
Beberapa saat kemudian ...
sudah lebih dari pukul 14.30 sore, waktu yang menandakan jika jam pelajaran sudah selesai pun membuat semua anak-anak di Genius high school menjadi riuh.
Mereka sibuk mengemasi barang-barang mereka dan memasukkannya ke dalam ransel, mulai dari buku, kotak pensil, maupun alat make up dari para anak cewek mulai mereka masukkan satu persatu.
Namun sewaktu Kaesang yang telah selesai mengemasi barang-barangnya dan telah memasukkannya kembali ke dalam ranselnya kini terlihat Tengah sibuk mengirimkan pesan pada seseorang.
tatapannya terlihat serius dalam mengirimkan pesan itu, tak ada satupun senyum yang terlukis di wajahnya. tidak seperti biasa saat ia bertukar pesan dengan Tyas, karena jika Kaesang bertukar pesan dengan Tyas tentu saja ia akan tersenyum, namun kali ini berbeda.
Siapa lawan bicara Kaesang itu?? muka Kaesang terlihat begitu serius, bahkan sedari tadi tatapannya tidak lepas dari layar ponselnya itu.
"Siapa orang ini, bisa-bisanya dia mengancamku seperti ini?! apa dia tidak tahu siapa aku ini, mengirimkan ancaman lewat WhatsApp, dasar penakut, lihat saja akan ku blokir kamu!" setelahnya Kaesang benar-benar memblokir nomor asing itu.
Ia langsung saja menghapus nomor asing itu Dan meletakkan ponselnya di atas meja. rasa-rasanya sering sekali Kaesang mendapatkan pesan ancaman dari nomor yang tidak dikenal.
memang ancamannya hanya lewat WhatsApp ataupun SMS, tapi jika hampir setiap hari selalu mendapatkan pesan ancaman seperti itu bukankah akan sangat mengganggu?
berulang kali Kaesang mengganti nomornya hanya karena ingin menjauh dari ancaman-ancaman seperti itu. ini adalah hampir yang ke-100 kalinya Kaesang mengganti nomornya, tapi lihat, baru saja ia merasa senang karena beberapa hari ini tak ada yang mengiriminya pesan ancaman, kini langsung muncul sebuah nomor asing yang mengirimkan rentetan pesan ancaman yang begitu nyelekit.
itu pun sudah Kaesang blokir tadi, semoga setelah ini tidak ada nomor asing lagi yang mengancamnya. ia sudah sangat lelah, jika bukan karena Tyas Kaesang pasti sudah membuang hp-nya dan tidak akan pernah menggunakan HP lagi.
"Baiklah anak anak jangan lupa nanti tugas dari saya tadi segera dikerjakan ya dan akan saya cek minggu depan, baiklah itu saja yang mau saya sampaikan, terima kasih dan selamat siang." setelah tahu jika waktu mengajarnya sudah berakhir pun membuat guru itu bergegas mengemasi barang-barangnya dan beranjak meninggalkan kelas setelah sebelumnya mengatakan pada semua muridnya untuk segera mengerjakan tugas darinya itu.
dia adalah guru sejarah Indonesia atau jika dulu adalah PPKN bernama Bu Setiawati. Dia terkenal begitu ramah dan juga sangat baik kepada semua muridnya. kepribadiannya sangatlah positif dan murah senyum, namun jika tentang tugas dia sangatlah tepat waktu.
seperti saat ini saja, Dia memberikan tugas tidak terlalu banyak namun juga cukup menguras pikiran, memang sih waktu mengumpulkannya tidak dalam waktu dekat ini, namun anak-anak yang tidak pandai dalam pelajaran sejarah tentu saja dibuat pusing oleh tugas dari bu Setiawati itu.
"Untung gue pinter, jadi tugas kayak gini mah buat gue nggak masalah ya .." ucap Kaesang dalam hati sembari tersenyum miring menatap ke arah teman-temannya yang sedari tadi terus menerus ngedumel sendiri.
Lalu di saat Bu Setiawati sudah pergi meninggalkan kelas, semua anak-anak pun juga turut pergi meninggalkan kelas. satu persatu dari mereka mulai meninggalkan kelas sampai di kelas ini pun hanya tinggal Kaesang dan Zeya saja yang masih setia duduk di kursi mereka masing-masing.
"Lo gak ada niat buat balik Zey? mau nginep di sini?" tanya Kaesang sembari menoleh ke arah Zeya dan tersenyum miring ke arahnya.
lalu Zeya yang saat itu Tengah sibuk memainkan ponselnya pun perlahan mulai menoleh sekilas ke arah Kaesang.
"Bentar lagi, masih sibuk gue." sahut Zeya.
"Sibuk ngapain lu, sibuk menangin domino hah?" tanya Kaesang sembari tertawa.
sepertinya menggoda Zeya itu nggak ada salahnya, cewek dingin sepertinya jika tidak digoda pasti akan sama saja, perlu sedikit godaan agar dia bisa berubah, dan tidak dingin terus seperti itu.
Kaesang berpikir seperti itu walaupun sebenarnya ia pun juga sama seperti Zeya.
lalu Zeya yang memang Tengah begitu serius membalas pesan di ponselnya pun membuatnya mendengus kesal dengan pertanyaan receh Kaesang itu.
sebelum pergi dari kelas, Zeya sempat mengacungkan jari tengahnya ke arah Kaesang, dan membuat Kaesang menggelengkan kepalanya mengetahui itu.
Kaesang pun sontak menoleh ke kanan dan kirinya, Ia pun sontak saja tersenyum sewaktu mendapati jika dirinya saat ini hanya sendirian saja di dalam kelas.
lalu ia yang sebelumnya memang ingin menemui Tyas di ruang guru pun membuatnya bangkit berdiri dari bangkunya kemudian beranjak pergi dari kelas.
suasana di luar kelas begitu sepi, tak ada seorangpun yang berada di luar kelas selain dirinya sendiri.
Melihat ini tentu saja Kaesang khawatir, dia takut jika Tyas sudah pulang duluan, karena saat ini pun hanya ada beberapa gelintir orang saja yang masih berlalu lalang di area sekolah.
itupun hanya pak satpam, dan juga guru-guru yang lain.
Kaesang yang saat itu terus melangkahkan kakinya menuju ke ruang guru pun membuatnya begitu terkejut sewaktu mendapati pintu ruang guru Tengah terbuka dan di sana ia mendapati Tyas Tengah tertidur di mejanya.
Kaesang yang mulai memasuki ruang guru mendapati jika seisi ruang guru sudah kosong, tak ada siapapun di ruangan itu selain Tyas dan dirinya sendiri.
melihat Tyas yang tertidur membuatnya begitu kesal, bisa-bisanya guru-guru yang lain tidak membangunkan Tyas dan memberitahukannya Jika waktu pelajaran sudah berakhir.
jika saat ini Kaesang tidak datang ke ruang guru pasti ia tidak akan pernah tahu jika Tyas masih berada di ruangan ini.
lalu dengan perlahan-lahan Kaesang pun mulai menepuk-nepuk bahu Tyas dan membangunkannya.
berulang kali Kaesang menepuk-nepuk bahu dan punggung Tyas guna membangunkannya, tapi dari semua cara itu Tyas belum kunjung terbangun.
tidurnya begitu nyenyak, sampai tepukan itu pun tidak membuat Tyas terbangun.
kemudian sesaat Kaesang mulai berpikir, dengan cara apa lagi dia untuk membangunkan Tyas pun membuatnya terpikirkan sebuah ide gila.
namun karena tak ada cara lain lagi, Kaesang pun menghela napas dan akan melakukan cara itu.
Ia pun mulai merendahkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Tyas, ditatapnya wajah itu lumayan lama kemudian dikecupnya bibir Tyas sekilas sambil tersenyum.
Cantik sekali, pacarku ini ...
Karena kecupan itu Tyas pun perlahan-lahan mulai membuka matanya, Ia pun dengan sekuat tenaga segera menegakkan tubuhnya dan menguap begitu panjang.
"Selamat sore sayang, gimana tidurmu tadi, nyenyak?" tanya Kaesang sembari terus tersenyum.
Tyas masih belum sadar dengan keberadaan Kaesang di situ, dia pun juga masih belum sadar dengan kecupan Kaesang tadi.
Huaammmpp ...
Bersambung ...