Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 111 -Menjadi sepasang kekasih


Setelah selesai makan, kedua pasangan beda usia tersebut langsung pergi meninggalkan tempat itu. Mereka nampak kembali menaiki mobil si pria seraya mengobrol dan membahas banyak hal, namun si pria yakni Kaesang, dia tak sadar dengan jalan yang dilaluinya sekarang.


Setelah Tyas meminta Kaesang untuk mengantarkannya ke rumah orang tua Tyas di jalan Kamboja, Kaesang tidak bereaksi apapun, namun baru sesampainya mereka tepat di depan tempat dengan jalan yang tadi Tyas sebut, Kaesang baru sadar jika tempat itu adalah pemakaman.


Tyas langsung turun begitu saja dari mobil Kaesang dan tentu saja diikuti oleh Kaesang di sebelahnya. Mereka hanya diam selama memasuki area pemakaman itu sampai akhirnya langkah kaki Tyas berhenti tepat di tengah-tengah pemakaman tersebut. Dia memandangi kedua nisan di depannya beberapa saat lalu berjongkok di sebelahnya.


Tyas nampak meneteskan air mata lalu mengusap kedua nisan tersebut dengan lembut.


"Ayah, bunda ... Tyas datang. maafin Tyas, karena Tyas baru sekarang datang ke rumah kalian. Tyas kangen sama kalian, ayah, bunda, gimana keadaan kalian sekarang di sana? Apa kalian bahagia? Apa kalian lihat Tyas sekarang? Tyas baik-baik aja ayah, bunda, Tyas sehat. Kalian tidak perlu khawatirkan Tyas...." Tyas terdengar berbicara pada kedua nisan orang tuanya. Dia terlihat sesenggukan sambil sesekali menarik ingusnya.


Kaesang tak bereaksi apapun. Dia tetap diam seraya berjongkok di sebelah Tyas. Tangannya sibuk mengusap-usap punggung Tyas, berusaha menenangkannya namun dia sendiri kaget dengan apa yang dilihatnya sekarang.


Dia lupa jika Tyas sempat menceritakan padanya perihal kedua orangtuanya yang telah meninggal.


"Om, Tante ... Saya Kaesang ..."


Kaesang mulai berbicara pada kedua makam orang tua Tyas seraya tersenyum. dia membicarakan banyak hal, mulai dari pertama kali dia bertemu Tyas, semuanya Kaesang ceritakan dengan jelas seolah olah dirinya memang tengah mengobrol dengan kedua orang tua Tyas sungguhan.


Mimik wajahnya menunjukkan kesungguhan, sampai tanpa sadar Tyas tersenyum dan terpesona oleh pembawaan Kaesang yang begitu berkharisma.


......................


Seorang gadis terlihat keluar dari sebuah minimarket seraya menenteng kantong belanjaannya yang lumayan besar. Gadis itu adalah Zeya. Dia baru saja membeli beberapa kebutuhannya untuk di apartemen barunya itu. Setelah sebelumnya dia pindah, dan menetap di sebuah apartemen mewah di jalan Bougenville tiga, dia belum membeli kebutuhan apapun termasuk makanan. Dia hanya membeli seperlunya saja bahkan untuk makan saja dia akan pergi makan di luar.


Huufft ...


Setelah melihat jika semuanya telah terbeli, Zeya pun pergi dari minimarket itu, dia mulai berjalan kearah motornya yang baru saja di ambilnya dari rumah lamanya dan hendak menaikinya.


Namun, saat langkah kakinya hampir sampai pada motor miliknya itu, dia tanpa sengaja bertabrakan dengan seorang gadis asing seusianya. Gadis itu mengenakan celana jeans navy, dengan Hoodie full size berwarna putih yang menutupi hampir setengah tubuhnya. wajah gadis itu pun tak terlihat, dia mengenakan masker hitam yang berhasil membuatnya tak dikenali siapapun.


Gadis itu nampak terburu-buru sampai tak melihat sekitarnya. bahkan saat bertabrakan tadi saja, dia langsung terjatuh dan membuat hp yang dipegangnya terpelanting dengan keras ke tanah.


"Sorry ya, gue nggak sengaja. Gue lagi buru-buru tadi. Aduh, belanjaan Lo berantakan ya, sorry ya." ucap gadis itu penuh rasa bersalah. Setelah tau dirinya menabrak seseorang sampai terjatuh dan membuat belanjaannya berantakan, gadis itu pun langsung memungut belanjaan orang yang di tabrak nya itu lalu menyerahkannya.


Zeya yang melihat itu hanya mampu menarik nafas dalam. Dia memang sedang tak terburu-buru namun jika harus terjadi hal seperti ini, tentu saja akan merepotkannya.


"Nggak masalah. ngomong-ngomong hp Lo rusak ya, gue ganti baru ya." ucap datar Zeya seraya meraih hp gadis yang menabraknya itu. Hp itu terlihat retak di layarnya, karena memang saat hp itu terjatuh layarnya lah yang menghadap tanah terlebih dahulu.


Gadis itupun menggeleng kuat.


"Nggak usah, nggak papa. Gue yang salah karena udah nabrak Lo, jadi Lo nggak usah ganti, nggak papa, serius." ucap gadis itu seraya menatap kearah Zeya.


Namun, karena tak mau membuang waktunya untuk hal seperti ini, Zeya pun merogoh kantong jaketnya lalu meraih segepok uang seratus ribuan dari kantongnya itu kemudian menyodorkannya pada si gadis yang belum diketahui namanya itu.


"Untuk ganti hp Lo yang rusak." setelahnya Zeya bangkit dari posisinya terjatuh lalu hendak berjalan pergi, namun...


"Zeya." setelahnya Zeya benar-benar pergi. Dia kembali berjalan kearah motornya terparkir lalu menaikinya dan melesat cepat menembus teriknya sinar matahari pada hari itu.


"Hm, nama yang bagus." batin Agnes seraya tersenyum miring.


......................


Setelah dari pemakaman, Kaesang dan Tyas pun berjalan pulang. Sebenarnya Kaesang masih belum mau pulang namun, Tyas terus saja membujuk Kaesang untuk mengantarkannya pulang. Selain karena mereka habis dari pemakaman, suasana hati Tyas menjadi tak karuan setelah dari makam orang tuanya itu. Dia menjadi sedih dan kembali teringat dengan mendiang kedua orang tuanya.


Tapi, waktu di perjalanan pulang, Tyas pun tertidur. dia kelihatan lelah setelah keduanya terjebak berjam-jam di kemacetan.


"Kamu cantik sekali, dear. Walau kamu keringetan seperti itu, nggak sedikitpun mengurangi aura kecantikan mu, justru kamu terlihat semakin cantik dan membuatku tak bisa untuk tak mencintaimu. Aku kecanduan denganmu, sayang." ucap lirih Kaesang seraya memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.


Selain karena dia merasa lelah, Kaesang ingin beristirahat barang semenit pun. Namun, saat melihat Tyas yang tertidur pulas, pikiran Kaesang pun menjadi kacau. Dia menarik nafas dalam-dalam sembari membuang pikiran negatifnya itu.


"Nggak boleh, Kae. Nggak boleh, kalau Lo sampai ngelakuin itu, bisa habis Lo. Tyas bakal benci banget sama Lo, dan nggak mau maafin Lo lagi." pikir Kaesang seraya menghela nafas berat.


Namun, pikiran dan hati berkata lain. Kaesang pun mendekatkan tubuhnya kearah Tyas lalu mengecup bibir ranum Tyas begitu lama. Dia bahkan tak hanya mengecupnya saja, namun dia juga ********** dan memainkannya dengan lihai.


Karena merasa tak nyaman dengan tidurnya, Tyas pun pelan-pelan membuka matanya lalu sangat terkejut setelah melihat apa yang Kaesang lakukan padanya. Bahkan Kaesang saja sampai terjungkal kebelakang saking terkejut melihat Tyas yang tiba-tiba terbangun.


Dia merasa cemas, dan takut dengan ekspresi Tyas yang berubah datar. Merasa jika apa yang sempat di pikirkan nya menjadi kenyataan, Kaesang pun menundukkan kepalanya, tanda ia menyesal dengan perbuatannya pada Tyas. Dia lebih mementingkan egonya ketimbang resiko yang akan didapatnya nanti.


Namun, sesuatu mengejutkan terjadi setelahnya. Tyas yang semula terdiam setelah tau Kaesang menciumnya, dan Kaesang merasa jika Tyas telah marah padanya, justru hal lain membuatnya kembali terkejut.


Tyas berubah tersenyum lebar lantas mendekatkan tubuhnya pada Kaesang dan mengecup bibirnya sekilas. Dia mulai memeluk tubuh lelaki muda di hadapannya lalu menenggelamkan wajahnya pada dada bidang lelaki itu.


"Kenapa nggak bangunin aku kalau kamu mau itu?" tanya Tyas.


Kaesang pun kembali terkejut untuk yang kesekian kalinya.


Apa maksud Tyas? Apa dia sudah memberiku lampu hijau? apa dia serius dengan ucapannya itu?


"Aku boleh melakukannya? Apa kamu takkan marah atau membenciku jika aku sampai melakukannya padamu?" tanya Kaesang lengkap dengan bariton rendahnya yang sialnya berhasil membuat seorang perempuan seperti Tyas kecanduan, dan tentu saja semakin mencintainya.


Tyas pun menegakkan tubuhnya, dia menatap lelaki muda di hadapannya lalu tersenyum malu-malu.


"Kita sudah menjadi sepasang kekasih. Apa yang kamu mau dariku pasti kuberikan, asalkan kau tidak melewati batas. Kamu, paham kan dengan ucapanku?" tanya Tyas dan dijawab anggukan oleh Kaesang.


......................


Bersambung ...