Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 93 -Terungkapnya Kebenaran


"Kenapa sih gue pakek sekelas sama Zefa, mending gue nggak sekolah daripada harus sekelas sama dia." batin Zeya seraya melangkahkan kakinya melewati koridor sekolah dan hendak pulang.


Di sisi lain, Tyas yang baru saja selesai dari toilet dikejutkan oleh beberapa suara siswi dari arah luar bilik toilet. Suaranya lumayan keras hingga membuat Tyas mendengar mereka dengan cukup jelas, bahkan Tyas tau siapa siswi yang berbicara itu.


"Gue kesel tau nggak, gue udah susah-susah jebak Kaesang buat jadi milik gue, mulai dari gue buat dia minum wine dengan dosis tinggi, trus gue jebak dia di hotel, sampai gue buat dia jadi pacar gue, buat apa gue lakuin semua itu kalau akhirnya dia sama Zeya. Buat apa! Lagian sial banget, ngapain sih tuh guru pakek jadiin mereka satu kelompok, mana tuh cewek nurut aja lagi, gue tau dia pasti terpesona sama Kaesang, secara dia kan pangeran sekolah. Lagipula ngapain sih papa pakek masukin Zeya ke kelas gue, udah bagus dia di kelas sebelumnya, trus sekarang gue harus berbagi kelas sama dia gitu?!" marahnya dengan nada tinggi.


"Fa, jangan kencang-kencang ngomongnya, ntar ada yang denger bisa berabe." ingat Zelyn.


"Biarin, emang gue peduli." balas Zefa acuh.


Mendengar semua yang Zefa ucapkan membuat jantung Tyas berpacu dengan cepat. Ia kaget bahkan nyaris teriak jika tak ingat jika ia masih berada di toilet. Bahkan matanya sampai membola dan ia pun sampai jatuh terduduk saking terkejutnya.


"Apa semua itu benar? Kenapa rasanya sesak sekali mendengar semua kebenaran itu, apa aku masih menyukai Kaesang?" ucap Tyas lirih.


......................


Setelah selesai menyelesaikan beberapa meeting, Indra yang kebetulan ada janji dengan Lisa untuk mengobrol di rumah, ia pun segera melajukan mobilnya dan beranjak pulang sebelum Lisa benar-benar sampai. Ia bahkan telah membeli beberapa kue untuk ia berikan pada Lisa. Namun setelah sampainya ia di rumah, ia dikejutkan dengan kehadiran Lisa di sana. Ia telah berdiri di depan pintu rumah Indra seraya memandang kearah mobil Indra yang mulai berhenti.


..........................


"Kamu udah sampai dari tadi? Maaf ya udah buat kamu menunggu." ucap Indra setelah keduanya sampai di dalam rumah.


"Nggak masalah mas, lagian emang akunya yang datang kecepatan. Oh iya gimana sama kerjaan kamu, semuanya udah beres? Aku takut saat kamu tinggal pulang gini tapi kamu masih ada kerjaan di kantor." tanya Lisa seraya menggenggam lembut tangan Indra dan menatap kearahnya.


"Nggak masalah sayang, semuanya udah beres kok, kamu nggak usah khawatir. Oh iya nih aku bawain kamu kue." Indra pun menunjuk kearah sebuah kotak kue diatas meja yang tadi sempat di belinya di toko kue langganannya sebelum pulang.


"Oh iya? Makasih ya sayang." balas Lisa seraya tersenyum.


"No problem, baby."


"Mas, gimana sih rasanya besarin anak sendirian, pasti kamu capek banget kan, banyak pikiran trus belum lagi kalau anak itu rewel, kamu pasti bekerja keras banget buat sampai di titik ini." tanya Lisa.


"Iya sayang, kamu bener. Tapi untung aja Kaesang itu anaknya anteng banget dari kecil. Dia nggak pernah rewel, cuma ya tetep capek kalau besarin dia sendirian. But, I'm fine karena kan emang udah jadi kewajiban aku." balas Indra.


"Mas, ngomong-ngomong ibunya kaesang meninggalnya karena apa?" tanya Lisa seraya memainkan jari jemari Indra.


"Aku nggak tau, karena kan emang dia meninggalnya saat kita udah pisah. Emang kenapa sih, tumben kamu nanya?"


"Ya cuma nanya aja sih."


"Oh iya mas, Kaesang itu sekolah nya di mana, kok pulangnya kayak sore-sore gitu?" tanya lagi Lisa.


"Oh, ehm mas, kamu laper nggak? Mau aku masakin?" tawar Lisa.


"Boleh, yuk aku bantuin."


Setelahnya keduanya melangkah kedapur, dan mulai kegiatan memasaknya. Indra yang notabenenya tak pernah menyentuh dapur pun langsung teriak manakala mendengar suara ricuh dari ikan yang ia masukkan kedalam minyak penggorengan yang telah panas. Bahkan ia juga sampai menangis saat mengiris bawang merah. Sungguh begitu lucu saat melihat Indra seperti ini, bahkan Lisa saja sampai tertawa melihat tingkah lucu Indra yang berbeda seperti biasanya.


Tapi di sisi lain, Kaesang tengah duduk termenung di starligh cafe. Dia kepikiran dengan Tyas. Dia bersentuhan dengannya namun, dia sama sekali tak mengatakan apapun padanya selain kata maaf. Bahkan sampai minumannya dingin pun Kaesang masih kepikiran dengan kejadian tadi siang. dia tak bisa berhenti berpikir dan mencari cara tuk keluar dari masalah ini. Namun masalahnya dia belum bertemu dengan cara yang tepat itu.


Hingga suara dering telepon mencuri atensi Kaesang sepenuhnya.


.......


"**Halo."


^^^"Halo, Kae, ini gue Aron**."^^^


"*Oh, Aron. Gimana Lo udah temuin apa yang gue cari?"


^^^"Udah Kae. Beres, sekarang orangnya lagi otw ke rumah gue, Lo mau kesini?" ^^^


"Sorry ya, gue nggak bisa ke rumah Lo sekarang. Gue lagi ada urusan, tapi thank ya Lo udah bantuin gue."


^^^"Nggak masalah Kae, santai. Lagian Lo kan sepupu gue, jadi udah sewajarnya dong gue bantuin Lo saat Lo kena masalah. Ehm oh iya, jadi masalah Lo itu gue yang handle nih?" ^^^


"Iya, tolong Lo urus ya. Gue lagi ada urusan nih, ntar kalo dah kelar gue kerumah Lo deh."


^^^"Siap. Yaudah, gue tinggal buka pintu bentar ya, orangnya dah sampai nih."^^^


"Okey, thank ya bro."


^^^"yok*."^^^


Setelahnya Kaesang merasa tenang. Dia dapat bernapas dengan lega. Sebab dia telah menemukan apa yang selama ini di carinya, bahkan ini jauh lebih cepat dari dugaannya.


"Semoga aja bisa cepet kelar deh." ucap Kaesang sendiri.


Bersambung ...