Cintaku Adalah Kamu

Cintaku Adalah Kamu
Episode 102 -Jangan pernah datang lagi


Indra terlihat keluar dari ruang kerjanya bersamaan dengan Kaesang yang terlihat memasuki kamarnya. Langkah lelaki muda itu terlihat lesu dan tak bersemangat. Terlebih ia menutup pintu kamarnya dengan sedikit kencang, hingga menimbulkan suara yang sedikit keras. Sontak Indra yang baru saja keluar dari ruang kerjanya, langsung dibuat terkejut oleh suara yang begitu keras itu. dia bahkan langsung menoleh ke arah kamar Kaesang yang terlihat menutup tersebut. Ada apa dengan anak itu? Kenapa dia terlihat marah? Apa ada suatu masalah yang terjadi? begitulah pikir Indra.


pria itu pun bergegas turun dan berniat ke dapur untuk sekedar melepas dahaganya. Namun, dia sedikit terkejut saat mendapati kedua tamu putranya itu masih duduk di ruang tamu. mereka terlihat tegang, terlebih Indra juga mendengar ada isakan tangis dari gadis yang menjadi salah satu tamu Kaesang.


"Lho kalian masih disini? Saya kira udah pulang soalnya Kaesang udah masuk ke kamarnya tadi." Indra pun bergegas untuk menemui tamu putranya itu. Dia merasa kesal dengan Kaesang. Bisa-bisanya dia meninggalkan tamunya begitu saja dan lebih memilih masuk ke kamar! Sungguh tak punya sopan santun. Terlebih gadis manis yang menjadi tamu Kaesang ini juga terlihat menangis. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan? Kenapa suasananya jadi seperti ini?


"Eum, iya om. Ini baru mau pulang, soalnya tadi ada sedikit perbedaan argumen sama Kaesang, makanya dia marah dan langsung pergi gitu aja." jelas Reynald pada Indra dengan muka sedikit gugup.


Indra pun hanya bisa manggut-manggut menanggapi jawaban pemuda tampan di hadapannya ini.


"Terus, ini adik kamu kenapa? Kok bisa nangis? apa tadi Kaesang ada nyakitin dia, kalau iya, om bakal tegur dia habis ini." pertanyaan Indra sukses membuat Vierra yang semula mulai tenang kini kembali menangis.


Reynald yang kaget melihat adiknya kembali menangis pun, sontak membawa adiknya dalam pelukannya kemudian pamit pada Indra untuk pulang. Dia tak tega melihat adiknya yang cengeng ini menangis. Terlebih, Vierra tak mau mengatakan apapun dan hanya diam seraya menundukkan kepalanya. Tangisannya bahkan sedikit lebih kencang disaat keduanya sudah berada di dalam mobil kembali.


Flashback on ....


"Kae, sebenarnya ..." potong Vierra di saat Kaesang menghentikan ucapannya begitu saja.


Di dalam hati dia sudah menangis. Menangis melihat respon Kaesang terhadapnya. Vierra tau jika hal ini pasti akan terjadi cepat atau lambat.


"Kau dari tadi diam, dan mengatakan sebenarnya, sebenarnya. Sebenarnya apa yang mau kau katakan?! Jika kau kesini hanya ingin mengatakan bualan kosongmu itu lebih baik kau pergi." ucapan Kaesang barusan sungguh mengena di lubuk hati Vierra yang paling dalam. Dia terkejut Kaesang mengusirnya begitu saja.


"Kae, Vierra kesini ada niat baik. Dia kesini tuh, pengen nemuin Lo. Dia pengen ketemu Lo untuk terakhir kalinya sebelum kita balik ke London. Oke jika Lo nggak suka dengan kedatangan kita ke rumah Lo. Tapi setidaknya hargailah usaha adek gue ini. dengerin dia dulu jangan dipotong omongannya. Kita cuma pengen ngomong sebentar kok sama Lo." Reynald pun turut terbawa emosi mendengar ucapan Kaesang yang sangat kasar itu. Dia bahkan dengan nada tingginya langsung mengusir Vierra begitu saja.


"Kalau mau ngomong ya ngomong dong, jangan ah euh ah euh aja dari tadi!" ucap Kaesang sedikit melunak.


Kemudian tanpa di duga, Vierra pun mulai membuka suaranya. Dia mengatakan banyak hal pada Kaesang. Mulai dari mengapa dia mutusin dia waktu itu, kenapa dia menghilang dan tak ada kabar sama sekali. Hingga apa alasan dia kemari hari ini, semua telah di jabarkan oleh Vierra. Dia bahkan sampai meneteskan air mata saking terbawa suasananya.


Mendengar penuturan Vierra yang penuh penghayatan itu, tak mampu membuat Kaesang berkutik. Dia hanya diam dan mendengar semua ucapan Vierra tanpa mau sedikitpun menyela. Bahkan saking terkejutnya Kaesang sampai mengalihkan pandangannya saat Vierra bicara.


"Jujur sampai detik ini pun, aku masih menyukaimu, Kae." ucap Vierra di akhir ucapannya seraya menunduk.


Namun, karena hal inilah Kaesang begitu marah dan langsung meninggalkan Vierra dan Reynald begitu saja. Bahkan sebelum dia pergi, dia sempat mengatakan hal ini pada kedua tamunya itu.


"Mungkin aku bisa percaya pada kata-katamu itu. tapi aku tak bisa memaafkan apa yang sudah kau lakukan beberapa tahun lalu. Penjelasanmu, dan emosimu cukup baik. Namun, itu tak lebih dari cukup untuk bisa menjelaskan semuanya. Sekarang kalian berdua bisa pergi, dan untuk terakhir kalinya, kumohon, jangan pernah balik lagi kesini."


Setelahnya Kaesang bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja meninggalkan kedua tamunya yang hanya diam mematung mendengar semua penjelasan Kaesang yang sangat gamblang itu.


Flashback off.


................


Plakk ....


"Bisa-bisanya kau membiarkan tubuhmu disentuh oleh pria tua itu? Hah!!"


Teriak seorang pria kepada wanita yang ditamparnya itu.


"Maaf, aku tidak bisa mengendalikan diriku. perlakuannya padaku begitu manis, sampai-sampai aku melupakan semua rencanaku. sekali lagi maafkan aku."


perempuan itu adalah Lisa. kekasih Indra yang ternyata juga memiliki kekasih lain di luar sana. dia duduk dengan takut seraya menundukkan kepalanya tanpa berani menatap sang kekasih yang terlihat begitu murka tersebut.


mata pria itu menatap tajam dan menusuk, menatap dari ujung rambut Lisa hingga ke kaki.


Cuihh


setelahnya pria itu pun meludah tepat di depan muka Lisa. Perasaan jijik dan benci seketika menguasai pria itu.


"Membayangkan tubuhmu di jamah pria itu saja sudah membuatku ngeri. Lisa, lebih baik kita putus saja, aku tidak mau lagi memiliki pacar kotor sepertimu."


Setelah berkata demikian pria itu pun menyambar jasnya dan pergi begitu saja meninggalkan Lisa yang masih terduduk lemas. Dia tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini.


Aaaakkkhhhhhhh ...


Sekarang dia pun hanya bisa pasrah dengan keadaan. Tak bisa lari ataupun mundur, sebab rencananya awal mendekati Indra guna memoroti hartanya dan balas dendam, sekarang hancur sudah. Dia tak mungkin berniat menghancurkan Indra lagi jika di dalam perutnya sudah tumbuh darah daging pria itu.


......................


Hari menjelang malam ketika Tyas baru saja sampai di depan rumahnya. Huufft ... melelahkan sekali. seharian ini tubuh serta pikirannya banyak terkuras oleh berbagai hal. Mulai dari terbongkarnya hubungannya dengan muridnya yang cukup membuatnya repot hingga rapat siang ini yang cukup membuatnya bersabar.


Hm, bagaimana tidak. beberapa guru-guru tak ada yang mau berbicara dengannya. Sepanjang rapat dia hanya mendengar sambil sesekali mencerna penjelasan dari pak kepala sekolah. tapi entah mengapa Tyas sedikit terganggu akan hal itu. sejak pertama kali dirinya bekerja sebagai Guru di Genius High school dirinya cukup menjadi Guru yang aktif. Banyak teman di saat dirinya baru dua hari bekerja di sana.


Huufft ...


Tyas pun mulai memutar kunci rumahnya, dan memasukinya disaat pintu sudah terbuka. Sungguh, betapa terkejutnya dia sesaat melihat Rani tengah duduk di ruang tamu sendirian seraya menundukkan kepalanya.


"Rani, kamu kenapa?" Tyas pun berjalan mendekat ke arah Rani dan duduk tepat di sebelahnya. dia genggam tangan mungil gadis itu lalu tersenyum ke arahnya.


"Rani, kangen ibu, Tante. Temuin aku sama ibu." Rani pun terlihat menangis bersamaan dengan wajahnya yang terangkat. wajahnya terlihat begitu sedih, air matanya terus mengalir bahkan disaat Tyas menyodorkan sebuah permen lollipop padanya.


sebenarnya Tyas juga ingin mengabulkan permintaan Rani. dia ingin menolong Rani mencarikan ibunya itu, namun masalahnya hanya satu. dia tidak tahu siapa ibunya itu. bagaimana wajahnya, dan dia tinggal di mana. karena informasi yang diberikan Rani tidak begitu lengkap. gadis kecil itu hanya mengatakan jika sang ibu sangat mirip dengan Tyas.


Bersambung ...