Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 127 -Penculikan Gina


Setelah sekian lamanya begituan di dalam mobil, Kaesang yang melihat jika hari sudah semakin malam pun segera menyudahi kegiatannya itu.


"Dear, ini sudah malam, lebih baik kita sudahi ini sampai di sini saja, ya." ujar Kaesang sesaat setelah ia menjauhkan tangannya dari payudara Tyas.


"Sebenarnya aku belum puas, Kae. Rasanya masih menggebu gebu di aku, bahkan punyaku saja sampai berdenyut denyut dari tadi. Astaga, sepertinya aku mulai terangsang, Kae." balas Tyas sembari merapikan kemejanya yang sedikit berantakan.


Kaesang yang tau dan paham apa yang Tyas ucapkan pun hanya mampu menghela nafas sejenak dan tersenyum.


"Dear, aku paham kok apa yang kamu rasain itu, bahkan akupun juga ngerasain hal yang sama. Tapi dear, ini sudah malam, kamu pasti lelah sehabis ngajar seharian. mending kita sudahi ini sampai di sini saja ya, lagian melakukan ini di sini bukankah akan sangat berbahaya, bagaimana jika ada orang yang lewat dan tau dengan apa yang kita lakukan?" ucap Kaesang seraya meraih tangan Tyas dan digenggamnya dengan lembut.


"Tapi jika kamu mau kita melakukannya lagi lain waktu, boleh kok, aku ada tempat nyaman yang bisa kita gunakan buat melakukan ini, apalagi di sana tak ada orang, bukankah akan sangat menyenangkan, kita akan dapat melakukannya sepuasnya." lagi Kaesang.


Mendengar ucapan Kaesang yang terdengar semakin jauh, Tyas pun hanya menanggapinya dengan tersenyum dan sesekali mengiyakan ucapannya.


"Yaudah Kae, ini sudah malam, aku turun dulu ya. Kamu nanti hati hati pulangnya, jangan ngebut ngebut oke perlahan lahan saja, soalnya beberapa hari lalu ada yang kecelakaan di jalan perempatan di Utara rumahku, keadaan para pengendara motor itu sedikit parah dan sampai berdarah darah, sungguh aku takut sekali melihatnya. Kae, hari ini kamu dengerin aku ya, pulangnya hati hati, jangan ngebut ngebut dan usahain jangan ngantuk, karena jika itu sampe terjadi resikonya bisa bahaya banget." ucap Tyas sembari melepas sabuk pengamannya.


Mendengar ucapan Tyas yang mengingatkannya tuk berhati hati seketika membuat Kaesang tersenyum, dia senang karena mendapatkan kata kata itu dari Tyas, dan perhatiannya yang terlihat begitu tulus.


"Iya dear, aku tau kok. Makasih ya kamu udah ingetin aku, aku senang banget melihatmu begitu perhatian terhadapku, terlebih kata katamu itu sangatlah tulus. Makasih ya dear, aku akan berhati hati." balas Kaesang seraya mengangkat tangan Tyas yang menggenggamnya lalu diciumnya tangan itu begitu lembut.


"Yaudah kalau gitu, aku turun ya, selamat beristirahat ya, Kae." setelah mengatakan itu Tyas pun berniat akan membuka pintu mobil dan turun, namun sesaat tangan Tyas telah menekan tombol pembuka pintu di mobil itu, tetiba saja Kaesang meraih tangan Tyas dan menariknya begitu kuat.


Cup ...


setelah tarikan itu Kaesang lakukan, tubuh Tyas pun jatuh dan menimpa dada Kaesang, rasanya begitu deg degan melihat Tyas dalam jarak sedekat ini. Terlebih sesaat jatuh ke dada Kaesang itu, payudara Tyas begitu menekan kuat di dada Kaesang, membuatnya deg degan dan salah tingkah sendiri.


"good night, dear, i love you." setelah mengatakan itu dikecupnya bibir Tyas sekilas lalu diakhiri dengan senyum yang begitu indah. Usapan tangan Kaesang pada rambut Tyas seketika membuat Tyas nyaman dan terbuai dengan perlakuan romantis Kaesang itu.


......................


Setelah hampir dua jam lamanya Gina berada di cafe itu, pergilah ia setelah sebelumnya merasa tenang.


Namun, di posisinya sekarang ia tengah berada di lima ratus meter dari cafe tempatnya singgah tadi. Suasananya lumayan sepi dan tak ada seorangpun yang lewat selain dirinya sendiri, karena walau sudah merasa tenang, Gina memutuskan untuk jalan jalan sebentar menyusuri jalan ini. Rasa sepi dan sunyi di sekelilingnya seketika membuat Gina merasa jauh lebih tenang. Namun, sesaat dia senyum senyum sendiri sembari menikmati langkah kakinya, tetiba saja ada sebuah mobil Alphard hitam yang melaju dari arah belakang tubuhnya, awalnya Gina merasa jika itu hanyalah mobil pengendara biasa yang hanya sekedar lewat, tapi ternyata dugaannya salah. Mobil itu melaju dan berhenti tepat di sebelah Gina, tentu saja setelah melihat mobil itu berhenti tepat di sebelahnya, Gina pun turut berhenti.


Gina yang terkejut tak bisa melakukan apapun. Jangankan berteriak, melarikan diri pun dia takkan sempat, karena ini semua sangatlah mendadak, perilaku dan tindakan yang dilakukan dua pria itu begitu cepat sampai membuat Gina tak mampu melakukan apapun selain memberontak.


"Lepaskan aku, siapa kalian, kenapa kalian bawa aku seperti ini?!" tanya kasar Gina seraya mencoba melepaskan kedua tangannya yang di pegang kuat oleh kedua pria tadi.


"Jika kau tak ingin kami berbuat kasar padamu, sebaiknya kau diam." balas salah seorang pria tadi begitu dingin dan tanpa menoleh sedikitpun.


......................


Indra yang sedari tengah duduk di ruang tamu seraya memijat keningnya yang terasa pusing tetiba saja merasa kaget setelah di dengarnya sebuah ketukan di pintu rumahnya, ketukan itu terdengar keras dan begitu beruntun.


Ceklek ...


Sesaat melihat jika Lisa lah yang datang, tersenyum lah indra, bahagia lah ia karena saat ini ia begitu stres memikirkan ancaman Gina tadi, dan melihat kedatangan Lisa, tentu saja indra senang, karena Lisa adalah kebahagiaannya, cinta nya dan pelipur hati nya di kala ia tengah sedih ataupun susah.


"Mas, aku merindukanmu." sesaat setelah mengatakan itu, majulah Lisa satu langkah kedepan, kemudian tersenyum lah ia, dan dipeluknya tubuh indra di hadapannya begitu erat dan dalam.


......................


Setelah habis lima botol dan mengingat hari sudah begitu malam, pergilah Lina dan Zefa dari bar itu. Mereka memutuskan untuk naik taksi saja karena keadaan mereka yang mabuk itu tak memungkinkan Zefa untuk dapat menyetir mobil sendiri.


"Zef, emang nyokap Lo gak curiga dan tanya tanya kalau liat Lo dalam keadaan begini dan naik taksi?" tanya Lina sembari membuka sedikit matanya dan mengatakannya dengan begitu lemah.


"itu mah pasti, nyokap gue mah orangnya curigaan jadi kalo liat gue dalam keadaan kek begini, pasti marahin gue, nyubitin tangan gue dan ceramahin gue panjang lebar." jawab Zefa sembari menyenderkan kepalanya di pundak lina.


"Oh iya Zef, gimana soal Zeya, katanya lu mau ngasih pelajaran buat dia, dari kemarin lu cuma ngomong Mulu tapi gak bertindak bertindak. Sebenarnya lu serius gak sih ngasih pelajaran buat Zeya?" tanya Lina.


Zefa yang biasanya mendengar kata Zeya langsung berapi api, kini terlihat begitu santai.


"Tenang Lin, besok juga kita bakal ngasih pelajaran buat Zeya, kita interogasi dia dan kita sikat dia rame rame." balas Zefa masih dengan ekspresi dan posisi yang sama.


Bersambung ...