
****Malam harinya****
Kaesang, lelaki itu melonjak kaget saat bis yang dinaikinya itu melewati polisi tidur dengan begitu cepatnya. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah, dan ia lihat semua teman temannya tengah tidur saat ini, kemudian pandangannya mengalih kearah kaca jendela bis ini, gelap, ya benar benar gelap, saat ini rupanya telah menjelang malam, dan hanya cahaya bulanlah yang menerangi gelapnya malam ini. Saat bosan mau melakukan apa, ia pun iseng iseng buka handphonenya, kemudian melacak posisinya sekarang dengan menggunakan GPS, lalu terlihat di layar handphonenya, kalau saat ini bis yang dinaikinya itu hampir sampai di pelabuhan Ketapang Banyuwangi, dan ia pun langsung menepuk jidatnya, sembari berkata, 'Huuft, kapan sampainya sih?!, dari tadi kok masih sampai di Banyuwangi aja, perasaan waktu gua dulu ke Bali waktu tempuhnya gak sampai dua jam deh, ini kok, dari pagi sampai malam belum juga sampai, huufft serahlah, males.' celotehnya sendiri sembari menggaruk kepalanya kasar.
"Lu ngapain, kok ngomong sendiri?, jangan jangan lu kesambet ya, ih jadi ngeri gua." ucap Tony tiba tiba. Ia terbangun seketika saat mendengar suara Kaesang berbicara sendiri, lalu ia pun langsung bergidik ngeri, sembari menatap kearah Kaesang.
"Jangan ngawur lu, enak aja, mana ada gua kesambet, yang ada tuh setan yang takut Ama gua, dan gak berani buat rasukin gua, tau gak." Bantah Kaesang sembari menyelipkan kata kata humor di akhir ucapnya itu, ya walaupun terlihat ekspresi mukanya tetap datar datar saja.
"Halah, garing lu." timpal Tony sembari menatap kearah Kaesang sekilas lalu fokus pada layar handphonenya lagi.
"Ya malah enak dong, kriuk kriuk, haha," balasnya sembari membalas candaan pula, akan tetapi wajahnya tetap saja monoton, dan tak ada seutas senyum pun yang terlukis di wajahnya, padahal saat ini ia sedang melawak.
"Enak enak, palamu tuh enak, eh sang, lu tau gak, lu tuh gak pantes buat ngelawak kayak tadi, karena walaupun lu udah ngelawak selucu mungkin, tapi ekspresi wajah lu gak mendukung, ya tetap monoton aja. Dan kata kata itu yang seharusnya menjadi sesuatu yang lucu tuk diucapkan, jadi gak lucu karena ekspresi muka lu itu, Sang, senyum dikit napa, gua pengen liat." pinta Tony pada Kaesang sembari menaruh handphonenya dengan kasar di atas pahanya, kemudian fokus pada lelaki muda di sampingnya itu.
"Gak, najis gua senyum buat lu." Jawab Kaesang singkat sembari menatap kearah Tony sekilas.
"Yaampun gitu amat lu sama gua," balas Tony sembari menyentil bahu Kaesang dengan jarinya.
"Udah udah, males gua layanin lu." Timpalnya malas.
Disaat Kaesang, dan juga Tony sedang bercanda, disisi lain, Nampak ibu guru yang sering bertemu dengannya itu tengah melamun sembari menatap kearah luar jendela, kemudian satu panggilan masuk di handphonenya, dan tentu saja membuatnya melonjak kaget.
...Devan brengsek-_-...
...calling you...
saat melihat panggilan itu, si ibu guru pun langsung merasa kesal, dan juga geram. Ia pun langsung mematikan panggilan itu dengan kasar, lalu memasukkan handphonenya kedalam tas kecil yang tengah dibawanya. Lantas siapakah yang telah menelpon itu, mengapa reaksi si ibu guru sampai seperti ini?.
Sesampainya di pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.
Akhirnya sampailah bis kita di pelabuhan Ketapang Banyuwangi, lalu kitapun segera membayar tiket, dan menuju ke kapal yang hendak kita naiki. Saat sudah di kapal, kita semua pun di minta untuk turun dari bis. Dengan langkah malas, Kaesang pun keluar dari bis nya sembari memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya. Ia tampak memandang malas ke depan, lalu ia pun memutuskan untuk berdiri di pinggiran kapal, sembari memegangi pegangan kapal, dan memandangi pemandangan malam. Semilir angin pun dapat ia rasakan, sebuah senyuman langsung terukir di bibirnya, kini ia pun mulai menikmati suasana ini. Sembari menutup mata, iapun merasakan hembusan angin laut yang mulai manerpa wajahnya, ia begitu menikmatinya, akhirnya setelah begitu lama, ia pun dapat merasakan kedamaian seperti ini lagi. Akan tetapi tiba tiba saja sebuah tangan telah mengganggu kedamaiannya, ya bahunya telah ditepuk oleh seseorang, dan saat di tengok, ia pun langsung merasa kesal sekali pada orang itu, karena telah mengganggunya.
"Hai, Kae.." sapa Zefa sembari melambaikan tangan pada Kaesang, dan juga tersenyum manis. Ya orang yang telah menepuknya tadi adalah Zefa, ia tengah berdiri di hadapan Kaesang, bersama kedua temannya. Akan tetapi saat melihatnya, Lelaki itupun merasa muak, dan ingin segera beranjak dari sana.
"Ngapain kalian ke sini, udah pergi sana, jangan ganggu gue!" usir Kaesang pada ketiga gadis yang ada di hadapannya itu dengan kasar.
"Kok ngusir sih, kita tuh kesini cuma ma---" potongnya, kemudian setelah itu Kaesang pun mendorong mereka bertiga untuk pergi menjauhinya, tanpa mau mendengarkan penjelasan dari mereka.
"Pergi!!"
"Ih kita kan belum selesai ngomong," timpal Zefa sembari menengok kearah lelaki itu di belakangnya, akan tetapi lelaki itu malah cuek bebek, dan tak menghiraukannya sama sekali.
******sesaat kemudian******
Akhirnya pelabuhan Gilimanuk, Bali pun mulai terlihat, sontak kita semua pun mulai merasa gembira. Sembari memandangi kerlap kerlipnya lampu pelabuhan, lelaki itu tetap mengarahkan pandangannya ke depan, sembari tersenyum tipis.
sesaat kemudian sampailah kita semua di pelabuhan Gilimanuk Bali, lalu saat kapal sudah mulai berhenti, dan jembatan sudah mulai tergerai, kita semua pun segera beranjak turun dari kapal, dan berjalan sekiranya tiga meter ke depan sembari menunggu bis yang kita tumpangi itu keluar dari kapal. Dengan malasnya, lelaki itu saat ini tengah berdiri sembari mendengarkan musik dari earphonenya, ia bersama yang lain tengah berdiri sembari menunggu bis yang dinaikinya tadi keluar dari kapal.
Sesaat kemudian, tibalah bis yang kita naiki tadi di hadapan kita, kemudian setelah pintu bis terbuka, kita semua pun segera beranjak masuk kembali kedalam bis kita semula, kemudian melanjutkan perjalanan kita menuju ke sebuah hotel yang akan kita pergunakan untuk istirahat selama di Bali ini. Perjalanannya sekitar dua puluh menitan lah dari posisi kita saat ini. pas sekali lokasi hotel itu di tengah tengah pusat kota, dan katanya juga mewah, tapi entah benar mewah atau tidak, tapi sekolahnya tak mungkin memilihkan anak didiknya hotel yang biasa saja, selalu saja hotel berbintang dari dulu. Akhirnya setelah memakan waktu dua puluh menit, sampailah kita semua di hotel yang akan kita pergunakan untuk istirahat selama di Bali ini, Private Villas of Bali, itulah nama hotelnya, cukup mewah, dan juga besar jika dilihat dari luar. Kemudian setelah bis terparkir di parkiran hotel yang telah disediakan, kita semua pun segera beranjak keluar dari bis, dan mulai mengambil semua barang barang kita dari dalam bagasi bis. Kemudian setelah itu, Kaesang beserta yang lain pun segera beranjak masuk kedalam hotel tersebut.
Bersambung.