
Kelanjutan dari episode kemarin...
Sebuah mobil Ferrari hitam baru saja tiba di kediamannya dengan seorang pria dewasa yang adalah pemilik dari mobil itu, ia yang baru saja tiba di halaman depan rumahnya, segera untuk turun, mengunci mobilnya itu, lalu berjalan memasuki rumahnya yang kebetulan tak sedang dikunci. Selepas sampai di dalam rumahnya, ia edarkan pandangannya ke segala arah, guna mencari seseorang, dan setelah tak dijumpainya sosok yang tengah dicarinya itu, ia pun beranjak tuk memanggil asisten rumah tangganya, guna menanyakan seseorang yang tak dapat dijumpainya tadi.
"Bi...bi Inah..." Panggil Indra pada salah satu asisten rumah tangganya yang bernama Inah tersebut sembari memainkan handphone di tangannya. Lalu nampak dari kejauhan seorang wanita paruh baya tengah berlari kearah pria tersebut, dan seketika berhenti satu meter di depannya, wanita itu bahkan hanya menundukkan kepalanya, dan tak berani menatap kearah tuannya, yang menurutnya sedikit menakutkan.
"Enggeh tuan," jawab wanita yang bernama Inah tersebut sembari tetap menundukkan kepalanya, tanpa mau menatap kearah tuannya sedikitpun.
"Kaesang, kemana ya bi, kok dipanggil gak nyaut nyaut?" Tanya Indra pada ART nya tersebut sembari menatapnya sekilas, lalu fokus pada handphonenya kembali.
"Eh, anu tuan, den Kaesang, keluar naik mobilnya sekitar beberapa jam an yang lalu." Jawab wanita tersebut takut takut.
"Keluar?, kemana ya bi, bibi tahu gak tuh anak perginya ke mana?" Tanya lagi Indra masih tak mengalihkan pandangannya, dan kini ia pun mencoba tuk menelpon putra semata wayangnya itu, tapi sedari tadi tak diangkatnya teleponnya itu oleh anak tersebut, dan setelah tak adanya jawaban dari seberang, Indra pun mematikan Panggilnya itu dengan kesal.
"Ehm, maaf tuan, bibik Ndak tahu, Aden perginya kemana, tapi tadi bibik liat Aden perginya kayak pakai pakaian tertutup, terus kelihatan buru buru gitu." Jawab wanita bernama bi Inah tersebut.
"Ehm kemana ya kira kira perginya tuh anak?, kok kayak mencurigakan gitu. Hmm yaudah bi, biarin, ntar juga pulang sendiri anaknya. Nih, taruh di kamar Kaesang ya." Ucap Indra sembari menyerahkan beberapa belanjaannya pada Inah agar ditaruhnya di kamar Kaesang, baru setelah itu melenggang pergilah ia dari sana.
"Ah, baik tuan." Jawab Inah sembari menerima belanjaan tersebut dari tangan sang majikan.
..............................................................
Disisi lain, Di tengah ramainya pasar malam tersebut, Kaesang yang tanpa persetujuan dari Tyas terlebih dahulu, langsung begitu saja menarik tangan Tyas menuju ke suatu arena permainan yang nampak seperti roller coaster tapi jalurnya agak sedikit berliku. Ia bahkan sudah membayar tiketnya, dan menarik Tyas tuk menaiki wahana tersebut.
Tyas yang sedari tadi terbengong saat Kaesang memutuskan semua itu tanpa persetujuannya, dan langsung menariknya begitu saja, seketika langsung berontak saat roller coaster ini baru saja berjalan, dan meminta Kaesang tuk segera menurunkannya.
"Eh, ini beneran jalan nih, serius. Kae, aku mohon turunin aku Kae, aku takut banget naik ini, please, aku gak berani, ahhhhh." Ucap Tyas sembari memegang lengan Kaesang erat, kemudian memasang muka paniknya, dan seketika teriaklah ia saat roller coaster ini naik ke jalur lebih tinggi, dan turun kebawah dengan sangat cepat.
"Udah dear, tenang aja. Gak papa kok, kan ada aku, lagipula aku heran sih, ternyata muka kamu lucu juga ya kalau lagi ketakutan gitu," Balas Kaesang sembari tertawa kecil menatap kearah Tyas yang terlihat tengah ketakutan.
"Ih, jadi kamu mau balas dendam ya sama aku karena abis aku jahilin tadi, gitu, hmm. Mentang mentang pemberani, pakai ajakin aku ke roller coaster segala, gak tahu ya kalau aku paling takut kalau naik roller coaster. Ih, pokoknya kalau roller coaster ini dah berhenti, aku gak bakalan maafin kamu." Ucap Tyas sembari memukul pelan bahu Kaesang, lalu melepaskan pegangan tangannya itu dari lengan Kaesang, tapi selepas itu, saat roller coaster ini naik ke Medan yang lebih tinggi, dan turun mendadak, Tyas kembali berteriak, dan tangannya kembali memegang lengan Kaesang erat, bahkan ia hampir saja memeluknya.
..........................................................
Dilain sisi, Seorang perempuan cantik berambut lurus sebahu lengkap dengan dress hitamnya, tengah duduk di sebuah taman dengan seorang pria dewasa yang berumur 20 tahun diatasnya. Perempuan itu tengah membicarakan sesuatu hal dengan pria tersebut, ia bahkan terlihat sangat akrab dengan pria tersebut, saking akrabnya pria tersebut bahkan sempat mengusap lembut puncak kepala sang perempuan, dan si perempuan sontak langsung tersenyum kearahnya, dari situ saja menandakan kalau hubungan mereka sudah sangat akrab, tapi itu tak tahu pasti.
"Gimana om, apa tugas saya selanjutnya?" Tanya sang perempuan sembari memasang muka datarnya, menatap kearah pria tersebut.
"Cukup kamu lakukan apa yang saya suruh kamu lakukan, jadi jangan sesekali kamu bertindak gegabah seperti tempo lalu, untung saja bocah itu tak mengenalimu, kalau tidak, bisa bisa hancur semua rencanaku." Ucap tegas pria tersebut.
"Maafin saya om, saya sungguh sungguh tidak tahu kalau ternyata lelaki itu juga ada di cafe tersebut, dan juga menyadari keberadaan saya, kalau seumpama saya tahu lebih awal saya pasti akan langsung buru buru pergi dari sana, dan menghindari lelaki itu melihat wajah saya. Ah, apalagi dia juga lihat bara lagi. Tapi om tenang aja, saya yakin dia pasti gak ngenalin saya, karena itu sudah dua tahun lebih. Jadi...selanjutnya apa yang harus saya lakukan?" Tanya lagi perempuan itu takut takut.
"Hah, baiklah, Agnes, saya minta kamu lakukan satu hal penting." Balas pria tersebut sembari menyuruh perempuan bernama Agnes tersebut tuk datang mendekat kearahnya, lalu membisikkan sesuatu hal padanya, dan setelah mendengar apa yang pria itu bisikkan padanya, sontak raut muka Agnes pun berubah, ia bahkan sempat tersentak, dan tak percaya akan apa yang baru saja di dengarnya ini.
"Ini...serius om?!" Tanya Agnes tak percaya.
"Kenapa?, memangnya ada dari muka saya ini tengah bercanda, hah, udah, cukup kamu lakukan saja apa yang saya perintahkan tadi, dan tak usah kau banyak bertanya. Tapi ingatlah, jangan sampai ada yang tahu semua pekerjaanmu ini, atau kau sendiri yang harus menerima akibatnya. Mengerti?!" Jelas pria tersebut sembari meninggikan suaranya, dan menatap intens perempuan muda di hadapannya.
"Ehm, me-mengerti om, saya pasti akan melakukannya dengan hati hati, dan saya jamin laki laki itu gak akan tahu semuanya. Jadi om tenang aja, dan percayakan saja semuanya sama saya, saya pasti akan melakukannya dengan baik, seperti yang om harapkan." Janji perempuan bernama Agnes tersebut sembari menundukkan kepalanya takut.
"Baiklah, saya tunggu hasilnya." Balas pria tersebut, selepas mengatakan itu, dan menyentuh pelan bahu sang gadis, pria itu pun melenggang pergi dari sana, dan meninggalkan Agnes sendirian di taman tersebut. Ia masih tak percaya dengan tugas baru yang akan dikerjakannya ini, dan bagaimana bisa ia harus melakukan semua itu pada orang yang sangat disukainya.
................................................................
"Tadi katanya gak bakalan maafin, terus kok sekarang masih pegangin lengan aku sih, kenapa?, gak bisa marah ya, hmm." Tanya songong Kaesang.
"Ih, please deh, ini karena aku lagi ketakutan aja ya, nanti kalau roller coaster ini dah berhenti aku gak bakalan biarin kamu lolos, pokoknya kamu harus Nerima pembalasan dari aku." Balas Tyas sembari tetap mengeratkan pegangannya pada lengan Kaesang, dan mulai menutup kedua matanya.
"Terserah." Timpal Kaesang singkat, selepas mengatakan itu, roller coaster pun naik turun lagi secara mendadak, dan itu tentu saja membuat Tyas semakin ketakutan, ia bahkan berteriak paling kencang karena hal itu.
Setelah roller coaster ini berhenti, Tyas buru buru turun dari dalamnya sembari gemetar ketakutan, ia bahkan berkali kali melontarkan tatapan tajamnya pada Kaesang, karena telah berhasil mengerjainya.
"Yaudah iya iya, maafin aku ya, karena udah ajak kamu naik roller coaster tanpa persetujuan dari kamu dulu. Sebenarnya aku gak tahu sih kamu takut naik roller coaster atau gak, awalnya niat aku sih cuma mau seneng seneng aja sama kamu, eh ternyata kamunya beneran ketakutan, yaudah kuterusin deh, maaf ya, dear, janji gak lagi lagi deh. Hmm, dimaafin gak nih cowoknya?" Tanya Kaesang pada Tyas sembari memasang muka melasnya.
"Iya dimaafin, habisnya tadi aku juga jahil ke kamu, jadi sekarang kita impas ya, awas lho kalau kamu sampai jahil lagi ke aku, gak akan pernah ku maafin sampai kapanpun." Jawab Tyas sembari memajukan bibirnya lima centi, dan melipatkan kedua tangannya di depan dada, kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Iya iya, gak lagi kok. Hmm, gini deh, sebagai tanda permintaan maaf aku, gimana kalau kamu aku traktir permen kapas, mau gak?" Tawar Kaesang, saat mendengar tawaran Kaesang itu, Tyas pun sempat berpikir sejenak, sampai akhirnya ia menyampaikan keputusannya itu.
"Permen kapas?, gimana ya, yaudah deh boleh, mumpung aku lagi pengen jajan juga, tapi ingat ya, satu aja jangan banyak banyak." Balas Tyas, setelah tahu jika Tyas menerima tawarannya itu, sontak Kaesang pun langsung melontarkan senyuman manisnya itu pada Tyas.
"Iya, tenang aja, kalau perlu segerobaknya juga kubeliin buat kamu kalau kamu mau, tapi karena kamu maunya cuma satu, yaudah sekarang kita beli yuk, tempatnya gak jauh kok, cuma tiga meter dari sini." Ucap Kaesang sembari menunjuk jauh kedepan.
"Aish, buat apa segerobaknya, mau jualan permen kapas kamu?, yaudah yuk kesana, beli." Timpal Tyas, selepas mengatakan itu, beranjak pergilah mereka dari sana, dan berniat tuk pergi membeli permen kapas di tempat yang mereka sendiri tak tahu lokasi magangnya di sebelah mana.
"Kalau kamu mau aku lakuin itu, ya pasti bakal kulakuin, asalkan kamu bahagia." Ucap Kaesang menimpali pertanyaan Tyas barusan, dan dari nada bicaranya, sepertinya ia sungguh sungguh dalam mengatakannya.
Tyas yang mendengar Kaesang mengatakan itu, seketika langsung menatap kearahnya, akan tetapi tak berapa lama selepas itu, kembali tatapannya ia arahkan ke depan, dan kembali melanjutkan langkahnya tanpa mau memikirkan apapun.
...Selang beberapa saat kemudian......
Saat sesampainya mereka berdua di lokasi tempat permen kapas itu dijual, Kaesang pun buru buru tuk memesan tiga buah permen kapas dengan warna merah muda, hijau, dan biru, Tyas yang mendapati Kaesang memesan tiga buah permen kapas, seketika langsung menatap heran kearahnya.
"Serius nih kamu pesen tiga?, buat siapa aja tuh?" Tanya iseng Tyas.
"Buat aku satu, buat kamu dua."
"Lho kok dua, kan aku mintanya cuma satu.."
"Gak papa, biar kenyang,"
"Mana kenyang kalau cuma makan permen kapas doang, ah Kae, kok dua sih, yaudah deh, udah di pesenin juga." Ucap Tyas.
"Gak papa sekali kali."
Selepas mengatakan itu, tiga buah permen kapas yang dipesannya pun telah selesai dibuat, dan Kaesang pun dengan segera merogoh saku celananya, dan di jumpai nya selembar uang lima puluh ribuan dari dalam saku celananya itu, lalu tanpa pikir panjang ia berikan selembar uang lima puluh ribuan itu pada si penjual, dan tanpa memungut kembalian, Kaesang pun segera menarik Tyas berjalan satu meter dari gerobak permen kapas tersebut.
"Gimana, udah?" Tanya Tyas selepas mereka berhenti.
"Ya udahlah, nih buktinya permen kapasnya dah ku bawa." Balas Kaesang sembari menunjukkan tiga buah permen kapas yang barusan ia beli itu pada Tyas.
"Kamu nih, kayak anak kecil aja, pakai ada ide buat beli permen kapas segala, padahal tadi aku gak minta lho, tapi ujung ujungnya kamu malah beli tiga." Ucap Tyas menyikapi perilaku Kaesang barusan, yang bisa dipandang layaknya anak kecil.
"Udah gak papa, kan sekali kali. Oh iya, dah mau mulai nih, kita kesana yuk." Ajak Kaesang lagi, tapi kini ia tak menjelaskan mau kemananya.
"Kesana kemana?, capek tahu." Tanya Tyas.
"Itu, bentar lagi ada pertunjukan kembang api, kayaknya menarik deh, kita lihat kesana yuk, lokasinya ada di tengah tengah lapangan. Tenang aja gak jauh kok, kita cuma diharuskan jalan kedepan satu meteran aja. Kalau gak aku gendong aja gimana, takutnya kamu kenapa Napa lagi, kan dirumah tadi katanya kamu lagi pusing." Tawar Kaesang.
"Hmm, kalau masalah pusing mah, udah baikkan dari tadi, kalau seumpama aku lagi pusing juga, gak mungkin deh aku bisa muter muter sama kamu nih, sampai naik roller coaster segala, tapi yaudah deh, kita lihat bentar aja, habis itu pulang ya, janji." Ucap Tyas sembari memasang muka serius.
"Iya, janji. Yaudah yuk ku gendong, katanya tadi capek." Balas Kaesang sembari membungkukkan badannya, dan bermaksud agar Tyas datang, dan mau digendong olehnya.
"Yaudah, tapi jalannya pelan aja ya, gak usah lari, takut jatuh soalnya." Ucap Tyas sembari datang, dan langsung mau digendong oleh Kaesang, walaupun ada perasaan takut di setiap ucapannya itu.
"Iya, udah santai aja." Timpal Kaesang. Selepas mendapati Tyas telah berhasil di gendongnya, maka berjalanlah Kaesang ke tempat dimana pertunjukan kembang api itu akan terlaksana. Sembari memelankan langkahnya, ia pun sempat berpikir, 'Semoga hari ini gak akan pernah berakhir,'
Bersambung.