kaesang berdiri.


di titik ini Kaesang tak menemukan adanya pengunjung lain di toko itu. rasanya begitu sepi tidak seperti toko-toko yang lain. Namun, karena toko favoritnya sekarang tengah ramai dan Ia juga bingung untuk akan pergi ke mana lagi untuk membeli pakaian akhirnya Kaesang pun pergi ke toko yang sepi itu.


sesampainya Kaesang di dalam toko itu ia pun disambut dengan begitu ramah oleh mbak-mbak penjaga kasir di toko itu. sepertinya kedatangan Kaesang cukup menyorot perhatian banyak orang Karena setelah Kaesang memasuki toko itu beberapa gadis dari luar toko juga turut masuk di belakang Kaesang. banyak diantara mereka yang hanya berdiri di depan toko maupun mengikuti langkah Kaesang di belakangnya.


lalu saat Kaesang tengah sibuk memilih-milih pakaian mana yang akan dibelinya Ia pun sedikit tersentak sewaktu mendapati punggungnya ditepuk dengan lembut dari belakang.


Dengan segera Kaesang pun langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya. di sana ia mendapati seorang perempuan matang berusia kisaran 30 tahunan tengah berdiri di hadapannya sembari tersenyum. Senyum yang begitu manis dan terkesan tulus.


"Mas Kaesang, terima kasih banyak sudah menyempatkan diri mampir ke toko saya. Sebagai pemilik toko ini, saya merasa sangat senang dan berterima kasih bisa bertemu dengan Mas Kaesang. Sekali lagi, terima kasih banyak, Mas. Silakan memilih pakaian mana yang Mas suka. Mohon maaf jika koleksi pakaian di toko saya tidak sepenuhnya memenuhi harapan atau selera Mas," kata wanita itu, membuat Kaesang terkejut seketika.


Kaesang merasa terperanjat ketika seorang wanita yang menurutnya sangat asing, ternyata mengenal dirinya. Dari mana wanita ini mengetahui namanya? Dan mengapa dia begitu bahagia melihat Kaesang datang ke tokonya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengusik pikirannya.


"Maaf mbak siapa ya, dan bagaimana Mbak bisa tahu nama saya? perasaan kita belum pernah bertemu sebelumnya." pertanyaan Kaesang sukses membuat wanita di hadapannya ini tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Saya Astrid mas. Teman kuliahnya mas Indra dulu sekaligus sahabat dekatnya. saya bisa tahu nama mas Kaesang ya itu karena mas Indra selalu membahas tentang mas Kaesang sewaktu kita bertemu ataupun saat di obrolan WhatsApp. sejak dulu sampai sekarang kita masih sering bertukar pesan hanya saja beberapa hari ini mas Indra sudah lost contact dengan saya. Ehm, maaf ya mas Kaesang saya jadi terbawa suasana begini." sahut Astrid sembari menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil.


lalu Kaesang yang tak peduli pun langsung saja berdehem.


"Papa lagi sibuk kerja mbak, palingan sampai beberapa ke depan bisa lost contact terus. Ehm saya ke sini mau cari jaket hoodie hitam, kaos putih polos sama celana chinos ada nggak mbak?" tanya Kaesang mengalihkan pembicaraan.


Sejak pemilik toko ini membahas tentang Indra pada Kaesang membuat Kaesang begitu risih. ia merasa tidak senang jika hal pribadi tentang keluarganya ataupun dirinya dibahas di luar seperti ini, terlebih itu pada orang asing.


Jika benar Astrid adalah teman kuliah papanya dulu itu tidak masalah. tapi jika Astrid berbohong bagaimana? lagi pula sejak dulu papanya tidak pernah membahas tentang kuliahnya ataupun teman-temannya dulu sewaktu kuliah.


Indra memang begitu humble, ceria dan enak diajak ngobrol. papanya itu adalah sosok kebalikan dari dirinya. jika Kaesang itu begitu dingin dan cuek, Indra justru adalah kebalikan dari Kaesang.


Indra juga adalah orang yang sangat terbuka kepada siapapun, Indra akan mengatakan apapun yang mereka tanyakan bila itu memungkinkan. tapi sejak dulu Kaesang tak pernah mendapati papanya membahas tentang hal pribadi kepadanya ataupun kepada teman-temannya.


Lalu Astrid yang tahu jika Kaesang tak nyaman dengan perkataannya pun langsung saja mengantar Kaesang ke tempat pakaian yang Kaesang sebutkan tadi.


Lokasinya berada sedikit jauh dari tempat mereka berdiri tadi. Namun, semakin masuk ke dalam toko Astrid, Kaesang pun semakin tahu jika toko ini sangatlah mewah dan juga berkelas.


Lokasi gedungnya yang sangat luas, pakaian yang beraneka ragam serta lampu yang begitu terang membuat Kaesang menganggukkan kepalanya berulang kali.


Toko ini terlihat begitu mewah tak jauh berbeda dari toko-toko yang sering didatanginya. Bahkan, toko Astrid ini jauh lebih mewah dari itu.


Namun, mengapa hingga kini hanya Kaesanglah satu-satunya pelanggan di toko ini? memang tadi ada beberapa gadis yang turut masuk ke toko ini mengikuti Kaesang. Namun, setelah kemunculan Astrid gadis itu pun langsung beranjak pergi dari toko ini.


"Nah, ini mas pakaian dan celana yang mas Kaesang cari." ucap Astrid di saat langkahnya dan Kaesang telah tiba di tempat jejeran pakaian yang tadi Kaesang sebutkan.


Di sana, Kaesang memandangi setiap pakaian yang telah disebutkannya sebelumnya, semua tampak begitu mewah dan sangat lembut. Saat jemari Kaesang menyentuh pakaian tersebut, tubuh dan hatinya seketika terpukau oleh kelembutan kain yang halus bak sutra.


Lalu tanpa menunggu lama Kaesang pun langsung memilih-milih pakaian dan celana mana yang akan dibelinya, dan itu masih sembari ditemani Astrid di sisinya.


Wanita itu terus saja menemani Kaesang sampai Kaesang selesai memilih pakaiannya.


"Mas Kaesang, selama ini mas Kaesang kenal dengan anak saya nggak? anak saya itu juga sekolah di Genius high school loh. Dia cewek dan kalau di sekolah dia sangatlah pendiam. Ehm, mas Kaesang ada kenal dengan anak saya gak atau pernah bertemu gitu?" tanya Astrid tiba-tiba.


Di situ Kaesang pun langsung mengalihkan atensinya ke arah Astrid, dan memikirkan siapa orang yang Astrid maksud.


Murid di Genius high school sangatlah banyak dan tentu saja Kaesang tidak peduli dengan semuanya. Namun, jika Astrid bertanya tentang apakah ia kenal dengan anaknya tentu saja Kaesang tidak kenal.


Bagaimana bisa kenal jika Kaesang saja tidak kenal dengan anaknya Astrid, jangankan dengan anaknya dengan ibunya saja Kaesang baru kenal hari ini.


"Siapa namanya?" tanya Kaesang kemudian.


lalu sembari tersenyum Astrid pun menjawab, "Aisha Zelyn Nathania mas namanya, kalau panggilannya itu Zelyn. Dia kelas XI IPA 3 sekarang."


Kaesang merasa cukup kaget setelah mendengar jika wanita dewasa di hadapannya ini ternyata adalah ibu dari Zelyn. Gadis lumayan baik, dan sering sekali membantunya di sekolah.


"Oh Zelyn. Kalau dia mah saya kenal mbak. dia temen sekolah saya." ucap singkat Kaesang.


Lalu Astrid yang mengetahui jika Kaesang kenal dengan anaknya pun langsung saja bersujud syukur. Dari sorot mukanya yang terlihat senang membuat Kaesang bingung dengan apa yang membuat Astrid sampai sesenang itu. Bukankah perkataan Kaesang tadi biasa saja ya?


"Syukur deh kalau mas Kaesang kenal dengan anak saya. Saya cukup susah lho mas cari anak yang kenal dengan anak saya. Sejak dulu saya pengen banget mengawasi anak saya jika di luar rumah. Soalnya kalau di rumah dia kelihatan biasa saja dan pendiam, bahkan kalau di sekolah pun dia juga selalu mengatakan kalau dia adalah anak yang pendiam. Tapi mas, beberapa hari yang lalu saya mendapat kabar dari seorang anak teman saya yang kebetulan temannya Zelyn juga. Dia mendatangi saya di toko ini dan ngomong kalau anak saya itu sering sekali datang ke tempat-tempat seperti bar kayak gitu untuk minum-minum dan juga mabuk-mabukan. Sebenarnya gimana sih mas sifat anak saya itu kalau di sekolah? dia nggak pernah curhatin atau ngungkapin kehidupan pribadinya sama saya ataupun suami saya. Saya khawatir banget mas kalau anak saya itu sampai terjerumus ke dalam pergaulan yang salah." jelas Astrid lengkap dengan sorot khawatir dan cemas di wajahnya.


Bersambung ...